
"Mah! Mah! Dara!" suara Tomi memanggil terdengar nyaring menggelegar di dalam rumah. Dara cepat-cepat menyelesaikan apa yang ia lakukan di dapur dan menghampiri suaminya.
"Iya. Kenapa?"
"Bajuku yang kita beli di Singapura di mana?"
"Ada. Mau dipakai?" Dara terheran, sebab suaminya tidak suka memakai produk-produk branded ke sana kemari dalam kesehariannya. Tomi tak menjawab, hanya menatap istrinya dengan hembusan nafas berat, menandakan pertanyaan Dara itu tak perlu dijawab sebenarnya.
"Ini ..." ujar Dara sembari memberikan baju polo shirt yang ia baru keluarkan dari lemari, terlihat rapih di sebuah hanger.
Tomi mengambilnya tanpa basa-basi lalu meninggalkan istrinya itu, dan pergi mandi. Di hari libur ini, Dara berharap suaminya bisa mengajaknya pergi ke suatu tempat melepas penatnya, sepertinya ia salah ... Tampaknya Tomi sudah punya rencana lain.
Dara kembali kepada kepala ikan kakap yang sedang ia olah tadi. Ia sedang memasak gulai kakap kesukaan suaminya itu.
Ting! Ting! Ting!
Bunyi nada pesan masuk di ponsel suaminya. Dari siapa kira-kira pesan-pesan itu? Dara bertarung dengan rasa penasarannya, menimbang apakah ia harus membuka ponsel suaminya ... lagi ... setelah sekian lama ia tidak pernah mengeceknya.
"Baiklah ..." gumamnya kepada diri sendiri lalu pergi mengambil ponsel itu. Tidak dibukanya, hanya melihat isi pesan dari pintasan notifikasi di halaman awal ponsel.
+6287765******: [ Hahaha! Iya nih ayah Kio. Sampai jumpa kalau begitu ]
"Ehem! Ngapain kamu?" suara Tomi mengagetkannya, Dara lekas menggulir notifikasi ke atas lagi.
"Eh. Iya ... aku lihat jam tadi" polesnya.
Tomi bergegas mengambil ponselnya dari tangan istrinya itu lalu masuk ke dalam kamar. Tak lama berselang, ia keluar dengan baju yang tadi ia minta, celana jeans berwarna navy, dan sepatunya yang jarang ia pakai.
"Rapi sekali ..." batin Dara bersahutan dengan berbagai pertanyaan yang muncul di kepalanya.
"Aku pergi dulu. Mau jemput anak-anak. Kamu siap-siap, nanti begitu aku kembali ke sini, kita pergi dengan anak-anak." ujar Tomi singkat, tanpa lagi menatap istrinya itu, tak juga menunggu jawaban Dara.
Dara menjadi datar ekspresinya, memikirkan bahwa suaminya itu sudah jarang sekali melakukan kebiasaan mereka sedari menikah yaitu menunggu kecupan di punggung tangan darinya sebelum pergi ke mana-mana.
"Apa dia marah kepadaku? Apa aku terlalu sibuk mengurus dua orang anak?" batinnya.
Sejak mereka tidak menggunakan jasa pembantu rumah tangga, Dara menjadi lebih sibuk. Ia harus bangun lebih pagi, menyiapkan bekal mereka di kantor, juga untuk kedua buah hatinya selama dititipkan. Ketika pulang di rumah, Dara biasanya bergegas memasak, mencuci, dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.
Entahlah ... ia sendiri tidak paham bagaimana harus membagi waktunya, tapi setelah semua selesai sepulang kerja, ia selalu punya waktu.
__ADS_1
Rutinitas ini sudah bertahan berbulan-bulan, tak terasa saat ini Kayla sudah memasuki usia 8 bulan. Bocah itu sudah memiliki 4 gigi depan yang menambah imutnya, dan sudah mulai bicara dalam bahasa bayi. Kio pun telah mulai berbicara, mengadopsi bahasa yang digunakan oleh teman-temannya di daycare. Karena minatnya, Kio akhirnya diputuskan untuk mengikuti kelas PAUD bersama anak-anak lainnya di sana, dan ia terlihat antusias. Terlalu sibuk, hingga waktu berlalu begitu saja ...
Dara kembali kepada masakannya yang hampir selesai. Ia hanya perlu mendidihkannya 4 menit lagi.
"Hmmmm. Enak." gumamnya setelah mencicipi sesendok kuah gulai itu.
Seperti kata suaminya, Dara segera mandi dan bersiap. Ia tahu betul suaminya tidak suka menunggu seseorang bersiap-siap jika hendak pergi ke mana-mana.
Sepertinya suaminya itu akan mengajaknya berjalan-jalan setelah bekerja penuh seminggu di kantor dan di rumah.
Dara mengambil rok midinya. Warna krem itu terlihat begitu cantik di tubuhnya, dengan atasan putih pucat. Rambutnya terurai begitu cantik.
Drrrtt!
Bunyi ponselnya. Sebuah notifikasi Instagram. Dara membukanya, melihat sebuah permintaan pertemanan dari seseorang dengan nama Rafa Aditya. Hmmm, cukup familiar. Ia menerima permintaan itu, lalu lanjut menyisir rambutnya.
Drrrtt!
Ponselnya berbunyi lagi bertubi-tubi. Dara memeriksanya, mendapat notifikasi like pada foto-foto yang ia posting, lalu pesan dari orang yang baru saja ia konfirmasi permintaan pertemanannya.
Rafa Aditya: [ Hai. Ini Dara? Dara Maudya? Teman SMPku bukan? ]
Dara: [ Iya. Ini aku. Rafa peot? Si ceking? ]
Rafa: [ Hahaha! Iya ini aku si ceking, peot. Apa kabar? Sudah 2 anak ya kamu, Ra? ]
Dara: [ Iya sudah 2. Kamu sendiri? ]
Rafa: [ Aku masih sendiri, Ra. Aku kerja di Jakarta sekarang, tapi kami sekeluarga sudah pindah ke Bandung. Kamu Bandung sebelah mana, Ra? ]
Dara: [ Di Dago. Rafa. Maaf, ya. Nanti disambung lagi. Aku lagi bersiap mau pergi dengan suamiku. Aku juga enggak bisa sering berbalas pesan ... mmmm ... takut jadi fitnah. ]
Rafa: [ Aku paham. MasyaAllah. Kamu sudah jadi perempuan muslim. Aku happy! ]
Dara tak membalas pesan terakhir itu, hanya membacanya saja. Ia sangat berhati-hati berbalas pesan dengan lawan jenis, tak mau menimbulkan pertanyaan dari suaminya jika terbaca.
Sudah satu jam sejak Tomi pergi, belum ada tanda-tanda ia kembali, padahal jarak rumah ke daycare begitu dekat. Dara dengan sabar menunggu, sembari mengirimkan pesan kepada suaminya itu.
Dara: [ Sudah? ]
__ADS_1
Pesan itu hanya dibaca saja oleh Tomi namun tidak dibalas. Dara menunggu cukup lama, hingga akhirnya ia putuskan berbaring di kasur, melepas lelah punggungnya. Dua jam berlalu, belum datang juga.
Pipppp! Bunyi klakson motor suaminya. Dara bergegas turun dengan tasnya.
Kayla dalam gendongan MShape di tubuh Tomi, sedang Kio duduk dengan manis di kursi boncengnya. Dara mengambil bayi perempuan itu, lalu menggendongnya dan naik ke atas motor.
"Ke mana bi?"
"Belanja aja, ya? Buat di rumah ..." jawab Tomi. Dara mengangguk.
Motor itu melaju membawa mereka ke sebuah pusat perbelanjaan tak jauh dari situ. Dara bergegas turun dan membantu Kio turun dari kursinya, sementara Tomi terlihat sedang membalas sesuatu di ponselnya sebelum akhirnya turun juga.
"Kio sini sama papa," Tomi memberikan tangannya untuk diraih anaknya tersebut. Dara mengambil sebuah keranjang belanja, lalu berjalan menyusuri koridor-koridor mengambil apa yang mereka butuhkan di rumah.
Mereka biasa berbelanja rutin seperti ini setiap minggunya, dan Dara begitu cerdas mengelola semuanya di rumah.
"Waaaaaaaa!" suara tangisan Kio mengagetkannya. Dara mencari asal tangisan itu. Rupanya bocah itu jatuh di koridor sebelah. Dara celingak celinguk mencari suaminya yang tadi bersama Kio. Ia menenangkan anaknya itu, sambil terus melihat sekeliling. Tomi terlihat berada begitu jauh dari Kio, sedang berdiri mengutak-atik ponselnya.
"Bi!" panggilnya kepada Tomi. Lelaki itu tak bergeming. Pastinya suara Dara tidak begitu terdengar.
Dara menaikkan Kio pada kereta belanja dan menuju ke arah Tomi.
"Apa sih, sibuk sekali dengan HP? Itu Kio jatuh!" ucap Dara sembari merebut ponsel dari tangan suaminya.
"Sini! Balikin! Saya lagi balas pesan orang!" nada Tomi meninggi, membuat beberapa mata menatap mereka.
Dara menahan geramnya.
"Ini Kio jatuh, bi. Simpanlah dulu HP-nya." ia berbicara dengan nada lebih pelan.
"Sudah selesai belanjanya? Kalau sudah ayo pulang!"
"Belum. Kamu tolong dong, bi. Gimana bisa aku cepat-cepat kalau Kio saja enggak ada yang menjaga." Dara makin halus lagi nadanya. Tomi menyimpan ponselnya lalu menggendong balita itu.
"Cepatlah. Aku tunggu di luar, di food court." ujar Tomi lalu berlalu dengan Kio. Tak biasanya Tomi seperti ini. Biasanya ia paling semangat menemani Dara berbelanja.
Dara cepat-cepat menyusuri satu koridor ke koridor lainnya, lalu pergi ke kasir membayar.
Ia pergi ke kasir membayar lalu keluar membawa 3 kantong belanjaan. Dari kejauhan ia bisa melihat Kio dan Tomi. Bocah itu sedang melahap semangkuk es buah, sedang ayahnya masih tampak serius pada ponselnya. Dara menghembuskan nafasnya, terasa seperti ingin marah tapi tak mulai pertikaian. Setiap kejadian seperti ini, ia terus saja terngiang apa kata mertuanya, "Sabar, Ra. Jadi istri memang harus banyak sabarnya."
__ADS_1
Ia tahu ia harus lebih banyak lagi bersabar dengan suaminya itu, meski sudah beberapa bulan ini sifatnya sangat berubah. Masih pikiran positif yang ia coba pakai, yaitu mereka hanya menjadi sangat sibuk, dan hal itu wajar.