Perempuan Di Balik Layar

Perempuan Di Balik Layar
Bab 58 - Perang DIngin


__ADS_3

Tak bersuara ... diam seperti tak punya suara, Dara memilih melakukan itu sepulangnya mereka di Bandung. Ia hanya  akan berbicara dengan anaknya Kayla, tanpa harus basa-basi keapada suaminya. Penat pastinya,, hatinya mulai bergejolak. Dengan kondisi ekonomi yang lumayan sulit, ia makin saja terimpit, dan kali ini terasa tidak banyak ruang untuk bernafas.


Sejak ketibaan mereka malam itu, Tomi tak juga bergeming. Tidak ada kata maaf yang keluar dari mulutnya, dan tidak ada niatannya menyelesaikan perdebatan mereka. Dara sendiri merasa sesuatu yang mengganjal di hatinya, namun terlalu lelah untuk mengalah dan meminta maaf untuk sesuatu yang terus terjadi.


Di saat-saat ini, ia meraasa linglung, dan kadang patah arah sebab mertuanya juga sudah ikut-ikutan unjuk taring di hadapannya. Mungkin jika hal ini ia ceritakan kepada orang yang terlalu berpatok akan ajaran agama, mereka akan memakluminya dan memintanya juga bereksi demikian.


Malam itu, Tomi menjadi es batu yang betul-betul beku. Tidur memunggugi Dara, tanpa sepatah kata pun sejak masuk ke dalam rumah. Beberapa kali, Dara bisa melihat tangan suaminya itu mengutak-atik ponselnya, tapi kali ini ia tak akan mendebbatnya.


Kring!


Suara ponsel begitu jelas terdengar oleh Dara, dan lelaki itu rupanya tidak sungkan menjawab panggilan itu.


“Iya? Aku sudah tidur. Baru saja sampai. Kamu?”


Dara cara bicara suaminya itu, Dara tahu itu bukan percakapan dengan seorang yang biasa. Pastinya sudah lumayan lama saling tahu menahu.


“Ada ini, di samping. Tidur mungkin ...”


Kali ini Dara tahu siapa pun yang menelepon, pasti menanyakan dirinya. Ia menutup matanya lagi, berpura-pura sudah nyenyak agar menyingkirkan keinginan untuk bertanya tentang panggilan itu di malam hari yang sudah begitu larut.


Ia rupanya tidak mati rasa ... seperti tersedak makanan, ia harus segera menghilangkan perasaan kesal di hatinya.


“Kok enggak minta maaf sama sekali? Ah bodo amat ...” gerutunya dalam hati sembari membuka aplikasi Instagram miliknya.


Tangannya seperti otomatis membuka laman story dan mengetik beberapa baris yang tebersit di kepala.


[ Entah harus apa kali ini ... berat ]


Drrrt!


Notifikasi Instagram masuk setelah beberapa detik ia baru mem-posting story-nya itu.

__ADS_1


Sebuah DM dari Danang menanggapi story itu:


Danang: [ Are You okay, kak? Aku tahu kakak lagi galau. You have been so sad these time. Tapi hak kakak kalau enggak mau cerita. ]


Dara menghela nafasnya, antara senang karena sahabatnya itu mengirim pesan setelah 3 minggu lebih mereka masing-masing sibuk bertahan hidup seusai kehilangan pekerjaan. Selama ini, Danang dan beberapa orang di timnya pasti telah mengendus sesuatu yang tak beres di rumah tangganya.


Dara: [ Nang ... Hehe. Iya. Lagi ada cobaan. Namanya juga hidup ya, Nang. Kamu sudah dapat kerja? ]


Danang: [ Sudah, Kak. Alhamdulillah. Kak Dara bagaimana bisnisnya? Cerita kak. Ada apa? Bang Tomi, ya? ]


Benar saja ... Danang dengan mudah menebak permasalahan yang terjadi, dan Dara sendiri tak kaget akan hal itu sebab sudah lama sebenarnya mereka sering menanyakan sembab matanya. Beberapa kali, perempuan itu pergi ke kantor dengan mata semababnya sebab ia harus menangis dengan stres yang lebih dikenal sebagai baby blues. Harus menahan sakit pada *********** yang terkadang sakit, sembari mengerjakan semua permintaan suaminya, membuat Dara beberapa kali menghabiskan malamnya menangisi diri sendiri. Suaminya bukannya tidak tahu bahwa ibu dua anak itu mengalami malam-malam yang berat melawan pikiran negatif yang menggerogoti otaknya ... ia hanya memang selalu tak acuh terhadap tangisan Dara. Terlalu manja menuruntya jika istrinya itu menangis untuk perasaan yanglebih dianggapnya sebagai mood swing.


Dara: [ We are not fine, Nang. Banyak sih. Syukurlah kamu sudah dapat kerjaan, Nang. Kerja yang baik, ya. ]


Danang: [ Ci Mira juga sudah kerja di sini, kak. Di Jakarta. Ayo ketemu. Glinda juga di sini. Kakak itu berat hari-harinya, butuh refreshing. Ke Jakarta, ayo. Sehari saja. Nanti kami ajak jalan-jalan supaya enggak penat. ]


Dara memikirkan ajakan Danang itu. Mungkin benar ada baiknya ia pergi menenangkan diri sesaat, meskipun harus membawa Kayla, tetapi ia bisa melepas rindu dengan teman-temannya.


Danang: [ Kak. Jangan bergantung sama rasa sakit. Itu ranting yang paling rapuh. ]


Deg! Dara seperti baru saja tersadar ... ia tahu selama ini ia bertahan melawan semua sakit hatinya. Sakit hati itu datang dari sifat suaminya, keluwesan Tomi berkomunikasi dengan perempuan lain, dan tidak pernah melibatkannya dalam hal keuangan, meskipun penghasilannya turut digunakan oleh suaminya itu.


Drrrt!


Satu notifikasi lagi ... namun bukan Danang ...


Reyhan:  [ Dara belum tidur? ]


Dengan instan, wanita itu tersenyum melihat  pesan Reyhan.


Dara:  [ Belum ... Kamu? ]

__ADS_1


Reyhan: [ Aku baru selesai Tahajud. Tadi sudah tidur sedikit. ]


“Tahajud? Lelaki ini betul-betul masih sama seperti jaman SMP dulu ...” pikir Dara dalam hatinya.


Dara: [ Katanya doa pas Tahajud itu VIP ya? ]


Reyhan:  [ InshaAllah kalau didoakan dengan ikhlas. Kamu masih jaga anak-anak?? ]


Dara: [ Oh Enggak. Aku masih bersih-bersih ]


‘bersih-bersih’ selalu menjadi alasannya tiap kali ia tidak dapat tidur da seseorang menanyakannya.


Reyhan: [ see? Beruntungnya suami kamu itu. Di Tahajud, aku juga berdoa supaya dapat istri seperti kamu. ]


Dara menjadi kikuk membaca pesan Reyhan itu ... entah ia harus bahagia atau malah takut pesan ini membuat salah paham Tomi jika ia menemukannya. Dengan cepat ia menghapus sederet pesannya dengan Reyhan dan tak membalas temannya itu.


Tingkah Tomi makin menjadi-jadi. Entah apa ia sengaja untuk mencuri perhatian istrinya, atau malah ia sedang menunjukkan satu per satu sifat aslinya.


Sudah seminggu ini, ia memunggungi istrinya ketika tidur, dan tak mengajaknya berbicara. Herannya, Dara selalu memergokinya sedang tertawa terbahak-bahak berbicara dengan seseorang di telepon tiap kali ia pergi ke kedai mengantarkan makan siang untuk suaminya itu.


Suatu kesempatan, ia juga sempat bertanya apakah Yadi pernah mendengar suaminya itu menyebutkan nama seseorang dalam panggilan telepon, tapi ternyata Yadi tidak pernah memerhatikannya.


Hingga di hari ke delapan perang dingin itu, Yadi memberitahunya bahwa suaminya itu menyebut sepenggal nama yaitu “Fan”.


Fan? Fani ... Siapa lagi kalau bukan perempuan itu. Setengah tak percaya, Dara meyakini dirinya untuk kemungkinan terburuk. Akhirnya setelah bertahan bertahun-tahun, kali ini hatinya tidak bisa menyangkali perasaan bahwa ia merasa tidak dihormati sebagai perempuan dalam rumah tangganya.


Siang itu setelah mendengar ucapan Yadi, Dara pulang dengan cepat bersama Kayla, memindahkan mainan Kayla dan box bayinya menuju kamar sebelah yang jarang terpakai.


Di malam hari setelah kedai tutup, Tomi pulang dan mendapati istrinya itu tidur di kamar lain bersama bayi mereka. Dara tak tidur ... ia sedang menunggu jika suaminya itu bertanya atau membujuknya.


Sebaliknya ... ia dibiarkan saja hingga matahari terbit. Bingung pastinya ... seolah tak tahu harus merunut dari mana, tapi serangkaian peristiwa ketika mereka berkunjung ke rumah mertuanya itu sungguh tidak masuk di akal.

__ADS_1


__ADS_2