
“Bu. Ibu tahu enggak kalau di Kio itu suka sekali makan tempe?” Ros memulai percakapan dengan Dara sembari keduanya merapikan baju-baju bayi yang baru selesai dicuci.
“Masa sih, Ros? Sama kamu?”
“Iya sama saya, Bu. Makannya banyak loh. Hebat kan saya?” celoteh pengasuh Kio ini memang penuh canda. Ia sangat disukai oleh Dara karena kerajinannya.
Dara tertawa kecil, sembari beberapa kali memegang perutnya yang mengencang. Kontraksi palsu mulai ia rasakan akhir-akhir ini. Di hari itu ia sudah berada dalam cutinya, sebab seharusnya bayi perempuan mereka akan lahir di tanggal 29 Desember nanti.
“Aku pulang. Sayang? Kio! Daddy pulang!” suara Tomi menggelegar di dalam ruang tamu. Dara beranjak menghampiri suaminya itu, memberikan isyarat agar ia tidak membangunkan Kio.
“Sorry. Kio tidur ya sayang? Ini aku bawa mainan.” Ujar Tomi memelankan suaranya selagi menunjukkan sebuah bungkusan dari toko mainan.
Dara menghampiri suaminya itu, mengambil apa yang ada di tangannya. Sebuah truk mainan yang besar dengan kualitas bagus.
“Kio pasti suka. Terima kasih ya sayang.” Dara mengecup pipi suaminya itu dan dibalas dengan sebuah kecupan di keningnya.
“Kamu tahu kita ada acara di kantor? Tanggal 31 nanti. Tapi, kamu kapan sih harusnya melahirkan?” ujar Tomi berusaha mengingat jadwal persalinan istrinya.
“Harusnya lusa ... Tapi ... Ah aku pusing sayang. Aku belum rasain apa-apa sampai sekarang,” Dara menjawab dengan kekuatirannya. Ia sedikit kuatir karena usia kandungannya itu sudah mencapai 40 minggu dan belum ada pertanda bayi itu akan lahir.
“Kamu jangan stres sayang. Kita ke dokter besok, ya. Kan kata dokter seperti itu, bukan? Atau kamu mau operasi?”
Dara dengan cepat menanggapi tawaran suaminya itu dengan gelengan kepala dan wajah mengerutnya.
“Mana mau aku. Aku mau normal saja.”
“Oke, kalau begitu jangan stres. Besok kita ke dokter ya sayang.” Tomi menenangkan istrinya itu. Ia sudah memperhatikan perubahan istrinya dalam beberapa hari ini. Ia sering sekali mendapati wanita itu menangis, tanpa sebab yang pasti. Hormon kehamilan yang semakin meningkat benar-benar memengaruhi mood-nya. Terkadang ia akan menjadi kesal pada segala hal yang terjadi, dan kadang kala bahagia yang tak habis.
Tangan dokter perempuan cantik dengan tubuh agak gemuk dan kerudung biru itu, menggeser-geser alat USG di perut Dara. Mereka menantikan dengan cemas apa yang akan dikatakan oleh dokter kandungan itu. Di hari ini, harusnya Dara akan melahirkan, namun ia tidak merasakan apapun sama sekali.
“Ini kandungannya sudah genap bulan. Plasentanya sudah mulai mengapur dan ... air ketubannya sudah mulai berkurang. Saya masih kasih waktu sampai tanggal 1 nanti. Kalau tidak ada tanda apa pun, datang lagi kemari supaya kita tindak ya, bu ...” dokter itu menjelaskan dengan senyum terulas diwajahnya. Air ketuban yang berkurang, plasenta yang mulai mengapur ... mimpi buruk bagi Dara. Seketika jantungnya berdegup, dan ia mulai berpikir kesana kemari.
“Oh ya. Ini berat bayinya sudah besar. Kalau bisa ibu sudah mulai kurangi jumlah asupan ...” sambung dokter itu.
“Apa ini bahaya, dok?” Tomi bertanya dan tak dapat menyembunyikan kecemasannya.
Dengan pelan dokter itu mengangguk, namun tetap dengan senyum kecil di wajahnya.
“Tentu berbahaya. Plasenta yang mengapur akan memperlambat udara disalurkan kepada bayi. Jadi ... saya beri waktu hanya 2 hari saja.”
Mereka lalu keluar dari ruangan itu, dan Dara tentu tidak bisa menyembunyikan kekuatiran di wajahnya, dengan air mata yang merembes turun, ia berusaha agar tetap tenang.
“Sayang. Ayo. Jangan menangis.” Tomi berusaha menenangkan istrinya yang tampak sekali terpukul dengan apa yang dikatakan dokter.
__ADS_1
“Aku sudah rajin olahraga. Lalu kenapa belum?” Dara masih terus menangis, mempertanyakan apa yang salah dengan kehamilannya. Ia tak bisa menyembunyikan perasaan takutnya sebab sewaktu sesi bersama dokter, bayinya terlihat tidak bergerak sama sekali. Meski dokter sudah memberitahu bahwa bayi itu baik-baik saja dan denyut nadinya normal, Dara tetap saja merasa kesal dengan apa yang ia dengar tadi.
“Ssshh. Sudah. Kalau kamu stres, bayi kita akan lebih stres lagi sayang ...” Tomi masih berusaha menenangkan Dara. Ia berusaha menggenggam erat tangan istrinya itu, memberitahunya agar tidak menjadi stres dengan lambatnya kelahiran putri mereka.
Dengan cepat ia membawa istrinya itu pulang agar bisa memberikan pijit pada kakinya, dan mengurangi stres. Ia juga membelikan beberapa kudapan manis untuk memperbaiki moodnya. Wanitanya itu tampak tenang, berbaring dengan pijitan yang diberikan pada kaki kiri oleh Ros, dan kaki kanan oleh Tomi.
“Ibu kenapa? Jangan sedih atuh, bu. Saya juga ikut sedih ...” Ros berusaha menenangkan majikan perempuannya.
“Enggak apa-apa. Saya Cuma kaget saja kok anak saya bisa enggak bergerak, dan kata dokter air ketubannya sudah berkurang, saya jadi kuatir, Ros ...”
“Serahin sama Tuhan, bu. Tuhan yang tahu kapan si utun harus lahir ...” yang dibilang oleh Ros memang benar, namun kekuatiran Dara saat ini sangat beralasan sebagai seorang ibu.
Ros memijit kembali kaki majikannya itu, dengan senyum sederhananya ia berusaha memberikan kenyamanan untuk majikannya itu.
“Ya sudah, sebentar kita berdoa untuk ade utun ya, Kio. Supaya adenya cepat lahir. Oke?” ucapnya kepada Kio yang duduk di sampingnya, sibuk dengan tontonan video di ponsel ibunya.
“Sayang ... Lusa nanti kamu enggak masalah dengan Ros di rumah kan? Aku harus pergi ke acara kantor.” Tomi meminta persetujuan istrinya, dan disambut dengan anggukan.
Malam pergantian tahun memang tak akan dilewatkan oleh siapa saja. Harusnya ini adalah kali ke empat Dara melewatkan pergantian tahun dengan Tomi, namun suaminya itu harus menghadiri acara di kantor. Tanpa bas bis bus, Dara tentu mengizinkannya, sebab ia tahu dengan siapa Tomi akan menyambut tahun baru. Sambil menanti suaminya itu pulang, ia duduk memandangi langit dengan bintang yang hampir tak kelihatan sebab hujan baru saja mengguyur deras. Sesekali ia mengelus perutnya, memastikan bayinya agar dapat memberikan satu dua gerakan untuk menenangkan hati.
Ia tertidur begitu pulas menanti suaminya pulang, sesekali terbangun ketika bayinya menendang, Dara sering mengajak bayi itu berbicara. Ia pasti sudah bisa mendengar ibunya, dan besar harapan agar ia paham bahwa ibunya sunggu mengkhawatirkan kondisinya.
Ada yang berbeda dengan malam pergantian tahun kali ini. Tomi tak lagi pulang berbau minuman alkohol. Yang ia bawa hanya wajah penuh corat-coret bekas game seru bersama teman-teman kantornya, dan ia sempat menceritakan beberapa hal lucu sebelum istrinya itu kembali tertidur.
“Masih belum ada tanda sayang? Kamu mau sarapan apa?” Tomi mengelus kepala istrinya itu, dan memberi kecupan di pipinya.
Dara menggeleng lembut, dan meraih ponselnya melihat jam yang menunjukkan pukul 5 pagi.
“Kita harus kembali ke klinik hari ini, menurut dokter. Ayo. Aku enggak mau kamar impianku dipakai orang,” ujar Dara lalu segera bangun dan merapikan dirinya.
Beruntungnya kali ini mereka memiliki Ros, dan pengasuh itu sudah bangun mendengar Dara akan pergi ke klinik. Dengan wajah yang sudah segar, ia telah menanti majikannya untuk berangkat.
“Ros. Titip Kio, ya. Doain supaya berhasil.” Ia berpamitan kepada Ros sembari menenteng tas punggung yang sudah ia siapkan sejak jauh hari.
“Pasti atuh didoakan bu. Nanti saya jenguk dengan Kio kalau dia sudah bangun. Ibu kabari ya, bu,” wanita itu begitu mirip dengan Cecil, sangat peduli dengan Dara.
Perasaan bercampur aduk mengiringi Dara. Tak sabar rasanya bertemu dengan satu lagi anggota keluarganya, dan kali ini ... ada Tomi bersamanya.
“Belum ada pembukaan, bu. Tapi kita akan induksi. Apabila gagal, harus kita rujuk untuk operasi,” ucap seorang petugas kesehatan yang baru selesai memeriksa pembukaan mulut rahim.
Dara mengangguk, meskipun risiko yang ada di depannya lumayan besar tapi ia selalu optimis bahwa persalinan ini akan berjalan lancar. Di satu sisi ia bisa merasakan bayinya yang mulai jarang bergerak, memacu adrenalinnya semakin tinggi, namun tetap berusaha setenang mungkin.
“Jangan dipikirin. Semua bakal baik-baik saja, sayang. Kamu suka kamar ini? Nyaman banget ya, di sini?” Tomi menenangkan istrinya yang telah berbaring dan diberikan infus obat induksi persalinan.
__ADS_1
“Iya nyaman. Aku suka. Semoga cepat kelar semua ini,”
“Pasti! Kamu hebat, bisa kok.” Tomi kali ini menjadi lebih suportif. Sangat berbeda dengan persalinan pertamanya, Dara merasa jauh lebih tenang.
Jam yang berlalu seiring dengan cairan infus yang akhirnya habis, membawa Dara pada fase yang progresif. Ia mulai merasakan mulas, dan mengalami pembukaan mulut rahim. Akan tetapi tidak seberat saat persalinan pertamanya, ia masih bisa bersantai menonton televisi dan menjawab panggilan video dari teman-teman satu timnya di kantor yang memberi semangat.
Perlahan-lahan rasa sakit itu mulai menguat dan Dara perlahan mulai meringis kesakitan dan berkeringat di dalam ruangan berAC yang begitu dingin.
“Sabar ya sayang. Sudah delapan. Sebentar lagi 10.” Tomi mengelus-elus punggung istrinya itu.
Brak!
Pintu dibuka dengan keras dari luar.
“Mama!” Kio berlari ke pelukan ibunya yang sedang duduk di atas bola gym. Dara merasa begitu bahagia melihat anaknya bersama Ros ada di situ.
“Ros. Makasih ya sudah antar Kio.”
“Itu perintah bapak kok bu. Katanya biar ibu tambah semangat.” Ros menjawab dengan senyumannya. Ia menemani majikannya itu bercerita untuk mengalihkan rasa sakitnya, sembari memberi pijitan lembut ketika rasa sakit datang menghampiri.
Semua dilewati begitu saja dengan perasaan ceria meskipun sakit yang luar biasa karena efek obat induksi.
“Ayo. Kita pindah ke ruang bersalin, bu. Sudah sembilan.” Dara begitu bahagia mendengar apa yang diucapkan oleh bidannya. Ia segera dibawa dengan kursi roda menuju ruang persalinan. Telah ada dokternya yang menunggu, akan memandu persalinan.
Tomi berdiri di samping istrinya menyeka keringat yang menetes begitu deras karena rasa sakit yang ia rasakan.
“Ayo. Sudah boleh didorong bu Dara,” akhirnya! Dokter memberikan izin agar persalinan dimulai. Dara menarik nafasnya dalam-dalam, ia ingin agar segera bertemu dengan bayinya. Dalam 3 dorongan singkat, terdengar tangisan bayi yang begitu nyaring. Dara merasakan legah yang luar biasa, dan sakit perut yang hebat itu mulai meredah, meskipun tidak hilang.
“Anak perempuan, pak.” ujar bidan-bidan yang membantu dokter memberikan Dara persalinan. Bayi kecil gemuk dengan rambut lebat itu diletakan di atas dada ibunya. Dara tersenyum, dan ia bisa melihat suaminya begitu bahagia melihat anak mereka yang baru lahir itu.
Bidan mengambil bayi itu untuk dibersihkan, dan mereka juga membereskan apa yang harus dibereskan untuk Dara. Dara merasa begitu nyaman setelah dibersihkan, meskipun rasa sakit yang hebat karena luka persalinan mulai terasa, namun obat-obatan dengan cepat meredahkannya.
Mereka kembali ke kamar mereka, bersama dengan bayi yang begitu tenang. Kulitnya yang putih begitu lembut, dan bisa dilihat bayi itu begitu cantik. Dara berbaring dengan tenang, melihat Ros, Tomi, dan Kio sedang sibuk memandangi Kayla yang tidur dengan nyenyak. Bayi itu jauh lebih gemuk daripada Kio saat dilahirkan.
“Tenang sekali ya, bu. Pantas saja enggak mau keluar, nyaman di perut.”
“Hahaha! Iya Ros, kamu betul,”
Kio beberapa kali menyentuh jari-jari kaki bayi itu, dan tersenyum kepada ayahnya, seakan memberitahu bahwa ia sangat menyukai adiknya.
“Ayo kita beli coklat, Kio. Mama mau istirahat. Besok kita ke sini lagi ya, sayang,” Ros mengajak balita itu untuk pulang, dan anak itu dengan pandainya mengikuti apa yang dikatakan oleh pengasuhnya. Mereka pun pulang, sementara Tomi masih harus berada di sana menjaga istrinya.
“Aku nyalain lampu ya, sayang. Aku mau fotoin ke mamaku,” ujar Tomi kepada Dara. Dara tahu persis, mertuanya itu sama sekali tidak menanyakan kondisi kehamilannya. Bahkan dengan jarak Jakarta Bandung yang sangat dekat, tidak ada seorang pun datang menjenguknya. Ia berusaha tetap berbesar hati, lagi pula itu bukan prioritas untuknya. Yang terpenting saat ini, ia telah bertemu bayinya.
__ADS_1