Pernikahan Dingin Dokter Ethan

Pernikahan Dingin Dokter Ethan
Bab 44 Pertemuan


__ADS_3


Ayah menemui Ethan di rumah sakit, ia menunggu Ethan di dekat taman rumah sakit. Ayah hanya ingin meminta maaf pada Ethan yang sudah mengabaikan pesannya dan tidak menerima telponnya sama sekali. Ethan datang masih mengenakan jas dokternya, ia malas melihat pria tersebut dan ingin sekali menyumpahinya namun dia tahan.


"Ethan, Ayah mengganggumu?" tanya Ayah.


"Ayah mau bicara apa? Waktuku tidak banyak," jawab Ethan.


Ayah menghela nafas panjang, ada banyak yang harus dibicarakan namun dia tak bisa menceritakannya semua. Mereka duduk bersama-sama di bangku taman, Ayah meminta maaf pada Ethan atas semua apa yang terjadi. Dia khilaf dan merasa berdosa pada mereka.


"Jika ingin bilang itu saja mending tidak perlu dikatakan sekalian. Khilaf? Khilaf itu hanya sekali dan jika sampai bertahun-tahun itu namanya ketagihan," jawab Ethan.


"Iya tahu jika papa salah pada kalian. Papa hanya ingin memperbaiki semuanya," jawab Ayah.


Ethan berdiri dari kursi, dia sudah tidak ingin berbasa-basi lagi dengan beliau apalagi di waktu jam kerja.


"Ethan, apa Ayah sudah tidak ada kesempatan untuk kamu maafkan. Ayah dengar jika besok kamu akan menyusul Ainsley ke Rusia dan akan tinggal di sana. Jangan biarkan Ayah berhutang padamu dan kamu sampai memusuhi Ayah," ucap Ayah.


Ethan menoleh ke arah beliau. "Sepulang kerja aku akan ke rumah. Kita bisa bicarakan bersama."


Setelah itu Ethan pergi dari sana dan Ayah tersenyum kecil karena Ethan meresponnya dengan baik. Siapa yang tidak ingin berdamai dengan orang tua walau kesalahannya sudah terlampau fatal? Ethan pun juga ingin berdamai dengan beliau tapi apalah daya rasa sakit hatinya masih ada dan tidak mungkin akan mudah hilang. Hari ini Ethan juga hari terakhir bekerja di sini, dia akan berpamitan pada rekan-rekan kerjanya yang sudah menjadi temannya beberapa bulan. Tentu saja ada denda pinalti karena melanggar kontrak tapi tak masalah karena Ethan masih bisa membayarnya. Pihak rumah sakit paham apa yang tengah dialami Ethan, mereka bahkan meminta supaya Ethan rehat.


Ethan juga berpamitan dengan Azam dan berterima kasih karena selama ini sudah baik padanya. Azam juga memberikan oleh-oleh untuk Ainsley yang ada di sana berupa makanan kering, Ethan sangat berterima kasih dan berharap suatu saat nanti mereka akan bertemu lagi.


Malam hari.


Ethan pulang ke rumah orang tuanya, ia sudah siap pergi lagi ke Rusia dan tinggal di sana bersama keluarga kecilnya. Ibu dengan berat hati melepaskan anak pertamanya lagi untuk merantau.


"Harusnya kamu bujuk istrimu kemari dan bukannya kamu yang harus ke sana," ucap Ibu.


"Tidak Ibu, aku yang harus mengalah pada Ainsley karena kenyamanannya yang lebih utama," jawab Ethan.


Ethan menatap sang Ayah yang sejak tadi memperhatikannya. Ethan ingin berbicara berdua saja dengan beliau, Ayah menyanggupi dan mereka berbicara di teras rumah. Malam ini bintang bersinar dengan terang serta rembulan yang menunjukan cahaya malamnya. Jarang sekali bapak dan anak itu berbicara berdua karena Ethan tak sedekat itu dengan sang Ayah.


"Bagaimana dengan wanita itu?" tanya Ethan.


"Dia sudah ayah talak dan dia pulang ke desanya dengan membawa uang yang Ayah berikan," jawab Ayah.


"Semudah itu? Lalu anaknya itu bukan anak Ayah?"


Ayah mengangguk pelan, matanya berair karena sempat meninggalkan keluarganya demi wanita tersebut.


"Ayah bisa janji tak akan melakukan itu lagi dan tidak menyakiti hati Ibu? Aku akan ke Rusia dan ingin memastikan jika Ayah tak akan menyakiti hati keluarga kita lagi."


"Kamu tenang saja, Ethan. Ayah tidak akan melakukan itu lagi dan akan menjaga keluarga kita dengan baik. Jika Ayah mengulanginya maka Ayah tidak akan kembali pada kalian untuk selamanya dan Ayah akan menerima semua segala konsekuensinya."


Sebenarnya Ethan tidak percaya begitu saja karena ia masih trauma dengan beliau namun mau bagaimana lagi karena ia juga harus mengurus keluarga kecilnya sendiri. Ainsley adalah hal utama yang harus ia pikirkan karena dia adalah istrinya.


"Yasudah, aku yakin jika Ayah sudah benar-benar berubah, jika Ayah menipu kami lagi maka kami tak segan untuk menjebloskan Ayah ke penjara bagaimanapun caranya," ucap Ethan dengan berat hati.


Ethan memeluk Ayah dengan erat, Ayah sangat berterima kasih pada putranya karena sudah memberikan kesempatan sekali lagi dan beliau tak akan menyiapkannya. Mereka lalu masuk ke dalam dan menikmati makan malam bersama, keluarga itu bercengkrama kesana kemari dan membahas bagaimana kelanjutannya. Ethan yakin mereka bisa mengatasi masalahnya sendiri tanpa bantuannya.


"Oh ya, Ibu sudah membeli perlengkapan bayi nanti dibawa juga ke sana ya?" ucap Ibu.


"Aku juga sudah membeli beberapa pakaian bayi," ucap Elina.


Sonia berpikir sejenak. "Aku belum kerja dan belum punya uang sendiri. Nanti deh jika sudah lahir aku belikan sepeda yang lucu."

__ADS_1


"Kalo Ayah nanti akan beli tiket sekeluarga saja untuk ke sana saat bayimu lahir, Ethan," sahut Ayah.


Ethan senang karena mereka perhatian pada bayinya namun sayangnya tidak ada yang menyebut nama Ainsley. Apa mereka masih belum menerima Nilam?


"Jika bisa menerima bayiku seharusnya kalian bisa menerima ibunya juga. Ains adalah istriku," ucap Ethan sedih.


Mereka saling memandang, tentu saja mereka tak lupa dengan Ethan. Elina bangun dari kursinya lalu memberikan sekotak perhiasan wanita pada Ethan.


"Kak, ini dari kami semua, kami patungan untuk membeli satu set perhiasan emas. Ada kalung, cincin, anting-anting serta gelang. Ini untuk Ainsley dari kami semua. Kami minta maaf juga jika selama ini jahat padanya dan membuatnya tidak betah di sini," ucap Elina.


"Ibu juga minta maaf, mungkin saja saat itu Ains minta pindah karena tidak tahan dengan sikap Ibu," sahut Ibu.


Ethan terharu pada mereka sampai meneteskan air matanya, tak menyangka pada akhirnya mereka mau menerima Ains sebagai keluarganya bahkan memberikan perhiasan ini.


"Salam untuk Ains, jangan lupa jaga kandungannya dengan baik! Jika kami ada rezeki akan sering-sering datang ke sana," ucap Ayah.


Ethan mengangguk dan sekali lagi sangat berterima kasih pada mereka.


***


Setelah perjalanan selama berjam-jam pada akhirnya Ethan sampai di Moskow, dia menarik koper dan tas menuju keluar dari bandara. Batang hidung Ains belum kelihatan padahal mereka sudah janjian.



Setelah di depan bandara tentu saja banyak yang menawarkan jasa taksi tapi Ethan menolak karena Ains belum datang.


"Mas Ethan?"


Ethan menoleh ke belakang dan melihat Ainsley sangat cantik sekali.


"Ains?"


"Ains rindu Mas Ethan," ucap Ainsley.


"Mas juga rindu kamu," jawab Ethan sambil mengecupi kening sang istri.


Mereka lalu melepaskan pelukannya dan Ethan mengusap perut Ains. "Gimana kabar anak papa?"


"Dia rindu papa dan ingin bertemu papa," jawab Ainsley.


Mereka lantas pulang ke apartemen dengan naik taksi, setelah ada di dalam taksi Ethan terus mengelus kepala Ainsley dan menghirup aroma rambut Ainsley yang wangi. Siapa yang tak akan merindukan wanita seimut istrinya? Ethan pun tak kuasa bisa menahan rasa rindunya yang membara.


"Aku tidak masak apapun, maaf," ucap Ainsley.


"Tidak usah masak, aku sudah bawa makanan dari sana dan jika sampai apartemen bisa kita panasi," jawab Ethan.


"Ains masih seperti dulu yang tidak bisa masak," ucap Ainsley.


"Kamu tidak perlu memusingkan itu karena kita bisa beli diluar," jawab Ethan.


Setelah sampai di apartemen Ethan duduk di sofa, dia merenggangkan tubuhnya yang kaku serta lelah. Ainsley membuatkan teh hangat lalu mereka mengobrol sebentar.


"Ains pikir mas tidak akan ke sini dalam waktu dekat," ucap Ainsley.


"Harusnya begitu tapi mas mengalah demi ingin bertemu kamu. Oh ya, bayi kita tidak kenapa-napa 'kan?"


Ainsley mengangguk sambil mengelus perutnya, hanya saja dia belum bisa menghilangkan morning sickness yang mengganggu setiap pagi.

__ADS_1


"Mas lapar? Pengen pancake? Ains sudah bisa bikin pancake loh diajari Jasmine," ucap Ainsley.


"Mas sudah kenyang sayang namun lapar juga," jawab Ethan.


Ainsley mengernyitkan dahinya tidak paham dengan ucapan Ethan. "Kenyang tapi lapar?"


"lya, lapar ingin memakanmu sekarang juga."


Ethan menarik tubuh Ainsley sampai jatuh ke pelukannya. Mereka bertatapan sampai membuat Ains salah tingkah sendiri. Ethan masih tampan seperti dulu dan tidak berubah sama sekali sampai dia tidak berkedip saat memandangnya.


Ethan melepas jaket Ainsley yang menutupi tubuhnya, ia lalu melihat dua gundukan yang semakin besar dan padat.


"Hormon wanita hamil memang beda," ucap Ethan.


"******?" tanya Ains.


Ethan menaikkan satu alisnya. "Belajar dari mana kata itu?"


"Dari Jasmine dia mengajarkanku bagaimana menjadi istri yang baik untuk suaminya padahal dia masih single."


Ethan tertawa kecil, dia menggesekkan hidungnya dengan hidung sang istri karena saking gemasnya.


"Mas gak bisa hidup tanpa kamu, Ains-ku."


"Ains bisa hidup tanpa Mas."


Ethan sedih mendengat kalimat tersebut namun ia tahu jika Ainsley tak paham apa yang dia ucapkan. Ethan langsung mencium bibirnya tanpa berbasa-basi lagi dan memberi gigitan pelan yang menimbulkan sensasi yang luar biasa. Tubuh Ainsley pun menegang mengikuti irama hati. Lidah mereka juga bertemu di dalam sana sampai bermain-main.


Hasrat ini sudah tidak tertahankan namun Ethan tak mau buru-buru. Dia akan memuaskan Ains terlebih dahulu dengan permainan kecilnya.


Tangan Ethan pun juga mulai menyelinap masuk ke dalam kaos yang dikenakana Ains dan bertemu dengan ujungnya. Tak peduli jika ia dianggap pria mesum karena ia bermain sendiri dengan istrinya.


Ainsley melepaskan ciumannya, dia merasakan geli dan tidak tahan akan permainan Ethan.


"Jangan, mas!"


"Kenapa sayang?"


Tatapan Ethan sudah berbeda dan tentunya penuh dengan gairah.


"Takut jika Jasmine melihat."


"Temanmu belum pindah? Mas 'kan bilang dia harus sudah pindah jika mas datang ke sini."


Ceklek!


Jasmine keluar dari dalam kamar dan Ethan langsung menarik tangannya dari dalam kaos Ains. Tentu saja Ethan sangat canggung dan malu karena ia baru saja datang sudah meminta jatah.


"Ains, aku pergi ya? Tugasku sudah selesaikan menemanimu di sini?"


Ainsley berdiri dan memeluk Jasmine.


"Makasih Jas. Kapan-kapan kita curhat lagi, ya?"


"Oke, aku tunggu curhatanmu dengan suamimu itu," bisik Jasmine yang menggoda Ainsley.


...****************...

__ADS_1


Qu'est-ce que tu penses?


__ADS_2