
"Kakak. Makan yang banyak dong kan ada pak suami, ciyeeeee!" Danang menggoda Dara. Minggu ini beberapa kali Tomi dan Dara berada dalam satu shift.
"Sini kamu mau aku suapin, Nang?" goda Tomi kepada lelaki agak kemayu itu. Danang tertawa cekikikan. Tawa khasnya yang selalu menghibur dan membuat Dara ikut tertawa.
"Kak Dara kalau di rumah seperti apa sih, bang?" tanya Danang penasaran.
"Hmmm. Ya kayak gini. Sibuk sendiri sama dapurnya, cuciannya, online shop-nya," jawab Tomi.
Dara tertegun sesaat. Apa ia memang menjadi sibuk sendiri? Apakah ini alasan Tomi banyak berdiam diri dan tidak menghiraukannya?
Saat ini ia sedang sibuk menggeluti usaha online shop-nya dan hampir tiap hari ia konsisten mendapatkan orderan. Hasilnya sangat lumayan, ia gunakan untuk belanja kebutuhan rumahtangga.
"Balik kerja, yuk?" ajak Dara kepada Danang, dan mereka berdua segera masuk ke dalam ruang kantor meninggalkan Tomi yang masih asik dengan ponselnya. Kebiasaan dengan ponsel ini sudah berlangsung 2 bulan sejak kejadian di hari libur itu. Dara ingin sekali tentunya mengetahui apa yang terjadi dalam ponsel itu, namun dari beberapa pengalamannya memeriksa ponsel Tomi, ia selalu kecewa dan meninggalkan luka yang perih ketika diingat lagi.
"Anak-anak gimana, Dar?" tanya Mira.
"Baik, kok. Lagi aktif-aktifnya Kayla, sebentar lagi setahun usianya," jawab Dara.
"Kenapa enggak dibawa ke kantor saja, Ra. Kan seru. Lagian kantor kita bebas, kok. Kita atur sendiri saja." suara OM-nya menyahut jawaban Dara.
Semua rekan kerja Dara memang begitu baik kepada ia dan anak-anaknya. Mereka sangat suka bermain dengan Kayla dan Kio, pada beberapa kesempatan bertemu singkat.
"Ia, teteh. Nanti itu harus dibicarakan sama ayahnya," ujar Dara. Ada benarnya juga apa kata OM-nya itu. Namun dengan suaminya yang masih suka 'sendiri' seperti ini, Dara pasti akan kerepotan di kantor.
"Guys. Kalian baca berita enggak? Ada virus baru di China kan? Namanya Corona," ujar Danang sembari menunjukan sebuah artikel di ponselnya.
"Iya, aku baca. Serem kan, Nang. Orang-orang spontan sesak nafas di jalan. Katanya sampai ribuan orang," sambung Mira mengiyakan omongan Danang, dan topik itu menjadi hangat di antara mereka. Virus baru itu lumayan meresahkan, namun belum ada tanda-tandanya di Indonesia sehingga mereka bisa legah sedikit.
Dara melihat laptop Tomi yang masih terbuka, tidak dikunci. Kebiasaan suaminya itu pergi dengan layar yang terpampang. Dara menghampiri laptop itu dan hendak menutupnya, hingga akhirnya melihat notifikasi WhatsApp web. Lagi-lagi ia harus bertarung dengan hatinya sendiri.
Klik! Dara akhirnya membuka WhatsApp Web milik suaminya.
Fani? Dadanya serasa ingin meletus melihat nama itu berada di pesan teratas, dan tampak tulisan "typing" sedang berlangsung. Dara membuka chat itu, membacanya satu per satu. Chat itu lumayan panjang, sehingga Dara menariknya dari atas, tepat sejak 3 bulan lalu.
Celetukan-celetukan Tomi dan Fani terlihat begitu akrab, sesekali gelak tawa dengan emoji yang bahkan tidak pernah suaminya kirimkan kepadanya. Tomi begitu ramah. Dara tak ingin membuang waktu, cepat-cepat membaca pesan di sana. Ada beberapa pesan Tomi mengomentari story Fani tentang masakannya.
Tomi: [ Hmmm kelihatannya enak 🤠]
__ADS_1
Fani: [ Ayo kapan-kapan ke sini ayah Kio, aku masakin 😋 ]
Tomi: [ Ah enggak enak dengan suaminya ]
Fani: [ Aku janda. Sudah bercerai. ]
Semua pesan yang Dara baca seketika membuat kepalanya berputar, menjadi begitu berat. Ya Allah! Apa lagi ini?
"Geser. Aku mau kerja" suara Tomi dibelakangnya mengagetkan. Oh tidak! Dara bahkan tidak sempat menutup tab itu. Ia pasrah, dengan wajah datar dan jantung yang berdegup kencang ia bergeser.
Tomi terlihat menutup tab WhatsApp itu, ia tahu istrinya telah membaca hampir seluruh pesan itu. Keduanya diam, tak berbicara sepatah katapun, bahkan Dara tak lagi berkecimpung dalam obrolan teman-temannya. Ia mengambil headset-nya berpura-pura mendengarkan sesuatu, padahal sebenarnya tak ingin ditanyai siapapun. Ia terdiam dan berusaha agar menyelesaikan pekerjaannya di 2 jam sebelum pulang.
"Sayang. Tau cara untuk balas email begini enggak? Sepertinya soal refund?" Tomi mendadak romantis memanggil istrinya. Sakit hatinya masih begitu terasa, membuat Dara tak ingin menjawab apa pun yang ditanyakan suaminya itu. Ia pura-pura tak mendengar.
Tomi menepuk bahunya, Dara melepaskan headset-nya.
"Tau enggak? Soal refund," tanya Tomi lagi.
"Enggak. Tanya sama supervisor kamu saja," Dara berbohong, lalu kembali bekerja. Dara tahu banyak hal tentang prosedur di kantornya, dan Tomi selama ini sangat bergantung pada dirinya. Akan tetapi kali ini, luka perih setelah membaca chat-chat itu membuatnya tak ingin membantu Tomi sama sekali.
"Ayo pulang!" ujar Danang dengan semangat setelah jam menunjukkan pukul lima sore. Dara merapihkan tasnya, lalu berjalan terdiam begitu saja meninggalkan ruangan kantor itu. Tomi masih sibuk berbasa-basi dengan beberapa topik singkat dan bergelak tawa dengan beberapa teman kantor sebelum akhirnya menyusul Dara menaiki lift.
"Ayah. ASI Kayla habis. Besok bisa dibawa lagi yang beku. Dadaa Kayla," Fani berbicara kepada Tomi dengan senyumnya, seolah tak menghiraukan kehadiran ibu kandung kedua anak itu. Tomi tak menjawab banyak, hanya mengiyakan lalu pergi bersama istri anaknya.
Dara masih tak berbicara sepanjang perjalanan, hanya mendengarkan percakapan Kio dan Tomi di atas motor. Setibanya mereka, ia menidurkan Kayla di tempat tidur bayi, dan memandikan Kyo dengan air hangat, lalu memasak makan malam.
"Ayo makan. Sudah siap." ia mengajak Tomi untuk makan malam, namun dengan nada dinginnya.
Tomi bergegas menggendong Kio menujueja makan bersama. Dara tampak seperti biasa melayani suaminya itu makan, mengambil nasi dan lainnya untuk Tomi. Ia masih tak berbicara, sejak siang tadi tak sedikitpun senyum yang ia tunjukkan.
"Mama. Aku mau satu lagi," ujar Kio menunjuk perkedel kentang buatan ibunya. Dara mengambil satu lagi perkedel untuk anaknya itu, lalu spontan mengelus kepalanya. Perasaan apa ini? Aneh, terasa begitu sesak, dan menyakitkan. Dara banjir air mata, dan isak tangisnya pecah begitu saja di meja makan. Tomi menatap istrinya, Kio apalagi. Bocah itu terlihat kaget melihat ibunya itu.
"Mama, nangis? Kenapa?" polosnya anak itu, menghentikan tangisan Dara.
Ia mengelus lagi kepala putranya, lalu menyuapi bocah itu makan agar cepat selesai.
"Mama keselek tulang ikan. Tapi sekarang tulangnya sudah hilang. Tadi buat apa di sekolah?"
__ADS_1
"Nyanyi lagu. Abi teh ayeuna ... mmmm Kio lupa, mama," bocah itu tertawa setelah tak bisa menyambung lagu yang ia pelajari di sekolah. Dara cepat-cepat membersihkan mulut Kio begitu ia selesai makan, dan menggendongnya menuju kamar, meninggalkan Tomi yang masih duduk menyantap makan malam. Kio tampak lelah, pastinya ia sangat bersemangat bermain seharian dengan teman-teman.
Suara pintu dibuka. Dara langsung mengambil posisi tidur sebab ia merasa begitu terpukul.
"Mau bicara? Kamu kenapa?" tanya Tomi sembari duduk di samping istrinya itu.
Dara tak berkomentar apa pun..
"Ayolah. Kamu kenapa?"
"Kenapa??? Kamu masih bisa tanya kenapa??? Tanya dirimu sendiri. Kenapa aku begini?" jawab Dara ketus lalu beranjak dari tempat tidurnya berdiri di depan Tomi.
"Ini bukan karena chat aku dan Fani, kan?"
Dara tertawa sinis, seakan tak percaya apa yang baru ia dengar.
"Chat kalian itu luar biasa. Kamu bisa ya, ramah dan ketawa ketiwi dengan perempuan lain, selama berbulan-bulan. Pantas sibuk sekali dengan HP kamu itu,"
"Kamu baca semua? Baca enggak?"
"Peduli setan!" jawab Dara.
Tomi menghembuskan nafas, seolah bingung akan menyusun kata.
"Fani itu pengasuh anak-anak. Dia lebih dekat ke anak-anak dibandingkan yang lain. Wajar aku komunikasi dengan dia, bukan? Lagian kamu lihat, sebagian besar karena dia kabarin soal anak," ujar Tomi berusaha menepis pikiran negatif istrinya itu.
Satu lagi tawa sinis dari Dara lalu ia berkata, "Apakah mengajak kamu ke rumahnya termasuk bagian dari tanggung jawab dia? Perempuan macam apa yang mengajak suami orang pergi makan masakannya. Apa kamu pernah memuji masakanku di rumah??" Dara terdengar sangat emosi, namun air mata sudah tak lagi merembes.
"Itu basa-basi, Dara!" Tomi membela diri.
"Basa-basi??? Sampai berkali-kali? Berulang sampai berbulan?"
"Kamu cemburu dengan pengasuh. Sangat enggak masuk akal. Kamu kelewatan." Tomi balik menyerang Dara.
Dara seakan kehabisan kata, tak tahu bagaimana cara menerangkan suaminya bahwa yang ia lakukan itu salah. Jelas-jelas mereka berkomitmen untuk tidak menimbulkan fitnah dengan hal-hal seperti ini, dan itu yang dilakukan Dara ketika ia membalas beberapa pesan dari teman lawan jenis. Tapi tampaknya Tomi tak paham, atau pura-pura tak paham...
"Aku akan samperin dia besok, aku ajari cara berkomunikasi yang sopan. kalaupun ada yang harus dia sampaikan tentang anak-anak, harusnya ke aku, aku ibu. Kenapa malah ke kamu? Dia juga muslimah bukan? Dia harusnya paham!" Dara betul-betul kehabisan kesabaran kali ini, dan berniat akan menghampiri Fani keesokan hari.
__ADS_1
"Jangan bikin malu! Kalau kamu enggak suka, oke aku enggak akan chat dia. Nanti aku suruh dia chat kamu!" jawab Tomi dengan entengnya lalu menarik selimut dan tidur.
Dara menepuk dadanya berusaha melegakan rasa sakitnya. Kali ini ia merasa suaminya melampaui batas, mengulang lagi hal yang sama, yang jelas-jelas tidak ia sukai.