Perempuan Di Balik Layar

Perempuan Di Balik Layar
Bab 23 - Cerita Lampau Tomi


__ADS_3

“Paspor kita? Sayang! Apa semua


paspor sudah di dalam tas?” sambil mondar-mandir ke sana kemari menggeret


koper-koper besar, Tomi mengecek agar segala dokumen telah dibawa. Akhirnya


hari itu tiba, mereka akan pulang ke Indonesia untuk berlibur, dan juga


mengantar Tami pulang.


Untuk seorang wanita yang pernah


menjadi gunjingan di dalam keluarga suaminya, keberangkatan ini menyimpan rasa


bahagia sekaligus was-was. Satu-satu hal yang menguatkannya adalah karena ia


telah bertemu dengan mertua dan hidup beberapa saat dengan salah satu iparnya.


Pendapat mereka, mungkin saja akan juga mengubah pandangan anggota keluarga lainnya.


Ya! Mungkin ...


“Sudah. Sebentar ya, aku mau


habisin serealku dulu!” seru Dara dari ruang makan. Semangkuk sereal gandum dan


susu dimakannya buru-buru. Tangannya meraih tisu yang ada di depannya dan membersihkan


mulutnya.


“Sudah selesai? Ayo. Mobilnya sudah


di bawah!” Tomi datang mengeceknya lagi. Dara berdiri dan bergegas meninggalkan


tempat duduknya. Apartemen mereka akan kosong beberapa saat sebab Cecil juga


telah lebih dahulu pulang ke rumahnya.


Kio tampak begitu bersemangat di


dalam perjalanan. Bocah itu paham mereka akan pergi naik pesawat, dan terus


menirukan bagaimana pesawat lepas landas. Senyum dan tawanya dapat dengan mudah


membuyarkan pikiran Dara yang sedang tidak fokus.


Seperti biasa, Dara mengurus segala


keperluan di bagian imigrasi hingga akhirnya mereka sampai ke ruang tunggu. Matanya


tertuju pada deretan pesawat besar rute internasional. Kio begitu bersemangat


ditemani Tami menekat pada kaca gedung yang bening, melihat pesawat yang


berjejer.


“Ada apa? Kamu seperti enggak


fokus?” raut wajahnya dapat dengan mudah dibaca oleh suaminya. Dara sebenarnya


sedang menahan mual yang seperti biasa datang merogoh lambungnya di pagi hari,


sekaligus memikirkan seperti apa kemungkinan reaksi keluarga lainnya jika


bertemu dengannya.


Tapi ... momen ini mungkin sesuatu


yang membahagiakan bagi suaminya, sehingga ia tak ingin merusaknya. Ia


menggenggam tangan suaminya, dan berkata, “enggak apa-apa. Aku hanya lagi mual.”


“Sabar ya ... Sekarang sudah empat


bulan, bukan? Akan segera selesai mual-mualnya. Kamu hebat.” Kini Tomi berusaha


selalu menyemangati istrinya yang selalu tersiksa dengan rasa mual. Sudah empat


bulan ini, Dara tak bisa beraktifitas gesit seperti biasanya. Bahkan ketika


bangun pagi, ia langsung merasakan pusing yang hebat, dan mual yang tak


tertahan. Sebuah botol minum kedap udara  selalu menemaninya ke mana-mana. Ia mengisi botol-botol itu dengan minuman


manis penuh dengan es batu, seperti anjuran dokternya, dan itu memang


menolongnya.


Dara membuka botol minumnya, dan


meminum sirup jeruk yang begitu dingin segar. Seperti obat, minuman itu seketika


meredakan mualnya yang hebat.


Tak terasa waktu berlalu begitu


cepat. Melalui pengeras suara, Dara bisa mendengar sebuah pengumuman agar


mereka menaiki pesawat yang telah menunggu. Mereka bergegas menuju pesawat itu,


yang ternyata beberapa kursinya kosong dan tak terisi hingga lepas landas.


Penerbangan langsung itu akan


membawa mereka mendarat di Jakarta dalam waktu empat jam lebih beberapa menit. Kio


terlihat pulas tertidur, dan Dara menggunakan kesempatan itu untuk tidur


menenangkan adrenalinnya yang terus meledak dalam tubuh. Beberapa kali ia


terbangun karena haus, dan suara Kio yang terbangun beberapa kali. Selanjutnya,


ia hilang dalam tidur yang nyenyak.


“Kak. Sudah mau mendarat.” Tami


mengguncang-guncang badan Dara dengan pelan. Dara membuka matanya, dan


membenarkan posisi sabuk pengamannya.


Tak berapa lama, ia bisa merasakan


pesawat itu kian rendah, dan akhirnya melandas di landasan pacu. Jakarta ... ia


belum pernah sama sekali berada di ibu kota itu. Ia hanya sempat singgah di

__ADS_1


sana saat akan berangkat ke Filipina.


Dara menuntun Kio turun dari pesawat.


Bocah itu dengan senang mengikuti arahan ibunya, dan menunjuk-nunjuk


sekelilingnya, memperlihatkan beberapa pesawat yang parkir. Sudah ada yang


menunggu mereka dengan mobil jemputan setelah mereka mengambil bagasi. Dara


kini semakin dekat menuju pertemuan pertamanya dengan keluarga besar Tomi.


“Mama di rumah, Tam?” ujar Tomi


seketika mobil itu melaju mengantar mereka ke rumahnya.


“Mungkin sedang pergi. Tadi sudah


aku telepon, Haris sendiri di rumah.” Kuping Dara dengan akurat mendengar


setiap percakapan Tomi dan Tami. Haris adalah adik laki-laki Tomi, anak kedua.


Ia masih punya satu lagi adik laki-laki bernama Heri, namun ia sangat jarang


berada di rumah karena hobinya pergi touring bersama komunitas motor.


Mobil itu melaju cepat, melewati


pintu tol, lalu pintu tol lainnya. Tomi mengarahkan sopir itu ketika mereka


masuk pada sebuah kompleks perumahan. Sangat berbeda dengan apa yang


bertahun-tahun dilihat Dara di kampungnya. Di kota besar ini, rumah satu dan


yang lain berimpitan. Di sana juga lebih banyak bangunan daripada pepohonan.


Mobil itu berhenti pada sebuah


rumah berpagar hijau, dan tembok luar rumah yang dicat senada. Ada sebuah mobil


terparkir di sana. Dara memang belum pernah menaiki mobil itu, namun dalam


beberapa tahun ini, suaminya sering mengambil jatah dari gaji mereka untuk


membayarkan cicilannya. Sebuah city car berwarna pink, yang telah berdebu tebal


kacanya, dan nyaris kusam. Sepertinya tak pernah digunakan.


Terlihat seorang lelaki dengan


rambut sebahu, dan wajah lumayan sangar dipenuhi beberapa bekas luka, keluar


dari pintu rumah. Sebuah senyum terulas diwajahnya.


“Kio! Hai anak manis!” ia girang


melihat Kio, dan bergegas menggendong bocah itu masuk. Dara menjadi kikuk


seketika. Lelaki itu mungkin saja belum tahu keberadaannya di dalam mobil. Tomi


menurunkan semua barangnya bersama Tami, dan menggenggam tangan Dara menuju ke


dalam rumah.


“Halo kak!” sapa Haris kepada Dara


Lelaki itu terus tersenyum beberapa kali bercanda dengan Kio. Ia lalu pergi ke


belakang, dan datang lagi dengan beberapa gelas penuh es teh. Dara masih tak


bisa bereaksi apa pun. Ia hanya duduk, lalu meneguk minuman itu.


“Katanya kakak lagi hamil?” Haris


membuka percakapan dengan Dara yang tampak begitu canggung di dalam rumah itu.


“Iya. Ini sudah empat bulan.” Jawab


Dara singkat, dengan sebuah senyuman.


“Kalau ada ngidam, kasih tahu saja


sayang. Haris tahu tempat-tempat enak untuk makan di sini.”Tomi ikut dalam


topik itu.


“Iya kak. Kakak pernah makan laksa


betawi? Enak. Nanti kita beli kalau pergi jenguk, Heri.” tambah Haris,


menawarkan kakak iparnya itu. Umur Haris lebih tua daripada Dara, akan tetapi


ia harus tetap memanggil Dara sebagai kakak.


“Je ... jenguk? Heri sakit?” Dara


bingung dengan apa yang dikatakan oleh iparnya.


“Iya kak. Sakit tabiat!” Tami


menyela pertanyaan yang ditujukan kepada Haris. Tomi menggenggam tangan istrinya


itu, dan menjelaskan maksud adiknya, ”Heri di penjara. Aku sengaja enggak kasih


tahu kamu. Takutnya kamu berpikiran yang enggak-enggak.”


Sebuah berita yang mengejutkan baru


saja masuk di pendengarannya. Dara terlihat kikuk, tak tahu apa yang harus ia


katakan.


“Maaf. Kenapa bisa?” ia bertanya


singkat, dan disambut tawa kecil dari Haris.


“Haha. Narkoba, kak. Ditangkapnya


di sini, di rumah. Sabu-sabu,” Haris menjawab seakan tak ada beban atas apa


yang menimpa adiknya.


Narkoba? Jadi ... bukan hanya Tomi.


Itu yang pertama tersirat dalam pikirannya.

__ADS_1


“Tenang saja kak. Kehidupan di sana


enggak seperti di film, kok. Dia masih bisa makan enak.” Tami berceloteh dari


dalam kamarnya.


“Iya. Tanya saja ke Kak Tomi soal


kehidupan penjara. Alumni,” ujar Haris lalu terkekeh. Tami terdengar ikut


terkekeh di dalam kamar, sementara Dara masih mencoba mencerna apa maksud


omongan kedua iparnya itu.


Tomi menggenggam lagi tangan


istrinya, wajah Dara tampak tersenyum namun kebingungan tak bisa ia


sembunyikan.


“Aku dulu di penjara. Sembilan bulan.”


Tomi memberitahukan kebenaran yang sama sekali tidak pernah ia katakan kepada


istrinya itu.


“Ke ... kenapa?”


“Senjata api. Ceritanya panjang.


Tapi itu bukan punya aku. Senpi itu punya sepupu Farah yang mampir ke sini, lalu


... Ya ... dia tinggalin di dalam mobilku, dan aku tembakkan saat malam itu aku


mabuk dan terancam dikeroyok beberapa orang,” Tomi menceritakan kejadian naas


yang menimpanya secara singkat.


Tami keluar dari kamar, dengan


setelan baju tidur, dan Kio dalam gendongannya.


“Dikeroyok beberapa banci,


maksudnya? Hahahahhaha” Tami mengejek, dan diikuti tawa Haris. Mereka tertawa


riuh beberapa saat, sampai Tomi menyuruh mereka untuk diam.


“Itu masa lalu, sayang,” ia


menangkis omongan adiknya.


Dara masih tak paham. Ia terus


mendengarkan cerita demi cerita dari Haris dan Tami, dan sesekali dibenarkan


atau dikoreksi oleh Tomi sebagai pemeran utama.


Di saat kejadian itu, Tomi masih


tinggal dengan Farah di rumah itu. Tomi seperti yang ia pernah katakan ... tak


begitu tertarik kepada Farah, dan jiwa ‘lelakinya’ sering mendorongnya untuk


mencari hiburan di luar.


Haris bercerita, Tomi memiliki


seorang pacar di tempat kerja, yang pernah ia bawa pulang bahkan ketika Farah


ada di dalam rumah itu. Farah tampak tak berkutik, jelas Haris. Ia terlihat


sudah mengenal wanita itu sebelumnya. Beberapa lama kemudian perempuan itu tak


pernah muncul lagi. Menurut Tomi, ia mengakhiri hubungannya dengan perempuan


muda itu.


Tak lama setelah itu, Tomi pergi


minum-minum bersama beberapa temannya di malam hari. Ketika melewati sebuah


persimpangan jalan, ia melihat seorang wanita yang melambai-lambaikan tangan.


Ia lantas berhenti menghampiri, dan birahinya begitu terpacu.


Wanita itu membawanya berjalan


menyusuri sebuah jalan tak ramai, dan tiba di sebuah rumah dengan banyak kamar.


Tomi pasrah, menunggu sebuah pemandangan yang mungkin akan ia lihat. Namun ...


“Iya. Tapi bukan perempuan yang


muncul di depan kak. Malah laki-laki dengan muka perempuan, dan lengkap dengan ‘batang’


hahahahahhahahahahaha” timpal Haris lalu mereka tertawa riuh lagi. Tami hingga


mengusap air mata yang keluar karena tertawa terlalu lama.


“Aku lari, sayang. Aku pikir itu perempuan.


Ternyata banci. Tapi dia malah teriak aku maling, dan beberapa orang datang


dengan balok, dan ... entahlah mungkin batu dan sebagainya. Aku terancam. Jadi


tanpa berpikir panjang, aku tembakan saja pistol di tanganku ke atas.” Tomi


menceritakan semua kepada istrinya. Dalam beberapa menit setelah mereka sampai,


banyak sekali kebenaran yang akhirnya diketahui Dara. Semua cerita ini membuat


hatinya terkejut dan seakan bangun dari mimpi. Lelaki yang selama ini ia dampingi


ternyata adalah seorang mantan napi, dan pemain wanita beberapa tahun lalu.


“Itu masa lalu, sayang. Sekarang


aku punya Kio, dan kamu. Enggak harus mengulang hal-hal bodoh seperti itu,”


Tomi berusaha meyakinkan Dara yang terlihat tak tertawa mendengar semua cerita


yang dianggap lucu oleh ipar-iparnya.


Ia bisa merasakan genggaman Tomi

__ADS_1


yang kuat pada tangannya, seakan meyakinkannya bahwa semua ini hanya sebuah


kisah lampau yang tak akan terulang pada rumah tangga mereka.


__ADS_2