
Pikiran-pikiran itu datang begitu saja. Dengan cepat mereka menggerogoti otak Dara dan berhasim membuat air matanya lebih deras lagi berderai. Dara mulai melihat ke belakang, rata-rata semua masalah ini terjadi karena kecemburuannya. Ia mulai bimbang, apakah ini hal yang tepat? Apakah ia memang tidak perlu, dan tidak boleh cemburu agar rumah tangganya selalu harmonis?
Tapi ... hati wanita mana tidak cemburu melihat pesan suaminya bermesraan dengan wanita lain. Dengan istri tuanya saja, wanita lain pasti akan cemburu, apalagi jika dengan wanita yang sama sekali tidak ada hubungan dan ikatan apa pun sebelumnya.
Ddrrrtt. Ponselnya bergetar. Dara membuka pesan masuk dari ibunya.
Mama: [ Adik kamu harus segera regis ulang di kampus, Nak. Mama tunggu kirimannya ... ]
Dara menjadi bimbang ... kali ini ada lagi pengeluaran lain yang harus terjadi. Dengan tabungan yang makin menipis, ia tak mungkin bisa bertahan lama jika usahanya tidak ramai. Tapi ... pikirannya masih sangat terganggu dengan semua kejadian hari ini. Bagaimana pun, ia harus berani berbaikan dengan Tomi.
“Kita pulang malam ini. Ayo cepat rapi-rapi. Aku muak juga lama-lama di sini!” titah Tomi kepada Dara sembari masuk melemparkan jaketnya agar dilipat oleh istrinya itu. Sifat Tomi memang seperti itu, bahkan hanya untuk mengambil makanan pun, ia akan menunggu Dara untuk melayaninya.,
Dara tak keberatan tentunya ... ia tetap berusaha menjadi istri seperti apa yang ia pelajari dalam agama, dan terkadang hal itu begitu dipuji oleh suaminya.
Tangannya dengan cepat merapikan tas mereka, dan tidak lupa pergi ke dapur mengisi botol air anak-anaknya untuk di perjalanan nanti.
“Dara. Sini dulu ... mama mau bicara,” panggil mertuanya yang duduk di ruang makan. Dara menghampiri ibu Tomo dan duduk di depannya.
“Tolong. Jangan bikin rumit. Akhir-akhir ini Aa pasti pusing mikirin bisnisnya untuk terus berjalan. Belum lagi mikirin keuangan, membumbu, urusan online shop. Kasih dia jeda untuk bernafas ...”
__ADS_1
“Apa? Itu semua aku yang kerjakan! Bisnisnya? Ini bisnis aku, hey!” hati Dara begitu ingin berteriak demikian, namun tidak mungkin ia menjadi begitu berani kepada wanita di depannya ini.
Dari cara bicara mertuanya, ia tahu, suaminya pasti telah berhiperbola tentang kondisi mereka di Bandung .... memberi kesan bahwa semua hal dikerjakan olehnya dan bukan Dara.
Dara menarik napasnya. Apa boleh buat? Sekali lagi ... ia harus mengalah dulu.
“Maafin aku, Mah. Aku akan lebih hati-hati lagi bicara dengan Aa ...”
Mertuanya itu mengangguk, dan tanpa sepatah kata pun masuk kembali ke dalam kamarnya.
Dara menggenggam botol air anaknya dengan kuat, seakan ingin memeras air itu keluar begitu saja dari cela jari-jarinya.
Kepalanya mulai memunculkan banyak sekali prasangka, dan ia merasa suaminyatelah bercerita bohong kepada mertuanya itu. Selama ini Dara begitu mengikuti omongan suaminya, dan tidak sedikit pun protes tentang apa pun ...
Tangisan Kayla memecah fokusnya. Dara berjlaan cepat menuju kamar, dan melihat balita itu terbangun dan mencarinya.
“Sssshhh. Mama di sini ... jangan menangis ...” ia menggendong Kayla dan memeluknya erat.
“Sudah selesai? Ayo cepat!” Tomi yang masuk dengan sebatang rokok menyala di tangannya mengagetkan Dara yang sedang menutup matanya sembari menggendong Kayla.
__ADS_1
“Be-belum. Masih harus masukin sepatu anak-anak. Tunggu, ya. Kayla masih mau digendong.”
Tomi menepuk jidatnya, seakan tidak bisa menerima alasan istrinya itu, dan Dara menjadi salah tingkah melihat apa yang dilakukan suaminya itu, Dengan satu tangan ia menggendong Kayla, lalu memasukkan sisa-sisa barang lainnya yang masih ada di luar.
Dengan tergopoh-gopoh sambil menggendong anaknya, Dara berusaha agar apa yang disuruh suaminya cepat beres.
“Kio ... Nak ... Ayo bangun. Kita mau pergi ke tempat travel.” Dengan guncangan pelan, ia membangunkan Kio, dan anak itu langsung duduk menatap ibunya.
“Sudah? Ayo.” Lagi-lagi pertanyaan yang sama datang dari Tomi.
“Sebentar. Ini Kio harus pipis dulu. Aku juga harus pakaikan sepa-“
“Arrrghhh! Kamu itu dari tadi ngapain saja selama aku pergi? Main HP? Cek instagram?” emosi Tomi kembali lagi, dan kali ini ia sampai menendang pintu kamar itu. Dengan mendengus kesal ia pergi ke teras rumah, dan menyuruh Dara agar cepat keluar membawa tas dan anak-anaknya.
Dara tak banyak omong lagi. Dengan cepat ia membawa Kio bersiap-siap, sementara Kayla digendong oleh Tami yang baru saja datang.
“Aa. Kio enggak usah dibawa. Biarin Kio di sini.” Suara mertuanya mengagetkan Dara yang sedang memakaikan sepatu.
“Terserah.” Jawab Tomi singkat.
__ADS_1
“Sudah. Kio sama nenek saja, ya? Mau kan?” tanya ibunya kepada Tomi.
“Mauuuu. Nenek!!!” jawab Kio riang lalu berhamburan ke dalam pelukan neneknya itu.