Perempuan Di Balik Layar

Perempuan Di Balik Layar
Bab 53 - Prasangka Mertua


__ADS_3

Masih tentang Anna, ternyata pacar Haris itu memang sedang sakit. Anehnya, Haris sama sekali tidak memberitahukan ini kepada Tomi, dan Dara. Sudah 3 minggu lebih Anna terkulai lemas, dan tubuhnya mulai mengurus. Tak seperti biasa, pesan WhatsApp dari Dara pun tak ia balas. Kondisinya pasti sudah sangat lemas, pikir Dara.


DI hari itu, mereka melakukan perjalanan menuju rumah mertuanya, dan Dara sangat ingin cepat tiba agar bisa menjenguk Anna.


Dari kejauhan, rumah itu tampak begitu berantakan di bagian teras berserakan dus-dus besar dengan nama sebuah universitas tempat ibu Tomi mengajar. Wanita itu masih bekerja di usia lanjutnya.


Kring! Ponsel Dara berbunyi. Ia menjawab panggilan dari ibunya, dan langsung tersenyum.


“Dara. Mama lihat kamu punya kedai sekarang. Semangat ya, Ra.” suara ibunya terdengar begitu bersemangat, dan Dara merasa terharu mengetahui ibunya itu mengikuti setiap postingan Instagram-nya.


“Iya, mama. Berkat doa mama. Mama sehat?”


“Sehat. Kami sehat semua. Kamu? Kok ada suara motor?”


“Iya ma. Aku sehat, anak-anak juga. Ini aku lagi jalan kaki, mama. Baru turun dari travel. Sedikit lagi sampai rumah mertua.”


“Ya sudah. Nanti sore mama telepon lagi ya, Ra.”


Percakapan telepon itu selesai tepat setelah Dara sampai di depan pagar rumah. Tomi yang menggendong Kio, sudah lebih dahulu sampai di sana.


Pintu ruang tamu terbuka, dan terlihat Tami keluar sekilas tak tersenyum sampai ia melihat Kio dan Kayla.


“Anak-anak aunty. Ayo sini masuk!” ia menggiring kedua keponakannya masuk, tanpa menghiraukan Tomi dan Dara.


“Mama mana, Tam?” tanya Tomi kepada adik perempuannya itu.


“Di dalam. Lagi bete.” Jawabnya setengah kesal. Dara mengangkat bahunya sembari bertatap dengan Tomi. Keduanya mempertanyakan apa yang menyebabkan tidak ada sambutan hangat seperti biasanya.


“Mama.” Ucap Dara seraya mencium punggung tangan mertuanya yang kelihatannya dalam mood yang tidak baik. Wanita itu sedang berbaring di kamarnya, memegang remote TV dengan koyo yang tertempel di kedua sisi keningnya.


“Ada apa, mama?” Tomi yang baru masuk langsung bertanya kepada ibunya itu. Dara tak pernah melihat wajah kesal mertuanya itu. Melihatnya kali ini membuat tak enak hati, apalagi mereka baru saja dari perjalanan jauh.


“Adikmu itu enggak pulang rumah sama sekali. Urusin pacar terus.” Ujar ibunya dengan nada begitu kesal.


“Haris? Anna sakit kan, ma? Ya sudahlah ma. Namanya juga calon istri.” Tomi membela adik lelakinya itu.


“Calon istri? Tom. Ini berulah lagi si Haris, minta mama nikahkan minggu depan dengan Anna. Mau taruh di mana muka mama?”


Dara mulai serius mendengarkan percakapan itu. Ia ingin sekali mengetahui kendala mertuanya itu sehingga tidak mengizinkan Haris untuk menikah.

__ADS_1


“Mereka pacaran sudah lama sekali, Mah. Enggak adil dong buat Anna.”


“Kalau dia mau perempuan, banyak itu mahasiswi mama. Jauh lebih berpendidikan, jauh lebih sopan. Perempuan suka merokok begitu, apa yang mau diharapkan?” jawab ibunya dengan nada meninggi. Ah! Rupanya karena kebiasaan merokoknya, Anna tidak bisa diterima oleh ibunda Haris.


“Sakit apa memangnya, Mah?” Dara memberanikan diri bertanya.


“Sakit biasa palingan, panas demam. Dianya saja yang manja. Ingat ya, Tom. Antara pasangan atau ibu, harus dahulukan ibu. Lihat ini, mama juga lagi sakit kepala. Dia malah enak-enakan di sana.” Makin kesal nada bicaranya, dan kali ini apa yang ia katakan mengagetkan Dara. Pendapat ibunya itu bersifat pukul rata, artinya suatu saat nanti berlaku juga untuk dirinya.


Dara keluar dari kamar mertuanya, beralibi hendak mengecek anak-anaknya. Ia mengambil ponsel mengirim pesan pada Haris. Sebagai orang yang pernah begitu banyak dibantu oleh tenaga Anna, ia harus mengecek kondisi perempuan itu.


Dara: [ Anna sakit apa, Har? ]


Ia menunggu cukup lama, hingga akhirnya balasan pesan dari Haaris beserta sebuah foto. Anna sedang terkulai lemas di rumah sakit.


Dara : [ Di rumah sakit? Aku kira di rumah? ]


Haris: [ Iya kak. Sekarang lagi sulit bernafas. Jadi ya, di sini dulu ]


Dara menjadi paham mengapa Haris sudah tak pulang berminggu-munggu. Anna terlihat sangat kurus, hampir hanya tulang terbungkus dengan kulit saja. Selain itu, ia terlihat memakai alat bantu pernafasan. Ternyata mertuanya itu tidak tahu menahu kondisi wanita itu.


Dara: [ Semoga cepat sembuh, ya. Kamu jangan lupa makan, Ris. ]


Haris: [ Doakan ya, kak. ]


Bab 53 – Salah Kaprah


Foto Anna itu berjam-jam membuat Dara berpikir tentangnya. Anna memang seorang perempuan dengan tubuh yang kurus, namun di foto ini ia betul-betul hanya tulang yang terbungkus kulit. Bukan hanya itu, ia juga sudah menggunakan popok, menurut Haris. Wanita itu selalu penuh dengan tawa, namun ... ternyata ia menyimpan banyak kepedihan yang selalu ditutupinya, atau dengan mudah ia abaikan. Di sebulan  ini, ia jatuh sakit teramat parah, dan tidak tampak seseorang pun dari keluarganya pergi menggantikan Haris menungguinya di rumah sakit. Ya ... biaya pun berasal dari pinjaman yang diambil atas nama Haris.


Selain seorang istri yang begitu penyabar, Dara juga seorang ipar yang dekat dengan adik-adik Tomi. Ia selalu menyempatkan diri menjadi pendengar yang baik bagi keluh kesah Haris maupun Tami. Sedangkan, adik Tomi yang satunya lagi hanya beberapa kali curi-curi mengirimkan pesan singkat kepadanya dari dalam penjara seputar kebutuhan uang dan lain-lain.


Siang ini ia dan Tomi menyempatkan diri bercakap dengan Haris di telepon. Terlalu beresiko jika ia harus pergi menjenguk, dengan kasus Covid yang lumayan tinggi di sana.


“Ibunya ada datang, kak ... Tapi bukan untuk menjenguk, Pergi begitu saja setelah dompet dan ATM Anna dia minta, dan aku kasih,” begitu kata Haris yang masih terus terulang dalam kepala Dara. Sudah beberapa kali Dara mendengar cerita mengenai keluarga Anna. Perempuan itu seperti dibuang dari keluarganya, dan harus hidup sebatang kara di sebuah kos di Radio Dalam, Jakarta. meskipun demikian, ibunya itu masih sering datang untuk menagih uang bulanan, yang dianggapnya wajib sebagai balas budi Anna kepadanya karena sudah membesarkannya.


Dara sempat terdiam mendengar cerita itu ... Hal ini mirip-mirip terjadi kepadanya. Meskipun ibunya tidak membuangnya ... tetapi sangat jarang menanyakan kabar jika tidak ada sangkut pautnya dengan dana bulanan. Namun, Dara bukanlah wanita yang cengeng, meminta perhatian. 11 12 dengan Anna, ia lebih memilih untuk tidak memikirkan sikap ibunya itu. Terkadang di beberapa waktu, ia menerima komplain yang begitu panjang dari ibunya mengenai kesulitan keuangan, dan Dara sangat memahami hal itu tentunya. Kehidupan yang terus mengimpit di tengah kebutuhan yang terus jauh meningkat, akan membuat siapa saja gampang berkeluh kesah, tak terkecuali ibunya.


“Aku beruntung, bi. Setidaknya aku tidak dibuang sama mamaku. Kasihan Anna ...” ucapnya dengan mata berkaca-kaca..


“Makanya saya bilang, Haris itu enggak cocok dengan perempuan seperti itu.  Ibu enggak akan pernah membuang anaknya. Itu pasti ada sesuatu yang salah. Dari awal sudah saya bilang, Anna itu enggak cocok masuk keluarga kita. Haris saja yang ngotot setiap tahun minta dikawinin” ketus, mertua Dara menanggapi percakapannya dengan Tomi.

__ADS_1


Dara terdiam ... ia tidak mau memihak kepada siapa pun ... namun kata-kata mertuanya itu cukup mengganggu seperti lalat yang terbang di depan hidung.


“Haris itu sudah dewasa, Mah. Umurnya sudah hampir kepala empat. Aku rasa dia sudah tidak ada alasan lagi untuk kita larang-larang menikah.” Tomi memang sering kali berbeda pendapat dengan ibunya itu.


“Tapi tidak dengan Anna. Bukan dengan perempuan seperti itu. Itu maksud mama.” Tandas ibunya dengan nada kesal sedikit bersikeras.


“Pokoknya mama sampai kapan pun enggak akan setuju, mau sampai salah satu mengemis juga, ogah.” Sambung wanita itu dengan wajah kesalnya sembari menekan remote TV dan menonton sinetron  yang selalu wajib ia tonton.


“Tadi Om Ridwan apa ke sini?”


“Oh Cuma ambil titipannya. Nanti sebentar kita dikunjungin lagi, formasi lebih lengkap. Mau dengar soal usaha kamu, Tom,” jawab ibunya kepada Tomi.


Dara terdiam, tidak ingin menjawab apa pun kepada mertuanya itu.


Bip! Bunyi klakson mobil mengalihkan perhatian mereka.


“Mama! Ada Om Ridwan, pada ramean dari Pamulang.” Setelah Tami berseru demikian, terdengar ucapan salam ramai dari arah gerbang rumah. Benar saja ...


3 orang bibinya, dengan suami mereka datang mengunjungi Dara dan Tomi.


“Dara. Apa kabar? Anak-anak sehat?”


“Sehat, Bi.” Jawab Dara sembari bergilir menyalami bibi-bibi dan om dari suaminya itu.


Tomi datang dengan senyum sumringah khasnya, dan seperti biasa, keluarga itu langsung larut dalam percakapan, dan Dara lebih banyak mendengar daripada memberi komentar.


“Jadi itu  usahanya Tomi, sudah berapa bulan?”


“Baru, Om. Baru sebulanan.” Jawab Tomi singkat kepada salah satu omnya itu.


“Lumayan dong hasilnya? Bibi dengar jualnya per kilogram? Bumbunya dari siapa?” bibi Tomi yang paling bungsu bertanya dengan suara halusnya.


“Lumayan, bi. Kalau bumbu sudah pasti buatan ibu Dara.” Ucapnya menjawab singkat kepada bibinya itu.


Seperti biasa, apabila keluarga berkumpul, maka akan membahas tuntas apa pun ynang ingin mereka tahu tentang sanaknya.


“LLalu ... tujuan kedepannya apa ini?”


“Sederhana Om. Tomi mau punya 3 cabang lagi. Masing-masing satu untuk 3 anak di Makassar.” Ucapan Tomi itu langsung mendebarkan jantung Dara, sebab ia merasa mereka tidak pernah membicarakan ini sebelumnya.

__ADS_1


“Wah iya. Bagus itu. Tomi hebat loh bisa punya ide buat bisnis seperti ini.” Lagi-lagi bibinya menyanjung Tomi. Tomi adalah bintangnya kali ini. Semua orang mengira bisnis itu adalah idenya, dan ia sama sekali tidak ingin mengoreksi pendapat itu.


“Saya ke dalam dulu. Mau temani anak-anak. Permisi,” Dara berpamitan lalu masuk ke dalam sebuah kamar terkecil di rumah itu yang dipinjamkan apabila ia datang dengan anak-anaknya.


__ADS_2