
Kenapa perasaan ini sangat aneh sekali? Gejolak macam apa ini yang mampu membuatku merasa tenang dan nyaman? Aroma parfum Dokter Ethan juga sangat menenangkan sekali. Apa ini gara-gara parfumnya? Batin Ainsley .
Ainsley menggelengkan kepalanya lalu mendorong Ethan perlahan, mereka malah menjadi canggung dan Ethan lantas melajukan mobilnya ke kos mereka. Mereka masih sama-sama diam tidak berbicara sama sekali apalagi Ethan sudah fokus pada kemudinya sampai suatu ketika Ainsley mendapatkan pesan dari satpam di sekolah kemarin jika sekolah itu membutuhkan guru pengganti secepatnya.
Ainsley bersorak senang karena tak membutuhkan waktu lama ia mendapatkan pekerjaan. Ethan meliriknya sambil heran, wanita itu jika senang juga tak bisa mengontrol emosinya dengan baik.
"Ada apa sampai girang seperti itu?" tanya Ethan.
"Aku akan dapat pekerjaan, aku akan jadi guru pengganti di sekolah SLB yang aku datangi kemarin. Kita harus cepat pulang karena aku ingin menyiapkan berkas lamarannya," jawab Ainsley.
"Aku sudah bilang jika kamu tidak usah bekerja. Gajiku sangat cukup membiayai hidup kita," ucap Ethan.
Ainsley memandangnya lekat. "Harusnya dokter senang karena istrimu mau bekerja dan meringankan beban
keuangan lagi pula aku bosan berada di kos, aku ingin berbaur dengan yang lain juga."
Ethan menghela nafas panjang, dia tak bisa melarang apa yang diinginkan Ainsley apalagi wanita itu masih sangat muda dan karirnya masih panjang, selagi ada kesempatan kenapa tidak?
"Perjuanganmu untuk berbaur dengan keluargaku juga masih panjang. Aku tidak ingin istriku menjadi musuh bagi keluargaku. Kamu belajar mendekati mereka ya?"
Ainsley mengangguk kecil, dia juga akan mencoba mencuri perhatian mereka supaya mereka tidak selamanya benci dengannya. Ainsley tak akan menyerah begitu saja untuk mendapatkan hati keluarga Ethan supaya mau menerimanya apa adanya
Sesampainya di tempat kos.
Ainsley menyiapkan surat lamarannya dengan baik sementara Ethan hanya berdiam diri memainkan ponsel diatas ranjangnya. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing sampai Ainsley membuat Ethan kaget karena bersorak kegirangan sambil menari-nari.
"Asyik.... aku akan mendapatkan pekerjaan," teriak Ainsley.
Ethan menggeleng-gelengkan kepalanya karena sifat Ainsley ada-ada saja namun Ainsley yang sedang berjingkrak langsung oleng ke ranjang dan menubruk Ethan. Mereka saling terdiam apalagi bibir mereka menempel cukup sempurna. Ainsley mundur perlahan namun ditahan oleh Ethan seolah tidak boleh melepaskan ciuman tipis tersebut. Lagi-lagi perasaan Ainsley tidak karuan, ia merasakan getaran hebat di dalam dadanya.
__ADS_1
Lambat laun Ethan menggigit lembut bibir manis Ainsley, siapa yang gairahnya tak akan terbangun saat di posisi seperti itu. Ainsley pun mengikuti setiap permainan yang ada, jujur saja ia menikmati setiap kecupan dari Ethan.
Belum sampai satu menit berciuman tiba-tiba Ainsley melepaskan ciumannya, dia ingat jika memulai seperti ini maka permainan selanjutkan akan panjang dan membuatnya lupa untuk menyiapkan surat lamaran pekerjaan. Saat Ainsley beranjak dari ranjang, Ethan pun menarik tangan wanita tersebut.
"Kenapa menghindar?" tanya Ethan heran.
"Masih siang, dokter," jawab Ainsley sambil menggaruk kepalanya.
"Ketika sudah suami istri maka tidak ada yang namanya siang ataupun malam. Jika ada kesempatan memang harusnya dimanfaatkan dengan baik dan satu lagi, seorang istri tidak boleh menolak permintaan suaminya, jika iya maka akan berdosa," jelas Ethan.
Ucapan Ethan membuat Ainsley kaget apalagi menyangkut masalah dosa, Nilam adalah pribadi yang baik dan sangat rajin beribadah.
"Jadi gimana?" tanya Ainsley bingung.
Ethan tertawa melihat wajah polos Nilam, dia meminta maaf dan mengatakan hanya bercanda saja. Ethan menjadi suka mengerjai Ainsley yang tidak tahu apa-apa dan sangat polos sekali jika menyangkut masalah seperti ini.
"Hahaha... sudahlah! Kamu lanjutkan mengurus surat
Baru 10 detik menatap ponsel, Ethan melihat ada yang janggal di depannya, dia melihat ke arah Ainsley dan wanita itu sudah tak mengenakan sehelai pakaian sama sekali. Ethan menelan ludahnya secara kasar, wanita seperti Ainsley memang tidak bisa diajak bercanda dan selalu menganggap itu serius.
Ethan tidak dapat berkutik karena ia pun juga sudah diujung tanduk, ia menarik Ainsley ke atas ranjang lalu melakukan apa yang harusnya pasangan itu lakukan.
***
Sore hari.
Rambut mereka sama-sama basah karena siang tadi melakukan pertempuran panas. Mereka sama-sama tidak ada pekerjaan lalu memutuskan untuk sibuk dengan urusan masing-masing. Ethan bermain game di ponselnya sementara Ainsley mengisi TTS di buku. Mereka memang jarang bercengkrama karena memang tidak ada topik yang dibicarakan.
Ethan yang bosan memutuskan untuk menemui teman-temannya yang sudah lama tidak berjumpa dengannya. Dia berganti pakaian yang rapi serta memakai parfum yang wangi. Ainsley yang duduk di sofa melihat suaminya sudah sangat rapi sekali.
"Mau ke mana?" tanya Ainsley.
__ADS_1
"Mau bertemu teman-teman. Mau ikut?"
"Teman-teman Dokter Ethan? Nanti dokter akan diejek oleh mereka karena membawaku bersamamu.
Ethan menggelengkan kepalanya. "Mereka baik dan mereka juga berpendidikan tinggi jadi tidak akan ada yang menghina atau mencelamu."
Mendengar semua itu membuat Ainsley sangat senang sekali. Dia berganti pakaian dengan memakai dress selutut serta memakai tas selempang berwarna biru. Rambutnya ia ikat tinggi sehingga menampilkan tanda stempel merah pemberian Ethan siang tadi.
"Ainsley! Turunkan rambutmu! Jangan diikat!"
"Kenapa?"
"Lehermu merah semua."
Ethan melepaskan ikat rambut Ainsley sehingga rambut hitam itu terurai dengan indah, lagi pula Ainsley malah cocok rambutnya diurai seperti ini. Selepas itu mereka berangkat ke cafe, Ethan sudah memberitahu teman-temannya untuk bertemu di sana. Ethan ingin menemui teman-teman sekolahnya dulu yang saat ini mereka sudah jadi orang-orang hebat namun beberapa ada yang nasibnya kurang bagus tapi tidak membuat hubungan mereka menjadi renggang.
Untuk menuju ke sana membutuhkan waktu sekitar setengah jam sana, dalam perjalanan menggunakan mobil Ainsley memandang orang-orang yang sibuk berlalu lalang di trotoar. Penyandang autis seperti Ainsley tidak akan fokus pada satu objek saja namun terus bergantian melihat ke arah lain secara tidak teratur dan bola mata yang terus-terusan bergerak.
"Dokter, dokter, itu permen kapas? Aku mau itu?" ucap Ainsley.
"Ains, di mana parkirnya? Tidak bisa sembarang parkir di Jakarta, nanti mobil ini bisa diderek," jawab Ethan.
Ains mengangguk paham, dia lantas memfokuskan pandangannya ke depan. Ada rasa kecewa di hatinya namun ia tak akan memaksa Ethan jika memang keadaan yang tidak menyanggupi.
"Permen kapas kesukaan Kak Darren," ucap Ainsley sangat pelan namun tetap bisa di dengar oleh Ethan.
"Nanti pulangnya kita beli ya? Sekarang kita ke cafe saja," jawab Ethan.
Ainsley tersenyum senang karena Ethan sangat pengertian padanya, dia lantas tersenyum-senyum sendiri dan tidak bisa mengontrol perasaannya karena seperti akan meledak.
...****************...
__ADS_1