
“Dara! Dar!” suara Tomi berteriak-teriak panik di pagi hari selagi Dara sedang berusaha menidurkan bayi Kayla. Hari ini kantor mereka memutuskan agar semua karyawan bekerja di rumah saja, sejak pemerintah mengumumkan sudah banyak penduduk yang terjangkit virus corona.
“Iya. Kenapa teriak-teriak?”
“Anak Fani meninggal. Barusan tadi pagi,” sebuah kabar duka disampaikan oleh Tomi. Tak seperti biasanya, Dara tak bergeming kali ini terhadap berita duka yang disampaikan suaminya. Ada nama Fani di sana, dan ia tidak tahu apakah rasa bencinya kepada perempuan itu masih isa membuatnya berempati.
Wajah Dara datar, tidak sedikitpun ucapan Innaillahi keluar dari bibirnya, dan ia juga tidak berkomentar apa pun. Tomi terlihat mengernyit, kembali memperhatikan layar ponselnya.
Fani seorang janda cerai, dari percakapan Tomi dengannya yang Dara baca, perempuan itu memiliki 2 orang anak. Entah anak yang mana yang meninggal, Dara seperti menjadi batu tanpa perasaan sama sekali tidak peduli.
“Ayo siap-siap!”
“Untuk apa?” tanya Dara dengan nada yang datar. Tomi menatap istrinya itu.
“Pergi mengunjungi Fani, Dara ...” nadanya tak senang.
“Kenapa harus? Kalau mau pergi, sendiri saja. Aku di rumah dengan anak-anak. Lagian, kita ada jadwal kerja jam 12 siang. Bukannya terlalu mepet kalau pergi sekarang?”
Tomi bercekak pinggang, lalu melihat ke atas, seakan berpikir apa yang salah dengan istrinya hari ini.
__ADS_1
“Anak Fani meninggal, Dar ...”
“Iya. Aku tahu. Lantas?”
“Kamu enggak ada empati sama sekali?”
“Apa kamu segitu dekatnya sampai seperti ini empatinya? Aku yakin orang tua yang lain di daycare juga enggak sampai seperti ini, mau pergi mengunjungi.”
“Jaga bicara kamu. Dia lagi berduka!”
“Aku juga pernah berduka! Aku baca chat kamu dengan dia! Aku berduka! Aku kehilangan kepercayaan yang sudah aku berikan kepada kamu, Tomi!” nada Dara meninggi. Ia seperti kehilangan kesabaran kali ini.
“Aku hanya minta kamu untuk pergi mengunjungi orang yang sedang berduka ... kenapa bisa kamu semarah ini?”
“Orang itu Fani. Itu kenapa aku marah! Berapa kali kamu seperti ini sama perempuan lain? Apa kamu kira aku sesabar itu? Apa kamu pikir aku enggak capek?” Dara kembali berkobar.
Tomi menggeleng lemas. Ia tentunya kaget atas respon istrinya. Ia pasti tidak menyangka Dara akan semarah ini, dan berani mengungkapkannya.
Tomi mengambil kunci motor, entah dia akan pergi ke rumah Fani atau tidak, Dara sudah tak peduli. Entah mengapa sejak ia mengetahui chat suaminya bersama pengasuh itu, ia menjadi sangat dingin kepada Tomi, dan sudah tidak dapat menangis lagi.
__ADS_1
Bunyi motor Tomi terdengar oleh Dara, namun ia seakan tak peduli. Ia menidurkan Kayla, dan mengecek Kio yang sudah tidur lebih dahulu. Pagi itu begitu dingin, sehingga anak-anaknya akhirnya tertidur lagi setelah sarapan.
Dara kembali beraktifitas, ia pergi ke dapurnya melihat tumpukan cucian piring, lalu segera ia bereskan. Di pojok ruang cuci, setumpuk cucian menggunung dalam mesin cuci, Dara memandang tumpukan itu sejenak, lalu pergi menyalakan mesin cucinya.
Tiba-tiba, suara motor Tomi terdengar lagi di depan rumah. Ia sudah kembali ...
“Aku sudah titipkan sumbangan duka ke Ummi ...” ujarnya begitu memasuki dapur menyusul Dara. Dara sama sekali tak memberikan respon kepada suaminya. Ia lanjut membereskan kekacauan di ruang cucinya karena kucing yang mengacak-ngacak boneka anak-anak yang hendak ia cuci.
“Dia bukan perkara besar, Ra. Aku heran kalau kamu sampai cemburu seperti ini dengan dia. Kalaupun aku berbalas pesan sama dia, sekedar basa basi saja. Tidak le-“
“Berhenti meyakinkan aku dengan omong kosongmu! Ini bukan kali pertama, dan aku sudah belajar banyak!” Dara memotong ucapan Tomi.
Ia bergegas pergi ke kamarnya, mengambil perlengkapan ibadahnya, dan Tomi tampak mengikutinya terus dari belakang.
Dara memasukan seperangkat perlengkapan ibadahnya ke dalam kamar yang dulu ditempati oleh Ros. Kamar itu masih rapi seperti sedia kala.
“Berhenti mengikuti aku. Aku mau beres-beres,” ujar Dara dengan ketus.
Ia dengan cepat melipat pakaian-pakaian kering di dalam kamar itu, tampak sekali wajahnya yang kesal, namun kali ini ia sama sekali tak bisa meneteskan air mata.
__ADS_1
“Apa aku mati rasa?” pikirnya dalam hati, setelah ia sadar, ia sama sekali tidak berempati atas apa yang terjadi kepada Fani. Andai itu terjadi kepadanya ia pasti tak bisa hidup lagi, namun kali ini ia tidak bisa berempati sama sekali kepada janda itu.