Perempuan Di Balik Layar

Perempuan Di Balik Layar
Bab 46 - Aku Punya Ide!


__ADS_3

“Kio. Main dengan Kayla ya, Nak! Jangan saling mendorong.” Dara berusaha mengarahkan Kio agar bisa akur bermain dengan adik perempuannya yang sedang belajar jalan. Sudah 2 bulan ini Dara mengurus kedua anaknya sembari bekerja. Akhir-akhir ini dia lebih sibuk lagi, menulis sesuatu di laptopnya.


Sebuah ide yang datang begitu saja di kepalanya, tidak ingin ia sia-siakan. Suatu malam setelah memikirkannya, Dara mengambil laptop dan langsung merancang restoran bertema ‘shop & go’ mengingat dalam pandemi ini, tidak diperbolehkan ada kerumunan.


Beberapa kali ia mengecek sisa tabungannya, dan sepertinya cukup membuat sebuah alat dengan idenya sendiri menjual daging asap. Ia tidak pernah melihat sesuatu yang seperti idenya ini, sebelumnya, dan sebagai perempuan yang pandai memasak, Dara sangat ingin mencoba peruntungan.


“Sibuk apa sih di hari libur begini?” Tomi berusaha menengok apa yang sedang dikerjakan istrinya.


“Rotisserie? Ini ide kamu?” sambungnya begitu membaca sekilas. Untuk ide-ide seperti ini, Tomi sudah tidak ragu lagi kepada istrinya. Perempuan yang ia nikahi ini memang bukan wanita sembarangan. Ia sangat penuh ide, dan bisa mengembangkannya dengan sekejap.


“iya.” Jawab Dara singkat. Sikap ketusnya ini masih ia pertahankan meskipun Tomi sudah melunak kepadanya.


“Aku mau bantu. Apa yang bisa aku bantu? Aku rasa ide kamu akan berhasil ...”


“Hmmm” Dara sejenak berpikir. Ada betulnya juga apa kata suaminya. Lagi pula, Tomi adalah orang yang paling memungkinkan membantunya.


“Aku perlu buat alat. Kamu ingat alat yang kita lihat di Manila? Untuk daging asap. Aku perlu alat seperti itu. Siapa kira-kira yang bisa kubayar untuk membuat alat itu?” sambung Dara.


Tomi beranjak, mengambil secarik kertas dan pena. Ia duduk di samping istrinya itu ...

__ADS_1


Tangannya mencorat-coret kertas itu membuat sebuah kerangka alat pemanggang, dan menyodorkan kepada Dara.


“Seperti ini?” ucapnya. Dara mengangguk, dan menambahkan beberapa detail pada kertas itu.


“Sapri bisa! Kamu ingat? Satpam kita. Dia sangat ahli membuat mesin-mesin seperti ini. Apa aku harus mengunjunginya?” ujar Tomi.


“Iya. Coba diskusi dulu. Aku mau tahu berapa dananya. Setelah itu, aku baru pikirkan resepnya bagaimana ...” ucap Dara, dan sebuah kecupan dari suaminya mendarat di keningnya dengan lembut.


“Aku enggak salah pilih. Kamu memang otaknya dipakai sampai maksimal, haha!” ejek Tomi, dibalas dengan senyuman dan pukulan lembut pada dadanya.


“Nah begitu dong, senyum. Fani kan sudah enggak ada. Hahaha!” ejek Tomi lagi.


“Jadi kapan?”


“Apanya?” jawab Dara singkat.


“Kapan aku enggak dipunggungin lagi kalau tidur?” Tomi tersenyum menggoda, dibalas dengan cubitan Dara.


“Aku enggak punggungin ... Hanya membelakangi.”

__ADS_1


“Hahaha sama saja!” ia merangkul istrinya dengan gemas dan mencium wanita itu sekujur wajahnya.


“Aku mau kita begini terus,” sambung Tomi.


“Aku enggak suka kamu cemburuan. Apalagi dengan perempuan yang enggak ada apa-apanya dengan kamu. Kamu itu banyak lebihnya, kenapa aku harus cari yang kurang?” Tomi berusaha meyakinkan Dara.


Mendengar ucapan suaminya itu, Dara sedikit senang, namun tidak menghapus was-was di dalam hatinya. Dengan pengalaman sebanyak itu, Dara menjadi lebih sulit menyingkirkan was-wasnya.


“Jadi apa nanti nama kedai kamu?” tanya Tomi kepada istrinya.


Mata Dara menatap kedua anaknya yang sedang bermain kemudian berkata, “K. K Rotisserie. Untuk anak-anak nantinya.”


Tomi tersenyum lalu memeluk istrinya lagi. Ia benar-benar beruntung memiliki wanita penuh ide seperti Dara ini. Apalagi di masa pandemi, banyak orang yang telah kehilangan pekerjaan, namun istrinya memiliki ide yang sebelumnya bahkan tak terpikirkan olehnya sendiri.


Mereka telah bersepakat akan langsung mendiskusikan ide Dara ini dengan Sapri, seorang mantan satpam di kantor mereka, yang ternyata sebelumnya berprofesi sebagai teknisi mesin. Dara akan langsung mencoba-coba beberapa racikannya untuk menentukan menu orisinil mereka nantinya.


“Hmmm semoga berhasil ...”


“Pasti. Pasti sayang ...” jawab Tomi menyemangati istrinya.

__ADS_1


__ADS_2