Perempuan Di Balik Layar

Perempuan Di Balik Layar
Bab 30 - Hari-hari Terakhir


__ADS_3

“Mau makan apa nanti saat mendarat?” tanya Tomi sembari mengelus kepala istrinya yang bersandar pada pundaknya. Pesawat yang ditunda keberangkatannya menyebabkan wanita hamil itu merasakan lelah yang luar biasa, dan suaminya tahu perutnya pasti sudah harus diisi lagi begitu mereka mendarat nanti.


“Hainan? Bagaimana kalau hainan?” jawab Dara penuh dengan suara manja, dan terdengar lelah.


Tomi mengangguk, dan menggenggam erat tangan istrinya. Membiarkan kecurigaannya di Bali berlalu begitu saja, ternyata sebuah keputusan benar yang dibuat oleh Dara. Di sepanjang liburan di Bali mereka sama sekali tak terlibat perdebatan apa pun.


“Terkadang ada gunanya juga ...” pikir Dara dalam hatinya lalu menutup matanya lagi sembari menunggu si burung besi raksasa yang mereka tumpangi, mendarat sempurna.


Masih seperti hari-hari kemarin, Manila terasa panas menyengat. Dara bisa melihat beberapa orang yang berlari menuju mobil jemputan mereka di luar bandara, agar tidak terlalu banyak terpapar matahari.


Tomi sibuk menggeret koper-koper mereka, yang berisi banyak sekali oleh-oleh untuk rekan kerja. Tomi memang seperti itu, selalu tidak melupakan pergaulannya ke mana pun ia pergi. Sebuah Taxi sedan berhenti tepat di depan mereka, dan kemudian membawa keluarga itu ke apartemen. Cecil sudah menunggu di sana pastinya. Ia sudah mengirimkan pesan beberapa hari sebelum kepulangan mereka.


“Nanti bagaimana omong dengan Cecil?”


“Nanti aku yang omong dengan dia ...” jawab Tomi dengan santai. Ia lebih berpengalaman dengan pindah-pindahan seperti ini dibandingkan Dara.


Mobil itu berhenti pada lobby apartemen, terlihat dengan jelas Cecil menunggu dengan senyum merekah ... seperti biasa. Ia langsung merangkul Dara, lalu menggendong Kio setelah itu, melepas kerinduan kepada anak yang ia asuh. Matanya berkaca-kaca, sembari bilang bahwa ia akan menikmati hari-hari terakhir ini. Ah ... rupanya Tomi sudah bilang mengenai rencana perpindahan mereka ke Indonesia.


Dara terkagum dengan Cecil ... Tak hanya baik, ia juga lapang menerima semua keputusan mereka. Tetap dengan gesitnya ia membantu Dara untuk membawa Kio menuju kamarnya. Beberapa kali ia mencium pipi anak itu lagi, layaknya ibu yang sudah lama tak bertemu anaknya.


“I will go home the day after tomorrow, mam” ucap Cecil dengan Bahasa Inggrisnya yang kental logat orang Filipina.


“We will miss you. Of course you know it,” balas Dara sambil merangkul pundak Cecil dan menitikan sedikit air mata. Bercampur antara bahagia, dan sedih harus berpisah dengan orang yang selama ini membantunya. Mungkin di negaranya sendiri, tak mudah menemukan orang sebaik Cecil. Apalagi jika dipikir-pikir, selama ini Kio bermasalah dengan ogah-ogahan makan dan menangis saat tidur.


“I want to tell you something, mam. But tomorrow ...” sambung Cecil. Entah apa yang akan ia katakan sehingga harus menunggu besok. Dara mengangguk, mengiyakan.


Tomi menyusul masuk ke dalam apartemen, langsung membaringkan badannya pada sofa. Lumayan ringsek juga punggungnya setelah berjam-jam duduk di pesawat. Ia menarik nafas panjang sembari melihat sekeliling apartemen itu. Beberapa hasil karya Kio dengan cap-cap tangannya berwarna warni, beberapa hasil kolasenya.


“Kita hanya bawa beberapa. Iya kan, sayang?”  ia bertanya kepada Dara yang sedang membersihkan debu di meja makan.


“Iya. Pasti hanya beberapa saja ... Lagi pula kita bisa beli perabot lagi di Indonesia nanti.” seperti biasa dengan mudahnya ia mengiyakan pendapat suaminya itu.


“Mainan ... Mainan Kio masih bagus-bagus. Sebagian besar kita bawa. Bisa dikirim untuk kakak-kakaknya.” sambung Tomi.


Hingga saat ini Tomi tetap saja condong untuk membuat keputusan berdasar pada apa yang akan, dan sudah terjadi di rumah mantan istrinya itu. Bukan perkara mudah bagi Dara untuk belajar menelan ludah, mengiyakan dengan rasa sedikit pahit.


“Iya. Boleh ...” lagi-lagi ia tak gagal menjadi istri yang patuh. Selalu saja mengiyakan, memberikan konfirmasi atas apa pun itu.

__ADS_1


Tak ada kata istrirahat panjang, Dara sudah mulai sibuk memilah-milah perabotan yang akan meraka bawa ke Indonesia. Sisa yang tidak dibawa, akan diberikan kepada Cecil dan beberapa pegawai di apartemen itu. Barang Dara tidak begitu banyak, sebab suaminya yang pandai ‘berhemat’ itu, tidak selalu memberinya izin untuk membeli ini dan itu.


Untuk ukuran orang yang bekerja di luar negeri dengan gaji yang baik, Dara terbilang sangat sederhana. Memiliki sepasang sepatu tumit rata, sepasang sepatu olahraga, sepasang sandal. Itu saja ...


Tomi lebih banyak mengoleksi sepatu dibanding istrinya itu, juga beberapa jam tangan, dan kacamata.


“Perempuan harus berias untuk suaminya. Ngapain beli banyak-banyak? Aku enggak butuh lihat kamu gonta-ganti ini itu,” kira-kira begitu yang selalu Tomi ucapkan untuk melayukan naluri keperempuanan istrinya yang wayahnya senang berbelanja. Ucapan yang menurut Dara awalnya tak masuk akal, namun toh ditelan dengan luwes saja akhirnya.


Tak hanya memilah milih barang yang akan dibawa, Dara juga mewakili suaminya mengurus beberapa surat di kantor untuk kepindahan mereka. Serba bisa! Tentu saja, istri harus serba bisa. Lagi-lagi itu juga sebuah kalimat dari mulut Tomi.


“Fiuh!” Dara menghembuskan nafas setelah mengepak semua perabot yang akan dibawa. Tiga buah box dengan ukuran super besar, cukup memasukkan dua manusia dewasa.


“Enough mam?”


[Cukup, ibu?]


“Enough. The rest, you may take them home ...” Dara menjawab Cecil sambil memijit pundaknya sendiri.


[Cukup. Sisanya kamu boleh bawa pulang ]


“Your husband. Sleep?” ia bertanya dengan suara yang sangat pelan.


[ Suamimu, apakah tidur? ]


“No. He is outside with Kio. Buying bread. Why?”


[ Tidak. Dia di luar dengan Kio. Membeli roti. Kenapa? ]


Cecil mendekatkan kursinya pada Dara, dan tiba-tiba menggenggam tangannya.


“Mam. You are young. You are beautifull, and smart. Don’t let men torture you. I don’t know how to start this. But please don’t get angry yet, here ...” ujar Cecil dengan wajah setengah kuatir dan was-was.


[ Ibu. Kamu itu masih muda, cantik, dan pintar. Jangan biarkan lelaki menyiksa kamu. Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Tapi tolong jangan marah di sini, ya ]


Dara mulai memusatkan perhatian pada Cecil. Ini pertama kalinya mereka berbicara begini seriusnya.


“What’s wrong?” tanya Dara.

__ADS_1


[ Ada apa? ]


“One day when you worked in midnight shift. Sir Tom ... He ... But please don’t tell him,” Cecil menjadi penuh kuatir.


[ satu hari saat kamu bekerja di shift malam. Tuan Tomi ... Dia ... Tolong jangan beritahu dia ]


Dara mengangguk, dan memang ia akan melindungi Cecil jika terjadi sesuatu.


“He brought a lady here. Older than you. With mini skirt and pink shirt.”


[ Dia membawa seorang wanita. Lebih tua darimu. Dengan rok mini dan baju pink ]


Serasa jantung Dara berhenti sekejap. Menjadi begitu kaku, dan darah mungkin saja berhenti mengalir sesaat. Ia memperbaiki ekspresinya agar tak membuat Cecil kuatir.


“When was this?”


[ Kapan itu? ]


“That day when you said your bed sheet smells like cheap cologne, and you asked me to change” jawab Cecil.


[ Hari itu, saat kamu bilang sepreimu berbau seperti wangi kolon yang murahan, dan kamu minta aku menggantinya ]


Dara terdiam, namun air matanya kali ini tak dapat menetes sedikit pun. Hanya kaget, namun tak dapat bereaksi apa-apa. Yang ia rasakan yaitu seperti seseorang menabuh gendang yang sangat kuat di dadanya.


“You know her name?” ia bertanya seperti seorang detektif.


[ Kamu tahu namanya? ]


“I don’t but she’s not Filipina. Maybe Thai or something else ...” jawab Cecil dengan mata yang terus memerhatikan sekeliling.


[ saya tidak tahu tapi dia bukan orang sini. Mungkin orang Thailand atau bisa negara lain ]


Dara menggenggam tangan pengasuh anaknya. Wanita ini menyimpan rahasia ini, dan dengan keberanian ia telah mengatakannya kepada Dara. Akan sangat tak adil jika Dara harus meributkan hal ini, kemudian ia diamuk oleh Tomi.


“Don’t worry. I will not discuss this now. You are safe. Thank you ...”


[ Jangan kuatir, aku tidak akan membahas hal ini sekarang. Kamu aman. Terima kasih ]

__ADS_1


__ADS_2