
Sejak seminggu setelah pertengkaran itu, Dara kembali menjadi lautan yang tenang. Seperti biasa, ia memilih untuk meredam emosinya saja, dibanding harus memperpanjang masalah yang sudah berusaha diusaikan oleh suaminya. Tomi tak banyak berkomentar, pun ia menjadi begitu jarang menengok ponselnya saat berada dengan Dara dan anak-anak mereka. Ia tahu kelakuannya itu bisa memicu kecemburuan Dara, dan pertengkaran lain akan terjadi.
Dara bukan wanita bodoh tentunya ia tahu tabiat satu itu bisa saja terulang kapan pun ketika Tomi kumat. Akan tetapi, untuk saat ini ia bisa sedikit mengelus dada, berharap semua baik-baik saja. Beberapa saat setelah pertengkaran itu, Dara mulai menerima pesan WhatsApp dari Fani. Pengasuh daycare itu memberikan informasi yang perlu ia ketahui tentang anak-anaknya, sesekali ia juga mengirimkan foto aktifitas Kio dan Kayla. Memang tak ‘sehangat’ pesan-pesan yang ia kirimkan kepada Tomi, sepertinya Fani menyimpan rasa kagum kepada suami Dara. Dara tak ingin berpanjang jika berkomunikasi dengan Fani; secukupnya saja agar ia tidak terlalu mengingat chat panjang Tomi dengan perempuan itu.
Beberapa kali ketika mereka menjemput anak-anak, Tomi hanya menunggu di luar gerbang daycare, agar tidak mengipas bara api yang sudah ada di hati Dara karena apa yang ia tabur sebelumnya. Dara adalah wanita yang sangat gampang melakukan hal-hal gila bermodal kecemburuan dan sakit hati, dan Tomi tahu itu. Beberapa kali percobaan bunuh dirinya, cukup menjelaskan senekat apa wanita ini. Pada beberapa kesempatan, Dara bergumam seakan sedang melepaskan kekesalannya, sebab menurutnya Fani sama sekali tidak mengembangkan senyum setiap kali bertemu dengannya.
“Cih! Siapa juga yang butuh senyum itu? Munafik. Memang salah apa saya?” itu yang pernah ia katakan begitu naik ke motor setelah menjemput kedua anaknya, dan Tomi tidak memberikan komentar apa pun. Memberi komentar apalagi menyuruh dara berpikir positif hanya akan memperkeruh suasana, dan memojokkan dirinya sendiri. Ia memilih diam, dan itu keputusan yang tepat.
Sudah tiga bulan berlalu sejak perbincangan virus corona mencuat di kantor, dan saat ini tersiar kabar bahwa akhirnya Indonesia mendapat penderita pertama yang baru saja pulang dari luar negeri. Publik menjadi begitu heboh, sebab penularan virus itu begitu cepat. Di kantor, mereka masih bertanya-tanya akankah WFH dilaksanakan, sebab sampai ada penderita, pemerintah belum mewajibkan apa pun. Dara tetap dengan ketat menjaga pola makan keluarganya, sebab isunya penyakit ini menular dengan cepat pada tubuh dengan imun yang rendah.
Drrrtt! Ponselnya bergetar siang itu, ketika Dara sedang bekerja di kantor. Tomi duduk tepat bersampingan dengannya, sedangkan Danang dan Mira di sisi kirinya.
Rafa: [ Aku mau ke Bandung ... Mau ketemu? ]
Sebuah pertanyaan yang sangat berat untuk Dara, sebab ia tahu suaminya sangat tidak suka ia pergi berjalan-jalan keluar rumah maupun nongkrong. Di usia pernikahan ke 6 tahun ini, Dara menghabiskan 90% waktunya di rumah, dan jarang bertemu dengan siapa pun. Jika ia harus keluar rumah, dan bertemu seseorang, semua harus dengan persetujuan dari Tomi, dan lelaki itu tidak pernah mengizinkan.
Dara: [ Enggak janji. Tapi aku tanya suami dulu, ya. ]
Rafa: [ Kamu banyak berubah, bukan? Suami kamu beruntung punya istri soleha. ]
Dara tersenyum membaca pesan itu, namun tidak membalasnya.
“Siapa itu? Rafa siapa?” mata elang Tomi ternyata sempat menengok layar ponsel Dara.
“Teman. Teman SMP ... Ternyata beberapa teman sudah di Bandung ...” omongan Dara ini tidak ditanggapi Tomi. Wajah lelaki itu tampak datar, menunjukkan ketidaksukaannya.
“Kamu sering chat begitu sama orang?”
“Maksudnya apa?”
“Kamu itu istri saya. Jangan sekali-kali chat dengan lawan jenis. Biasanya reuni-reuni begitu yang memancing dosa,” ketus Tomi menjawab istrinya. Dara paham apa yang dimaksud oleh suaminya itu. Lagi pula seburuk-buruk perlakuan Tomi kepada dirinya, Dara sama sekali tidak terfikirkan untuk bermain api. Ia masih Dara yang sama, yang setia.
“Aku tau. Aku enggak seperti itu.” sahut Dara singkat.
Dara kembali ke layar laptopnya, membalas email-email yang masuk. Ia terus terngiang perkataan suaminya itu, membuatnya sedikit tertawa sinis dalam hati. Sebab, bukankah selama ini ia tidak pernah melanggar apa pun dan malah sebaliknya?
“Bang! Woy, Bang. Kak Dara boleh ikut enggak? Kami mau makan-makan nanti.” Danang pergi ke belakang Tomi, meminta izin sembari memijat-mijat kedua pundak Tomi.
“Geseran dikit dong pijatnya, tau aja lagi pegel. Mau makan di mana sih? Aku enggak diajak nih?” jawab Tomi. Dara pura-pura sibuk dengan emailnya, agar tidak ikut campur.
“Makan-makan setim, bang. Abang kan bukan tim teteh Mira. Maaf ya. Tapi kak Dara dipinjam dong, Bang. Kasian enggak pernah keluar rumah.”
Tomi mengangguk-angguk lalu berkata, “Baik. Pergi saja. Nanti anak-anak dengan aku, aman kok. Siapa tahu nyonya butuh refreshing.”
“Awwwww! Terima kasih, Abang!” Danang dengan kemayunya memeluk Tomi.
“Tuh kak, boleh ikut. Enggak ada alasan lagi ya, Kak Dara.”
Dara tersenyum setengah tertawa kecil dan menyahut, “iya. Bawel!”
__ADS_1
Akhirnya Tomi mengizinkan Dara pergi keluar, setelah sekian lama ia selalu berada di rumah.
“Ini kartu kamu. Pakai secukupnya saja.” Ujar Tomi menyodorkan ATM milik Dara. Masih sama, selama ini Tomi yang menyimpan dan mengatur semua keuangan sebab harus berbagi dengan keluarga di Makassar.
“Anak-anak bagaimana?” tanya Dara.
“Aman. Nanti dengan aku di rumah.” Tomi menjawab singkat.
Drrrttt. Ponsel Dara bergetar lagi. Lagi-lagi pesan dari Rafa.
Rafa: [ Jadi bagaimana, Dar? ]
Dara: [ Maaf banget, ya. Suami aku enggak izinkan. Lagi pula aku ada acara dengan teman-teman satu tim. ]
Rafa: [ Di mana acaranya? Aku bisa mampir kok. Sebentar saja, hanya mau lihat kamu. ]
Dara bergejolak, dan sangat aneh karena ia tiba-tiba mempertimbangkan apa yang dikatakan oleh Rafa. Ia tahu Tomi akan sangat marah jika mengetahui hal itu. Lagi-lagi ia tidak membalas apa pun.
Sore itu, Tomi beranjak pulang dahulu, sementara Dara akan pergi dengan teman-temannya. Mereka masih menunggu Dewi menyelesaikan pekerjaannya.
“Cepetan dong, Dew. Yaelah, Dewiiii!” Danang menyuruh Dewi agar lebih cepat lagi mengetik.
“Ah berisik nih, Danang. Iya ini sebentar lagi selesai, bawel.” Dewi mempercepat gerakan jarinya, sementara Dara masih melihat pesan dari Rafa, tadi.
“Nang. Sini deh. Aku mau tanya.” Dara menarik Danang dekat kepadanya.
“Menurut kamu, boleh enggak ya?” ia menyodorkan ponselnya, menunjukan pesan dari Rafa.
“Ketemu aja kak. Kalau hanya teman, aku rasa enggak ada salahnya, kan kita sama-sama. Kecuali berdua-duaan,” ujar Danang memberi pendapat, namun tetap saja Dara merasa bersalah telah menimbang hal itu.
“Aku takut Tomi marah, Nang.”
Danang mencubit pipi Dara seakan gemas dengan wanita itu.
“Kak. Kakak itu bukannya mau ngamar di hotel. Hanya silaturahmi teman lama, enggak apa-apa. Lagian kan ada kita ramean.” Danang berusaha meyakinkan Dara.
Dara: [ Di BEC, ya. Tapi tolong jangan lama-lama. Aku hanya say hi saja. Takut jadi fitnah. ]
Rafa: [ OK. Siap bu Haji. ]
Baru kali ini Dara merasa bersalah seperti itu, namun dalam hatinya ia meyakinkan bahwa ia hanya ingin bertegur sapa dengan teman yang sudah 10 tahun tidak bertemu dengannya. Mereka begitu dekat semasa SMP dulu, dan Rafa selalu banyak membantu Dara menyelesaikan pekerjaan dan tugas sekolah.
“Ayo! Sorry, lama” Dewi menghampiri Danang, Mira, Dara, dan 3 orang teman mereka lainnya. Mereka pun bergegas pergi ke basement, menaiki taxi yang sudah menunggu.
Dara tampak tak tenang sepanjang perjalanan. Ia sangat takut jika tiba-tiba Tomi menyusul dirinya pergi ke tempat perkumpulan mereka, dan menjadi salah paham jika melihat Rafa.
“Kak. Ayo turun. Sudah sampai. Mikirin apa sih kakak?” Danang merangkul pundak temannya itu dengan gerakan kemayunya.
“Ah! Tau ah, Danang. Aku batalin aja kali, ya. Tapi sudah jam 5 nih, pastinya sudah di jalan orangnya. Eh! Bentar dulu, aku mau telpon Tomi.”
__ADS_1
Dara melakukan panggilan ke ponsel Tomi, namun tidak dijawab.
Dara: [ Di mana? Sudah di rumah? ]
Tomi: [ Masih di sini. Kamu? ]
Dara: [ Baru sampai, BEC. Kenapa belum kembali ke rumah? ]
Tomi: [ Sebentar lagi. Kio masih bermain dengan Fani. ]
Kepala Dara seketika menjadi panas. Seharusnya tadi ia tidak perlu ikut dengan teman-temannya dan membiarkan Tomi pergi dengan wanita itu.
Segerombolan karyawan itu masuk di sebuah cafe, duduk dan membuka buku menu. Dara masih tertegun, seakan pikirannya berada di tempat lain.
“Kak. Kakak mau kopi apa? Kak. Kak, Dara!” Danang mengguncang pelan Dara yang sedang melamun.
“Oh. Engggg. Machiato. Aku mau machiato.”
“Kakak kenapa?”
“Iya, Ra. Kamu kenapa sih? Cerita dong, Ra.” ujar Mira ikut bersimpati. Perempuan itu menggenggam tangan Dara, dan ia seperti tahu semua sedang tidak baik-baik.
“Nanti aku cerita ya, teteh.” Ujar Dara lalu mengulas senyum manis kecil. Ia membuka notifikasi pesan. Rafa sudah tiba.
Dara: [ Kamu di mana? Aku saja yang ke situ. Aku enggak enak ada teman-teman. ]
Rafa: [ OK. Lantai satu ya, di depan ATM ]
“Nang ...”
“Iya sana pergi, aman” Danang langsung mengetahui maksud Dara. Dara pun pergi sejenak untuk bertemu teman SMP nya itu. Dari kejauhan ia bisa melihat samar-samar seorang pria kurus tinggi, berkulit putih dan berkacamata. Itu Rafa. Wajahnya tak berubah, hanya bertambah tinggi dan dewasa.
“Dara!” Rafa melambaikan tangan. Dara menghampiri temannya itu, dan sejenak ia bisa melihat senyuman lebar Rafa ketika menatap dirinya. Keduanya tidak saling berjabat tangan, sebab sama-sama tahu batasan.
“Dara? Ya ampun. Kamu berubah sekali sekarang. Udah, aku hanya mau lihat kamu, kok.” sambung Rafa. Ia menyodorkan sebuah kantong belanja kepada Dara.
“Apa ini? Maaf aku enggak bisa terima.” Dara menyodorkan kembali kantong itu lalu Rafa menolaknya.
“Bukan untuk kamu. Untuk anak-anak. Terima ya, Ra. “ jelas Rafa.
“Maaf aku enggak bisa lama-lama. Sorry banget.” Dara mulai gelisah.
“Iya. It’s ok. Aku juga memang ada keperluan membeli sesuatu di sini.” ujar Rafa, kemudian keduanya saling berpamitan berpisah arah.
Dara menenteng kantong belanja itu, tapi tidak mau melihat apa isinya. Danang yang melihat Dara berjalan dari jauh, memicingkan matanya lagi, bersenggol-senggolan dengan Mira, dan keduanya tertawa kecil seakan menggoda.
“Ciyyyeeee. Jadi dikasih hadiah? Aku mau juga dong, teman kayak begitu.” goda Dewi, diikuti tawa menggoda dari teman-teman lain.
“Ini bukan apa-apa kok. Untuk anak-anak. Aku itu bersuami loh, Dew” tukas Dara kepada teman-temannya.
__ADS_1
“Enggak apa-apa, Ra. Kamu juga harus berteman. Jangan di rumah terus, entar pohon tumbuhnya udah kebolak balik, kamu enggak tahu.” ujar Rita, salah satu dari temannya.
Dara menyimpan bungkusan itu, lalu perasaan legah menyelimuti hatinya. Sejauh ini tidak ada yang terjadi, meskipun pesan dari suaminya cukup mengganggu, tapi ia berusaha agar tetap menikmati waktu bersama teman-teman kerjanya.