
“Iya ... ini juga sebentar lagi sudah berangkat kok, tunggu ya.”
Percakapan telepon Dara itu terdengar oleh suaminya yang sedang
menyuapi Kio. Tomi menahan air mata yang hendak keluar, ada di pelupuk
mata. Ia memberitahu puteranya itu agar menghabiskan serealnya
sendiri, sebab ia perlu memeriksa sesuatu.
Tomi memasuki kamar di tengah rumah itu ... kamarnya dan juga Dara ...
Di teras, 3 pegawainya yang ikut tinggal bersama mereka pura-pura
berlama-lama menghabiskan rokok mereka sebab tahu suasana sedang tidak
hangat di dalam rumah itu. Seorang ibu dalam rumah, yang biasanya
menjadi tonggak, sedari pagi sibuk mengemasi barangnya dan bersiap
pergi.
“Sayang ... janji sama aku. Kamu akan kembali lagi ...” ucap Tomi
dengan suara yang berusaha ia stabilkan, tidak bergetar. Ada yang
berubah darinya belakangan ini ... ia memanggil istrinya itu dengan
panggilan-panggilan hangat, berusaha melelehkan es yang ada di
hatinya.
Dara tersenyum singkat sekali ... entah apa artinya.
“Dar ... sayang ... ingat Kio... Kio ada di sini. Aku anggap kepergian
kamu ini untuk membawa Kayla jalan-jalan, sebab dia juga belum pernah
ketemu omanya bukan?” Tomi memastikan lagi. Ia tidak pernah menahan
Dara seperti ini, dengan perasaan yang sungguh berat dan sulit ia
jelaskan kepada diri sendiri.
“Bilang sesuatu, Ra. Aku ini masih suami kamu.”
Dara terhenti dari aktivitasnya merapihkan lemari Kio. Ia menatap
lelaki itu, dan hatinya sedikit goyah. Pandangan Tomi tak pernah
__ADS_1
begitu sendu. Tetapi dalam sekejap, ia ingat alasannya telah sejauh
ini mengemasi barangnya ... lalu ... begitu saja kebencian dan egonya
membuatnya berani menatap suaminya itu dengan wajah dingin lagi.
“Semua ini sulit ... semua ini tidak segampang yang kamu bilang. Ada
saat di mana kita harus sama-sama belajar. Apa yang kamu bilang itu
betul. Anggaplah aku pergi menitipkan Kayla berlibur dengan omanya
agar aku bisa bekerja... memulai lagi hidupku dari 0 untuk
anak-anakku.” Jawab Dara dengan nada tenang. Sedikitpun tidak tersirat
bahwa ia bimbang.
Tomi menunduk lesu. Setitik demi setitik air mata akhirnya menetes
begitu saja. Untuk pertama kalinya, Dara melihat lelaki itu menangis
dengan tatapan lesu ...
Dara memasukkan Kayla dalam kain gendongnya, menggeret kopernya keluar
... memeluk Kio cukup lama. Kesedihannya berpisah dari Kio tidak
“Nak. Jangan nakal, ya. Mama kembali kok. Mama harus antar adik Kayla
dulu.” Ucapannya itu dibalas dengan kecupan dari anaknya pada kening.
Di satu sisi, Dara tahu, Tomi bisa menjaga anak mereka itu.
Bagaimanapun Tomi sayang kepada Kio.
Dara tak berani menengok ke belakang ... sampai akhirnya ia putuskan
berbalik, mengambil tangan suaminya itu kemudian dikecupnya punggung
tangan lelaki itu.
“Apa enggak bisa kamu di sini saja? Jangan pergi ...” tersedu-sedu,
Tomi memeluk istrinya itu. Dara setengah goyah ... tangisan lelaki ini
nyatanya seperti air panas yang dengan mudah melelehkan es yang beku.
“Maaf ... aku akan kembali untuk Kio. Aku harus pergi sekarang.
__ADS_1
Menitip Kayla supaya dia bisa terawat dengan baik.” Hanya itu yang
bisa ia jawab kepada Tomi, lalu pergi meninggalkan rumah itu.
Air mata Dara ternyata begitu deras... sangat deras sehingga ia lupa
alasannya pergi... ia sempat mengingat-ingat beberapa kekesalannya
atas perlakuan suaminya itu. Hatinya berkecamuk, konflik kali ini
tidak mudah. Otak dan hatinya sedang tidak akur. Ego yang menguasainya
kah? Atau memang ini karena sudah begitu sakit?
Dara gagal membedakan semuanya. Ia terus menghapus air matanya yang
mengalir. Tiket sudah diterbitkan, ia tidak mungkin mundur. Beberapa
kali ia sudah menelepon ibunya, dan adik-adiknya sudah cukup tahu
permasalahan ini. Dara baru kali ini merasa tertekan dengan semua
keputusannya.
“Tapi ... kalau aku bertahan ... dia akan sama saja ... aku akan sama
saja ... aku akan terus menderita.” Timpalnya dalam hati, berusaha
melawan dirinya sendiri.
Perjalanan itu terasa singkat. Dalam 4 jam, Dara dan Kayla tiba di bandara.
“There’s No going back.” Ucapnya kepada diri sendiri. Ia segera
melapor di konter airlines kemudian menuju ruang tunggu dengan
balitanya yang baru saja bangun dan sedang meminum susu kotak.
Pandangan Kayla tampak begitu polos. Ia pasti tidak tahu sedang apa
dirinya, dan ke mana mereka akan pergi. Anak sekecil itu, masih belum
bisa membedakan apa pun... Dara mulai mengusap lagi air matanya.
Sesekali teringat Kio, ia mengirimkan pesan kepada suaminya.
Dara: Kio tidur?
Tomi: Kalian sudah di bandara? Hati-hati ya, sayang. Aku yakin Kayla
__ADS_1
senang sekali di sana.