
Setelah kepulangan Ros ke rumah orang tuanya, Dara benar-benar berubah menjadi serba bisa, dan pintar membagi waktunya. Ternyata hidup berjauhan selama 3 minggu dengan Kio, sudah cukup membuatnya rindu bocah itu, sehingga ia memutuskan untuk mengambil Kio lagi kembali bersamanya.
Kali ini lebih repot dari biasanya, sebab Dara sudah bekerja lagi. Ia tidak bisa dengan mudah meninggalkan pekerjaan begitu saja karena kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi, mengingat Tomi membiarkan 70% dari pendapatannya dimiliki Farah. Hal ini bukan hal baru lagi, sehingga dengan mudahnya Dara menjadi mati rasa setiap ia melihat suaminya itu mengirimkan dana dengan nominal cukup besar.
Di usia Kayla yang ke-4 bulan ini, Dara sedikit bisa bersantai karena bayi itu begitu tenang dan tidak mengalami kesulitan dalam tidur dan hal lainnya. Setelah pembahasan yang panjang, Tomi memutuskan untuk menitipkan kedua anak mereka di tempat penitipan anak yang mereka temukan ternyata tak begitu jauh dari kantor mereka.
Tempat penitipan anak itu cukup populer, mereka pernah sekali waktu mengunjunginya sebelum memutuskan untuk mendaftarkan Kio dan Kayla di sana. Dengan fasilitas yang lengkap, lingkungan yang aman dan jumlah pengasuh yang memadai, mereka bisa sedikit lebih tenang. Lagipula lumayan banyak balita yang dititipkan ke sana.
Pagi ini hari pertama mereka akan mengantarkan Kio dan Kayla ke sana. Jarak kantor yang lumayan dekat dengan tempat penitipan, dan pemiliknya yang sangat ramah, membuat Dara bisa dengan nyaman mempersiapkan segala sesuatu untuk kedua anaknya.
“Kita antar anak-anak, setelah itu aku antar kamu ke kantor, dan kamu selesai shift bisa jemput mereka. Begitu kan rencana kita sayang?” Tomi memastikan lagi.
“Iya. Kayak begitu. Lihat tempat susunya Kayla enggak? Aku baru beli kemarin.”
Tomi menghampiri istrinya yang tampak sangat sibuk, namun sudah rapi sejak pagi buta.
“Ini sayang? Lihat kan, kamu capek banget sebenarnya,” ujar Tomi sambil menyodorkan botol susu di tangannya. Dara tersenyum sekilas.
Setelah semuanya siap, mereka bergegas pergi. Tempat penitipan anak itu sudah ramai di pagi hari. Sudah banyak orang tua yang datang menitipkan anak mereka. Tiga orang pengasuh yang berusia paruh baya duduk di sana, menimang beberapa bayi yang berusia sekitar 4 hingga 8 bulan.
“Hai Kayla. Kio!” suara wanita yang ceria terdengar dari dalam, seorang wanita dengan balutan hijab coklat muda, keluar. Wanita itu bernama Fani, seorang pengasuh yang tinggal di tempat penitipan anak, menjaga tempat itu. Sedangkan pengasuh lain biasanya pulang setelah sudah selesai penjemputan oleh orang tua.
__ADS_1
“Sini bunda, Kayla sama aku.” Ia mengambil Kayla dari gendongan Dara. Kio terlihat langsung masuk ke dalam tanpa peduli dengan orang tuanya, berbaur dengan anak-anak sebayanya.
“Itu kan, langsung akrab Kio” Tomi menyenggol istrinya, Dara mengangguk dengan senyum, memerhatikan anaknya dari kejauhan.
“Titip anak-anak ya teteh, hari ini mamanya yang jemput. Saya kerjanya malam,” ujar Tomi kepada Fani. Wanita itu tersenyum ramah, dan dengan mata yang ceria ia dapat dengan mudah membuat Tomi terlibat beberapa kalimat percakapan dengannya, dan disela dengan beberapa gelak tawa.
“Kami pergi dulu. Saya sudah hampir jam kerja,” ujar Dara memberi kode kepada suaminya agar mereka bisa bergegas pergi.
Dara tidak berbicara dalam perjalanan, ia dengan penuh perhatian mendengarkan apa komentar tentang tempat penitipan anak itu di hari pertama. Ia sedikit tenang karena Kayla tidak menangis bertemu dengan orang baru.
“Aku pulang dulu. Badanku kurang begitu enak.” Pamit Tomi kepada istrinya lalu pergi.
“Dorr!!!!” suara Danang yang datang dari belakang mengagetkan Dara. Kedua hanyut dalam gelak tawa sembari berjalan menuju ruangan kantor mereka.
Dara menggeleng, karena ia juga tak paham apa yang ia rasakan. Yang pasti, ia merasa serba salah, dan merasa percakapan Tomi dengan pengasuh itu sedikit berlebihan, apalagi tak melibatkannya dalam percakapan.
“Gak tahu, Nang. Aku ... Ah gak jelas,” ujarnya sembari meletakan laptopnya di atas meja.
“Hmmmm kakak butuh jalan-jalan itu. Jalan sama kita, yuk. Mira mau ajak kita jalan-jalan rame entar.” ajak Danang. Dara menggeleng pelan, sebab pergi hanya akan menambah kerumitan dalam rumah tangganya sebab Tomi harus menjaga dua anak di rumah.
Danang merangkul pundak Dara, seakan memberi semangat kepada temannya itu. Sejak awal mereka berteman, Dara dan Danang begitu akrab. Meskipun usia Danang 2 tahun lebih tua dari Dara, ia tetap memanggil ibu dua anak itu dengan sebutan ‘kakak’.
__ADS_1
Bukan hanya mereka berdua yang berada dalam pertemanan erat itu, namun Mira juga demikian. Ketiganya sudah biasa tampak pergi makan siang bersama, dan selalu duduk berdampingan jika berada dalam satu shift yang sama.
“Aduh. Sial. Gue telat ya?” Mira yang baru datang bergegas mengeluarkan laptopnya. Keringan bisa terlihat membasahi dahinya, dan ini bukan kebiasaannya.
“Kok telat lu, Mir? Tumben amat.” Celetuk Danang, dan diikuti dengan cubitan pelan Mira pada lengannya.
“Telat bangun gue. Mau bagaimana lagi, telat ya telat saja. Dara kenapa tuh? Diam saja.” Perhatian Mira tertuju pada Dara yang menatap layar laptop seakan kosong.
Mira mendekati anggota timnya itu, menepuk pundaknya sembari mengagetkannya,”Heh. Mama cantik. Kamu kenapa?”
Dara tersadar dari lamunannya, ia dari tadi memikirkan percakapan Tomi dengan Fani.
“Biasalah. Masalah anak-anak,”
“Omong ke aku, Ra. Jangan sendiri dipendam.” Mira merangkul pundak temannya itu sama seperti yang dilakukan Danang.
“Jadi ... anak-anak masuk ke daycare hari ini. Bagus sih, enggak suspicious juga karena pengasuhnya banyak. Tapi ... aku kurang senang saja Tomi ngobrolnya terlalu akrab dengan pengasuh di sana tadi pagi. Aku enggak diajak omong juga,” ujar Dara dengan wajah setengah cemberut.
“Bang Tomi bukannya memang ramah begitu orangnya, ya? Kamu itu cemburu, Ra.” ucap Mira, disambut gelak tawa Danang. Dara mencubit Danang dengan pelan, mempertanyakan tawanya itu.
“Kamu itu lucu, kak. Mana mungkin bang Tomi suka sama prmpuan lain? Kamu kurang apa? Cantik iya, punya kerja, pintar, taat sama suami juga. Hahaha!” Danang tertawa sekali lagi, sebelum akhirnya mendapat cubitan selanjutnya dari Mira.
__ADS_1
“Danang betul juga. Suamiku enggak mungkin kan? Ah, entahlah ...” pikir Dara dalam hati.