Perempuan Di Balik Layar

Perempuan Di Balik Layar
Bab 62 - Tomi Mencoba Lagi


__ADS_3

Sejak Adi dan Egi datang dari Garut dan bergabung di dalam rumah itu, suasana mencair. Dara tak lagi bisa terlalu dingin kepada suaminya. Ia bagaimanapun harus menjaga muka suaminya itu, dan jangan sampai memicu karyawan mereka itu menjadi tidak hormat kepada Tomi.


Untuk menghindari kejanggalan, Dara kembali ke dalam satu kamar dengan Tomi. Meskipun ... masih ... ia belum mau disentuh sama sekali oleh suaminya itu. Terlebih saat beberapa kali ia pergoki sebuah chat dari Fani di dalam ponsel suaminya, Dara menjadi kembali dingin ketika mereka berdampingan di satu ranjang yang sama.


Hingga sejauh ini, Tomi masih menampik tuduhan Dara dan berikeras bahwa ia tidak memiliki hubungan apa pun dengan Fani. Semua chat-nya dengan Fani hanya sekedar kewajaran dari sifatnya yang ramah kepada siapa saja. Semua itu mungkin saja benar, tapi tak ada satu perempuan pun di bawah kolong langit yang bisa percaya begitu saja, apalagi menerima.


Adi dan Egi ternyata benar-benar teman baik. Mereka selalu kompak dalam bekerja, dan Dara menjadi lebih ringan dalam pengolahan bahan baku. Kini semuanya dibereskan koleh dua karyawannya itu. Pemuda-pemuda itu juga sopan, dan tahu menempatkan dirinya.


Sementara K’s terus melonjak jumlah orderan-nya, Tomi makin sering wara wiri bersama teman-teman tongkrongannya, dan sering mengajak kedua karyawannya bersama. Mereka lebih seperti kakak beradik, dan bukan atasan bawahan.


Ketika kedai tutup, Adi dan Egi dengan sendirinya bangun membantu Dara melakukan bersih-bersih di sekitar rumah, dan terkadanng mengajak anak-anaknya bermain. Dara bisa beberapa saat menenangkan diri sekedar menonton sesuatu yang ia sukai. Sebagai ucapan terima kasihnya, dalam beberapa bulan pertama ia memberikan bonus kepada mereka ketika hari gajian datang.


Dara menarik selimutnya bersiap untuk tidur setelah mereka bersantap malam bersama. Anak-anaknya sudah lebih dahulu tidur, kelelahan setelah berenang sore tadi. Lampu kamar sudah ia matikan dan semua jendela sudah ditutup rapat.

__ADS_1


Tomi yang berbaring memunggunginya, beberapa kali terkekeh sambil mengutak-atik ponselnya. Bukan pemandangan yang baru, Dara bisa mengabaikan itu sekarang.


Ia memejamkan matanya, agar bisa cepat terlelap. Lengannya yang dingin tiba-tiba merasakan sebuah elusan dari telapak tangan yang hangat.


Tomi merangkul istrinya itu, lalu mencium belakang lehernya, sesaat Dara langsung sadar dari setengah tidurnya. Ia tidak bergerak, dan berusaha tidak merespon suaminya itu. Otaknya memaksanya untuk kembali tidur .... atau setidaknya pura-pura tidur.


Tomi tak berhenti ... tangannya merangkul istrinya lebih kuat, membalikkan badan perempuan itu ke arahnya dan menciumnya dengan penuh hasrat. Sama saja ... Dara berusaha tak membuka mata, berharap suaminya itu akan berhenti.


Dengan perasaan yang masih mengganjal, Dara sama sekali tidak bisa ‘melayani’ suaminya itu. Terlalu banyak luka sehingga ia tidak bisa memiliki hasrat yang sama.


Dara bangkit duduk mendorong tubuh suaminya, dengan muka setengah kesal ia memandangi suaminya itu.


“Kenapa?”

__ADS_1


“Cukup. Kamu selalu begini.” Jawab Dara singkat.


“Selalu apa?” nada Tomi menunjukkan kekesalannya.


“Apa? Begini. Kamu hanya datang kepadaku untuk urusan kasur. Tapi kamu juga tidak mau tahu perasaanku.”


Tomi berpindah posisi. Ia berdiri di samping ranjang, dan menarik lengan Dara.


“Dara! Itu tugas istri! Gue menikah dengan seseorang supaya kapan pun gue mau, ada tempat. Bukan kayak gini!” dengan kasar ia mengguncang-guncang bahu istrinya.


“Jadi maksud kamu, aku hanya untuk urusan kasur? Apa hanya itu yang ada di otak kamu? Soal kebahagiaanku? Apa itu enggak penting? Kamu enggak cinta lagi sama aku? Sudah enggak mau peduli?”


Tomi memegang kepalanya dengan kedua telapak tangan. Kepalanya pasti begitu berkunang-kunang karena batal melancarikan aksinya.

__ADS_1


“Cinta? Aku enggak tahu apa itu cinta. Hidup berumah tangga ya memang seperti itu. Grow up!”


Dara terdiam mendengar jawaban suaminya itu, dan ia kembali menarik selimutnya mencoba tidur.


__ADS_2