Perempuan Di Balik Layar

Perempuan Di Balik Layar
Bab 27 - Pelukan Mama


__ADS_3

“Menurut kamu, Savana sudah seperti


apa sekarang, bi? Kita di sana waktu masih penuh debu,” tanya Dara sembari menikmati


segelas smoothie-nya di ruang tunggu bandara. Mereka akan terbang menuju kampungnya,


tempat di mana ia bertemu dengan Tomi.


“Yang pasti ... Penggemar kamu


sudah enggak di sana.” jawab Tomi singkat lalu tersenyum seperti meledek.


“Penggemar?” Dara mengerutkan


dahinya.


“Pak Bima yang terkasih. Hahaha!”


ledek Tomi, dan spontan Dara menginjak kaki suaminya itu.


Kio tentunya tak mengerti dengan


apa yang dibicarakan orang tuanya; sebuah sejarah bagaimana ia akhirnya ada.


“Hampir saja kamu jadi istrinya.


Bukan begitu, nona Dara? Tapi aku akui, dia berani.” Tomi terus meledek


istrinya.


Dara terdiam, sesaat mengenang


pertemuannya dengan Bima, dan kemudian ia pergi bersama Tomi. Sudah beberapa


tahun ini ia tidak lagi bertegur sapa dengan Bima. Tomi membatasi aksesnya


kepada lelaki itu, dan itu sebuah kewajaran yang dilakukan oleh seorang suami


yang menjaga istrinya dari lelaki yang pernah menyukainya.


“Cieee! Pasti lagi mengenang sang


mantan pujaan hati!” ledekan Tomi diikuti dengan tawa darinya dan Dara,


memancing Kio ikut tertawa kecil.


Mereka menghabiskan beberapa menit,


lalu naik ke atas pesawat ketika pengeras suara mengumandangkan nomor


penerbangan mereka.


“Kio. You will meet grandma ...”


ucapnya kepada Kio, ketika pesawat itu telah lepas landas.


“Ma ...” bocah itu berusaha


menirukan apa yang dikatakan ibunya.


“Ya. Oma. Grandma ...” imbuh Dara


kepada putranya.


“Bi. Ini pertama kali kamu bertemu


mama ...” sambungnya.


“Tenang saja. Aku sudah beberapa


kali berbincang dengan mama kamu lewat WhatsApp belakangan ini. Mungkin enggak


secanggung yang kamu pikirkan,” ujar Tomi.


Dara tersenyum melihat langit biru,


dan terpaan sinar matahari yang sangat cerah. Alam mendukungnya agar bisa

__ADS_1


senyaman mungkin di dalam penerbangan untuk bertemu ibunya. Matanya tertuju


pada lautan luas yang berada di bawahnya, dan beberapa gugusan pulau. Ia tahu


... beberapa saat lagi mereka akan mendarat di kampung tempat ia dibesarkan.


Gugusan pulau berwarna hijau dan


beberapa area lainnya berwarna coklat tampak dengan jelas tersebar di antara


lautan yang luas. Pesawat itu mulai merendah dan makin rendah lagi, sedikit


menukik turun, lalu membelok.


Mata Dara tertuju pada pasir pantai


yang begitu putih, dan ombak bergulung yang tampak seperti busa pekat. Pesawat


itu makin dekat ke bawah, dan mendarat dengan sempurna.


Tomi mendorong kereta anaknya yang


tertidur, sementara Dara sibuk mencari seseorang begitu mereka keluar dari


pintu kedatangan. Seorang dari jarak yang sangat dekat, melambaikan tangannya.


“Fred!!!” teriak Dara kegirangan


melihat teman lamanya itu telah menanti. Lelaki itu tampak makin gagah, dan


penampilannya makin mencuri perhatian. Dengar-dengar ia telah menjadi salah


satu orang penting di sebuah hotel ternama yang baru diresmikan di kota itu.


“Daraaaa! Ya ampun kamu kurus. Apa


kamu sekarang masih suka kerja banting tulang enggak karuan?” perubahan pada


Dara memang dapat dengan mudah dilihat. Yang menggendut hanya perutnya saja.


Sedangkan tangan kakinya terlihat kurus. Pipinya yang menonjolkan tulang wajah,


“Oh yang ini, ya. Hai mas! Aku


Fred. Anggap saja aku kakaknya Dara,” ujarnya lagi seraya menjabat tangan Tomi.


Tomi tampaknya sangat senang dengan kepribadian Fred. Beberapa lama setelah


perkenalan mereka itu, ia banyak bertukar cerita dengan Fred selama dalam


perjalanan menuju kediaman ibu Dara dan adik-adiknya.


“So ... How’s life? Happy dong kamu


sudah punya suami sekarang, Ra. Di luar negeri pula,” ucapan Fred membuat Dara


harus pandai berlakon.


“Iya, kak. Happy. Aku happy. Di sana


kehidupannya beda, kita enggak perlu takut kalau ada tetangga yang gibah.


Sangat jarang terjadi. Hahahaha!” tawa Dara mengundang Tomi dan Fred ikut riuh.


Beberapa saat setelah perjalanan


yang melelahkan, mobil itu berhenti di alamat yang diberikan Dara. Matanya


sedikit dikucak, karena ia ingin memastikan rumah yang ia lihat ini memang


betul kediaman ibunya.


Setelah Dara menikah,  dalam beberapa waktu ketika pernikahannya


dalam kendala, ibunya banyak terlilit hutang dan mereka terus saja berpindah-pindah


dari satu rumah sewaan ke rumah lainnya.

__ADS_1


Rumah itu tampak rapi, dengan tembok


berwarna biru. Hanya saja terasnya yang belum berkeramik, dan seng yang


kelihatan sudah sangat lama, mencuri perhatian Dara.


Ia turun dari mobil itu sembari


menggendong putranya. Ia langsung mengenali wajah ibunya yang keluar dari dalam


rumah.


“Mamaaa!” serunya seraya berlari kecil


ke arah ibunya. Ibu dan anak itu berpelukan lama, dan Dara bisa merasakan


tetesan air mata ibunya yang jatuh di pundak.


“Ini Kio, Nak? Hai Kio. Ini oma,”


wanita itu menggendong cucunya untuk pertama kali, dan bocah itu sama sekali


tidak menolak. Ia malah dengan nyaman membaringkan kepalanya pada bahu neneknya.


“Sudah. Biar dia dengan mama. Dia


nyaman. Kamu istirahat. Makan dulu, Nak. Adik kamu masih di kampus.” Sambungnya.


Dara kembali ke mobil, membantu menurunkan


beberapa barang kecil lainnya, lalu kemudian mengucapkan salam perpisahan


kepada Fred yang sudah menjemput mereka di bandara.


“Enjoy, ya. Aku pergi dulu, Ra.


Harus kembali kantor. Nanti mampir ke tempat kerja aku, ya” Fred berpamitan lalu


pergi dengan mobilnya.


Tomi dengan gesit menghampiri mertuanya.


Ia mencium tangan mertuanya itu dan memberikan sebuah pelukan. Mertua itu


memang wanita yang baik dan pengertian. Ia kembali memeluk menantunya.


“Terima kasih sudah jaga Dara ya, Nak


...” ujarnya kepada Tomi, dengan setetes air mata yang menetes.


Bip! Bip! Suara klakson motor


memecahkan suasana haru itu.


“Kakak mana, Ma?” adik-adik Dara


yang baru pulang, sibuk mencarinya. Tanpa menunggu jawaban ibu, mereka langsung


masuk mencari sang kakak.


Tawa dan canda kakak beradik


langsung terdengar setelah beberapa detik. Layaknya anak-anak, mereka masih


bercanda dengan cara yang sama, hingga lupa bahwa mereka harus menyapa iparnya


yang sedang duduk bersama ibu mereka.


“Kalian belum ketemu suamiku. Ada


di depan,” titah Dara kepada kedua adiknya, dan dua pemuda itu lalu menghampiri


ipar mereka untuk berkenalan. Daniel dan Zeva terlihat lazim, layaknya orang


lain berkenalan pertama kali dengan kakak ipar. Keluarga itu tampak sempurna,


di rumah sederhana itu menghabiskan siang mereka makan bersama, dan berbincang

__ADS_1


ringan tentang kehidupan di Filipina.


__ADS_2