
“Cepat. Kita nanti bisa terlambat sampai. Jam segini Pasteur lagi macet-macetnya.” Tomi sibuk tergopoh-gopoh menaikkan ***** bengek yang akan mereka bawa. Di antaranya tas ransel berisi pakaian mereka, satu tas punggung anak-anak berisi mainan Kio, dan sekantung besar oleh-oleh dari Bandung.
“Jalan pak. Agak cepat, ya.” Pintanya kepada supir taxi online yang sudah menunggu mereka beberapa menit. Selasa sore setelah pekerjaan mereka di kantor selesai, Dara, Tomi, dan Kio langsung bergegas pulang singgah mengambil barang-barang yang sudah mereka siapkan, untuk pergi ke Jakarta menjenguk mertua Dara.
Ros ditinggalkan sendiri di rumah, sebab perempuan itu ternyata mudah mengalami mabuk kendaraan. Dara sudah meninggalkannya beberapa lembar uang untuk bekalnya selama dua hari satu malam ketika mereka tidak ada di rumah. Padahal kunjungan itu sangat singkat, sebab mereka harus kembali nanti di Rabu sore, Kamis mereka harus bekerja, tapi bawaan mereka sangat banyak didominasi oleh-oleh.
“Fiuh! Sekarang kamu boleh tidur sayang. Pegal kan pasti?” ucap Tomi sembari merangkul pundak istrinya ketika akhirnya mereka sudah berada di dalam mobil van sebuah perusahaan travel yang selalu ramai.
“Aku tunggu Kio tidur dulu. Nanti aku tidur.” Dara menolak ketika melihat Kio masih asyik menunjuk-nunjuk ke arah luar jendela, berusaha menceritakan apa yang ia lihat sepanjang perjalanan.
“Kio senang? Daddy dan mama juga senang,” tanya Tomi kepada anak sulungnya itu.
Dara memperbaiki posisi duduknya. Dengan usia kandungan yang sudah lumayan tua, ia mulai tidak nyaman duduk berlama-lama. Terkadang kakinya akan bengkak, kadang juga ia cepat merasakan keinginan berkemih tiba-tiba.
“Kenapa sayang? Sakit pinggangnya? Sudah tidur saja ya, sayang. Aku yang jaga Kio.” Ujar Tomi sembari mengelus-ngelus perut istrinya yang sangat besar. Dara mengangguk setuju, lalu membaringkan kepalanya di pundak suaminya dan tertidur begitu cepat.
Ting! Ting! Suara nada notifikasi dari ponsel Tomi membangunkan Dara dari tidurnya. Bus itu kosong. Ah! Di rest area, rupanya ia sudah tertidur lama sekali. Dara bisa melihat suaminya sedang mengajarkan Kio cara melegakan otot-otot yang kaku karena duduk berjam-jam. Tapi ... Notifikasi apa itu? Dara tak bisa menepis rasa penasarannya, dan membuka ponsel suaminya yang masih menggunakan password yang sama.
Handi: [ beres lah. Sudah gue siapin aa. Pokoknya datang tinggal fly saja. ]
Aneh ... Tak ada pesan lain sebelum itu, sehingga sulit bagi Dara menerjemahkan maksud dari teman Tomi yang bernama Handi itu.
“Sayang. Ini aku belikan kamu dimsum. Di makan dulu, sayang” suara Tomi mengagetkan Dara. Ia dengan cepat menekan tombol kunci pada ponsel itu.
“Maaf sayang. Tadi aku mau pinjam HP kamu untuk chat mamaku, tapi ada pesan kebuka dari Handi.” baiklah, setidaknya tidak boleh kelihatan mencurigakan, pungkas Dara dalam hati.
“Oh Handi. Enggak apa-apa. Baca saja. Paling isinya guyon. Anak muda. Ini makan dulu sayang, Kio tadi sudah makan banyak.” Tomi menjawab santai, dengan senyum sembari memberikan sekotak dimsum kepada istrinya.
Mereka segera duduk manis lagi, dan Tomi kembali menjaga anaknya sebab istrinya sedang lahap memakan dimsum yang ia beli tadi. Van itu berjalan lagi menyusuri jalan tol yan lumayan padat.
“Enak? Cepat banget makannya. Tahu begitu aku beli lebih tadi.” Timpal Tomi ketika melihat kotak dimsum yang hampir kosong isinya.
“Apa saja pasti enak kalau lagi lapar kan, Daddy?” jawab Dara dengan candanya.
“Baiklah, bumilku.”
“Kak Dara!” teriak Tami begitu melihat iparnya itu turun dari mobil van yang berhenti di pool. Ia menghampiri iparnya dengan senyuman lebar setengah tertawa.
“Kio!” ia menggendong bocah itu, lalu tertawa bersamanya.
“Kak. Ya ampun sudah besar begini perutnya? Hai dedek! Ini aunty Tami ...” ia mengelus perut Dara yang membuncit itu. Dara memberikan pelukan hangat untuk adik iparnya itu.
Ia membawa keluarga kecil kakaknya itu ke rumah, dengan sebuah mobil yang ia pinjam dari tantenya.
“Mah! Ini Kak Dara. Sini lihat dong perutnya, mah!” teriak Tami. Dara segera menghampiri mertuanya, yang seperti biasa selalu berada dalam kamarnya mendinginkan tubuh di ruangan ber-AC.
“Sehat, mah?” katanya sambil mencium punggung tangan mertuanya itu.
__ADS_1
“Iya ini lagi kurang sehat. Ini AC-nya sudah enggak bagus kayaknya, mungkin berdebu jadi gampang batuk.” keluhan mertuanya menjadi kata pembuka percakapan mereka setelah itu.
“Apa sudah ada yang bersihkan, mah?”
“Mana ada. Tami kan enggak bisa diharapkan,” ujar mertuanya itu dengan nada kesal.
“Ya sudah nanti tinggal panggil tukang AC saja. Biar dibersihin,”
“Diganti saja lah. Ini AC nya juga sudah lama sekali, Dar. Aa mana?” jawab mertuanya.
Kriet!
Pintu kamar terbuka, dan Tomi masuk bersama Kio. Bak seorang kurir, ia membawa begitu banyak bungkusan oleh-oleh.
“Aa. Ini AC mama diganti saja, ya. Ini kan sudah lama sekali AC-nya mulai enggak enak.” rayu ibunya.
“Tarik napas saja belum, mama. Sudah langsung ditodong AC baru.” protes Tomi sambil menggelengkan kepalanya.
Dara menyimak percakapan ibu dan anak itu. Jika sudah tentang beli membeli, ia tak mau terlalu banyak turut memberi saran.
“Ya sudah. Nanti aa ganti AC-nya besok.”
“Nah begitu dong. Jadi anak harus ada manfaatnya.” sahut ibunya dengan nada setengah mengejek.
“Sayang, kamu mau tidur di sini atau di apartemen kita? Aku bisa antar.” tanya Tomi kepada Dara yang terlihat sudah mengantuk.
“Di apartemen saja. Enggak enak nanti Kio bisa ribut malam-malam kalau di sini.”
Apartemen itu masih tertata rapi. Terakhir kali mereka berkunjung ke sana, Dara sudah mengisinya dengan perabotan, agar menjadi tempat liburan yang nyaman untuk keluarga kecilnya. Hanya debu tipis yang bisa terasa di lantai balkonnya.
“Aku sebentar mau ke kolam dulu, di lantai 2. Aku mau ketemu Handi,” ucap Tomi sembari membaringkan Kio pada tempat tidur.
Dara mengangguk. Itu yang selalu ia lakukan ketika suaminya memberitahu rencana apa pun. Pengalaman pahitnya berdebat akan hal-hal seperti itu, membuatnya menjadi istri yang dominan mengiyakan kemauan suami.
“Kamu mau ikut?” tanya Tomi lagi kepada istrinya yang berbaring sambil memainkan game di ponsel pintarnya.
“Enggak. Kio tidur lagi pula.” jawab Dara singkat.
“Ya sudah. Aku ke bawah ya, tungguin Handi.” Suaminya itu berpamitan kemudian pergi menuju tempatnya berjanjian dengan Handi.
Dara menatap ke arah balkon apartemennya, sembari pikirannya mulai mengarah ke sana kemari. Membayangkan, kira-kira apa yang dibicarakan suaminya, dan apa yang dilakukannya dengan temannya itu. Ia masih memikirkan pesan singkat yang dikirimkan oleh Handi tadi. Guyon? Apa iya guyon bisa sampai sedetil itu?
Dara menggelengkan kepalanya, berusaha menepis prasangka buruknya. Ia tidak mau prasangka itu sedikit demi sedikit memancing hormon dalam tubuhnya sehingga mood-nya berubah dan memicu pertengkaran mereka.
Ia berdiri, menuju dapur dan membuka lemari yang ada di atas kepalanya. Dengan cepat ia menyalakan kompor gas, merebus air, dan memasak sebungkus mie instan impor dari Korea. Dengan termenung, ia melahap semangkuk mie panas itu di balkon apartemennya.
“Sayang! Sayang! Di mana?” suara Tomi terdengar dari dalam apartemen. Dara segera masuk membawa mangkuk mie-nya. Tomi padahal baru 20 menitan meninggalkannya, namun sudah kembali lagi dengan sebuah bungkusan di tangannya.
__ADS_1
“Ini. Kamu suka martabak dengan ketan kan? Ayo makan yuk, berdua mumpung Kio tidur. Kapan lagi ada waktu berdua makan martabak. Hehe.” candaan Tomi berhasil membuat istrinya tersenyum.
Sepasang suami istri itu duduk di balkon apartemen, dengan angin sepoi-sepoi dan manisnya martabak ketan yang katanya pemberian dari Handi.
“Jadi. Nanti dinamain siapa anak kita?”
“Emmm. Siapa menurut kamu bi?” Dara balik bertanya.
Tomi mengunyah martabak di mulutnya sambil melihat ke langit, seperti berpikir dan mengharapkan ide dari atas sana.
“Kayla? Bagaimana? Kamu suka?” tanya Tomi setelah menelan yang ada di mulutnya. Dara tersenyum. Kayla ... nama yang cantik untuk bayi perempuan mereka.
“Bagus. Aku suka.” Jawabnya singkat, sebab tidak ada lagi yang harus diperdebatkan tentang nama cantik itu.
“sebentar lagi kan? Kamu yang sabar ya, sebentar lagi sakit pinggangnya berakhir,” perhatian Tomi kali ini membuat Dara tersipu. Ia tidak pernah mendapatkan perhatian sebegini baiknya ketika mengandung Kio.
“Iya. Sakit pinggangnya digantikan mata yang ngantuk begadang,” tampik Dara, disambut dengan tawa dari Tomi.
Setelah menghabiskan isi kotak itu, Tomi mengantar istrinya tidur. Pijatan di betis istrinya, langsung membuat perempuan itu tidur dengan pulas. Tomi tak tidur.
Ia sibuk melakukan sesuatu di balkon. Dari dalam saku celana jeans-nya ia mengeluarkan sebuah amplop putih yang sudah dilipat kecil. Angin di balkon itu cukup kencang untuk menerbangkan daun-daun ganja kering itu sehingga ia harus bertaruh untuk membelakangi arah angin. Jelas, Dara bisa saja melihat dengan jelas dari kaca pintu balkon itu, namun perempuan itu sudah tidur pulas, pikirnya.
“Kamu lagi apa, bi?” belum ... perempuan itu tak sepulas yang ia bayangkan ... Tomi tertangkap basah, namun tak berusaha menyembunyikan ganja-ganja yang siap dilintingnya.
“Astagfirullah, sayang.” hanya itu yang bisa keluar dari mulut Dara melihat apa yang sedang ada di depan suaminya. Tak lagi menangis, Dara memegang dadanya, menahan sesak dan kepalanya yang seketika berputar.
“Sayang, kamu kenapa?” Tomi segera berdiri menangkap istrinya yang terlihat sempoyongan. Dara benar-benar kehabisan tenaga, dan matanya mulai buram.
“Sayang. Bangun dong.” Tomi menepuk pelan pipi istrinya itu, bibirnya terlihat begitu pucat. Ia dengan cepat membaringkan Dara, dan mengambil segelas air dan membantu Dara duduk untuk minum.
Air mata akhirnya keluar juga. Dara menangis namun tak bisa histeris, menahan suaranya sekuat mungkin agar tidak membangunkan Kio.
“Kenapa? Kenapa lagi seperti ini, bi? Kurang sial apa sebelumnya?” tanya Dara dengan tangisnya.
Tomi menunduk, menyembunyikan wajahnya dari tatapan istrinya yang sedih dan geram itu.
“Maaf. Tapi ... memang sulit, sayang. Lagian ini enggak bahaya kok.”
“Enggak bahaya? Buat apa? Buat kesehatan? Ini bukannya bisa buat masuk penjara? Apa kamu pikir itu?” Dara tak percaya dengan pembelaan yang dilontarkan suaminya. Tomi tak bisa berbuat banyak hanya menunduk saja.
“Kita pernah lewatin masa sulit karena kamu harus rehabilitasi. Terus? Kenapa harus kembali lagi?” sambungnya.
“Jarang-jarang kok, sayang. Enggak setiap hari.” masih, tanpa rasa bersalah, Tomi membela diri.
“Oh! Hanya saat ketemu Handi? Apa kamu mau aku laporin dia ke polisi? Dia itu apa enggak punya otak? Apa dia sengaja supaya kamu terjeru-“
Plak!
__ADS_1
Sebuah tamparan mendarat di pipi Dara. Cukup keras sehingga menyisakan bekas merah, dan rasa seperti kebas namun sakit yang perlahan-lahan terasa. Air mata Dara tak bisa terbendung. Ia terduduk lesu, kaget dengan tamparan yang baru saja ia terima dari suaminya.
“Aku keluar. Ini yang aku enggak mau. Biarin aku pergi dulu.” tanpa sebuah permintaan maaf, Tomi meninggalkan istrinya itu.