Perempuan Di Balik Layar

Perempuan Di Balik Layar
Bab 47 - Harmonis


__ADS_3

Siang yang cukup panas itu tidak menyurutkan semangat Tomi, dan Dara. Bersama kedua anaknya, dengan setia mereka memerhatikan proses pengerjaan alat yang diminta oleh Dara. Sudah dalam beberapa minggu ini akhirnya mereka melaksanakan rencana Dara untuk membuat alat daging asap impiannya. Beberapa hari lalu, Dara sudah berhasil meracik bumbunya, dan sudah beberapa kali ia mencoba untuk menyempurnakan resep itu, hingga akhirnya kata “sempurna” keluar dari mulut suaminya, dan ia sendiri merasa begitu puas dengan hasil dari rasa yang ia ciptakan.


Tettt! Teett!


Suara mesin pemotong besi berbunyi, dan percikan api dari gesekan alat itu memancar dengan terangnya


Di samping rangka alat pemanggang besar itu, seorang pria berjongkok dengan rokok kretek di sudut bibirnya yang menyala. Kulitnya legam, tubuhnya tegap tinggi, dan beberapa kali ia memberi candaan kepada Dara juga Tomi. Namanya Sapri ... Rupanya ia begitu cekatan, dan paham apa yang dimau oleh Dara. “Jadi teteh sudah ada resep rahasia ya?”


“Iya sudah ada, Kang. Nanti kita cobain, ya.” Jawab Dara dengan senyum ramahnya meski tidak terlihat oleh Sapri.


“Wah, kalau nyobain mah kan sedikit atuh teteh!” sambung Sapri dengan candaannya. Semua bergelak tawa mendengar candaan itu.


Selain Sapri, ada tiga orang lainnya yang turut membantunya menyelesaikan pekerjaan itu. Tidak heran, dalam beberapa hari saja mereka sudah merampungkan 70% dari alat yang Dara minta.


Dengan ukuran hampir 2 meter lebarnya, semua orang punya imajinasi masing-masing tentang bagaimana alat itu akan dengan gagahnya berdiri dan menarik perhatian banyak orang yang lewat.


“Pandemi begini, apa saja di rumah, teteh? Berduaan terus dong?” goda Sapri.


“Iya ini berduaan terus. Makin lengket sama istri, “ Tomi menyambar pertanyaan itu.


“Bisa-bisa tambah lagi ini pasukannya ya, kang? Soalnya dingin kan, hahahahaha. Lagian sebentar lagi sudah punya bisnis, enggak apa-apa dong kalau kang Tomi mau tambah anak lagi.”


“Aduh. Cukup, kang. Capek. Sudah dua saja, ah” Dara menjawab candaan itu, dan Sapri tertawa kecil.


“Itu anak-anak enggak apa-apa dibawa pandemi begini, teh? Pulang saja. Yang penting hari ini kita sudah ketemu untuk tambah dana, hehe. Paling seminggu lagi sudah selesai.”

__ADS_1


“Seminggu? Cepat juga, ya?”


“Iya. Kalau ada yang cepat, jangan ditunda-tunda Kang Tomi.” jawab Sapri kepada temannya itu.


Dara menatap Tomi, menganggukkan kepalanya dengan pelan dua kali, memberi tanda agar mereka segera berpamitan. Meski ia sangat bersemangat dan ingin lebih lama berada di sana melihat proses pembuatan alatnya, Dara harus memikirkan kesehatan anak-anaknya juga.


“Ya sudah. Kami pamit, Kang. Salam sama istri ya, kok belum pulang dari pasar?” Dara berpamitan dan sedikit berbasa-basi.


“Ah! Biasalah ibu-ibu, singgah sana-sini. Terima kasih teteh sudah mampir.” Sapri bangkit berdiri mengantar tamunya itu hingga mereka pergi berlalu.


Perasaan yang bercampur aduk terasa begitu kuat dalam dirinya, dan Dara tahu ia merasa begitu puas bisa merealisasikan mimpi yang ia buat hanya dalam sekejap mencoret di atas kertas saja.


Kio tampak begitu riang duduk di kursinya di bagian depan, sementara rambutnya diterpa angin, ia tampak ceria menunjuk kesana kemari pada objek-objek yang ia temui. Kayla sendiri tertidur pulas terapit Dara, dan Tomi.


Lampu merah di jalanan lebar Soekarno-Hatta, menghentikan mereka sesaat. Matahari mulai terasa menghangatkan dan pelan-pelan memanaskan kulit Dara yang putih. Tomi mengelus tangan yang memeluknya itu, dan Dara dengan cepat menangkap jemari suaminya.


“Ah. Motor juga sudah cukup.” Jawab Dara.


“Tapi kalau kepanasan begini? Lebih nyaman dengan mobil kan?”


“Iya deh,” Dara menyetujui apa yang dikatakan suaminya. Motor itu kembali melaju dan cuaca Bandung memang selalu penuh kejutan. Tak jauh setelah beberapa meter, langit mendung besar mulai tampak. Satu per satu tetes air hujan turun, dan dengan cepat mengguyur. Tomi dengan panik menepi di depan sebuah minimarket, dan membantu Kio untuk turun, sementara Dara menggendong Kayla. Satu keluarga kecil itu berdiri meneduh, memandangi hujan deras yang mengguyur Bandung.


“Kayla masih tidur kan? Sini aku gendong kalau kamu capek?!” Tomi mengulurkan tangannya.


“Enggak usah. Ini masih tidur, kok.”

__ADS_1


“Sudah. Sini saja nanti kamu capek.” Tomi mengambil putrinya itu dan menggendongnya. Beberapa detik, ia memerhatikan balita yang tidur dalam pelukannya. Bibir merah merekah, mungil itu beberapa kali dicubit pelan oleh ayahnya yang gemas.


“Cantik sekali kamu, Nak. Nanti kita beli mobil ya, supaya Kayla lebih nyaman lagi keliling Bandung,” ujar Tomi mengulang lagi topik tentang membeli mobil. Dara tersenyum, sambil menggenggam tangan Kio. Beberapa kali ia menjawab pertanyaan Kio tentang hujan, awan mendung, dan apa saja yang lewat di sana.


“Hujannya bakal begini terus ya, bi?”


“Iya sayang. Kenapa?”


“Apa enggak sebaiknya kita teruskan saja?”


“Iya sih, sebentar lagi sudah sampai rumah.” perkataan Dara itu disetujui oleh Tomi.


“Ya sudah. Kamu pakai jaketku supaya jangan basah,” sambungnya namun langsung mendapat gelengan kepala dari Dara.


“Jangan. Buat Kio saja. Kayla pakai jaketku ditutup. Kan dekat saja, sayang,” Dara berusaha meyakinkan suaminya itu lalu segera menjalankan rencana mereka. Setelah anak-anak mereka aman tertutup dengan jaket, Tomi melaju lagi dengan motor itu membawa keluarganya pulang. Di wajah sepasang orang tua itu, butiran air hujan pelan-pelan membasahi, dan tangan mereka pun mulai merasakan kedinginan yang lumayan membuat kaku.


Dara masih dengan kuat memeluk Kayla dan beberapa kali mengecek agar balita itu aman saja di dla jaket yang ia gunakan sedemikian rupa untuk membungkus anaknya itu.


Syukurlah! Tak berapa lama, mereka tiba di rumah, Dara buru-buru turun membukakan pintu.


“Sudah aku saja,” Tomi meraih kaki istrinya sebelum Dara berhasil menunduk. Ia membantu melepaskan sepatu istrinya yang pastinya sudah basah kuyup beberapa kali tersiram genangan air yang dicipratkan oleh mobil.


Dara tersenyum dengan raut wajah yang berbeda. Kali ini ia betul-betul merasakan kehangatan dari suaminya itu.


“Aku tidurkan anak-anak dulu.”

__ADS_1


“Setelah itu aku mau mie rebus ya sayang?”


“Iya bos.” jawab Dara kepada suaminya itu.


__ADS_2