Perempuan Di Balik Layar

Perempuan Di Balik Layar
Bab 45 - Terima Kasih Ummi!


__ADS_3

Tidak disangka, virus yang menyebar itu begitu cepat. Baru saja beberapa minggu lalu, penderita pertama yang baru pulang dari luar negeri terjangkit, kini penyebarannya pesat hingga ke Bandung. Kantor Dara dan Tomi benar-benar telah melarang karyawan untuk pergi ke kantor. Semuanya bekerja di rumah untuk keamanan bersama. Pemerintah juga telah memberi himbauan bahwa fasilitas umum akan dittutup apabila terjadi peningkatan penderita.


Virus baru ini bukan main-main. Dalam hitungan hari saja, ribuan orang meregang nyawa tak dapat tertolong. Lebih ngeri lagi, pemakaman mereka harus dipisah dari pemakaman umum lainnya. Petugas kesehatan kini terlihat lebih seperti astronaut menggunakan pakaian putih-putih lengkap dari atas hingga bawah, lengkap dengan sarung tangan dan kaca mata, mencegah mereka tertular.


Dara mulai was-was, pasalnya anak-anaknya masih beberapa kali pergi ke daycare, namun hari itu, Ummi pemilik daycare memutuskan untuk meliburkan anak asuh mereka ... tanpa terkecuali. Entah sampai kapan, pastinya semua orang tua yang bekerja penuh waktu seperti Dara dan Tomi berharap mereka bisa kembali menitipkan anak-anak.


“Jadi apa kata ummi? Kamu enggak kesusahan kan?” ujar Tomi disela mereka bekerja bersama siang itu, dan Dara sembari menyuapi Kio setelah membalas sebuah email yang masuk.


“Mau bagaimana lagi ... harus dijalani. Ummi belum bilang apa-apa,”


“Hmmm kasihan juga akhirnya banyak pengasuh yang nganggur nanti ... Aku mau tanya pendapat kamu. Kalau kamu repot, bagaimana kalau pengasuh yang nganggur kita hire secara pribadi saja?” Tomi memberikan ide. Wajah Dara berubah ekspresinya. Ini sudah sebulan sejak perdebatan mereka di kematian anak Fani, dan ia menjadi lebih kaku kepada suaminya.


“Maksud kamu, Fani? Terus terang ajalah ...” nada dingin Dara membuat Tomi tersedak kopi yang sedang ia seruput.


“Aku bisa urus anak-anakku dengan baik. Kamu enggak perlu repot kalau hanya mau membuat aku darah tinggi dengan obrolan ini.” Ketus sekali Dara menyambung.


Tomi seakan disumpal mulutnya, dan tidak lagi menjawab pertanyaan istrinya. Ia tentu tidak menyangka, wanita sepeka itu membaca pikiran lelaki.


Drrrtt! Ponsel Dara bergetar dari sebuah notifikasi grup WhatsApp. Pesan di grup daycare anak-anak:


[ Ayah, Bunda yang terkasih. Tidak terasa penyebaran virus corona mulai meluas, dan sudah banyak korban berjatuhan. Setiap nyawa berharga, dan apa pun harus kita pikirkan untuk mencegah penularan virus ini. Dengan berat hati, mulai hari ini kami memutuskan untuk menghentikan aktifitas di Daycare Pelangi sampai waktu yang tidak dapat ditentukan. Terima kasih untuk pengertian, dan support semua orang tua bagi kami hingga hari ini. Anak-anak terkasihku, semoga kita semua sehat dan dapat bertemu lagi secepatnya. ]


Hati Dara terenyuh membaca pesan itu. Ia merasa iba mengetahui bahwa daycare itu akan tutup sementara waktu, dan para pengasuh akan kehilangan pekerjaannya. Sungguh bencana kali ini membawa dampak berat.


“Ummi sudah kirim pesan ... daycare resmi ditutup.” katanya kepada Tomi. Tomi memerhatikan istrinya itu.

__ADS_1


“Sayang sekali ... Tapi mau bagaimana lagi. Selain itu ada keuntungannya, kita tidak membayar biaya SPP anak-anak. Lalu bagaimana dengan sekolah Kio? PAUD nya?”


“Semuanya akan lewat online, sudah banyak kota yang seperti itu ...” singkat padat jelas Dara menjawab suaminya.


Dara membereskan piring makan Kio, dan meminta balita itu pergi bermain, “Kio hebat! Sudah selesai makan. Sekarang main dulu, ya. Mama mau kerja lagi.”


Anak itu dengan pandainya mengangguk dan pergi sibuk bersama mainannya. Sementara Dara pergi mencuci piring bekas makan anaknya. Sebelum sampai di dapur, ia menengok Kayla yang sedang tertidur pulas.


Dara sangat beruntung memiliki bayi seperti Kayla, karena anak itu begitu tenang, dan sangat jarang menangis kecuali jika ia lapar. Pekerjaannya menjadi lebih gampang. Sebenarnya Tomi tak banyak membantunya. Seperti biasa, lelaki itu lebih sibuk dengan sesi chat basa-basinya di grup, dan Dara tak mau banyak berkomentar sejak pertengkaran terakhir.


Kring! Ponsel Dara berdering karena sebuah panggilan masuk. Dara menjawabnya.


“Mama Kio. Sudah baca pesan saya?” suara Ummi dari seberang.


“Ummi ... Iya sudah saya baca. Sayang sekali ya, Um. Tapi untuk kebaikan bersama.”


Dara termenung sesaat ...


“Sekalian, Um?”


“Iya, sekalian ketemu dengan Fani. Kata ayah Kio, Fani mau disewa secara khusus untuk jaga Kayla dan Kio. Maaf ya mama Kio, kalau untuk urusan itu nanti tidak menjadi tanggung jawab Ummi lagi. Semoga mama paham ...”


Jantung Dara memompa darah lebih cepat lagi, dan kerongkongannya ingin sekali langsung berteriak kepada suaminya itu yang merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuannya.


“Iya, saya paham, Um. Ummi sehat-sehat ya sekeluarga. Nanti kabari saja kalau daycare sudah buka lagi ... Terima kasih Ummi sudah telepon,”

__ADS_1


“Sama-sama mama Kio ...”


Tut tut tut! Percakapan itu selesai. Dara tak mau gegabah. Ia segera menyelesaikan cucian piringnya. Setelah itu, ia masuk ke kamarnya mencari dompet suaminya yang ternyata disimpan di atas nakas.


Dara membuka dompet itu, mengambil kartu ATM miliknya yang selalu berada bersama suaminya. Ia lalu kembali duduk di depan laptopnya. Tomi terlihat sedang senyum-senyum di depan layar ponsel.


“Tadi ummi telepon ...”


“Lalu?” tanya Tomi singkat.


“Kapan kamu pergi ke sana? Ada barang anak-anak harus diambil ... juga, kamu kan harus ketemu dengan Fani. Jadi kapan hari pertama dia mulai?”


Air muka Tomi berubah mendengar apa yang baru saja dikatakan istrinya. Ia menyimpan ponselnya itu, setengah terkekeh mengambil tangan Dara.


“Sayang. Kamu itu cemburu kan?” ujarnya dengan senyum lebar. Namun kali ini Dara tidak berubah wajahnya sama sekali. Perasaan kesal, penat, bosan dengan kelakuan suaminya, menyerobot jadi satu.


“Jadi ... aku tidak ada niatan apa pun mengajak dia kerja di sini ... hanya sekedar meringankan beban kamu ... Lagi pula nanti iurannya bisa lebih rendah, kamu bisa lebih ringan membayarnya.”


Dara terkekeh sinis, dan menarik tangannya dari genggaman suaminya.


“Aku? Aku membayar? Kenapa aku harus membayar sesuatu dari idemu? Kalau kamu yang punya ide, silakan hidupkan idemu sendiri ...” jawabnya lalu kembali menatap laptopnya.


“Baik. Kalau seperti itu, kamu akan urus dua orang anak di rumah ...” ujar Tomi lalu tersenyum.


Dara berhasil. Ia tahu suaminya itu tidak akan mau keluar biaya kalau bukan dari gaji istrinya. Uang bulanan yang ia kirim ke Farah begitu besar hingga ia pasti kerepotan mengaturnya.

__ADS_1


“Sialan. Dia pikir aku bodoh!” gumam Dara di dalam hatinya. Suaminya itu tentu punya pilihan merekrut pengasuh lain, tetapi malah ingin memilih Fani untuk tinggal bersama mereka.


__ADS_2