
Dara sudah tak banyak memikirkan
rencana mereka pindah kembali ke Indonesia sejak percakapan mereka itu. Ia
memutuskan untuk mempercayai keputusan suaminya. Selain karena Tomi adalah kepala
keluarga, ia juga pernah tinggal cukup lama di Bandung ketika berkuliah.
Dara tak banyak pergi ke mana-mana.
Ia baru saja kembali dari perjalanan motor bersama suami dan anaknya dari Tanah
Lot. Tepat ketika mereka kembali, berita tentang erupsi gunung agung, menyebar
dengan cepat, sehingga Dara memutuskan untuk berada di hotel saja setelah itu.
Lagi pula di hotel dengan fasilitas kolam renang dan area permainan anak yang
cukup lengkap, Dara bisa lebih banyak menyerahkan Kio kepada Tomi, dan ia bisa
beristirahat sedikit.
Tomi sering membawa Kio ketika ia
harus turun ke lobby atau menemani Edwin dan Arinta keluar ke beberapa tempat.
Dara telah bertemu Arinta beberapa hari lalu. Wanita itu masih sama, cantik dan
menyenangkan ketika diajak bicara. Gayanya yang khas dengan celana pendek, dan
baju ketat, sangat cocok dengan badannya yang masih langsing terjaga dengan
baik, dan kulit coklat eksotis yang menarik.
Dara membaringkan badannya di tempat
tidur. Saatnya ia menikmati waktu sendirinya di dalam kamar yang luas. Tangannya
sibuk menekan layar ponsel, memainkan sebuah game bertani. Sebuah pesan masuk di
Facebook, mencuri perhatiannya. Itu Bima ...
Bima: [ Hi. Long time no see ...
Kamu di Indonesia?]
Dara tertegun lumayan lama. Ia tak
tahu apakah ia harus membalas pesan itu atau mengabaikannya saja. Ia takut jika
dituduh macam-macam oleh Tomi jika ketahuan.
Dara menutup notifikasi itu, dan tak
membalas pesan itu, meskipun ia bisa melihat Bima sedang online.
Bima bukan sosok yang mudah ia lupakan,
dan butuh waktu lama baginya untuk betul-betul menghapus lelaki itu dari
ingatannya setelah ia menikah dengan Tomi. Baginya, Bima tetap seorang lelaki
baik yang pernah mendapat tempat di hatinya.
__ADS_1
Ia tak tahu banyak tentang kondisi
Bima, namun beberapa kali ia mendapat notifikasi ketika lelaki itu mengubah tempat
kerjanya. Bima tampak telah naik kelas pada level yang bukan main. Ia telah
menjadi seorang petinggi di salah satu perusahaan korporasi manajemen hotel. Ia
tentu membawahi banyak general manager di hotel-hotel seluruh Indonesia.
Tangannya membuka Facebook, dan
mencari nama Bima di kolom pencarian. Ia membuka galeri foto Bima, dan tertuju
pada beberapa foto wanita cantik dengan kulit putih, berkacamata dengan rambut
lurus sebahu. ‘My Wife’ tulis Bima pada fotonya. Ah ... rupanya ia sudah beristri.
Dara membuka lagi pesan dari Bima
dan membalasnya.
Dara: [ Hai, mas. Iya. Aku di Indonesia.
Aku di tempat Edwin. Selamat ya, sudah menikah. ]
Bima: [ Dengan Tomi? Terima kasih.
Aku LDR dengan istri. Keturunan harus berlanjut, jadi aku akhirnya menikah.
Kamu sehat, Dar? ]
Dara: [ Sehat, mas. Mas sehat juga?
]
kamu baik-baik. Kio sehat? ]
Dara tertegun lagi ... Bima
ternyata tahu banyak tentang dirinya, dan ia juga tahu ada Kio. Lelaki itu
pasti menyempatkan waktunya untuk melihat-lihat beranda Dara.
Dara: [ Iya, Mas. Kio sehat. Aku
chat lagi nanti. Aku lagi sibuk. ]
Bima: [ Ok. Dar ... Kasihtau aku
kalau kamu butuh sesuatu. Aku selalu ada. ]
Dara menutup percakapan itu, lalu
menghapusnya. Isi percakapan itu biasa saja, namun akan menjadi masalah jika
Tomi tahu ia masih berkomunikasi dengan Bima.
Bip!
Bunyi pintu kamar diakses. Terdengar
riuh tawa Kio sedang bercanda dengan ayahnya. Ia terlihat begitu gembira,
__ADS_1
memegang sebotol minuman bersoda di tangannya. Hidung Dara mengenali sebuah
aroma. Bau yang tak asing itu singgah dan masuk cepat ke penciumannya.
“Dari mana kamu?” tanyanya tanpa
basa basi ke suaminya. Lelaki itu tersenyum, lalu menjawab santai, “Dari bawah.
Dengan Edwin.”
Bau minuman beralkohol di siang
hari memang tak bisa ditutupi dengan apa pun untuk wanita hamil dengan penciuman
tajam seperti Dara.
“Aku minum bir tadi. Hanya satu
kaleng,” pengakuan dari mulut Tomi, terlontar begitu saja.
Dara sangat berusaha menjauhkan
suaminya itu dari minuman beralkohol. Ia memiliki pengalaman pahit ketika
suaminya berada di bawah pengaruh alkohol, sehingga ia berusaha sebisa mungkin
menghindari kebiasaan buruk itu.
“Kita lagi liburan. Aku rasa kalau cuma
satu, enggak apa-apa, bukan?” ujarnya lagi.
Dara mengangguk, mengiyakan
pendapat suaminya yang sebenarnya bertentangan dengan isi kepalanya. Ia berdiri
mengambil Kio dari gendongan suaminya. Ketika dekat, ia bisa mencium sebuah
aroma cologne yang mencolok, mirip seperti yang dijual bebas di toko kelontong.
Jelas sekali itu bukan parfumnya, dan Dara tidak pernah menggunakan cologne
dengan bau mencolok seperti itu.
“Sama Edwin saja?” Dara bertanya
lagi. Perempuan mana pun akan menyimpa rasa penasaran yang sama dengan aroma
yang menempel di pakaian suaminya.
“Iya. Iya kan, Kio?” ucap Tomi
dengan entengnya. Kio pasti tahu semuanya, akan tetapi bocah itu belum dapat
berbicara selain celotehan bayi dan memanggil ayah ibunya.
Dara menyudahi curiganya, meskipun
baginya wangi parfum itu tidak mungkin melekat begitu saja jika seseorang tidak
datang memeluk suaminya. Ia juga tahu, itu bukan wangi parfum Edwin.
Otaknya memblokir semua pikiran
__ADS_1
yang berujung pada kecurigaan. Ia tak ingin merusak momen liburan keluarganya
hanya karena sebuah aroma yang entah bagaimana bisa menempel di kemeja Tomi.