
Rasanya begitu nyaman kembali di
tengah-tengah keluarga. Untuk beberapa saat di rumah ibunya, Dara bisa
meluruskan punggungnya yang lelah bekerja selama beberapa tahun di perantauan.
Di pagi hari ibunya sudah sibuk pergi ke pasar, lalu pulang dengan berbagai
bahan untuk memasak macam-macam makanan untuk anaknya.
Keluarga itu tampak begitu ramah
kepada Tomi; memperlakukannya seperti sudah dikenal sejak lama. Kuping mereka
tak sedikit mendengar tentang beberapa pertengkaran antara Dara dan Tomi
beberapa tahun belakangan. Tetapi, tangan terbuka menerima kehadiran Tomi.
Ibunya, dan beberapa orang tua lain di keluarga besarnya yang sudah banyak
makan asam garam dalam pernikahan, tentu tak mau terlalu membesarkan apa yang
dihadapi Dara. Lagi pula, anak itu tak begitu bercerita banyak mengenai
beberapa insiden yang hampir merenggut nyawanya. Yang mereka ketahui, hanya
sebuah pertengkaran rumah tangga biasa.
Butuh beberapa tahun hingga Kio
lahir, untuk Dara mengumpulkan keberanian menceritakan latar belakang suaminya
itu. Keluarganya tahu tentang Farah, dan segala sesuatu yang terjadi di balik
kehidupan rumah tangganya. Namun ... Lagi ... Ia memberi sesendok madu yang
telah disaring dari ampas yang sepat. Menyajikan keluarga besarnya dengan
cerita yang membuat kuatir seminimal mungkin, tentu pilihan yang baik
menurutnya.
Tomi patut bersyukur sebab untuk
seukuran laki-laki yang tidak melewati tata cara adat istiadat yang lengkap
untuk meminang Dara, ia terus menuai perlakuan baik dari keluarga istrinya.
Dalam hatinya ia pasti menyimpan rasa takjub atas istrinya yang mampu menyimpan
aib rumah tangga mereka rapat-rapat.
“Dari sini, nanti masih satu jam
perjalanan lagi. Agak berbatu ...” ucap ibunda Dara menerangkan arah perjalanan
mereka. Hari itu mereka akan pergi ke perkebunan jeruk untuk panen. Kebun itu
dimiliki orang-orang lokal di sebuah desa berjarak 3 jam dari kota mereka.
Jeruk-jeruk itu jarang sekali mereka panen jika bukan musim panen raya.
Buah-buahan yang tumbuh subur itu, mereka jual kepada orang-orang dari kota
yang datang ingin memetik secara langsung.
“Berbatu? Apa akan besar
guncangannya, Mah? Karena Dar-“ Tomi menanyakan kekuatirannya.
“Tidak begitu berbatu. Tenang saja.
Lagian Dara ini anak yang kuat, anak di perutnya juga pasti kuat,” potong
mertuanya, sambil tersenyum.
Omongan ibunya itu memang benar,
dan membawa Dara pada beberapa waktu di mana ia mengandung Kio dan mendapatkan
banyak perlakuan kasar dari suaminya itu. Beberapa kali dalam kehamilan itu, ia
dipukul, ditendang, bahkan dilempari barang-barang, namun bayinya lahir dengan
baik, dan bertumbuh menjadi balita yang tampan.
“Kita berhenti dulu. Ayo kita makan
siang dulu ...” Tomi berhenti di sebuah rumah makan dengan wangi rendang yang
tercium begitu mencolok meski mereka berada di parkiran. Ia cepat-cepat turun
dari tempat duduknya dan bergegas membukakan pintu mobil untuk mertuanya.
Sebuah meja panjang dengan 8 tempat
duduk, ditempati mereka. Tomi menjadi manusia paling sibuk, mengambil pesanan,
dan mengantarkan minuman untuk keluarga barunya itu.
“Dia baik, Dar ...” perkataan
ibunya ini memecahkan lamunan Dara.
“Iya,
Mah,” jawabnya singkat. Apa lagi yang ia bisa jawab selain mengiyakan?
“Hati-hati kamu, Anak. Tom, jagain
Dara dan cucu mama, ya,” air mata jatuh sembari wanita itu melepaskan putrinya
yang akan pergi ke bandara. Keluarga kecil itu akan pergi mengunjungi pulau
dewata sebelum kembali. Impian Dara untuk berlibur di pulau dewata beberapa
hari lagi sebelum kembali bekerja, diwujudkan oleh suaminya itu.
“Aku jaga, Mah. Makasih ya, Mah!”
Tomi memeluk mertuanya itu. Pelukan hangat seperti anak dan ibu sendiri. Dara
menahan tangisnya sekuat tenaga, agar ia tak membuat perpisahan yang sedih.
“Enggak ada yang ketinggalan,
sayang?” Tomi mengecek kelengkapan mereka sekali lagi.
“Sudah. Mama, aku berangkat ya,
Mah.” Dara berpamitan pada ibunya, dan mendapat pelukan erat yang hangat dari
ibu dan adik-adiknya.
“Kak! Jaga Kak Dara ya, Kak ...”
timpal kedua adiknya kepada Tomi. Mereka memandangi mobil SUV yang membawa Dara
pergi bersama keluarga kecilnya.
Tomi tersenyum, sembari menggenggam
tangan istrinya yang tampak menahan mata berkaca-kaca. Ia tahu sangat berat
bagi Dara meninggalkan ibu dan adik-adiknya ... lagi ...
“Kita liburan. Jangan sedih sayang.
__ADS_1
Bali ...” ia menguatkan istrinya yang masih berusaha menahan air mata agar
tidak jatuh.
“Iya ... Makasih ya.” Dara penuh
haru.
“Makasih ya, sudah kenalin aku
dengan keluarga kamu. Mereka baik sekali semuanya.” ujar Tomi kepada istrinya.
Perjalanan menuju bandara terasa begitu
singkat, dan beberapa kali pesawat yang terbang tepat di atas mereka, dengan
cepat mengalihkan Dara dari rasa sedihnya karena berpisah. Dengan perkenalan
Tomi dan keluarganya, harapan besar Dara yaitu suaminya itu bisa mulai
memperlakukan ibu dan adik-adiknya tanpa perbedaan.
Pesawat mereka siang itu terbang
tanpa hambatan, membawa keluarga kecil itu ke pulau dewata. Pendaratan yang
menyenangkan bagi Dara, Bali adalah tempat favoritnya berlibur bahkan sejak ia
masih bujang.
“Kio. Lihat. Ini Bali ...” ujar
Dara kepada anaknya yang sibuk berusaha melihat keluar jendela.
“Nanti papa bawa ke pantai ya, Nak.
Sama seperti di rumah oma. Di sini juga ada pantai bagus ...” sambung Tomi.
Tomi merapikan koper-koper mereka
yang berat di atas troli. Mereka sedang menunggu Edwin, teman mereka yang
sama-sama bekerja di Savana. Edwin kini telah menjadi seorang general manager
di salah satu hotel bintang empat di Bali, dan ia meminta kedua temannya itu
untuk menginap di hotel tempatnya bekerja.
Sebuah mobil SUV putih berhenti di
depan mereka, dan Edwin menyapa dari dalam mobil dengan senyum khasnya yang merekah.
Tomi membukakan pintu mobil untuk
istri dan anaknya lalu memasukkan semua bawaan mereka di dalam bagasi.
“Tom! Wah gila! Jadian lu sama
Dara, ya.” Edwin menggodanya ketika ia sudah masuk di dalam mobil. Mobil itu
melaju menyusuri jalanan di Denpasar.
“Haha iya! Istri gue sekarang.” Balas
Tomi kepada temannya itu.
Edwin masih sama saja. Gaya khasnya
dengan rambut klimis yang disisir ke samping kanan, gaya santainya dengan polo
shirt, dan celana jeans gelap, dan sepatu sport. Hanya saja kulitnya tampak
lebih gelap sekarang.
“Gue sama Arinta dan anak-anak.
berasal dari kota yang sama dengan Dara. Mereka telah berumah tangga selama 11 tahun
lamanya. Sedikit banyak, Dara tahu tentang naik turun rumah tangga temannya
itu. Bedanya, Edwin adalah seorang pria yang tak mampu kasar kepada wanita. Terakhir
bertemu, Dara tahu Edwin memiliki dua orang anak perempuan yang menawan.
“Dar. Lagi hamil, ya? Cewek atau
cowok?” ia melihat perut Dara dari kaca yang ada di depannya.
“Belum tahu, kak. Apa saja yang
penting sehat.” jawab Dara dengan santun.
“Kalau yang ini, cowok ya, Dar?
Halo adik kecil, namanya siapa?” ia lalu melihat Kio dari cermin itu. Balita
itu, asyik dengan dirinya sendiri memainkan beberapa permainan mobil mininya.
“Ini Kio, kak. Dia belum bisa bicara.
Yang ini laki-laki,” jawab Dara.
“Wah! Semoga yang di perut cewek
ya, Dar. Jadi sepasang. Gue sudah 3 orang, perempuan semua. Dara masih ingat
Tasya dan Lala, kan? Nah gue punya lagi yang ketiga namanya Elektra. Cewek lagi
...” ujar Tomi sembari melengkungkan senyum.
“Hahaha. Jangan main perempuan
terus makanya, Win. Elu sih!” tawa Tomi menggoda Edwin yang akhirnya ikut
tertawa. Dara menyimak percakapan kedua lelaki itu.
“Iya, Tom. Gue hampir bubaran tahun
lalu,” ucap Edwin.
“Siapa lagi?”
“Karyawan gue. Anak sales. Cantik,
masih muda, menyenangkan ...” Edwin terdengar begitu menyukai wanita yang ia
maksud itu.
“Tapi kak Arinta juga cantik loh,
kak. Dia kan juga dulu muda pas nikah dengan kakak. Fun juga orangnya, kok!”
timpal Dara, dan disambut dengan tawa dari Tomi dan Edwin.
“Iya sih, Dar. Penyakit lelaki, Dar.
Semoga Tomi enggak nakal-nakal lagi ya. Berhenti lu, Tom. Ingat bini cantik di
rumah!” Edwin menggoda Tomi, dan mengiyakan apa yang dikatakan oleh Dara. Dalam
hatinya Dara tahu, Edwin begitu menyayangi Arinta, dan perempuan itu sebenarnya
tak tergantikan. Dengan apa yang sudah dilewati Arinta sepanjang masa mereka
berumah tangga, Dara yakin sekali Edwin hanya bersenang-senang saja dengan
perempuan di luar sana, dan tak bermaksud menyandingi mereka.
__ADS_1
“Arinta itu hebat loh, Win. Sejauh
ini sama lu. Punya gue sudah minggat ...” timpal Tomi.
“Iya. Gue akui. Punya elu sudah
pasti merasa tersaingi sama Dara. Dara kurang apa? Cantik iya, pintar iya.
Lihat itu anak lu jadinya cakep,” jawab Edwin kepada temannya itu.
Mobil itu berhenti di sebuah hotel
lumayan besar. Arsitektur khas Bali terlihat begitu kental di sekeliling bangunan
hotel. Petugas keamanan memberi salam kepada Edwin, dan dibalas dengan lambaian
tangan.
“Sekarang gue di sini, Dar.
Welcome!” ucap Edwin lalu mematikan mesin mobil itu. Dara turun lebih dahulu,
membiarkan bellboy yang menghampiri mengurus bawaan mereka. Lobby hotel dengan
wangi cendana yang harum, dan udara segar bertiup.
“Ini
kunci kamar, Tom. Kamar suite. Honeymoon ya kan? Hahaha. Istirahat dulu kamu,
Dar. Gue mau cek beberapa hal dulu.” Edwin menyodorkan sebuah kartu akses kamar
kepada temannya, lalu pergi meninggalkan mereka.
Dara terkesima dengan tampilan kamar
yang ada di depannya. Sebuah tempat tidur berukuran Queen yang rapi, sekeranjang
buah-buahan dengan sebuah kartu ucapan. Kamar mandi yang luas dengan bathtub
mewah, dan juga lampu kuning remang yang menenangkan penglihatannya.
Kio langsung beradaptasi cepat
dengan sekeliling kamar itu. Ia menaiki sofa-sofa empuk itu lalu melompat-lompat
di atasnya dengan bahagia.
Dara melepaskan sepatunya, dan pergi
membasuh wajahnya. Ia membiarkan tubuhnya jatuh begitu saja di atas tempat
tidur yang empuk itu, mengistirahatkan punggungnya yang pegal. Tempat tidur itu
begitu empuk, dan aroma dari seprei juga bantal-bantal empuk, membuatnya nyenyak
seketika.
“Say-“ Tomi terhenti ketika melihat
istrinya itu tidur lelap. Ia tersenyum memandangnya, dan Dara dengan samar bisa
mendengar percakapannya dengan Kio.
“Mama tidur. Kio makan dengan papa
saja, ya ...” ucap Tomi kepada anaknya. Ia tahu Dara begitu lelah mengurus Kio
sepanjang perjalanan. Balita itu masih menyusu pada Dara meski ibunya tengah
hamil lagi. Dengan tubuhnya yang makin besar, ia juga masih digendong oleh
Dara.
Drrrtt! Kring!
Bunyi panggilan di ponsel membangunkan
Dara.
“Halo! Nino. Ada apa?” ia menjawab
panggilan dari Nino lalu larut dalam percakapan yang panjang selama sepuluh
menit lebih. Air mukanya seketika berubah, dan Tomi tertarik untuk mengetahui
apa yang mereka bicarakan di ponsel.
“Ada apa sayang?” tanya Tomi kepada
istrinya yang terlihat tertegun.
“Kantor di Manila mau tutup, Bi ...
Kita punya dua pilihan ... Ikut kantor pindah ke Indonesia dan lanjut kerja di
sana ... atau ambil pesangon dan cari kerja lagi di Manila,”
“Pindah ke Indonesia? Di mana?”
“Bandung ...” jawab Dara. Di dalam
otaknya, ia menyimpan banyak kekuatiran jika Tomi malah memilih untuk kembali
ke Indonesia. Tentu saja Farah akan berusaha membayang-bayangi kehidupan mereka.
“Tiketnya? Biaya pindahnya?
Gajinya?”
“Tiket ditanggung perusahaan, Bi.
Biaya pindah bagasi juga. Dan ... kita juga dapat setengah dari pesangon yang
diterima teman-teman yang enggak ikut berangkat. Gaji kita jadi setengah, tapi
itu masih besar kalau dirupiahkan. Menurut kamu, bagaimana?” jawab Dara dengan
lengkap.
“Menurut aku ... Kita pindah saja ke
Bandung. Bandung dan Jakarta dekat. Kita bisa lebih sering ketemu mama. Lagi
pula, kita ada Kio sekarang, dan bayi di perut kamu juga nanti harus ada yang
mengurusi. Kita lebih baik pulang ke Indonesia,” tandas Tomi kepada istrinya.
Dara terdiam sesaat. Pulang ke Indonesia
setelah bertahun-tahun ia membangun rumah tangganya di Filipina, bukan sesuatu
yang mudah. Lagi pula, ia tidak pernah sekalipun hidup di pulau Jawa. Entah apakah
kehidupan akan membaik atau malah sebaliknya.
“Ya? Kita pindah saja, sayang. Kamu
bisa email ke manajer kita soal ini,” sambung Tomi kepada istrinya.
Dara membuka email di ponselnya,
lalu mengirimkan email kepada manajer mereka, mengatakan mereka akan memilih
untuk pindah bersama kantor mereka ke Indonesia. Masih saja, otaknya terus
berpikir tentang segala kemungkinan yang terjadi jika mereka pindah nanti. Tapi
__ADS_1
... Dara tak bisa berbuat banyak.