
Di sudut kamar yang dingin setelah hujan mengguyur, Tomi merangkulkan tangannya pada kepala. Ia baru saja disambar gledek di pagi buta itu. Tak ia sangka, Dara yang telah menemaninya bertahun-tahun memiliki keberanian untuk angkat kaki dari rumah. Tomi habis akal. Selama ini ia telah mencoba mengurutkan benang yang telah ia kusutkan dengan tangannya sendiri. Tapi ... nihil. Sepertinya benar, bahwa hati seseorang bisa saja membeku, dan ini giliran istrinya Dara.
Tomi menengok ponselnya, berharap ada balasan dari istrinya itu. Sudah berpuluh pesan ia kirimkan di WhatsApp, dan beberapa tidak dibaca oleh Dara. Wanita itu pergi berbekal nekat, dan keberaniannya. Tomi tahu ia tak memegang cukup uang, sebab setelah ia tidak bekerja, keuangannya tidak pernah terisi lagi. Ia mungkin pergi berbekal sisa pesangon yang ia terima, itupun sudah terpakai oleh Tomi sebagian untuk mengembangkan K’s. Tomi kuatir. Baru kali ini, wanita itu tidak meneteskan sedikit pun air mata bahkan ketika Tomi telah berusaha menahannya ketika ia menarik koper menuju ke mobil yang menjemput. Hatinya mulai gundah, membayangkan akan ke mana perginya wanita itu, dan seperti apa nanti ia akan menjalani kehidupannya tanpa Dara.
“Ra ... di mana kamu?” bisiknya pada diri sendiri, menahan gundah dihatinya, dan beberapa kali membuka galeri ponselnya menatap pilu foto Dara dengan anak-anak. Hanya satu atau dua foto Dara bersama anak-anak yang tersimpan di ponselnya. Lebih banyak Tomi menyimpan foto dirinya sendiri dengan anak-anak.
Tomi resah ... seiring keresahannya ia bisa melihat beberapa pesan masuk di ponselnya dari Farah. Ia menelepon wanita itu hanya ingin menaruh cemburu kepada Dara, sebab biasanya wanita itu akan meluluh dan hubungan mereka akan membaik lagi. Tapi ... tidak kali ini!
Dara dengan tenang menaikkan anak-anaknya ke dalam mobil travel yang akan segera berangkat ke Jakarta. Tidak ada rencana lain selain itu ... ia pun belum tahu ke mana akan pergi bersama Kio dan Kayla. Hanya saja, ia bisa memutar otak dalam 3 jam perjalanan itu. Ia duduk dengan tenang ketika sudah selesai menaikkan bawaan mereka. Dara menarik napas, dan menyeka sedikit keringat di dahinya.
“Mama. Kita mau ke mana?” pertanyaan yang sama lagi-lagi keluar dari mulut Kio. Dara tersenyum membelai rambut bocah itu, sembari membaringkan Kayla di pangkuannya karena matanya terlihat begitu mengantuk di hari yang masih pagi itu.
“Kita mau jalan-jalan. Bersenang-senang ...” jawaban itu seketika mengulas senyum di wajah anak-anaknya. Dara mengecup Kayla. Memandangi anak perempuan yang belum bisa berbicara itu, membuatnya berkaca-kaca, mengingat ia pasti memiliki banyak kebingungan di kepalanya.
Tangannya mengisyaratkan Kio agar tidur bersandar di lengannya, lalu mengambil ponsel dan menelepon seseorang. Danang ... ia orang yang tepat untuk dimintai tolong saat ini.
“Halo kak! Ya ampun ada angin apa?” suara riang Danang, mengubah sedikit mood Dara. Lengkungan senyum di sudut bibirnya, menandakan ia senang bersapa dengan temannya itu.
__ADS_1
“Hai Nang. Kamu lagi kerja? Aku di perjalanan. 3 jam lagi mungkin sampai Jakarta.”
“Jakarta? Ke rumah mertua?”
“Bukan ... bukan ke sana. Nanti aku kabari ya, Nang.”
“Kak. Kamu baik-baik?”
“Iya. Aku baik. Tenang saja. Ya sudah sana kerja lagi. Bye!” Dara mengakhiri percakapannya. Tadinya ia berpikir ingin menceritakan apa yang terjadi ... tetapi terlalu dini setelah ia pikir lagi.
Dara membuka aplikasi di ponselnya, sebuah hotel kecil dengan taman belakang yang rimbun, ia pilih menjadi tempat peristirahatan mereka. Ia masih memiliki tabungan dari pesangonnya, dan beberapa fee pekerjaan paruh waktu yang ia kerjakan online tanpa sepengetahuan Tomi.
“Ah! Tahan saja, yang penting sampai dulu.” Ujarnya kepada diri sendiri lalu menaikkan barang-barang ke mobil yang menunggu untuk mengantar mereka ke hotel.
Benar saja! Hotel pilihannya yang kecil itu, tersembunyi di sebuah jalan, dan memiliki banyak koleksi tanaman. Anak-anaknya dengan begitu saja bersorak riuh, “Yey! Kita jalan-jalan.”
Dara memandang kedua anaknya itu, menaikkan Kayla pada koper yang didorongnya, sementara Kio menggenggam tangannya menuju lobby hotel. Check in berlangsung cepat, dan seorang petugas mengantar mereka di sebuah kamar di ujung lantai 2. Anak-anaknya bisa melihat ke luar jendela, beberapa tukang sapu kompleks yang sedang mengumpulkan dedaunan, juga awan mendung yang meneduhkan panas Jakarta.
__ADS_1
“Mama. Kio mau makan. Mau makan fried chicken.” Celetuk Kio sembari berloncat-loncatan pada ranjang yang empuk bersama adiknya. Kedua bocah itu sungguh polos tanpa beban, tak tahu apa yang sebenarnya dihadapi ibu mereka.
“Oke. Mama pesankan. Sama. Mama juga mau makan yang itu.” Tangannya lalu merogoh ponsel di saku dan memesankan beberapa makanan dari restoran cepat saji kesukaan anak-anaknya.
Segala sesuatu di Jakarta memang cepat. Dalam beberapa menit, pesanan mereka diantarkan oleh seorang kurir dengan seragam merah. Kio dan Kayla dengan senangnya memakan pesanan mereka sambil sesekali saling menyuapi. Hati Dara terenyuh ... ia membawa hartanya yang paling berharga ... anak-anaknya. Ia juga melahap habis makan siangnya. Ia bisa mendengar bunyi notifikasi bertubi-tubi di ponselnya. Pasti pesan dari Tomi. Ia tak mau membalas apa pun. Ia sudah memutuskan untuk beristirahat dulu, menjauh, menenangkan dirinya.
Sore itu begitu menyenangkan. Ia tak harus sibuk dengan pekerjaan rumah, membersihkan ini dan itu. Dengan mudahnya ia bisa mengisi perut dengan memesan makanan, sembari meluangkan waktu bersantai menonton bersama Kio dan Kayla. Kayla begitu manis, dan beberapa kali Dara mengecup anak perempuannya itu. Wajahnya lebih mirip seperti gadis-gadis kecil keturunan Jepang, tubuhnya padat gemuk, dan suaranya melengking tinggi.
Ponsel Dara bergetar lagi. Panggilan dari Tomi, dibiarkannya dan akhirnya mati sendiri. Lalu bergetar lagi. Kali ini beda ... panggilan dari mertuanya. Ia langsung menjadi kalut tak tahu harus apa, sebab ia tidak pernah menolak panggilan orang tua itu.
Dara kalah dengan kesopanannya.
“Halo. Iya, Mah ...” suaranya lirih.
“Di mana, Dar. Ayo pulang. Jangan begini kalau menyelesaikan masalah, Dar. Pulang. Kasihan Aa menunggu di rumah.”
Dalam sekejap kata-kata yang ia dengar berubah menjadi buliran air mata. Apakah karena mertuanya yang menelepon atau muingkin ia memang masih merasa peduli kepada suaminya itu?
__ADS_1
Dara menyimpan ponsel usai percakapan itu selesai. Tak bisa dibohongi ia memang instan menjadi gundah memikirkan kata-kata mertuanya itu. Seperti orang sinting, ia memiliki pikiran yang berkecamuk.