
Sudah cukup teguh, Dara tidak membiarkan Tomi melelehkan hatinya cukup lama. Ketegangan dalam rumah itu bisa dengan mudah terbaca, bahkan ketika mereka mencoba menunjukkan sandiwara bahwa semuanya baik-baik saja.
Tomi memang seorang lelaki yang luwes dengan rem blong pada mulutnya. Terkadang ia dengan gamblang menceritakan permasalahannya kepada seseorang yang tak tinggal seatap.Tak perlu lama, Dara tahu bahwa ia sudah menjadi bahan pembicaraan Tomi dan beberapa teman tongkrongannya di kedai ... tak menutup kemungkinan, karyawannya juga mengetahui hal itu. Semua dapat mudah ditebak, ketika ucapan tegur sapa Dara kepada beberapa orang, tidak lagi dijawab seperti biasanya. Mereka menjadi kurang ramah, dan cenderung menghindarinya. Sebagai seoran perempuan yang terbiasa mengatasi kendalanya sendiri, ia tak begitu mempedulikan hal itu. Dara tak mau peduli dengan hal-hal kecil yang dianggapnya kerikil saja.
Tomi tampak membuat pergerakannya lebih tampak. Beberapa kali ia sengaja memancing perdebatan, namun Dara tidak pernah turut campur. Mengabaikan konflik yang dicetuskan Tomi, membuat Dara merasa menang pada permainan emosi yang diciptakan suaminya itu.
Tak seperti biasanya, Tomi bangun lebih awal, beberapa menit setelah istrinya mulai dengan kegiatan di dapur. Dara tak bergeming, sementara suaminya itu sibuk bolak balik di hadapannya mengambil cangkir dan menyeduh kopi. Tangannya sibuk menguleni adonan roti yang akan ia panggang nanti, sementara suaminya itu terus mencari perhatiannya dengan membunyi-bunyikan cangkir seraya mengaduk kopinya.
“Lu sudah enggak mau buatin kopi?” genderang dimulai oleh Tomi di hari yang masih sangat pagi, bahkan karyawan mereka pun belum bangun.
“Sabar, Dar. Jangan kepancing ...”tukas Dara kepada dirinya sendiri dalam hati.
“Eh. Lu ada telinga kan? Tidur sudah enggak mau ngapa-apain, kopi hari ini gue buat sendiri, bes-“
“Apa? Apa lagi komplain kamu?” Dara menyela juga akhirnya karena terpancing.
Tomi menatap istrinya itu, pupilnya membesar.
__ADS_1
“Besok lu mau apa lagi? Berhenti cuciin baju gue?”
“Aku punya alasan untuk semua itu. Lagian kemarin aku masih buatkan kamu kopi. Enggak diminum kan? Terus, menurut kamu, haruskah aku buat lagi setelah 2 minggu kopi yang selalu aku siapin enggak kamu minum?” Dara ternyata tak kekurangan bahan untuk membela dirinya.
“Cuih!!! Najis gue harus minum kopi yang enggak iklas dibuatin!” Tomi tak segan menampakkan kemarahannya, sementara Dara tetap tenang, dan melanjutkan apa yang ia lakukan.
Splasssshhh!!!!!!!
Ia terhenti ketika secangkir kopi panas disiram tepat pada wajahnya, dan membasahi seluruh adonan rotinya. Dara terdiam, berusaha agar tidak langsung meledak menghabiskan tenaganya. Tangannya yang masih berbau mentega, ia gunakan punggungnya untuk mengusap wajah yang penuh kopi.
“Keluar lu dari sini! Muak gue lihat muka lu. Pergi!!! Bawa barang-barang lu.” Dengan geram, Tomi menyuruh istrinya itu angkat kaki.
Dara berjalan ke kamar, dengan sigap mengambil kopernya, lalu memasukkan beberapa potong pakaian, dan sebuah map berisi surat-surat penting. Ia lalu mendengar langkah kaki suaminya yang datang ke arahnya.
“Pergi bawa barang lu. Surat-surat simpan sama gue. KTP lu, itu pakai alamat ibu gue. Tinggalin!” dengan kasar Tomi merampas map itu, dan tangannya dengan bengis melempar sebuah tas penuh popok anaknya.
Dara tak serta merta mengikuti apa kata suaminya itu, dan masih terdiam, ia tetap sibuk merapikan pakaiannya dan anak-anaknya. Ia sudah menduga, hal ini akan terjadi, dan ia putuskan untuk tidak memberi makan amarah suaminya itu dengan amarahnya juga. Selain menghabiskan tenaga, itu tidak akan membuat lelaki itu mendapatkan pelajaran baru.
__ADS_1
“Sana pergi!!! Tunggu apa lagi?”
“Tenang, pak. Saya akan pergi. Saya lagi tunggu anak-anak saya bangun.” Kalimat itu keluar dengan nada yang begitu tenang, tanpa sedikitpun emosi di dalamnya.
Setidaknya kalimat itu membungkam Tomi. Ia pergi ke ruang tamu, dan suaranya bisa terdengar oleh Dara dengan jelas. Betul saja ... ia menelepon Farah.
“Iya. Ini sudah mau cabut. Kalau kamu bagaimana? Mau ke sini?” kata-kata itu disambut Dara dengan tawa sinis, bukan lagi sakit hati berujung air mata. Ia tahu sekali laki-laki itu sedang berusaha memanasinya.
Setelah dua jam menunggu, anak-anaknya bangun. Selain itu, ia bisa melihat Tomi meredah, dan tidak lagi cerewet seperti sebelumnya. Lelaki itu duduk di ruang tamu dengan ponselnya, sementara Dara tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, menyiapkan kedua anaknya.
“Mama, kita mau ke mana?” Kyo bertanya dengan wajah polosnya, sementara Kayla menatap kakaknya itu dengan senyum imut.
“Jalan-jalan. Mama mau bawa jalan.” Ujar Dara sambil menyelesaikan pesanan taksi onlinenya. Iya segera menggeret kopernya, menggendong Kayla, dan menuntun Kyo berjalan ketika melihat mobil pesanannya hampir tiba. Dara melewarti ruang tamu, lalu mengangkat kopernya yang besar itu keluar pagar rumah. Ia harus berjalan sedikit menuju jalan besar tempat taksi akan menunggu,
“Jangan pergi ... ayo pulang ...” suara Tomi terdengar seketika Dara berjalan bersama anak-anaknya. Ia menahan air matanya sekuat tenaga, berbalik dan melihat lelaki itu dengan wajah sedihnya berdiri.
“Enggak. Aku akan pergi. Aku turuti mau kamu.” Dara berhasil berdiri teguh pada keputusannya. Ia membuka pintu mobil yang telah menunggu, menaikkan anak-anaknya terlebih dahulu.
__ADS_1
“Jangan ... ayo kita ngobrol ... Ra ... Dara ...” Tomi berdiri di sampingnya ketika ia memasukkan koper ke bagasi mobil. Dara membisu, hanya membalas dengan gelengan saja ... lalu, mereka pergi dengan mobil itu. Dara tak berani menoleh ke belakang. Ia tahu, ia akan selalu kalah dengan rasa ibanya.