Perempuan Di Balik Layar

Perempuan Di Balik Layar
Bab 51 - Kehidupan Baru


__ADS_3

Sesuatu yang baik sudah dimulai, dan ide Dara untuk membuat bisnis kuliner kecil-kecilannya berjalan dengan baik. Selain memiliki seorang karyawan yang begitu ulet, ia juga langsung mendapatkan pelanggan tetap yang hampir setiap hari datang membeli daging asap dengan bumbu rahasianya. Ada yang berbeda ... setelah satu minggu terakhir bekerja, Dara dan Tomi tidak lagi begitu sibuk dengan laptop seperti biasanya. Mereka sudah resmi tidak lagi menjadi karyawan di kantor itu. Tak hanya mereka, akan tetapi semua pegawai di berbagai belahan negara.


Dara bisa bernafas sedikit ringan, meskipun kehilangan pekerjaan itu, sisi positifnya yaitu ia bisa meluangkan lebih banyak waktu berinovasi dengan bisnis kecil-kecilannya. Dengan cekatan, ia juga sudah ikut mendaftarkan K’s pada platform online yang sedang ramai pembeli. Tanpa menunggu lama, dalam satu bulan saja K’s sudah mendapat nama, dan berbondong-bondong orang datang sekedar ingin melihat alat yang memutar-mutar daging dengan warna yang menggugah selera.


“Aku berangkat dulu. Yadi sudah sampai dari tadi.” Tomi berpamitan kepada istrinya yang sedang menyuapi kedua anaknya sarapan. Dara mengangguk dan mengulas sebuah senyum manis. Menambah semangat suaminya itu untuk pergi.


“Oh iya ... ada baiknya mulai sekarang K’s aku yang ambil alih. Aku laki-laki. Kamu bisa lebih fokus berbenah di rumah, dan bermain dengan anak-anak saja.” Imbuh Tomi.


Dara menatap suaminya yang berjalan pergi itu, namun tidak bisa langsung berkomentar. Sesungguhnya ia merasa begitu tidak nyaman apabila harus menjadi ibu rumah tangga secara dadakan seperti ini. Lagi pula ia masih sangat menikmati masa-masanya mengurus K’s sebagai bisnis pertamanya.


“Nanti saja aku bicarakan, daripada membuat mood-nya jelek di pagi hari.” tandas Dara kepada dirinya sendiri.


Dalam satu bulan ini, penjualan K’s telah meroket. Bahan baku daging yang mereka gunakan di hari pertama sebanyak 10 kilogram saja, naik pesat menjadi 50 kilogram.


“Alhamdulillah. Rejeki anak-anak selalu tersedia,” ucap Tomi suatu hari setelah menutup kedai dan membawa pulang hasil dagangan itu.


“Mama, daddy, enggak ke kantor lagi?” Kio bertanya dengan polos hari itu, dan kedua orang tuanya menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti olehnya bahwa mereka telah memiliki usaha sendiri.


Di kesempatan ini, Dara bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama anak-anaknya, meskipun Kayla yang sedang belajar berbicara dan berjalan sering mengalami tantrum, namun ia mencoba menikmati momen itu.

__ADS_1


Tomi selalu pergi tepat pukul 9 pagi hari ketika Yadi sudah berada di kedai, dan ... mereka sudah pindah ke kontrakan baru yang jaraknya hanya beberapa gang saja dari kedai mereka. Tomi bisa pulang kapan saja ketika ia butuh, dan Dara tetap bisa pergi mengunjungi kedai kapan saja dengan anak-anaknya.


Dara bergegas membersihkan meja anak-anaknya setelah kedua bocah itu selesai dengan sarapan mereka. Semangkuk sereal gandum dengan susu, dan masing-masing mendapat sepotong roti yang ia buat sendiri semalam. Semenjak tak lagi menjadi karyawan, Dara memiliki hobi baru yaitu membuat roti dan kue untuk keluarganya.


Matanya tertuju pada ponsel di atas mesin cuci. Rupanya Tomi meninggalkan ponselnya ... Dara memegang ponsel itu, mengusap layarnya. Nihil ... ponsel itu ternyata dikunci dengan sebuah pola. Sudah sejak lama ia tidak lagi memeriksa ponsel suaminya. Setelah terakhir mereka beradu mulut tentang chat suaminya dengan Fani, Dara tak mau lagi ambil pusing tentang isi ponsel suaminya itu. Tapi ... kali ini kecurigaan menyeruak begitu saja melihat sebuah perintah memasukkan pola di layar ponsel itu.


“HP-ku ya? Aku lupa,” suara Tomi mengagetkannya. Pria itu langsung mengambil ponsel itu lalu bergegas pergi lagi. Dara menggelengkan kepala seolah berusaha menyadarkan dirinya agar tidak berpikiran macam-macam. Lagi pula, apa lagi yang harus ia curigai sekarang? Sejak pandemi ini mereka selalu bersama dan sibuk mengurusi kedai barunya.


“Kio ... ayo kita bermain di luar. Itu ada ade Sisi.” Dara kali ini juga belajar hidup bersosial. Semenjak pindah ke kontrakan ini, ia memiliki seorang tetangga sebelah pintu. Sepasang orang tua baru yang masih sangat muda, dengan seorang balita perempuan bernama Sisi. Anak itu begitu cantik, dengan rambut sebahu dan poni yang selalu rapi tersisir di atas alisnya.


Kio berlari keluar, mengetahui teman barunya itu ada di sana, dan Dara mengikutinya bersama Kayla yang sedang melatih jalannya.


“Mama Kio. Wah, anak-anak sudah rapi jam segini? Hebat euy!” puji Rara, ibunda Sisi. Wanita itu selalu murah senyum. Di pagi hari ia terlihat begitu cantik dengan alis yang rapi dan lipstik tipis di bibirnya. Ia seorang ibu rumah tangga tulen. Suaminya tidak mengizinkannya bekerja, sehingga ia harus tetap berada di rumah. Rara bukan orang baru di sana. Ia salah satu anak dari penduduk yang sudah lama menetap di lingkungan itu, dan ibunya hanya berjarak 3 rumah dari kontrakannya.


“Dengar-dengar sekarang sudah enggak kerja lagi di kantor itu ya, Teh? Sama ... suami saya juga terdampak. Hotel sudah mulai sepi, sekarang gaji mereka sudah enggak 100% lagi.”


“Iya betul, teteh. Aduh ... kasihan juga, ya. Hampir semua kena dampaknya.” Dara berusaha menunjukkan empatinya Untuk seseorang yang jarang sekali bergaul dengan tetangga, kali ini ia meluangkan lebih banyak waktu dari biasanya untuk berbincang.


“Tapi sekarang sudah ada K’s. Teteh bisa tenang sedikit kan ya?” sambung Rara, dan Dara menjawabnya dengan sebuah tawa kecil dan anggukan.

__ADS_1


Sejauh ini, K’s berjalan dengan sangat baik dan Dara sudah berusaha memperhitungkan apabila keuntungannya berlanjut seperti saat ini, mereka akan balik modal pembuatan alat hanya dalam 5 bulan saja.


Dara kembali ke dalam rumahnya, sebab ia harus mulai memilah cucian. Biasanya ia memisahkan pakaian berdasarkan warnanya, dan memeriksa saku sebab ia suka meninggalkan barang-barang kecil di situ.


“Apa ini?” Dara mengeluarkan sebuah plastik klip kecil dari saku celana suaminya. Seketika ia bergidik, sebab plastik seperti itu seringkali ia lihat di masa-masa silam ketika Tomi masih bergelut dengan narkoba.


Dara menggelengkan kepala, lagi-lagi berusaha menepis prasangkanya dan kembali memilah cucian agar cepat selesai. Tapi ... pikiran itu terus saja mengganggunya.


“Hari ini ramai sekali. Aku dan Yadi sempat kewalahan karena ternyata ada yang tidak kebagian, dan ngambek.”Tomi bercerita sembari menyantap semangkuk rawon buatan istrinya itu. Dara tersenyum mengetahui bahwa K’s mulai mendapat penggemar berat.


“Ini hasilnya. Jangan lupa dicatat. Pokoknya operasional serahkan ke aku saja. Kalau pembukuan, kamu lebih detail soal itu.” sambung Tomi.


Dara tak banyak bicara, sebab ia sedang menimbang-nimbang ingin mempertanyakan penemuannya hari ini.


“Tadi aku ketemu plastik klip di saku celana kamu ... bekas apa?” ia akhirnya memberanikan dirinya bertanya.


Tomi mengerutkan dahinya, lalu tertawa sebentar.


“Itu bekas skrup. Waktu lalu ada bagian laci di alat kita yang lepad satu skrupnya. Itu aku beli, dimasukkan ke dalam plastik klip.”

__ADS_1


Fiuh! Dara merasa legah mendengar jawaban itu. Ia wajar begitu kuatir, sebab sekarang ini ia sudah tidak banyak bersama Tomi di K’s. Tomi selalu memintanya agar fokus mengurus rumah tangga saja, dan mengelola promosi online.


“Oh iya. Minggu depan kita tutup dulu. Aku mau pulang menengok mama. Anna sakit katanya, sekalian kita jenguk saja, kan?” ujar Tomi dan langsung disetujui oleh istrinya itu. Anna sakit? Pikir Dara di dalam hatinya. Selama ini ia tahu bahwa wanita itu memiliki penyakir asam lambung yang mudah kambuh, dan beberapa kali ia datang masih dengan tawa yang lebar memegang perutnya.


__ADS_2