Perempuan Di Balik Layar

Perempuan Di Balik Layar
Bab 28 - Harus Memilih


__ADS_3

Rasanya begitu nyaman kembali di


tengah-tengah keluarga. Untuk beberapa saat di rumah ibunya, Dara bisa


meluruskan punggungnya yang lelah bekerja selama beberapa tahun di perantauan.


Di pagi hari ibunya sudah sibuk pergi ke pasar, lalu pulang dengan berbagai


bahan untuk memasak macam-macam makanan untuk anaknya.


Keluarga itu tampak begitu ramah


kepada Tomi; memperlakukannya seperti sudah dikenal sejak lama. Kuping mereka


tak sedikit mendengar tentang beberapa pertengkaran antara Dara dan Tomi


beberapa tahun belakangan. Tetapi, tangan terbuka menerima kehadiran Tomi.


Ibunya, dan beberapa orang tua lain di keluarga besarnya yang sudah banyak


makan asam garam dalam pernikahan, tentu tak mau terlalu membesarkan apa yang


dihadapi Dara. Lagi pula, anak itu tak begitu bercerita banyak mengenai


beberapa insiden yang hampir merenggut nyawanya. Yang mereka ketahui, hanya


sebuah pertengkaran rumah tangga biasa.


Butuh beberapa tahun hingga Kio


lahir, untuk Dara mengumpulkan keberanian menceritakan latar belakang suaminya


itu. Keluarganya tahu tentang Farah, dan segala sesuatu yang terjadi di balik


kehidupan rumah tangganya. Namun ... Lagi ... Ia memberi sesendok madu yang


telah disaring dari ampas yang sepat. Menyajikan keluarga besarnya dengan


cerita yang membuat kuatir seminimal mungkin, tentu pilihan yang baik


menurutnya.


Tomi patut bersyukur sebab untuk


seukuran laki-laki yang tidak melewati tata cara adat istiadat yang lengkap


untuk meminang Dara, ia terus menuai perlakuan baik dari keluarga istrinya.


Dalam hatinya ia pasti menyimpan rasa takjub atas istrinya yang mampu menyimpan


aib rumah tangga mereka rapat-rapat.


“Dari sini, nanti masih satu jam


perjalanan lagi. Agak berbatu ...” ucap ibunda Dara menerangkan arah perjalanan


mereka. Hari itu mereka akan pergi ke perkebunan jeruk untuk panen. Kebun itu


dimiliki orang-orang lokal di sebuah desa berjarak 3 jam dari kota mereka.


Jeruk-jeruk itu jarang sekali mereka panen jika bukan musim panen raya.


Buah-buahan yang tumbuh subur itu, mereka jual kepada orang-orang dari kota


yang datang ingin memetik secara langsung.


“Berbatu? Apa akan besar


guncangannya, Mah? Karena Dar-“ Tomi menanyakan kekuatirannya.


“Tidak begitu berbatu. Tenang saja.


Lagian Dara ini anak yang kuat, anak di perutnya juga pasti kuat,” potong


mertuanya, sambil tersenyum.


Omongan ibunya itu memang benar,


dan membawa Dara pada beberapa waktu di mana ia mengandung Kio dan mendapatkan


banyak perlakuan kasar dari suaminya itu. Beberapa kali dalam kehamilan itu, ia


dipukul, ditendang, bahkan dilempari barang-barang, namun bayinya lahir dengan


baik, dan bertumbuh menjadi balita yang tampan.


“Kita berhenti dulu. Ayo kita makan


siang dulu ...” Tomi berhenti di sebuah rumah makan dengan wangi rendang yang


tercium begitu mencolok meski mereka berada di parkiran. Ia cepat-cepat turun


dari tempat duduknya dan bergegas membukakan pintu mobil untuk mertuanya.


Sebuah meja panjang dengan 8 tempat


duduk, ditempati mereka. Tomi menjadi manusia paling sibuk, mengambil pesanan,


dan mengantarkan minuman untuk keluarga barunya itu.


“Dia baik, Dar ...” perkataan


ibunya ini memecahkan lamunan Dara.


“Iya,


Mah,” jawabnya singkat. Apa lagi yang ia bisa jawab selain mengiyakan?


“Hati-hati kamu, Anak. Tom, jagain


Dara dan cucu mama, ya,” air mata jatuh sembari wanita itu melepaskan putrinya


yang akan pergi ke bandara. Keluarga kecil itu akan pergi mengunjungi pulau


dewata sebelum kembali. Impian Dara untuk berlibur di pulau dewata beberapa


hari lagi sebelum kembali bekerja, diwujudkan oleh suaminya itu.


“Aku jaga, Mah. Makasih ya, Mah!”


Tomi memeluk mertuanya itu. Pelukan hangat seperti anak dan ibu sendiri. Dara


menahan tangisnya sekuat tenaga, agar ia tak membuat perpisahan yang sedih.


“Enggak ada yang ketinggalan,


sayang?” Tomi mengecek kelengkapan mereka sekali lagi.


“Sudah. Mama, aku berangkat ya,


Mah.” Dara berpamitan pada ibunya, dan mendapat pelukan erat yang hangat dari


ibu dan adik-adiknya.


“Kak! Jaga Kak Dara ya, Kak ...”


timpal kedua adiknya kepada Tomi. Mereka memandangi mobil SUV yang membawa Dara


pergi bersama keluarga kecilnya.


Tomi tersenyum, sembari menggenggam


tangan istrinya yang tampak menahan mata berkaca-kaca. Ia tahu sangat berat


bagi Dara meninggalkan ibu dan adik-adiknya ... lagi ...


“Kita liburan. Jangan sedih sayang.

__ADS_1


Bali ...” ia menguatkan istrinya yang masih berusaha menahan air mata agar


tidak jatuh.


“Iya ... Makasih ya.” Dara penuh


haru.


“Makasih ya, sudah kenalin aku


dengan keluarga kamu. Mereka baik sekali semuanya.” ujar Tomi kepada istrinya.


Perjalanan menuju bandara terasa begitu


singkat, dan beberapa kali pesawat yang terbang tepat di atas mereka, dengan


cepat mengalihkan Dara dari rasa sedihnya karena berpisah. Dengan perkenalan


Tomi dan keluarganya, harapan besar Dara yaitu suaminya itu bisa mulai


memperlakukan ibu dan adik-adiknya tanpa perbedaan.


Pesawat mereka siang itu terbang


tanpa hambatan, membawa keluarga kecil itu ke pulau dewata. Pendaratan yang


menyenangkan bagi Dara, Bali adalah tempat favoritnya berlibur bahkan sejak ia


masih bujang.


“Kio. Lihat. Ini Bali ...” ujar


Dara kepada anaknya yang sibuk berusaha melihat keluar jendela.


“Nanti papa bawa ke pantai ya, Nak.


Sama seperti di rumah oma. Di sini juga ada pantai bagus ...” sambung Tomi.


Tomi merapikan koper-koper mereka


yang berat di atas troli. Mereka sedang menunggu Edwin, teman mereka yang


sama-sama bekerja di Savana. Edwin kini telah menjadi seorang general manager


di salah satu hotel bintang empat di Bali, dan ia meminta kedua temannya itu


untuk menginap di hotel tempatnya bekerja.


Sebuah mobil SUV putih berhenti di


depan mereka, dan Edwin menyapa dari dalam mobil dengan senyum khasnya yang merekah.


Tomi membukakan pintu mobil untuk


istri dan anaknya lalu memasukkan semua bawaan mereka di dalam bagasi.


“Tom! Wah gila! Jadian lu sama


Dara, ya.” Edwin menggodanya ketika ia sudah masuk di dalam mobil. Mobil itu


melaju menyusuri jalanan di Denpasar.


“Haha iya! Istri gue sekarang.” Balas


Tomi kepada temannya itu.


Edwin masih sama saja. Gaya khasnya


dengan rambut klimis yang disisir ke samping kanan, gaya santainya dengan polo


shirt, dan celana jeans gelap, dan sepatu sport. Hanya saja kulitnya tampak


lebih gelap sekarang.


“Gue sama Arinta dan anak-anak.


berasal dari kota yang sama dengan Dara. Mereka telah berumah tangga selama 11 tahun


lamanya. Sedikit banyak, Dara tahu tentang naik turun rumah tangga temannya


itu. Bedanya, Edwin adalah seorang pria yang tak mampu kasar kepada wanita. Terakhir


bertemu, Dara tahu Edwin memiliki dua orang anak perempuan yang menawan.


“Dar. Lagi hamil, ya? Cewek atau


cowok?” ia melihat perut Dara dari kaca yang ada di depannya.


“Belum tahu, kak. Apa saja yang


penting sehat.” jawab Dara dengan santun.


“Kalau yang ini, cowok ya, Dar?


Halo adik kecil, namanya siapa?” ia lalu melihat Kio dari cermin itu. Balita


itu, asyik dengan dirinya sendiri memainkan beberapa permainan mobil mininya.


“Ini Kio, kak. Dia belum bisa bicara.


Yang ini laki-laki,” jawab Dara.


“Wah! Semoga yang di perut cewek


ya, Dar. Jadi sepasang. Gue sudah 3 orang, perempuan semua. Dara masih ingat


Tasya dan Lala, kan? Nah gue punya lagi yang ketiga namanya Elektra. Cewek lagi


...” ujar Tomi sembari melengkungkan senyum.


“Hahaha. Jangan main perempuan


terus makanya, Win. Elu sih!” tawa Tomi menggoda Edwin yang akhirnya ikut


tertawa. Dara menyimak percakapan kedua lelaki itu.


“Iya, Tom. Gue hampir bubaran tahun


lalu,” ucap Edwin.


“Siapa lagi?”


“Karyawan gue. Anak sales. Cantik,


masih muda, menyenangkan ...” Edwin terdengar begitu menyukai wanita yang ia


maksud itu.


“Tapi kak Arinta juga cantik loh,


kak. Dia kan juga dulu muda pas nikah dengan kakak. Fun juga orangnya, kok!”


timpal Dara, dan disambut dengan tawa dari Tomi dan Edwin.


“Iya sih, Dar. Penyakit lelaki, Dar.


Semoga Tomi enggak nakal-nakal lagi ya. Berhenti lu, Tom. Ingat bini cantik di


rumah!” Edwin menggoda Tomi, dan mengiyakan apa yang dikatakan oleh Dara. Dalam


hatinya Dara tahu, Edwin begitu menyayangi Arinta, dan perempuan itu sebenarnya


tak tergantikan. Dengan apa yang sudah dilewati Arinta sepanjang masa mereka


berumah tangga, Dara yakin sekali Edwin hanya bersenang-senang saja dengan


perempuan di luar sana, dan tak bermaksud menyandingi mereka.

__ADS_1


“Arinta itu hebat loh, Win. Sejauh


ini sama lu. Punya gue sudah minggat ...” timpal Tomi.


“Iya. Gue akui. Punya elu sudah


pasti merasa tersaingi sama Dara. Dara kurang apa? Cantik iya, pintar iya.


Lihat itu anak lu jadinya cakep,” jawab Edwin kepada temannya itu.


Mobil itu berhenti di sebuah hotel


lumayan besar. Arsitektur khas Bali terlihat begitu kental di sekeliling bangunan


hotel. Petugas keamanan memberi salam kepada Edwin, dan dibalas dengan lambaian


tangan.


“Sekarang gue di sini, Dar.


Welcome!” ucap Edwin lalu mematikan mesin mobil itu. Dara turun lebih dahulu,


membiarkan bellboy yang menghampiri mengurus bawaan mereka. Lobby hotel dengan


wangi cendana yang harum, dan udara segar bertiup.


“Ini


kunci kamar, Tom. Kamar suite. Honeymoon ya kan? Hahaha. Istirahat dulu kamu,


Dar. Gue mau cek beberapa hal dulu.” Edwin menyodorkan sebuah kartu akses kamar


kepada temannya, lalu pergi meninggalkan mereka.


Dara terkesima dengan tampilan kamar


yang ada di depannya. Sebuah tempat tidur berukuran Queen yang rapi, sekeranjang


buah-buahan dengan sebuah kartu ucapan. Kamar mandi yang luas dengan bathtub


mewah, dan juga lampu kuning remang yang menenangkan penglihatannya.


Kio langsung beradaptasi cepat


dengan sekeliling kamar itu. Ia menaiki sofa-sofa empuk itu lalu melompat-lompat


di atasnya dengan bahagia.


Dara melepaskan sepatunya, dan pergi


membasuh wajahnya. Ia membiarkan tubuhnya jatuh begitu saja di atas tempat


tidur yang empuk itu, mengistirahatkan punggungnya yang pegal. Tempat tidur itu


begitu empuk, dan aroma dari seprei juga bantal-bantal empuk, membuatnya nyenyak


seketika.


“Say-“ Tomi terhenti ketika melihat


istrinya itu tidur lelap. Ia tersenyum memandangnya, dan Dara dengan samar bisa


mendengar percakapannya dengan Kio.


“Mama tidur. Kio makan dengan papa


saja, ya ...” ucap Tomi kepada anaknya. Ia tahu Dara begitu lelah mengurus Kio


sepanjang perjalanan. Balita itu masih menyusu pada Dara meski ibunya tengah


hamil lagi. Dengan tubuhnya yang makin besar, ia juga masih digendong oleh


Dara.


Drrrtt! Kring!


Bunyi panggilan di ponsel membangunkan


Dara.


“Halo! Nino. Ada apa?” ia menjawab


panggilan dari Nino lalu larut dalam percakapan yang panjang selama sepuluh


menit lebih. Air mukanya seketika berubah, dan Tomi tertarik untuk mengetahui


apa yang mereka bicarakan di ponsel.


“Ada apa sayang?” tanya Tomi kepada


istrinya yang terlihat tertegun.


“Kantor di Manila mau tutup, Bi ...


Kita punya dua pilihan ... Ikut kantor pindah ke Indonesia dan lanjut kerja di


sana ... atau ambil pesangon dan cari kerja lagi di Manila,”


“Pindah ke Indonesia? Di mana?”


“Bandung ...” jawab Dara. Di dalam


otaknya, ia menyimpan banyak kekuatiran jika Tomi malah memilih untuk kembali


ke Indonesia. Tentu saja Farah akan berusaha membayang-bayangi kehidupan mereka.


“Tiketnya? Biaya pindahnya?


Gajinya?”


“Tiket ditanggung perusahaan, Bi.


Biaya pindah bagasi juga. Dan ... kita juga dapat setengah dari pesangon yang


diterima teman-teman yang enggak ikut berangkat. Gaji kita jadi setengah, tapi


itu masih besar kalau dirupiahkan. Menurut kamu, bagaimana?” jawab Dara dengan


lengkap.


“Menurut aku ... Kita pindah saja ke


Bandung. Bandung dan Jakarta dekat. Kita bisa lebih sering ketemu mama. Lagi


pula, kita ada Kio sekarang, dan bayi di perut kamu juga nanti harus ada yang


mengurusi. Kita lebih baik pulang ke Indonesia,” tandas Tomi kepada istrinya.


Dara terdiam sesaat. Pulang ke Indonesia


setelah bertahun-tahun ia membangun rumah tangganya di Filipina, bukan sesuatu


yang mudah. Lagi pula, ia tidak pernah sekalipun hidup di pulau Jawa. Entah apakah


kehidupan akan membaik atau malah sebaliknya.


“Ya? Kita pindah saja, sayang. Kamu


bisa email ke manajer kita soal ini,” sambung Tomi kepada istrinya.


Dara membuka email di ponselnya,


lalu mengirimkan email kepada manajer mereka, mengatakan mereka akan memilih


untuk pindah bersama kantor mereka ke Indonesia. Masih saja, otaknya terus


berpikir tentang segala kemungkinan yang terjadi jika mereka pindah nanti. Tapi

__ADS_1


... Dara tak bisa berbuat banyak.


__ADS_2