
Azam masuk ke ruangan Elina, ia melihat Elina sedang tidur terlelap, ia tak bisa membantu banyak karena wanita itu keguguran akibat kelelahan. Mata Elina terbuka dan Azam berpura-pura mengecek selang infus, Elina memandang Azam dengan lekat, dia menggenggam tangannya dengan erat.
"Rayden," ucap Elina setengah sadar.
"Maaf, Bu Elina. Saya Azam bukan Rayden," jawab Azam.
Elina berusaha untuk terduduk walau perutnya masih sangat kaki, ia malah memeluk Azam dengan erat sambil menangis.
"Ray, anak kita meninggal. Semua gara-gara kamu, kamu tidak bertanggung jawab dan membuatku terbebani sendiri. Kamu jahat Ray!" ucap Elina sambil menangis histeris.
Azam mendorongnya dengan pelan dan membaringkan tubuh Elina, Elina masih mengigau tidak jelas dan menyebut nama tersebut berulang kali. Azam menghela nafas panjang, Elina sangat kasian sekali karena merupakan korban dari keegoisan laki-laki. Tak sampai berselang lama, Elina terlelap kembali dan benar saja jika ia mengigau.
Azam keluar dari ruangannya, hatinya berdesir karena sepertinya memang ada perasaan dengan Elina. Biasanya dia tak akan terlalu bersimpati seperti ini pada pasiennya namun berbeda pada Elina, ia merasa kasian dan ingin melindunginya sebaik mungkin.
Azam lantas menelpon Ethan, ia tentu saja ingin membicarakan hal tersebut dan bertanya langsung pada kakak dari Elina. Azam adalah orang yang gentle terhadap suatu masalah dan masalahnya kali ini ia malah menyukai dengan adik temannya. Ethan mengangkat telpon darinya, suara Ethan agak serak-serak basah, mungkin saja sedang sakit.
"Hallo, Azam?" ucap Ethan dari panggilan telepon.
"Ethan, ada apa dengan suaramu?" tanya Azam.
"Perpindahan cuaca, di Jakarta panas sekali dan di sini sangat dingin sehingga membuatku radang tenggorokan," jawab Ethan.
"Jangan lupa minum obat! Oh ya, tujuanku menelponmu karena ingin meminta pendapatmu. Apa aku boleh dekat dengan Elina?" tanya Azam.
Hening sejenak setelah Azam mengatakan seperti itu, mungkin saja Ethan bingung mau menjawab apa.
"Dekat dalam hal apa? Bukannya kalian dokter dan pasien, kalian dekat karena hal itu," jawab Ethan.
"Aku ingin lebih dari itu. Aku menyadari jika suka dengan Elina," jelas Azam.
Mungkin ini sangat gila bagi Azam tapi mau bagaimana lagi karena ia tak mampu menahan rasa sukanya lebih lama lagi. Saat itu Elina masih hamil dan tidak mungkin Azam menyatakan perasaannya walau sebenarnya tidak masalah tapi Ayah bayi itu masih hidup dan takutnya jika pria itu mendadak muncul. Sekarang Elina sudah keguguran dan tidak terikat dengan pria itu sehingga dirinya cukup punya nyali untuk mendekati Elina.
__ADS_1
"Adikku baru saja keguguran dan kamu sudah hendak mendekatinya. Azam, kamu ini dokternya dan semua orang akan berpikiran buruk jika kamu mendekati pasienmu sendiri," ucap Ethan.
"Maaf, aku memang gegabah dan aneh tapi setidaknya lega jika kamu tahu aku suka pada adikmu. Tak apa, aku akan menunggu adikmu sampai benar-benar sembuh. Kamu tidak apa-apa jika menganggapku aneh," jawab Azam.
Azam menutup telponnya sementara Ethan menjadi bingung, dia merasa bersalah karena sudah mengatakan hal menyakitkan bagi Azam. Ains datang menghampiri sang suami yang sedang menulis pesan di ponselnya, Ainsley mengintip yang ternyata pesan itu Azam.
"Mas, ngapain?" tanya Ainsley.
"Tak apa," jawab Ethan sambil menyimpan ponselnya.
Ethan mengusap kepala Ainsley, Ains-nya membawakannya jeruk nipis, Ethan butuh itu supaya bisa meredakan sakit tenggorokannya.
"Mas, pulang ke apartemen yuk! Bayar di sini mahal," ucap Ainsley.
"Mas yang bayar dan kita nikmati bulan madu ini sampai puas. Mau berendam air panas? Di sini ada kolam air panas."
Ainsley mengangguk, mereka lantas bersiap-siap untuk ke lantai bawah. Di hotel mewah ini juga disediakan pemandian air panas bagi para pengunjung hotel. Karena sudah membayar mahal maka Ethan tak akan menyiapkan ada di hotel ini. Mereka membawa handuk serta baju ganti, setelah sampai di bawah tidak ada orang karena ini masih jam kerja. Mereka masuk ke kolam hangat tersebut dan membuat Ethan berteriak lega. Tubuhnya seolah menjadi enteng akibat kolam tersebut.
"Mas, tidak apa jika kita berduaan di sini? Nanti kena grebek," ucap Ainsley takut.
Ethan bertelanjang dada serta memakai boxer saja sementara Ainsley mengenakan baju renang yang ketat dan belahan dadanya terlihat. Untung saja di sini tidak ada orang selain mereka jika iya maka Ethan akan memilih kembali ke kamar saja.
"Mas kapan bekerja di rumah sakit itu?" tanya Ainsley.
"Tiga hari lagi, mas sudah bilang pada teman mas yang ada di sana. Kamu bisa 'kan di rumah sendirian saat mas bekerja?" ucap Ethan.
Ainsley mengangguk. Mata Ethan kembali memandang belahan dada Ainsley yang menggoda, Ainsley masih asyik berenang ke sana kemari sampai menyiprat wajah Ethan. Pria itu mengejarnya dan menggendong tubuh kecil Ains, leher wanita itu pun terdapat banyak stempel kepemilikan dari suaminya.
"Sengaja ya menyiprat wajahku?" tanya Ethan.
"Ampun, mas!" teriak Ains-nya.
Ethan membawa Ains ke pojokan, mereka hanya berdua saja dan ini adalah hal yang menyenangkan. Mata mereka saling berpandangan apalagi Ethan sangat suka jika Ainsley seperti ini.
__ADS_1
"Mau apa?" tanya Ainsley.
"Kamu menggemaskan sekali jadi pengen mas gigit," jawab Ethan.
Ainsley menggelengkan kepalanya, dia hendak menjauh dari Ethan namun malah kakinya tersandung kaki Ethan sehingga kepalanya terbentur ke dinding kolam cukup kuat.
Duaak!
Ethan kaget sekali, dia membawa Ains-nya keluar dari kolam dan memperhatikan jidat sang istri yang berdarah-darah. Langkah pertama adalah jangan panik, dia memanggil pegawai hotel untuk meminta obat. Setelah mendapatkannya Ethan sendiri yang menangani Ains-nya. Jidat istri kecilnya itu terasa perih sampai ia menangis sesegukan.
"Sudah selesai, aku sudah memplester kepalamu. Lain kali hati-hati!" ucap Ethan.
Ethan mengusap perut Ainsley, untung saja tidak sampai terbentur ke perut jika ia maka akan berakibat fatal. Mereka lantas selesai dan membilas diri di kamar mandi. Cuaca sangat dingin sehingga saat keluar dari kolam hangat terasa dinginnya. Ethan memastikan Ainsley mandi terlebih dahulu lalu setelah itu memakai pakaian tebalnya dan setelah itu barulah Ethan bisa membilas diri.
Setelah dari kolam hangat, mereka memutuskan untuk makan. Mereka memesan makanan yang hangat supaya bisa mengurangi hawa dingin di tubuh mereka.
"Kapan ada jadwal ke dokter kandungan lagi?" tanya Ainsley.
"Lusa, mas mau antar?"
Ethan mengangguk. "Tentu saja."
Makanan pun datang, mereka makan bersama-sama. Walau bulan madu ini terkesan sederhana namun mereka menikmatinya. Tak masalah hanya ke hotel bintang lima tapi intinya adalah kebersamaan mereka yang utama.
"Makan yang banyak! Mas mau ronde selanjutnya," ucap Ethan membuat Ainsley tersedak.
"Uhuk.. uhuk... baru tadi pagi Mas Ethan minta masak mau minta lagi," jawab Ainsley heran.
"Namanya saja pengantin baru," jawab Ethan santai.
...****************...
...Hai Hai Hai Reader's!!...
__ADS_1
...Jangan lupa like, fav, follow, vote, hadiah dan komentar ya!!!😘...