Pernikahan Dingin Dokter Ethan

Pernikahan Dingin Dokter Ethan
Bab 23 Manja


__ADS_3


Happy Reading


Malam hari.


Ethan pulang dengan tergesa-gesa, melihat Ainsley menunggunya di depan kamar kos. Ethan memeluknya dengan erat sembari melirik pintu kos Azam yang tertutup rapat.


"Kamu tak apa 'kan?" tanya Ethan.


"Maksudnya?" tanya Ainsley mendongak ke wajah Ethan.


"Tak apa. Ayo kita masuk!"


Ethan merangkul Ains untuk masuk ke dalam kos, Ethan sudah membawa banyak makanan untuk disantap malam. Ethan memang tidak pernah menuntut Ainsley untuk memasak dan memang lebih suka membeli di luar.


"Aku mandi dulu. Kamu bisa makan duluan!" pinta Ethan.


"Aku mau menunggu Mas Ethan saja," jawab Ainsley.


Ethan masuk ke dalam kamar mandi, sementara Ainsley menuangkan mie ayam itu ke dalam mangkuknya. 15 menit kemudian Ethan keluar dari dalam kamar mandi, dia merasa lesu di depan Ains sehingga wanita itu sangat penasaran sekali.


"Ada apa?" tanya Ainsley.


Air mata Ethan menetes, ia langsung mengusapnya. Ainsley menggenggam tangan Ethan, wanita itu meyakinkan supaya Ethan mau bercerita dengannya.


"Ada apa? Kenapa sedih?" tanya Ainsley dengan lembut.


"Hari ini aku kehilangan salah satu pasienku lagi. Dia tidak bisa bertahan," jawab Ainsley.


Ainsley pun ikut menangis karena kakaknya juga korban dari penyakit kanker yang ganas dan tidak bisa selamat padahal usianya masih terbilang muda. Ethan mengusap air mata Ainsley, ia seharusnya tidak perlu menceritakan hal ini karena pasti Ains akan mengingat kakaknya.


"Ainsley, maaf, aku malah mengingatkan tentang kakakmu."


"Tidak perlu minta maaf. Aku menangisi pasienmu itu kok. Pasti kamu juga berat karena kehilangan mereka lagi untuk ke sekian kalinya," jelas Ains.


Ethan mengangguk, dia kehilangan pasiennya yang bernama Anggun, seorang anak kecil perempuan menderita kanker dan menghembuskan nafas terakhirnya sore tadi. Ainsley memeluk Ethan dengan erat untuk memberi kehangatan dan kenyamanan, ia paham jika menjadi seorang dokter hal yang harus dihadapi pertama adalah kematian pasiennya. Itu sangat berat dilewati apalagi jika mereka sempat dekat dan sering bercanda bersama.


"Kamu sehat-sehat ya, sayang," ucap Ethan sambil mengecup kening Ainsley.


"Aku akan menjaga kesehatanku dengan baik," jawab Ainsley.

__ADS_1


Mereka lalu makan bersama-sama sementara Ainsley masih menyimpan kabar kehamilannya pada Ethan, dia akan memberikan kejutan pada suaminya dalam waktu dekat ini. Pasti Ethan akan senang mendengar semua ini apalagi sejak kemarin memang sudah sering membahas masalah anak.


"Oh ya, tadi seharian ngapain saja? Mengobrol dengan Dokter Azam?" tanya Ethan sangat cemburu.


Ainsley makan mie ayam sampai belepotan di bibirnya.


"Tidak, kenapa?"


"Tidak apa-apa, dia tadi libur dan tentu saja pasti ada di kosnya."


Ainsley sangat polos langsung jujur. "Iya, tadi kami sempat mengobrol ke sana kemari lalu saat makan siang dia membelikanku makanan lezat. Tahu gado-gado? Nah, itu. Rasanya enak sekali. Kapan-kapan Mas Ethan harus belikan!"


Ethan menatap Ainsley dengan lekat, dia menjatuhkan sumpit pada mangkoknya seolah marah pada Ainsley. Ains masih asyik makan lalu melirik Ethan yang marah padanya. Ainsley menelan ludahnya kasar, dia malah keceplosan mengatakan hal seperti itu pada Ethan.


"Hehehe... hanya itu saja kok tidak ada yang lain," ucap Ainsley.


"Ains, kamu bukan anak gadis lagi yang bisa didekati pria manapun namun kamu sudah menjadi seorang istri dan harus menghargai suamimu. Lain kali aku tidak mau melihat atau mendengar jika kamu mengobrol dengan Dokter Azam," jawab Ethan.


Ethan melanjutkan makannya lagi lalu selepas itu dia beristirahat, sementara Ainsley mencuci bekas mangkuk mereka. Ethan membuka buka tabungannya, uangnya sudah banyak sekali setelah menjadi dokter bertahun-tahu, gajinya tentunya juga sangat besar perbulannya.


Ainsley datang, dia naik ke atas ranjang. Ethan menjelaskan akan membeli mobil baru untuk Ainsley dan menyewa sopir pribadi supaya Ainsley bebas mau ke manapun tanpa membuat Ethan khawatir.


Ainsley menggelengkan kepalanya, menurutnya dia tak butuh mobil. "Aku tidak mau. Aku juga tak kemana-mana. Jika boleh aku mau sepeda motor saja. Orang-orang Indonesia kayaknya lebih banyak punya motor ketimbang mobil."


"Kamu malah semakin membuatku mati ketakutan. Di sini tidak seperti Moscow yang minim sepeda motor, kamu lihat saja setiap hari jutaan sepeda motor lewat jalanan dan angka kecelakaannya sangat tinggi."


"Aku akan berhati-hati naik motor," jawab Ainsley.


Ethan tetap tidak memperbolehkan karena Ains berbeda dari yang lain, salah langkah sedikit saja bisa membuat Ains celaka.


"Aku akan tetap membelikanmu mobil dan untuk sopirnya sudah ada yaitu temanku sendiri. Kamu bisa menghubunginya kapanpun jika kamu ingin keluar," ucap Ethan.


Ainsley mengangguk paham, dia senang punya suami yang sangat perhatian. Ethan lalu memberikan sejumlah uang untuk Ainsley, ia menyuruh Ains untuk mulai mengurus keuangan seperti membayar listrik, air, wifi serta yang lainnya termasuk uang belanja.


"Ini 5 juta sesuai UMK daerah sini, bagaimana caranya harus cukup supaya bisa belajar hidup hemat."


Ainsley memegang uang cas 5 juta tersebut, dia sebelumnya tidak pernah mengurus masalah keuangan.


"Sanggup?" tanya Ethan membuat Ains menelan ludahnya kasar.


"Gaji Mas Ethan 'kan banyak. 5 juta saja tentu saja kurang," jawab Ains takut.

__ADS_1


"Ini bukan masalah gajiku yang besar melainkan caramu mengelola uang dengan baik. Jika kurang nanti bisa minta padaku lagi, aku bukan orang yang tega. Aku ingin lihat seberapa pandai kamu mengelola uang."


Ainsley mengangguk, ini adalah sebuah tantangan untuknya. Mereka lalu memutuskan untuk tidur bersama-sama sambil berpelukan dengan erat. Entah mengapa Ainsley memang suka dengan aroma tubuh Ethan yang khas.


***


Keesokan harinya.


Ainsley meminta gendong Ethan karena dia tak rela jika Ethan berangkat bekerja. Ethan keluar dari kosnya sambil menggendong Ains yang manja.


"Ains, turunlah! Mas harus kerja."


"Huaaaa... jangan kerja!"


Ceklek...


Suara pintu terbuka terdengar yang ternyata adalah pintu kos Azam. Azam melihat kedua pasutri itu sedang berdrama, jiwa jomblonya meronta karena melihat keromantisan mereka. Azam menyapa Ethan dengan anggukan dan melewati mereka.


"Ains, turunlah! Nanti malam saja minta gendongnya ," ucap Ethan.


"Gak mau! Huhuhu... liburlah!" rengek Ains.


Tiba-tiba Ayah dan Ibu datang dari tangga, mereka melihat Ainsley digendongan depan Ethan seperti anak kecil. Ayah tersenyum sendiri sedangkan Ibu memalingkan wajahnya.


"Kalian bisa-bisanya bermesraan di luar kos?" tanya Ayah.


Ethan dan Ainsley menoleh ke arah mereka. Ainsley bukannya turun malah semakin mempererat pelukannya pada Ethan.


"Ains, turunlah! Ada ayah dan ibu," pinta Ethan.


"Hahaha... jika dia manja begini berarti ada sesuatu, Ethan. Dulu ibumu begini juga saat sedang hamil," ucap Ayah.


Ethan mengernyitkan dahinya. "Hamil?


Ainsley belum hamil. Oh ya, kenapa kalian di sini?"


Ains turun dari gendongan Ethan, dia mencium tangan kedua mertuanya tersebut.


"Kami mau ajak Ains jalan-jalan. Boleh?" tanya Ayah.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2