
Selamat menikmati kisah Ainsley dan Ethan!!!
.
.
Ainsley terus meminta maaf pada Ethan tentang kejadian tadi, sungguh dia merasa bersalah karena membuat Ethan marah. Semuanya terjadi begitu saja hanya karena dia lapar dan Ethan tak kunjung pulang. Ethan tidur membelakangi Ainsley, ia tak mau mengatakan apapun pada Ainsley.
"Mas, aku minta maaf. Aku tidak tahu jika semua ini akan membuatmu marah besar."
Ainsley menghela nafas panjang karena Ethan tetap tidak mau meresponnya. Dia lalu ikut berbaring di sebelah Ethan lalu memeluknya dari belakang, Ethan membuka matanya dan merasakan tangan lembut Ainsley mengusap perutnya. Dia merasa bersalah karena melampiaskan kemarahan pada Ainsley padahal ia sangat kesal sekali pada Stella.
Tadi dia bertemu dengan Stella di sebuah butik, rencananya Ethan akan membuatkan gaun untuk Ainsley dan melihat-lihat terlebih dahulu namun malah Ethan melihat Stella dengan dokter kepala rumah sakit sedang melakukan fitting daun di sana. Ethan pun heran kenapa Stella mau dengan pria tua itu, apa hanya karena jabatan?
Tak berselang lama kemudian Ethan mendengar dengkuran kecil dari belakangnya yang ternyata Ainsley sudah tidur dengan air mata yang masih menetes. Ethan membalikkan tubuhnya menghadap Ainsley, dia mengusap air mata itu lalu mengecup keningnya dengan pelan.
Cup!...
"Maafkan aku, Ains!"
Keesokan harinya.
Ainsley bangun pagi-pagi untuk menyiapkan makanan supaya Ethan tidak marah padanya. Ainsley membeli sayur di tukang sayur yang lewat pagi-pagi sekali, dia beli setengah ikat saja walau sempat berdebat kecil dengan tukang sayurnya. Melihat gelagat Ainsley pasti mereka sadar jika Ainsley sedikit berbeda dari mereka maka dari itu Ainsley berhasil membeli kangkung setengah ikat serta tempe kecil seharga 3 ribu perak.
Ainsley memasak dengan asal, jujur saja dia tak pernah memasak kangkung dan tidak tahu cara memetiknya. Dia mencincangnya dengan pisau dan menumisnya, ia juga menggoreng tempe yang sudah dilumuri garam. Ayam goreng kemarin yang dibeli Ethan juga masih utuh tidak di makan karena insiden kemarin.
Tok... tok...
Suara ketukan pintu terdengar, Ainsley membukanya yang ternyata adalah Ibu mertuanya. Beliau langsung masuk ke dalam tanpa menyapa Ainsley yang membukakan pintu untuknya.
"Ethan. Belum bangun?"
"Ibu? Aku sedang mandi."
"Oke, ibu tunggu."
Ibu berjalan ke dapur dan melihat Ainsley memasak, ia berdecih karena wanita idiot itu tak pecus memasak. Dia melihat kangkung yang dipotong menggunakan pisau bahkan batangnya tidak dibelah.
"Apa-apaan ini? Masak kangkung kayak gini? Dalam batangnya banyak telur ulat, kamu mau suami kamu sakit perut?" tanya Ibu.
"Jadi gimana, Ibu?"
Ethan memandang Ainsley yang terus menunduk, Ains adalah anak yang santun ketika mendapat amarah orang lain ia akan mendengarkan dan tidak mau membalas ucapan tersebut.
__ADS_1
"Sudahlah, Ibu. Tiap orang punya cara memasak sendiri-sendiri. Oh ya, Ibu ngapain ke sini pagi-pagi? Aku harus segera berangkat," ucap Ethan sambil merangkul ibunya keluar dari dapur.
"Begini Ethan, Ibu mau pinjam uangmu untuk menebus tanah yang Ibu gadaikan di pegadaian."
Mereka melanjutkan obrolan sementara Ainsley melanjutkan memasak, dia melihat kangkung yang sudah ia masak di atas wajan dan hanya menunggu matangnya saja. Ainsley sudah tidak bisa memperbaiki kangkung itu lagi dan lantas tak membawakannya pada Ethan. Ains hanya memasukkan nasi, ayam goreng serta tempe goreng ke dalam bekal makan Ethan. Setelah itu memberikannya pada Ethan sambil tersenyum riang.
"Mas, nanti jangan lupa dimakan, ya!"
Ethan menerimanya sambil mengangguk.
"Ethan, ibu pulang dulu, Sudah ditunggu taksi! Jangan lupa ditransfer ya!" ucap Ibu.
"Hati-hati, bu!"
Ibu lantas pergi dari sana, sementara Ethan siap-siap berangkat bekerja, ia memakai sepatu pantofelnya lalu menatap Ainsley yang masih berdiri di depannya.
"Agendamu hari ini apa?" tanya Ethan.
Ainsley mengangkat kedua bahunya. "Tidak tahu dan tidak ada."
"Jangan menghampiriku di tempat kerja! Paham?"
Ainsley mengangguk, ia berjanji tak akan menyusul Ethan di sana. Ethan berangkat bekerja dan tidak lupa mencium kening istrinya, sepertinya drama kemarin sudah usai, buktinya Ethan tidak membahas sama sekali.
Ainsley mengantar Ethan sampai di depan kos, mereka berpapasan dengan Azam yang hendak berangkat bekerja juga. Ainsley tidak berani menyapa karena takut membuat Ethan marah dan kesal.
"Bye Mas Ethan."
Mobil Ethan pergi meninggalkan halaman rumah itu lalu disusul oleh Azam.
Sesampainya di rumah sakit.
Dua dokter itu bertemu lagi di parkiran, Azam menghampiri Ethan dan tentu saja untuk meminta maaf.
"Dokter, bisa bicara sebentar?" tanya Azam.
"Maaf, saya buru-buru," jawab Ethan.
"Masalah kemarin, saya meminta maaf. Saya tidak tahu jika Ainsley sudah bersuami "
Ethan terhenti dari langkahnya. "Saya sudah maafkan. Maaf saya sedang buru-buru."
Ethan meninggalkannya masuk ke gedung rumah sakit itu, dia harus memeriksa pasiennya pagi-pagi sekali. Ethan memakai jas putihnya dan tidak lupa kartu identitas ia pakai sebagai tanda pengenal. Ethan masuk ke sebuah ruangan yang sedang merawat pasien kanker otak yang sudah masuk stadium tiga, dia anak kecil yang berumur 11 tahun bernama mawar.
"Dokter Ethan?"
__ADS_1
"Selamat pagi, Anggun. Bagaimana tidurmu? Apa nyenyak?" tanya Ethan sangat ramah.
"Nyenyak sekali dokter, Dokter Reno libur ya?"
Ethan mengangguk. "Iya, beliau cuti hari ini. Dengan Dokter Ethan tak masalah 'kan?"
Gadis kecil itu mengangguk, Ethan memeriksa keadaan bocah itu sambil mengajaknya berbicara. Sudah sering kali Ethan dengan pasiennya sendiri namun ia juga harus sering kehilangan mereka karena takdir yang menjemput mereka untuk berpulang.
"Oh ya, hari ini Dokter Ethan bawa boneka untuk Anggun karena Anggun hari ini baik saat diperiksa oleh dokter. Mau?"
"Mau. Asyik! Terima kasih dokter."
Ethan senang tatkala melihat senyuman mereka namun tiba-tiba saja dia teringat dengan wajah sedih Ainsley. Perasaannya menjadi tidak karuan bahkan terus mengingat wajah murung istrinya itu. Setelah memeriksa dari kamar ke kamar, Ethan kembali ke ruangannya sambil berjalan melamun di lorong. Dia tak sengaja berpapasan dengan Stella, Stella tersenyum kecut melihat Ethan.
"Dokter Ethan, bisa kita bicara?" tanya Stella.
"Saya sibuk," jawab Ethan.
"Istrimu hamil duluan?"
Ethan terhenti dari langkahnya, dia menoleh ke arah Stella.
"Maksud anda?" tanya Ethan.
"Ainsley hamil 4 bulan 'kan? Jadi sangat jelas dong yang berkhianat siapa dulu saat di Rusia?" tanya kembali Stella.
Ethan kaget mendengar ucapan Stella. Ainsley hamil 4 bulan? Kok bisa? Padahal Ethan dan Ainsley baru saja menikah bahkan 4 bulan yang lalu tidak ada hubungan apa-apa antara mereka.
"Kata siapa Ains hamil? Jangan menebar fitnah!" ucap
Ethan.
"Kemarin aku lihat Ainsley keluar dari ruangan Dokter Azam, mau apa lagi jika bukan untuk periksa kandungan dan Dokter Azam bilang jika Ainsley hamil 4 bulan."
Ethan langsung turun ke lantai bawah, ia masih tidak percaya pada ucapan Stella dan ingin memastikan sendiri pada Azam. Sesampainya di ruangan itu tidak ada orang sama sekali dan sepertinya Azam masih piket dari kamar ke kamar pasien dan tak lama berselang Azam datang dengan seorang suster. Azam melihat Ethan dengan lekat dan Ethan menanyakan langsung pada Azam.
"Apa Ainsley hamil?" tanya Ethan.
"Kenapa tanya saya? Anda suaminya," jawab Azam.
"Kemarin Ains periksa kandungan ke Anda bukan? Apa memang Ainsley hamil?" tanya Ethan.
"Sepertinya Anda salah paham. Ainsley datang ke ruangan saya bukan untuk periksa kandungan tapi mengantarkan kartu identitas saya yang terjatuh di kos," jawab Azam.
Jadi kemarin Ainsley datang ke sini untuk menemui dokter ini? Batin Ethan.
__ADS_1
...****************...