
Berusaha teguh ... Dara tahu malam itu Tomi mencarinya dengan anak-anak ketika ia sampai di rumah. Kamar itu memiliki sebuah kaca jendela besar, sehingga Tomi bisa melihat dengan jelas istri dan anak-anaknya yang terlelap ... atau ... istri yang pura-pura terlelap.
Jendela itu belum sama sekali ia pasangi gordyn, dan sengaja kali ini tidak juga ia pasang.
Dara berusaha meyakinkan hatinya, untuk tetap pada rencana pisah ranjang. Jika suaminya itu merasa bahwa ia membutuhkan istrinya, maka ia harus datang meminta maaf.
Tiga malam setelah mereka tidur terpisah dari Tomi, Dara pergi memasuki kamar utama mereka. Tentu saja ... seperti yang ia tebak. Kamar itu begitu berantakan, dan bahkan handuk basah bekas mandi suaminya pun masih di sana. Dara beranjak dari kamar itu ...
Memikirkan foto yang dikirim oleh Danang itu begitu menyakitkan hati, dan membuatnya mampu mengabaikan perasaan ibanya kepada Tomi. Dara sudah mantap dengan rencana pisah ranjang ini, dan tidak mau meluluh sebelum ada penjelasan masuk akal dari suaminya tentang Fani. Wanita itu sekarang betul-betul terasa kehadirannya, meskipun beberapa saat lalu sebelum perang dingin ini, Tomi selalu menyangkali semua tuduhan istrinya.
βMana mungkin aku mau dengan janda yang padahal aku punya seorang istri yang aku nikahi ketika gadis?β kata-kata Tomi itu selalu berhasil mengubah pikiran Dara. Tapi ... tidak kali ini!
Sebuah pesan masuk sore itu membuyarkan Dara dari lamunannya. Ia tidak tidur ketika kedua anaknya tidur, namun hanyut dalam lamunan.
Reyhan: [ Apa kabar? Aku sudah kembali lagi ke Jakarta. Kamu kerja hari ini? ]
Dara menghembuskan nafas beratnya ... seakan tak memiliki energi untuk menjelaskan kepada temannya itu bahwa ia sudah tidak memiliki pekerjaan lagi. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk membalas pesan itu apa adanya.
Dara: [ Kabar baik, Han. Aku enggak kerja. Perusahaan tutup. Hehe. Tapi ada bisnis kecil-kecilan sekarang. ]
__ADS_1
Reyhan: [ Ya ampun. So sorry to hear that. Please kasihtau aku kalau ada yang bisa aku bantu, ya? Tapi bisnis lancar? Suami juga hilang pekerjaan? ]
Dara: [ iya. Kami berdua. Aman kok, semua berjalan lancar. Tapi ya, memang belum begitu ramai, yang penting kan meningkat, hehe. ]
Reyhan: [ Kamu kenapa, Ra? Story-nya galau terus. Ada masalah sama si dia? ]
Dara membaca pesan itu, dan berpikir. Ia menimbang apakah ia boleh menceritakan keluh kesahnya kepada temannya sedangkan ia sama sekali tidak menceritakan ini kepada keluarganya.
Dara: [ Sedikit. Doain ya, Han. ]
Reyhan: [ Hmm. Cobaan kalian lumayan ya, Ra. Semoga kuat. Kamu harus kuat, dia pun begitu. Itu fungsinya suami. Kalau suaminya kuat, istri jadi lebih termotivasi. Hehe. Sok tahu saja kok ini, aku kan jomblo ]
Dara tersenyum lebar membaca pesan Reyhan. Seketika ia seperti menemukan sesuatu yang membuatnya akhirnya tersenyum hari itu setelah murung sejak matahari terbit.
Reyhan: [ Ah. Kamu curi start, Ra. Lihat itu Uga juga jomblo. ]
Dara: [ Kalian lambar start-nya. Awas keburu kiamat. ]
Reyhan: [ π Kalau begitu sebelum kiamat, aku mau punya istri seperti kamu. Yang soleha, dan sabar. ]
__ADS_1
Dara tersipu membaca pesan itu, sebab Reyhan selalu memuji dengan kata-kata yang sama. Dara: [ Haha. Biasa saja kok aku ini. Hanya ibu rumah tangga. Belum tentu se-soleha yang kamu pikirin. ]
Reyhan: [ Kalau kita cari yang lebih baik, dan selalu cari yang sempurna, enggak akan nemu. Oh ya, ada foto kamu bercadar di IG. Aku tunjukin mamaku. Katanya, cantik sekali matanya. Mamaku kaget, kamu itu teman sebangku dulu sama aku. ]
Dara: [ Mamamu apa kabar? Haha. Aku ingat dulu aku beberapa kali mengantar kamu sampai gerbang sekolah dijemput mamamu karena sakit. Ya kan? ]
Reyhan: [ Betul. Kamu masih sama kayak dulu, Ra. Enggak aging sama sekali. Tambah cantik malah. Kok bisa ya, aku keduluan suami kamu? Haha. Kidding, Ra. ]
Dara berhenti sesaat membaca pesan itu, lalu menghapus semua percakapannya dengan Reyhan. Ia berpikir pesan seperti ini pasti akan memunculkan masalah baru dalam rumah tangganya. Di saat seperti itu, sisi bijaknya mulai menimbang apakah ia harus membalas atau tidak. Tapi tiba-tiba ...
Reyhan: [ Ra. Kamu enggak tersinggung kan? Aku bukan bermaksud kurang ajar. Aku tahu kamu istri orang lain. Aku hanya bicara yang jujur. Dari kita sekolah dulu, kamu itu perempuan yang menurut aku cantik dan unik parasnya. ]
Dara tersenyum membaca pesan itu, dan membalas ...
Dara: [ Thanks. Bisa saja kamu. Di Jakarta banyak yang lebih cantik, kok. Hehe. ]
Reyhan: [ Tapi yang membekas di otak itu enggak semua dong. Begitu maksud saya ibu Dara. π ]
Dara tersenyum lagi ...
__ADS_1
Kali ini ia mulai nyaman berbalas pesan dengan teman SMP nya itu, namun tetap menjaga ucapannya agar tidak melampaui batas. Meski bagaimana pun, ia adalah istri seseorang.
βHalo. Sibuk sekali sama HP-nya. Buatin aku kopi dulu. Pakai es ya, Mah.β Suara Tomi mengagetkan Dara yang sedang asyik berbalas pesan. Entah sudah berapa lama ia berada di jendela itu memerhatikan istrinya ...