Perempuan Di Balik Layar

Perempuan Di Balik Layar
Bab 29 - Gelagat Aneh


__ADS_3

Dara sudah tak banyak memikirkan


rencana mereka pindah kembali ke Indonesia sejak percakapan mereka itu. Ia


memutuskan untuk mempercayai keputusan suaminya. Selain karena Tomi adalah kepala


keluarga, ia juga pernah tinggal cukup lama di Bandung ketika berkuliah.


Dara tak banyak pergi ke mana-mana.


Ia baru saja kembali dari perjalanan motor bersama suami dan anaknya dari Tanah


Lot. Tepat ketika mereka kembali, berita tentang erupsi gunung agung, menyebar


dengan cepat, sehingga Dara memutuskan untuk berada di hotel saja setelah itu.


Lagi pula di hotel dengan fasilitas kolam renang dan area permainan anak yang


cukup lengkap, Dara bisa lebih banyak menyerahkan Kio kepada Tomi, dan ia bisa


beristirahat sedikit.


Tomi sering membawa Kio ketika ia


harus turun ke lobby atau menemani Edwin dan Arinta keluar ke beberapa tempat.


Dara telah bertemu Arinta beberapa hari lalu. Wanita itu masih sama, cantik dan


menyenangkan ketika diajak bicara. Gayanya yang khas dengan celana pendek, dan


baju ketat, sangat cocok dengan badannya yang masih langsing terjaga dengan


baik, dan kulit coklat eksotis yang menarik.


Dara membaringkan badannya di tempat


tidur. Saatnya ia menikmati waktu sendirinya di dalam kamar yang luas. Tangannya


sibuk menekan layar ponsel, memainkan sebuah game bertani. Sebuah pesan masuk di


Facebook, mencuri perhatiannya. Itu Bima ...


Bima: [ Hi. Long time no see ...


Kamu di Indonesia?]


Dara tertegun lumayan lama. Ia tak


tahu apakah ia harus membalas pesan itu atau mengabaikannya saja. Ia takut jika


dituduh macam-macam oleh Tomi jika ketahuan.


Dara menutup notifikasi itu, dan tak


membalas pesan itu, meskipun ia bisa melihat Bima sedang online.


Bima bukan sosok yang mudah ia lupakan,


dan butuh waktu lama baginya untuk betul-betul menghapus lelaki itu dari


ingatannya setelah ia menikah dengan Tomi. Baginya, Bima tetap seorang lelaki


baik yang pernah mendapat tempat di hatinya.

__ADS_1


Ia tak tahu banyak tentang kondisi


Bima, namun beberapa kali ia mendapat notifikasi ketika lelaki itu mengubah tempat


kerjanya. Bima tampak telah naik kelas pada level yang bukan main. Ia telah


menjadi seorang petinggi di salah satu perusahaan korporasi manajemen hotel. Ia


tentu membawahi banyak general manager di hotel-hotel seluruh Indonesia.


Tangannya membuka Facebook, dan


mencari nama Bima di kolom pencarian. Ia membuka galeri foto Bima, dan tertuju


pada beberapa foto wanita cantik dengan kulit putih, berkacamata dengan rambut


lurus sebahu. ‘My Wife’ tulis Bima pada fotonya. Ah ... rupanya ia sudah beristri.


Dara membuka lagi pesan dari Bima


dan membalasnya.


Dara: [ Hai, mas. Iya. Aku di Indonesia.


Aku di tempat Edwin. Selamat ya, sudah menikah. ]


Bima: [ Dengan Tomi? Terima kasih.


Aku LDR dengan istri. Keturunan harus berlanjut, jadi aku akhirnya menikah.


Kamu sehat, Dar? ]


Dara: [ Sehat, mas. Mas sehat juga?


]


kamu baik-baik. Kio sehat? ]


Dara tertegun lagi ... Bima


ternyata tahu banyak tentang dirinya, dan ia juga tahu ada Kio. Lelaki itu


pasti menyempatkan waktunya untuk melihat-lihat beranda Dara.


Dara: [ Iya, Mas. Kio sehat. Aku


chat lagi nanti. Aku lagi sibuk. ]


Bima: [ Ok. Dar ... Kasihtau aku


kalau kamu butuh sesuatu. Aku selalu ada. ]


Dara menutup percakapan itu, lalu


menghapusnya. Isi percakapan itu biasa saja, namun akan menjadi masalah jika


Tomi tahu ia masih berkomunikasi dengan Bima.


Bip!


Bunyi pintu kamar diakses. Terdengar


riuh tawa Kio sedang bercanda dengan ayahnya. Ia terlihat begitu gembira,

__ADS_1


memegang sebotol minuman bersoda di tangannya. Hidung Dara mengenali sebuah


aroma. Bau yang tak asing itu singgah dan masuk cepat ke penciumannya.


“Dari mana kamu?” tanyanya tanpa


basa basi ke suaminya. Lelaki itu tersenyum, lalu menjawab santai, “Dari bawah.


Dengan Edwin.”


Bau minuman beralkohol di siang


hari memang tak bisa ditutupi dengan apa pun untuk wanita hamil dengan penciuman


tajam seperti Dara.


“Aku minum bir tadi. Hanya satu


kaleng,” pengakuan dari mulut Tomi, terlontar begitu saja.


Dara sangat berusaha menjauhkan


suaminya itu dari minuman beralkohol. Ia memiliki pengalaman pahit ketika


suaminya berada di bawah pengaruh alkohol, sehingga ia berusaha sebisa mungkin


menghindari kebiasaan buruk itu.


“Kita lagi liburan. Aku rasa kalau cuma


satu, enggak apa-apa, bukan?” ujarnya lagi.


Dara mengangguk, mengiyakan


pendapat suaminya yang sebenarnya bertentangan dengan isi kepalanya. Ia berdiri


mengambil Kio dari gendongan suaminya. Ketika dekat, ia bisa mencium sebuah


aroma cologne yang mencolok, mirip seperti yang dijual bebas di toko kelontong.


Jelas sekali itu bukan parfumnya, dan Dara tidak pernah menggunakan cologne


dengan bau mencolok seperti itu.


“Sama Edwin saja?” Dara bertanya


lagi. Perempuan mana pun akan menyimpa rasa penasaran yang sama dengan aroma


yang menempel di pakaian suaminya.


“Iya. Iya kan, Kio?” ucap Tomi


dengan entengnya. Kio pasti tahu semuanya, akan tetapi bocah itu belum dapat


berbicara selain celotehan bayi dan memanggil ayah ibunya.


Dara menyudahi curiganya, meskipun


baginya wangi parfum itu tidak mungkin melekat begitu saja jika seseorang tidak


datang memeluk suaminya. Ia juga tahu, itu bukan wangi parfum Edwin.


Otaknya memblokir semua pikiran

__ADS_1


yang berujung pada kecurigaan. Ia tak ingin merusak momen liburan keluarganya


hanya karena sebuah aroma yang entah bagaimana bisa menempel di kemeja Tomi.


__ADS_2