Perempuan Di Balik Layar

Perempuan Di Balik Layar
Bab 66 - Melangkah


__ADS_3

“Iya ... ini juga sebentar lagi sudah berangkat kok, tunggu ya.”


Percakapan telepon Dara itu terdengar oleh suaminya yang sedang


menyuapi Kio. Tomi menahan air mata yang hendak keluar, ada di pelupuk


mata. Ia memberitahu puteranya itu agar menghabiskan serealnya


sendiri, sebab ia perlu memeriksa sesuatu.


Tomi memasuki kamar di tengah rumah itu ... kamarnya dan juga Dara ...


Di teras, 3 pegawainya yang ikut tinggal bersama mereka pura-pura


berlama-lama menghabiskan rokok mereka sebab tahu suasana sedang tidak


hangat di dalam rumah itu. Seorang ibu dalam rumah, yang biasanya


menjadi tonggak, sedari pagi sibuk mengemasi barangnya dan bersiap


pergi.


“Sayang ... janji sama aku. Kamu akan kembali lagi ...” ucap Tomi


dengan suara yang berusaha ia stabilkan, tidak bergetar. Ada yang


berubah darinya belakangan ini ... ia memanggil istrinya itu dengan


panggilan-panggilan hangat, berusaha melelehkan es yang ada di


hatinya.


Dara tersenyum singkat sekali ... entah apa artinya.


“Dar ... sayang ... ingat Kio... Kio ada di sini. Aku anggap kepergian


kamu ini untuk membawa Kayla jalan-jalan, sebab dia juga belum pernah


ketemu omanya bukan?” Tomi memastikan lagi. Ia tidak pernah menahan


Dara seperti ini, dengan perasaan yang sungguh berat dan sulit ia


jelaskan kepada diri sendiri.


“Bilang sesuatu, Ra. Aku ini masih suami kamu.”


Dara terhenti dari aktivitasnya merapihkan lemari Kio. Ia menatap


lelaki itu, dan hatinya sedikit goyah. Pandangan Tomi tak pernah

__ADS_1


begitu sendu. Tetapi dalam sekejap, ia ingat alasannya telah sejauh


ini mengemasi barangnya ... lalu ... begitu saja kebencian dan egonya


membuatnya berani menatap suaminya itu dengan wajah dingin lagi.


“Semua ini sulit ... semua ini tidak segampang yang kamu bilang. Ada


saat di mana kita harus sama-sama belajar. Apa yang kamu bilang itu


betul. Anggaplah aku pergi menitipkan Kayla berlibur dengan omanya


agar aku bisa bekerja... memulai lagi hidupku dari 0 untuk


anak-anakku.” Jawab Dara dengan nada tenang. Sedikitpun tidak tersirat


bahwa ia bimbang.


Tomi menunduk lesu. Setitik demi setitik air mata akhirnya menetes


begitu saja. Untuk pertama kalinya, Dara melihat lelaki itu menangis


dengan tatapan lesu ...


Dara memasukkan Kayla dalam kain gendongnya, menggeret kopernya keluar


... memeluk Kio cukup lama. Kesedihannya berpisah dari Kio tidak


“Nak. Jangan nakal, ya. Mama kembali kok. Mama harus antar adik Kayla


dulu.” Ucapannya itu dibalas dengan kecupan dari anaknya pada kening.


Di satu sisi, Dara tahu, Tomi bisa menjaga anak mereka itu.


Bagaimanapun Tomi sayang kepada Kio.


Dara tak berani menengok ke belakang ... sampai akhirnya ia putuskan


berbalik, mengambil tangan suaminya itu kemudian dikecupnya punggung


tangan lelaki itu.


“Apa enggak bisa kamu di sini saja? Jangan pergi ...” tersedu-sedu,


Tomi memeluk istrinya itu. Dara setengah goyah ... tangisan lelaki ini


nyatanya seperti air panas yang dengan mudah melelehkan es yang beku.


“Maaf ... aku akan kembali untuk Kio. Aku harus pergi sekarang.

__ADS_1


Menitip Kayla supaya dia bisa terawat dengan baik.” Hanya itu yang


bisa ia jawab kepada Tomi, lalu pergi meninggalkan rumah itu.


Air mata Dara ternyata begitu deras... sangat deras sehingga ia lupa


alasannya pergi... ia sempat mengingat-ingat beberapa kekesalannya


atas perlakuan suaminya itu. Hatinya berkecamuk, konflik kali ini


tidak mudah. Otak dan hatinya sedang tidak akur. Ego yang menguasainya


kah? Atau memang ini karena sudah begitu sakit?


Dara gagal membedakan semuanya. Ia terus menghapus air matanya yang


mengalir. Tiket sudah diterbitkan, ia tidak mungkin mundur. Beberapa


kali ia sudah menelepon ibunya, dan adik-adiknya sudah cukup tahu


permasalahan ini. Dara baru kali ini merasa tertekan dengan semua


keputusannya.


“Tapi ... kalau aku bertahan ... dia akan sama saja ... aku akan sama


saja ... aku akan terus menderita.” Timpalnya dalam hati, berusaha


melawan dirinya sendiri.


Perjalanan itu terasa singkat. Dalam 4 jam, Dara dan Kayla tiba di bandara.


“There’s No going back.” Ucapnya kepada diri sendiri. Ia segera


melapor di konter airlines kemudian menuju ruang tunggu dengan


balitanya yang baru saja bangun dan sedang meminum susu kotak.


Pandangan Kayla tampak begitu polos. Ia pasti tidak tahu sedang apa


dirinya, dan ke mana mereka akan pergi. Anak sekecil itu, masih belum


bisa membedakan apa pun... Dara mulai mengusap lagi air matanya.


Sesekali teringat Kio, ia mengirimkan pesan kepada suaminya.


Dara: Kio tidur?


Tomi: Kalian sudah di bandara? Hati-hati ya, sayang. Aku yakin Kayla

__ADS_1


senang sekali di sana.


__ADS_2