
“Menurut kamu, Savana sudah seperti
apa sekarang, bi? Kita di sana waktu masih penuh debu,” tanya Dara sembari menikmati
segelas smoothie-nya di ruang tunggu bandara. Mereka akan terbang menuju kampungnya,
tempat di mana ia bertemu dengan Tomi.
“Yang pasti ... Penggemar kamu
sudah enggak di sana.” jawab Tomi singkat lalu tersenyum seperti meledek.
“Penggemar?” Dara mengerutkan
dahinya.
“Pak Bima yang terkasih. Hahaha!”
ledek Tomi, dan spontan Dara menginjak kaki suaminya itu.
Kio tentunya tak mengerti dengan
apa yang dibicarakan orang tuanya; sebuah sejarah bagaimana ia akhirnya ada.
“Hampir saja kamu jadi istrinya.
Bukan begitu, nona Dara? Tapi aku akui, dia berani.” Tomi terus meledek
istrinya.
Dara terdiam, sesaat mengenang
pertemuannya dengan Bima, dan kemudian ia pergi bersama Tomi. Sudah beberapa
tahun ini ia tidak lagi bertegur sapa dengan Bima. Tomi membatasi aksesnya
kepada lelaki itu, dan itu sebuah kewajaran yang dilakukan oleh seorang suami
yang menjaga istrinya dari lelaki yang pernah menyukainya.
“Cieee! Pasti lagi mengenang sang
mantan pujaan hati!” ledekan Tomi diikuti dengan tawa darinya dan Dara,
memancing Kio ikut tertawa kecil.
Mereka menghabiskan beberapa menit,
lalu naik ke atas pesawat ketika pengeras suara mengumandangkan nomor
penerbangan mereka.
“Kio. You will meet grandma ...”
ucapnya kepada Kio, ketika pesawat itu telah lepas landas.
“Ma ...” bocah itu berusaha
menirukan apa yang dikatakan ibunya.
“Ya. Oma. Grandma ...” imbuh Dara
kepada putranya.
“Bi. Ini pertama kali kamu bertemu
mama ...” sambungnya.
“Tenang saja. Aku sudah beberapa
kali berbincang dengan mama kamu lewat WhatsApp belakangan ini. Mungkin enggak
secanggung yang kamu pikirkan,” ujar Tomi.
Dara tersenyum melihat langit biru,
dan terpaan sinar matahari yang sangat cerah. Alam mendukungnya agar bisa
__ADS_1
senyaman mungkin di dalam penerbangan untuk bertemu ibunya. Matanya tertuju
pada lautan luas yang berada di bawahnya, dan beberapa gugusan pulau. Ia tahu
... beberapa saat lagi mereka akan mendarat di kampung tempat ia dibesarkan.
Gugusan pulau berwarna hijau dan
beberapa area lainnya berwarna coklat tampak dengan jelas tersebar di antara
lautan yang luas. Pesawat itu mulai merendah dan makin rendah lagi, sedikit
menukik turun, lalu membelok.
Mata Dara tertuju pada pasir pantai
yang begitu putih, dan ombak bergulung yang tampak seperti busa pekat. Pesawat
itu makin dekat ke bawah, dan mendarat dengan sempurna.
Tomi mendorong kereta anaknya yang
tertidur, sementara Dara sibuk mencari seseorang begitu mereka keluar dari
pintu kedatangan. Seorang dari jarak yang sangat dekat, melambaikan tangannya.
“Fred!!!” teriak Dara kegirangan
melihat teman lamanya itu telah menanti. Lelaki itu tampak makin gagah, dan
penampilannya makin mencuri perhatian. Dengar-dengar ia telah menjadi salah
satu orang penting di sebuah hotel ternama yang baru diresmikan di kota itu.
“Daraaaa! Ya ampun kamu kurus. Apa
kamu sekarang masih suka kerja banting tulang enggak karuan?” perubahan pada
Dara memang dapat dengan mudah dilihat. Yang menggendut hanya perutnya saja.
Sedangkan tangan kakinya terlihat kurus. Pipinya yang menonjolkan tulang wajah,
“Oh yang ini, ya. Hai mas! Aku
Fred. Anggap saja aku kakaknya Dara,” ujarnya lagi seraya menjabat tangan Tomi.
Tomi tampaknya sangat senang dengan kepribadian Fred. Beberapa lama setelah
perkenalan mereka itu, ia banyak bertukar cerita dengan Fred selama dalam
perjalanan menuju kediaman ibu Dara dan adik-adiknya.
“So ... How’s life? Happy dong kamu
sudah punya suami sekarang, Ra. Di luar negeri pula,” ucapan Fred membuat Dara
harus pandai berlakon.
“Iya, kak. Happy. Aku happy. Di sana
kehidupannya beda, kita enggak perlu takut kalau ada tetangga yang gibah.
Sangat jarang terjadi. Hahahaha!” tawa Dara mengundang Tomi dan Fred ikut riuh.
Beberapa saat setelah perjalanan
yang melelahkan, mobil itu berhenti di alamat yang diberikan Dara. Matanya
sedikit dikucak, karena ia ingin memastikan rumah yang ia lihat ini memang
betul kediaman ibunya.
Setelah Dara menikah, dalam beberapa waktu ketika pernikahannya
dalam kendala, ibunya banyak terlilit hutang dan mereka terus saja berpindah-pindah
dari satu rumah sewaan ke rumah lainnya.
__ADS_1
Rumah itu tampak rapi, dengan tembok
berwarna biru. Hanya saja terasnya yang belum berkeramik, dan seng yang
kelihatan sudah sangat lama, mencuri perhatian Dara.
Ia turun dari mobil itu sembari
menggendong putranya. Ia langsung mengenali wajah ibunya yang keluar dari dalam
rumah.
“Mamaaa!” serunya seraya berlari kecil
ke arah ibunya. Ibu dan anak itu berpelukan lama, dan Dara bisa merasakan
tetesan air mata ibunya yang jatuh di pundak.
“Ini Kio, Nak? Hai Kio. Ini oma,”
wanita itu menggendong cucunya untuk pertama kali, dan bocah itu sama sekali
tidak menolak. Ia malah dengan nyaman membaringkan kepalanya pada bahu neneknya.
“Sudah. Biar dia dengan mama. Dia
nyaman. Kamu istirahat. Makan dulu, Nak. Adik kamu masih di kampus.” Sambungnya.
Dara kembali ke mobil, membantu menurunkan
beberapa barang kecil lainnya, lalu kemudian mengucapkan salam perpisahan
kepada Fred yang sudah menjemput mereka di bandara.
“Enjoy, ya. Aku pergi dulu, Ra.
Harus kembali kantor. Nanti mampir ke tempat kerja aku, ya” Fred berpamitan lalu
pergi dengan mobilnya.
Tomi dengan gesit menghampiri mertuanya.
Ia mencium tangan mertuanya itu dan memberikan sebuah pelukan. Mertua itu
memang wanita yang baik dan pengertian. Ia kembali memeluk menantunya.
“Terima kasih sudah jaga Dara ya, Nak
...” ujarnya kepada Tomi, dengan setetes air mata yang menetes.
Bip! Bip! Suara klakson motor
memecahkan suasana haru itu.
“Kakak mana, Ma?” adik-adik Dara
yang baru pulang, sibuk mencarinya. Tanpa menunggu jawaban ibu, mereka langsung
masuk mencari sang kakak.
Tawa dan canda kakak beradik
langsung terdengar setelah beberapa detik. Layaknya anak-anak, mereka masih
bercanda dengan cara yang sama, hingga lupa bahwa mereka harus menyapa iparnya
yang sedang duduk bersama ibu mereka.
“Kalian belum ketemu suamiku. Ada
di depan,” titah Dara kepada kedua adiknya, dan dua pemuda itu lalu menghampiri
ipar mereka untuk berkenalan. Daniel dan Zeva terlihat lazim, layaknya orang
lain berkenalan pertama kali dengan kakak ipar. Keluarga itu tampak sempurna,
di rumah sederhana itu menghabiskan siang mereka makan bersama, dan berbincang
__ADS_1
ringan tentang kehidupan di Filipina.