
“Paspor kita? Sayang! Apa semua
paspor sudah di dalam tas?” sambil mondar-mandir ke sana kemari menggeret
koper-koper besar, Tomi mengecek agar segala dokumen telah dibawa. Akhirnya
hari itu tiba, mereka akan pulang ke Indonesia untuk berlibur, dan juga
mengantar Tami pulang.
Untuk seorang wanita yang pernah
menjadi gunjingan di dalam keluarga suaminya, keberangkatan ini menyimpan rasa
bahagia sekaligus was-was. Satu-satu hal yang menguatkannya adalah karena ia
telah bertemu dengan mertua dan hidup beberapa saat dengan salah satu iparnya.
Pendapat mereka, mungkin saja akan juga mengubah pandangan anggota keluarga lainnya.
Ya! Mungkin ...
“Sudah. Sebentar ya, aku mau
habisin serealku dulu!” seru Dara dari ruang makan. Semangkuk sereal gandum dan
susu dimakannya buru-buru. Tangannya meraih tisu yang ada di depannya dan membersihkan
mulutnya.
“Sudah selesai? Ayo. Mobilnya sudah
di bawah!” Tomi datang mengeceknya lagi. Dara berdiri dan bergegas meninggalkan
tempat duduknya. Apartemen mereka akan kosong beberapa saat sebab Cecil juga
telah lebih dahulu pulang ke rumahnya.
Kio tampak begitu bersemangat di
dalam perjalanan. Bocah itu paham mereka akan pergi naik pesawat, dan terus
menirukan bagaimana pesawat lepas landas. Senyum dan tawanya dapat dengan mudah
membuyarkan pikiran Dara yang sedang tidak fokus.
Seperti biasa, Dara mengurus segala
keperluan di bagian imigrasi hingga akhirnya mereka sampai ke ruang tunggu. Matanya
tertuju pada deretan pesawat besar rute internasional. Kio begitu bersemangat
ditemani Tami menekat pada kaca gedung yang bening, melihat pesawat yang
berjejer.
“Ada apa? Kamu seperti enggak
fokus?” raut wajahnya dapat dengan mudah dibaca oleh suaminya. Dara sebenarnya
sedang menahan mual yang seperti biasa datang merogoh lambungnya di pagi hari,
sekaligus memikirkan seperti apa kemungkinan reaksi keluarga lainnya jika
bertemu dengannya.
Tapi ... momen ini mungkin sesuatu
yang membahagiakan bagi suaminya, sehingga ia tak ingin merusaknya. Ia
menggenggam tangan suaminya, dan berkata, “enggak apa-apa. Aku hanya lagi mual.”
“Sabar ya ... Sekarang sudah empat
bulan, bukan? Akan segera selesai mual-mualnya. Kamu hebat.” Kini Tomi berusaha
selalu menyemangati istrinya yang selalu tersiksa dengan rasa mual. Sudah empat
bulan ini, Dara tak bisa beraktifitas gesit seperti biasanya. Bahkan ketika
bangun pagi, ia langsung merasakan pusing yang hebat, dan mual yang tak
tertahan. Sebuah botol minum kedap udara selalu menemaninya ke mana-mana. Ia mengisi botol-botol itu dengan minuman
manis penuh dengan es batu, seperti anjuran dokternya, dan itu memang
menolongnya.
Dara membuka botol minumnya, dan
meminum sirup jeruk yang begitu dingin segar. Seperti obat, minuman itu seketika
meredakan mualnya yang hebat.
Tak terasa waktu berlalu begitu
cepat. Melalui pengeras suara, Dara bisa mendengar sebuah pengumuman agar
mereka menaiki pesawat yang telah menunggu. Mereka bergegas menuju pesawat itu,
yang ternyata beberapa kursinya kosong dan tak terisi hingga lepas landas.
Penerbangan langsung itu akan
membawa mereka mendarat di Jakarta dalam waktu empat jam lebih beberapa menit. Kio
terlihat pulas tertidur, dan Dara menggunakan kesempatan itu untuk tidur
menenangkan adrenalinnya yang terus meledak dalam tubuh. Beberapa kali ia
terbangun karena haus, dan suara Kio yang terbangun beberapa kali. Selanjutnya,
ia hilang dalam tidur yang nyenyak.
“Kak. Sudah mau mendarat.” Tami
mengguncang-guncang badan Dara dengan pelan. Dara membuka matanya, dan
membenarkan posisi sabuk pengamannya.
Tak berapa lama, ia bisa merasakan
pesawat itu kian rendah, dan akhirnya melandas di landasan pacu. Jakarta ... ia
belum pernah sama sekali berada di ibu kota itu. Ia hanya sempat singgah di
__ADS_1
sana saat akan berangkat ke Filipina.
Dara menuntun Kio turun dari pesawat.
Bocah itu dengan senang mengikuti arahan ibunya, dan menunjuk-nunjuk
sekelilingnya, memperlihatkan beberapa pesawat yang parkir. Sudah ada yang
menunggu mereka dengan mobil jemputan setelah mereka mengambil bagasi. Dara
kini semakin dekat menuju pertemuan pertamanya dengan keluarga besar Tomi.
“Mama di rumah, Tam?” ujar Tomi
seketika mobil itu melaju mengantar mereka ke rumahnya.
“Mungkin sedang pergi. Tadi sudah
aku telepon, Haris sendiri di rumah.” Kuping Dara dengan akurat mendengar
setiap percakapan Tomi dan Tami. Haris adalah adik laki-laki Tomi, anak kedua.
Ia masih punya satu lagi adik laki-laki bernama Heri, namun ia sangat jarang
berada di rumah karena hobinya pergi touring bersama komunitas motor.
Mobil itu melaju cepat, melewati
pintu tol, lalu pintu tol lainnya. Tomi mengarahkan sopir itu ketika mereka
masuk pada sebuah kompleks perumahan. Sangat berbeda dengan apa yang
bertahun-tahun dilihat Dara di kampungnya. Di kota besar ini, rumah satu dan
yang lain berimpitan. Di sana juga lebih banyak bangunan daripada pepohonan.
Mobil itu berhenti pada sebuah
rumah berpagar hijau, dan tembok luar rumah yang dicat senada. Ada sebuah mobil
terparkir di sana. Dara memang belum pernah menaiki mobil itu, namun dalam
beberapa tahun ini, suaminya sering mengambil jatah dari gaji mereka untuk
membayarkan cicilannya. Sebuah city car berwarna pink, yang telah berdebu tebal
kacanya, dan nyaris kusam. Sepertinya tak pernah digunakan.
Terlihat seorang lelaki dengan
rambut sebahu, dan wajah lumayan sangar dipenuhi beberapa bekas luka, keluar
dari pintu rumah. Sebuah senyum terulas diwajahnya.
“Kio! Hai anak manis!” ia girang
melihat Kio, dan bergegas menggendong bocah itu masuk. Dara menjadi kikuk
seketika. Lelaki itu mungkin saja belum tahu keberadaannya di dalam mobil. Tomi
menurunkan semua barangnya bersama Tami, dan menggenggam tangan Dara menuju ke
dalam rumah.
“Halo kak!” sapa Haris kepada Dara
Lelaki itu terus tersenyum beberapa kali bercanda dengan Kio. Ia lalu pergi ke
belakang, dan datang lagi dengan beberapa gelas penuh es teh. Dara masih tak
bisa bereaksi apa pun. Ia hanya duduk, lalu meneguk minuman itu.
“Katanya kakak lagi hamil?” Haris
membuka percakapan dengan Dara yang tampak begitu canggung di dalam rumah itu.
“Iya. Ini sudah empat bulan.” Jawab
Dara singkat, dengan sebuah senyuman.
“Kalau ada ngidam, kasih tahu saja
sayang. Haris tahu tempat-tempat enak untuk makan di sini.”Tomi ikut dalam
topik itu.
“Iya kak. Kakak pernah makan laksa
betawi? Enak. Nanti kita beli kalau pergi jenguk, Heri.” tambah Haris,
menawarkan kakak iparnya itu. Umur Haris lebih tua daripada Dara, akan tetapi
ia harus tetap memanggil Dara sebagai kakak.
“Je ... jenguk? Heri sakit?” Dara
bingung dengan apa yang dikatakan oleh iparnya.
“Iya kak. Sakit tabiat!” Tami
menyela pertanyaan yang ditujukan kepada Haris. Tomi menggenggam tangan istrinya
itu, dan menjelaskan maksud adiknya, ”Heri di penjara. Aku sengaja enggak kasih
tahu kamu. Takutnya kamu berpikiran yang enggak-enggak.”
Sebuah berita yang mengejutkan baru
saja masuk di pendengarannya. Dara terlihat kikuk, tak tahu apa yang harus ia
katakan.
“Maaf. Kenapa bisa?” ia bertanya
singkat, dan disambut tawa kecil dari Haris.
“Haha. Narkoba, kak. Ditangkapnya
di sini, di rumah. Sabu-sabu,” Haris menjawab seakan tak ada beban atas apa
yang menimpa adiknya.
Narkoba? Jadi ... bukan hanya Tomi.
Itu yang pertama tersirat dalam pikirannya.
__ADS_1
“Tenang saja kak. Kehidupan di sana
enggak seperti di film, kok. Dia masih bisa makan enak.” Tami berceloteh dari
dalam kamarnya.
“Iya. Tanya saja ke Kak Tomi soal
kehidupan penjara. Alumni,” ujar Haris lalu terkekeh. Tami terdengar ikut
terkekeh di dalam kamar, sementara Dara masih mencoba mencerna apa maksud
omongan kedua iparnya itu.
Tomi menggenggam lagi tangan
istrinya, wajah Dara tampak tersenyum namun kebingungan tak bisa ia
sembunyikan.
“Aku dulu di penjara. Sembilan bulan.”
Tomi memberitahukan kebenaran yang sama sekali tidak pernah ia katakan kepada
istrinya itu.
“Ke ... kenapa?”
“Senjata api. Ceritanya panjang.
Tapi itu bukan punya aku. Senpi itu punya sepupu Farah yang mampir ke sini, lalu
... Ya ... dia tinggalin di dalam mobilku, dan aku tembakkan saat malam itu aku
mabuk dan terancam dikeroyok beberapa orang,” Tomi menceritakan kejadian naas
yang menimpanya secara singkat.
Tami keluar dari kamar, dengan
setelan baju tidur, dan Kio dalam gendongannya.
“Dikeroyok beberapa banci,
maksudnya? Hahahahhaha” Tami mengejek, dan diikuti tawa Haris. Mereka tertawa
riuh beberapa saat, sampai Tomi menyuruh mereka untuk diam.
“Itu masa lalu, sayang,” ia
menangkis omongan adiknya.
Dara masih tak paham. Ia terus
mendengarkan cerita demi cerita dari Haris dan Tami, dan sesekali dibenarkan
atau dikoreksi oleh Tomi sebagai pemeran utama.
Di saat kejadian itu, Tomi masih
tinggal dengan Farah di rumah itu. Tomi seperti yang ia pernah katakan ... tak
begitu tertarik kepada Farah, dan jiwa ‘lelakinya’ sering mendorongnya untuk
mencari hiburan di luar.
Haris bercerita, Tomi memiliki
seorang pacar di tempat kerja, yang pernah ia bawa pulang bahkan ketika Farah
ada di dalam rumah itu. Farah tampak tak berkutik, jelas Haris. Ia terlihat
sudah mengenal wanita itu sebelumnya. Beberapa lama kemudian perempuan itu tak
pernah muncul lagi. Menurut Tomi, ia mengakhiri hubungannya dengan perempuan
muda itu.
Tak lama setelah itu, Tomi pergi
minum-minum bersama beberapa temannya di malam hari. Ketika melewati sebuah
persimpangan jalan, ia melihat seorang wanita yang melambai-lambaikan tangan.
Ia lantas berhenti menghampiri, dan birahinya begitu terpacu.
Wanita itu membawanya berjalan
menyusuri sebuah jalan tak ramai, dan tiba di sebuah rumah dengan banyak kamar.
Tomi pasrah, menunggu sebuah pemandangan yang mungkin akan ia lihat. Namun ...
“Iya. Tapi bukan perempuan yang
muncul di depan kak. Malah laki-laki dengan muka perempuan, dan lengkap dengan ‘batang’
hahahahahhahahahahaha” timpal Haris lalu mereka tertawa riuh lagi. Tami hingga
mengusap air mata yang keluar karena tertawa terlalu lama.
“Aku lari, sayang. Aku pikir itu perempuan.
Ternyata banci. Tapi dia malah teriak aku maling, dan beberapa orang datang
dengan balok, dan ... entahlah mungkin batu dan sebagainya. Aku terancam. Jadi
tanpa berpikir panjang, aku tembakan saja pistol di tanganku ke atas.” Tomi
menceritakan semua kepada istrinya. Dalam beberapa menit setelah mereka sampai,
banyak sekali kebenaran yang akhirnya diketahui Dara. Semua cerita ini membuat
hatinya terkejut dan seakan bangun dari mimpi. Lelaki yang selama ini ia dampingi
ternyata adalah seorang mantan napi, dan pemain wanita beberapa tahun lalu.
“Itu masa lalu, sayang. Sekarang
aku punya Kio, dan kamu. Enggak harus mengulang hal-hal bodoh seperti itu,”
Tomi berusaha meyakinkan Dara yang terlihat tak tertawa mendengar semua cerita
yang dianggap lucu oleh ipar-iparnya.
Ia bisa merasakan genggaman Tomi
__ADS_1
yang kuat pada tangannya, seakan meyakinkannya bahwa semua ini hanya sebuah
kisah lampau yang tak akan terulang pada rumah tangga mereka.