
Masih tentang Anna, ternyata pacar Haris itu memang sedang sakit. Anehnya, Haris sama sekali tidak memberitahukan ini kepada Tomi, dan Dara. Sudah 3 minggu lebih Anna terkulai lemas, dan tubuhnya mulai mengurus. Tak seperti biasa, pesan WhatsApp dari Dara pun tak ia balas. Kondisinya pasti sudah sangat lemas, pikir Dara.
DI hari itu, mereka melakukan perjalanan menuju rumah mertuanya, dan Dara sangat ingin cepat tiba agar bisa menjenguk Anna.
Dari kejauhan, rumah itu tampak begitu berantakan di bagian teras berserakan dus-dus besar dengan nama sebuah universitas tempat ibu Tomi mengajar. Wanita itu masih bekerja di usia lanjutnya.
Kring! Ponsel Dara berbunyi. Ia menjawab panggilan dari ibunya, dan langsung tersenyum.
“Dara. Mama lihat kamu punya kedai sekarang. Semangat ya, Ra.” suara ibunya terdengar begitu bersemangat, dan Dara merasa terharu mengetahui ibunya itu mengikuti setiap postingan Instagram-nya.
“Iya, mama. Berkat doa mama. Mama sehat?”
“Sehat. Kami sehat semua. Kamu? Kok ada suara motor?”
“Iya ma. Aku sehat, anak-anak juga. Ini aku lagi jalan kaki, mama. Baru turun dari travel. Sedikit lagi sampai rumah mertua.”
“Ya sudah. Nanti sore mama telepon lagi ya, Ra.”
Percakapan telepon itu selesai tepat setelah Dara sampai di depan pagar rumah. Tomi yang menggendong Kio, sudah lebih dahulu sampai di sana.
__ADS_1
Pintu ruang tamu terbuka, dan terlihat Tami keluar sekilas tak tersenyum sampai ia melihat Kio dan Kayla.
“Anak-anak aunty. Ayo sini masuk!” ia menggiring kedua keponakannya masuk, tanpa menghiraukan Tomi dan Dara.
“Mama mana, Tam?” tanya Tomi kepada adik perempuannya itu.
“Di dalam. Lagi bete.” Jawabnya setengah kesal. Dara mengangkat bahunya sembari bertatap dengan Tomi. Keduanya mempertanyakan apa yang menyebabkan tidak ada sambutan hangat seperti biasanya.
“Mama.” Ucap Dara seraya mencium punggung tangan mertuanya yang kelihatannya dalam mood yang tidak baik. Wanita itu sedang berbaring di kamarnya, memegang remote TV dengan koyo yang tertempel di kedua sisi keningnya.
“Ada apa, mama?” Tomi yang baru masuk langsung bertanya kepada ibunya itu. Dara tak pernah melihat wajah kesal mertuanya itu. Melihatnya kali ini membuat tak enak hati, apalagi mereka baru saja dari perjalanan jauh.
“Adikmu itu enggak pulang rumah sama sekali. Urusin pacar terus.” Ujar ibunya dengan nada begitu kesal.
“Calon istri? Tom. Ini berulah lagi si Haris, minta mama nikahkan minggu depan dengan Anna. Mau taruh di mana muka mama?”
Dara mulai serius mendengarkan percakapan itu. Ia ingin sekali mengetahui kendala mertuanya itu sehingga tidak mengizinkan Haris untuk menikah.
“Mereka pacaran sudah lama sekali, Mah. Enggak adil dong buat Anna.”
__ADS_1
“Kalau dia mau perempuan, banyak itu mahasiswi mama. Jauh lebih berpendidikan, jauh lebih sopan. Perempuan suka merokok begitu, apa yang mau diharapkan?” jawab ibunya dengan nada meninggi. Ah! Rupanya karena kebiasaan merokoknya, Anna tidak bisa diterima oleh ibunda Haris.
“Sakit apa memangnya, Mah?” Dara memberanikan diri bertanya.
“Sakit biasa palingan, panas demam. Dianya saja yang manja. Ingat ya, Tom. Antara pasangan atau ibu, harus dahulukan ibu. Lihat ini, mama juga lagi sakit kepala. Dia malah enak-enakan di sana.” Makin kesal nada bicaranya, dan kali ini apa yang ia katakan mengagetkan Dara. Pendapat ibunya itu bersifat pukul rata, artinya suatu saat nanti berlaku juga untuk dirinya.
Dara keluar dari kamar mertuanya, beralibi hendak mengecek anak-anaknya. Ia mengambil ponsel mengirim pesan pada Haris. Sebagai orang yang pernah begitu banyak dibantu oleh tenaga Anna, ia harus mengecek kondisi perempuan itu.
Dara: [ Anna sakit apa, Har? ]
Ia menunggu cukup lama, hingga akhirnya balasan pesan dari Haaris beserta sebuah foto. Anna sedang terkulai lemas di rumah sakit.
Dara : [ Di rumah sakit? Aku kira di rumah? ]
Haris: [ Iya kak. Sekarang lagi sulit bernafas. Jadi ya, di sini dulu ]
Dara menjadi paham mengapa Haris sudah tak pulang berminggu-munggu. Anna terlihat sangat kurus, hampir hanya tulang terbungkus dengan kulit saja. Selain itu, ia terlihat memakai alat bantu pernafasan. Ternyata mertuanya itu tidak tahu menahu kondisi wanita itu.
Dara: [ Semoga cepat sembuh, ya. Kamu jangan lupa makan, Ris. ]
__ADS_1
Haris: [ Doakan ya, kak. ]
Dara melihat lagi foto Anna, dan sempat melamun, hingga suara klakson mobil mengagetkannya ...