
Tak banyak yang terjadi setelah Cecil kembali ke rumahnya. Beruntungnya, ia langsung menemukan majikan baru, berkat bantuan Dara. Tentang rahasia yang ia dengar dari Cecil ... Dara masih menahan lidahnya. Di kesibukan seperti ini, akan menjadi masalah besar.
Ia seperti sudah terlatih. Sudah tahu apa dan kapan harus melakukan suatu hal. Apalagi, ia menyadari, kali ini air matanya sama sekali tidak menetes. Sedikit campur aduk, antara merasa sayang kepada suaminya yang menunjukkan sisi romantis, dan juga terkadang geram mengingat lagi apa yang Cecil katakan.
Bau kolon murah yang ia cium di malam hari itu, begitu jelas di ingatannya. Ia juga ingat, ia sempat menggerutu kepada Tomi tentang wangi itu, dan suaminya itu berkata penciumannya mungkin sangat sensitif ketika hamil.
“Semua parfum kamu, sudah dibawa?”
“Sudah ... Sudah semua ... Jangan sampai ketinggalan, wanginya enak semua dan lumayan mahal ...” jawab Dara kepada suaminya yang dari tadi sibuk bolak balik membawa bagasi mereka ke mobil.
“Iya mahal, ya. Aku suka wanginya ...” timpal Tomi.
“Kamu suka? Bagaimana kalau aku nanti di Indonesia pakai kolon-kolon yang dijual pasaran di supermarket?”
Tomi tertawa menyambut pertanyaan istrinya.
“Bau itu? Setelah beberapa jam akan berubah jadi wangi alkohol yang dipaksa bercampur dengan biang wangi lain. Seperti baju bekas pakai seharian kemudian lembap. Hahaha. Kamu mau berbau seperti itu, sayang?” masih dengan tawanya, Tomi bertanya kembali kepada istrinya.
“Apa kamu suka dengan wangi seperti itu?” jawab Dara dengan tatapan serius, dan seketika menghentikan tawa dari Tomi. Tomi melengkungkan senyum kecil kikuknya.
“Hahaha aku bercanda, sayang! Mana mungkin aku mau ganti parfum,” Dara mencairkan kekikukan suaminya itu dengan tawanya.
Tomi merangkul istrinya itu, dan dengan gemas mencubit pipinya.
__ADS_1
“Ayo. Kio sudah lama dengan security di bawah. Lagian teman-teman sudah tunggu juga. “ ajak Tomi.
Dara untuk terakhir kalinya memerhatikan sekeliling apartemen itu. Tempat mereka cukup lama tinggal, membesarkan Kio dan menjalani semua kelelahan, dan sesekali bahagia. Air matanya merembes, namun dengan senyum yang merekah. Mereka berjalan meninggalkan unit yang sudah kosong itu, hanya tersisa beberapa perabot yang mereka berikan kepada pegawai di sana.
“Hai, Ra! Ah! Sedih ...” Dara terkejut dengan suara itu. Beberapa teman kerjanya ada di sana. Mereka datang memberikan salam perpisahan, sebab sebagian besar dari mereka memutuskan untuk menerima pesangon saja dan tetap berada di negara itu.
“Thank you, ya. Kalian jadi teman-teman baik selama ini. Aunty, uncle yang baik juga untuk Kio.” Dara lirih, dan memeluk satu per satu teman-teman itu. Mereka berdiri bersama, mengambil foto bersama, dan mengantar keluarga kecil itu ke dalam mobil. Beberapa dari temannya, telah menunggu di bandara, dan akan bertemu di sana.
Kali ini, Dara benar-benar menikmati apa yang ia lihat sepanjang perjalanan. Empat tahun lebih ternyata singkat saja. Tak selama yang ia bayangkan. Semua berlalu begitu cepat, seakan roda-roda pada mobil itu melaju dengan kecepatan di luar batas yang ada di dunia.
Dara bisa melihat bandara megah yang ada di depan matanya. Di sini, mereka akan terpisah dari Filipina.
“Dara!” seseorang melambaikan tangan. Teman-teman nongkrong Tomi rupanya. Salah seorang memegang sebuah box, berisi sushi.
“Ini, makan dulu sambil kita ngobrol di dalam. Yuk, Tom!” mereka mengajak keluarga itu, dan membantu dengan banyaknya bawaan yang ikut. Dara tersenyum, bercampur bahagia dan haru mendapat pelukan-pelukan yang hangat. Orang-orang ini beberapa kali menjadi saksi kekejian dari suaminya, dan mereka tetap memperlakukannya dengan baik.
Mereka larut dalam obrolan, selagi Kio tidur dengan pulas di kereta bayinya.
“Ra ... Hati-hati di sana, ya. Kamu baru pertama kali kan hidup di pulau Jawa ini? Hati-hati. Kemana-mana ajak suami,”
“Iya kak” jawabnya singkat kepada salah satu teman Tomi.
“Makasih ya, Dar. Sering masak untuk kami kalau lagi nongkrong di tempat kalian. Masakan Dara terbaik ...” timpal salah seorang lainnya.
__ADS_1
Memasak? Iya. Beberapa tahun lamanya dalam kebiasaan suaminya dengan minuman alkohol, Dara sering menjadi tukang masak dadakan.
Tomi memberikan pelukan terakhir kalinya kepada teman-temannya itu, kemudian membawa istri dan anaknya menuju ruang tunggu pesawat.
Kesedihan itu dengan mudah sirna ketika pesawat itu mulai melintasi langit, dengan lautan luas di bawahnya. Sesekali Kio terbangun untuk melihat ke arah bawah dengan ibunya. Wanita itu sesekali menjelaskan kemana mereka akan pergi dan apa yang akan terjadi.
“Lalu siapa yang jemput di sana?” tanya Dara kepada suaminya yang sedang menonton sebuah siaran pada TV di depan matanya.
“Haris. Dengan pacarnya. Kamu belum pernah ketemu. Namanya Ana. Sudah lama mereka pacaran,” ujar Tomi, sembari melepaskan headphone.
Dara mengangguk, lalu memejamkan matanya lagi berharap segera tiba di Bandung. Ia mendengar banyak tentang Bandung. Udara sejuk, kota dengan banyak anak muda, dan arsitektur uniknya. Ia adalah orang yang gampang beradaptasi di mana saja, sehingga mungkin keputusan ini tidak begitu buruk baginya.
Setelah beberapa jam terbang, pilot yang membawa pesawat itu akhirnya memberi aba-aba bagi awak pesawat untuk pendaratan. Dara membetulkan posisi duduk anaknya. Pendaratan yang mulus, dan benar saja, cuacanya begitu sejuk ketika ia melangkah keluar dari pesawat menuju terminal.
Setelah mengambil bawaan mereka, sebuah mobil berhenti. Terlihat Haris turun, dengan lengkungan senyumnya, menyapa iparnya itu, dan memberi pelukan kepada kakaknya. Mereka akan menuju ke hotel yang sudah di pesan jauh hari sebelumnya.
Rimbun hijau pepohonan sepanjang jalan, membuat Kio dan Dara terkagum. Mereka tak banyak terlibat perbincangan dengan supir dan juga Tomi, dan Haris. Hanya sibuk memerhatikan hijau pohon dan menikmati udara segar yang masuk dari jendela saja, sudah cukup.
Hotel itu tampak sederhana, tak semegah hotel lainnya yang sudah pernah Dara singgahi. Namun yang menarik perhatian, berpuluh pot ditanami strawberi, tumbuh dengan subur di sana, dan Kio langsung tertarik menghampiri buah-buahan itu.
“Welcome to Bandung, sayang ... Bagaimana, segar kan?” Tomi merangkul istrinya yang sedang menemani Kio melihat tumbuh-tumbuhan di halaman hotel itu.
“Iya. Segar. Aku suka udaranya. Kotanya cantik.” Jawab Dara lalu menghirup sebanyaknya udara yang ia bisa.
__ADS_1