Perempuan Di Balik Layar

Perempuan Di Balik Layar
Bab 59 - Ultimatum Pertama


__ADS_3

Perlakuan Tomi yang tidak menyenangkan itu, untuk beberapa saat berusaha dipahami oleh Dara. Meski ia seperti menghadapi gunung es yang sangat besar, ia masih punya harapan untuk suaminya itu. Rasa kesalnya tentu sudah tidak seperti kemarin-kemarin ... malah saat ini, sudah membusuk sampai ia tidak bisa lagi merasakan hangatnya hubungan dalam rumah tangga.


Terlepas dari semua yang Tomi lakukan, Dara masih sama menjadi istri dan ibu yang bertanggung jawab. Di sela-sela kesibukannya, ia juga masih sering membantu Tomi membuat pembukuan kecil untuk usaha yang baru ia rintis, meskipun akhirnya suatu malam selepas menutup kedai, Tomi menarik semua dana transaksi dari Dara, dan memintanya agar tidak ikut campur lagi.


Tanda tanya besar itu seakan ingin ia tulis di biji mata Tomi, karena sungguh membuatnya bingung bahwa ia tidak dizinkan terlibat dalam bisnisnya sendiri. Tetap saja ... dengan mantapnya Dara masih meyakinkan dirinya untuk terus bersabar walaupun perlakuan aneh itu masih dibarengi dengan punggung suaminya yang bisa ia lihat ketika mereka tidur.


Dara mengikat rambut sebahunya, lalu meletakan kedua anaknya pada kursi makan mereka masing-masing. Ia melipat lengan bajunya hingga batas siku, dan menarik nafas berulang-ulang menghadap sebuah galon air besar yang akan dibaliknya pada dispenser.


“Ayo mama! Mama kuat!” Kio berseru sambil bertepuk tangan, diikuti dengan tawa dari adiknya. Kedua bocah ini malah menikmati apa yang dilakukan ibunya itu. Bagi anak kecil seperti mereka, dengusan nafas ibunya bersiap-siap mengangkat benda seberat itu adalah sesuatu yang lucu tentunya.


“Satu ... dua ... ti-“ tanpa selesai kata-katanya, ia berhasil membalikkan galon itu, dan mendapat riuh tepuk tangan kedua buah hatinya.


Selama perang dingin ini terjadi, ia tidak pernah meminta bantuan dari Tomi untuk apa pun, termasuk mengangkat barang-barang berat seperti itu. Dara berpengalaman. Ia tahu suaminya itu hanya akan mencoba menyakiri perasaannya dengan tidak mau melakukan apa yang ia minta.


“Lebih baik dikerjain sendiri saja,” pikirnya dalam hati setiap kali melihat setumpuk tugas di rumah yang harus ia selesaikan. Tugas-tugas itu termasuk mengangkat barang-barang berat seperti galon, dan tabung gas.


“Daddy pulang!!! Yeeeeyyy!!” sorak Kio melihat ayahnya masuk ke dapur. Dara berpura-pura tidak mendengar teriakan anak kecil itu.


Sangat berbeda ... sudah dalam 3 pekan ini suaminya masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan salam, dan tidak mencari istrinya.


Tomi mengambil air dari dispenser, dan melihat galon yang masih terisi penuh, ia tahu istrinya itu baru saja menggantinya. Ia meminum segelas air, lalu bergegas pergi dengan handuk di pundaknya. Suara shower di kamar mandi, dapat didengar jelas oleh Dara. Wanita itu cepat-cepat mengecek jemuran dan melihat handuk Tomi sudah tak di situ. Selama bertahun-tahun mereka menikah, Tomi sering kali lupa membawa handuk, dan selalu meminta Dara membawakannya ketika ia selesai mandi.


Terasa aneh bagi Dara, melihat handuk sudah tak di sana. Tapi tak mau egonya turun, ia bergumam, “Fiuh! Baguslah. Enggak perlu repot-repot”


Kring!!!


Suara keras ponsel Tomi berbunyi, Dara tak berniat mengangkatnya, namun ketika ia lewat dengan Kayla menuju kamar, ponsel itu tergeletak dengan gamblangnya di atas meja. Dara memenuhi rasa penasarannya. Ia mengangkat panggilan itu, yang ternyata dari Mang Ujang.

__ADS_1


“Ini si teteh sudah tunggu di sini, Bang!” seru pria itu, tanpa mengucapkan salam atau basa-basi dulu.


Teteh? Batin Dara langsung terganggu. Ia cepat-cepat mematikan panggilan itu, dan pria itu kembali menelepon.


“Siapa?” Tomi mengambil ponsel sembari satu tangan lagi memegang handuknya. Ia terlihat terburu-buru ketika mendengar dering ponselnya. Percakapan telepon itu begitu singkat ... Tomi hanya mengiyakan lalu menyuruh seseorang menunggu.


Lelaki itu pergi ke kamar lalu keluar lagi dengan pakaian rapi, jeans biru bermerek yang dihadiahkan Dara kepadanya, juga sepasang sepatu dari istrinya itu. Parfumnya sekejap menyerbak dalam seluruh ruangan, memancing perhatian Dara.


“Aku sudah masak. Makan dulu sama anak-anak ...” ucap Dara singkat, masih dengan suara yang tidak seceria biasanya.


“Makan saja duluan. Aku masih mau pergi ramai-ramai dengan anak-anak di depan.” Jawab suaminya tak kalah dengan nada dingin.


“Omong kosong!” seru Dara di dalam hatinya sembari melihat suaminya pergi lagi. Kio menatap ibunya, ada banyak pertanyaan di kepala bocah itu pastinya. Semenjak pulang dari rumah neneknya minggu lalu, ia sama sekali tidak pernah berlama-lama dengan ayahnya. Tomi  selalu menyerahkan pengasuhan anak-anak kepada Dara, apalagi dalam kondisi mereka saat ini.


Dara menghela nafasnya. Rasa penasaran menyeruak dalam hati, dan rasanya tidak puas jika ia tidak tahu apa yang dilakukan suaminya. Tapi ... mencari tahu hanya akan memberi rasa sakit saja ...


Drrt!


Ponselnya bergetar dari sebuah notifikasi pesan.


Danang: [ Kak. Jadi mau ke Jakarta? ]


Dara: [ Aku kabari nanti, ya. Semoga bisa. Aku kangen kalian semua. ]


Air mata Dara tak terasa mengalir begitu saja. Ia tidak pernah memiliki persahabatan yang begitu mendalam, seperti kali ini bersama Glinda, Danang, dan Mira.


Danang: [ Are you Okay, kak? ]

__ADS_1


Dara: [ I am ... Doain saja, Nang. 😊 ]


Mulutnya memang sudah terbiasa membohongi hati sendiri. Dalam beberapa tahun ini ia harus menjaga aib rumah tangganya, menjaga citra suaminya agar tidak terkesan acuh tak acuh di mata orang lain ... meskipun dengan demikian artinya ia harus mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.


Kopi pahit dalam pernikahannya ini terus ia teguk meskipun sudah tak nyaman, sejarinya Dara percaya bahwa siapa saja bisa berubah, dan tiap ada masalah, suaminya itu selalu datang dan meminta maaf, kemudian semua akan kembali normal seperti biasa.


Dara membuka ponselnya, membuka aplikasi Instagramnya. Matanya tertuju pada story yang baru saja diunggah oleh Tomi. Ragu ... apakah ia harus membukanya atau tidak.


“Ah. Enggak usah ...” celetuknya kepada diri sendiri.


Drrrt! Sebuah pesan masuk lagi.


Danang : [ Kak ... Ini siapa? ]


Chat dari Danang itu menyertakan sebuah screenshot dari story Tomi, berfoto bersama tiga orang pria dan seorang wanita yang pasti tak asing lagi wajahnya. Fani ...


Seakan ditusuk belati, Dara memegang dadanya, entah kenapa sesesak itu.


“Tuhan ... apalagi ini?” tangisnya pecah begitu saja melihat apa yang dikirim sahabatnya itu.


Setidaknya 10 menit ia habiskan  untuk menangisi apa yang baru saja ia lihat. Dara mengalihkan perhatiannya, agar bisa berhenti menangis. Tangannya membuka folder foto-foto lama dalam ponselnya. Ia melihat foto sebelum ia menikah dulu, lalu menatap kaca. Perbedaan yang sungguh besar.


Wajahnya saat ini terlihat begitu penuh stres, dan tidak ada lengkung senyum seluwes dulu.


“Mau sampai kapan aku lemah?” pikirnya. Tangannya mengambil Kayla, membawa kedua anaknya ke kamar sebelah, juga baju-baju serta perlengkapan mereka.


Kamar itu tidak pernah ditempati selain untuk berdoa. Dara menutup pintu kamar itu, lalu tidur bersama kedua anaknya ...

__ADS_1


__ADS_2