
Selamat Berbuka Cerita Ethan dan Ainsley !!!
.
.
.
Ainsley dan Ethan memutuskan menginap di sini karena sudah kemalaman untuk pulang, acara arisan keluarga sudah selesai dengan baik dan mereka memutuskan akan menggunakan uang khas untuk piknik bersama di waktu yang sudah ditentukan. Ethan tak janji bisa ikut karena ia belum tahu kapan liburnya di saat itu.
Ainsley memakan camilan nagasari yang dibuat oleh Ibu mertuanya, rasanya enak dan unik, ia pun sangat suka. Tadi dia sudah tahu bahan apa saja untuk membuat makanan tersebut dan ia akan membuatnya lain waktu. Ainsley memperhatikan Ethan yang asyik menonton televisi dan dia belum mengantuk sama sekali. Ainsley menyuapinya namun Ethan tidak mau, dia malah ingin yang lain.
"Ronde kedua mau?" tanya Ethan.
"Ronde kedua itu apa?" tanya Ainsley bingung.
"Kayak tadi, goyang-goyang diatas."
Pipi Ains memerah, ia melakukan apa yang disuruh oleh Ethan. Sifat polosnya memang mudah dimanfaatkan oleh Ethan dalam hal ranjang, Ains mau melakukan apapun yang Ethan suruh maka dari itu Ainsley begitu memuaskan Ethan.
"Ains capek sekali," ucap Ains sangat manja.
"Capek kenapa, Ains? Mas pengen lagi yang seperti tadi," jawab Ethan memelas.
Ainsley tetap tidak mau, dia menyimpan nagasari di atas meja lalu berbaring membelakangi Ethan. Ainsley memang tidak ingin melakukannya karena ia menganggap tidak enak sama sekali. Dia pun bingung kenapa harus ada seperti itu dalam hubungan pernikahan.
Ethan memeluknya dari belakang, dia terus menggoda Ains supaya wanita itu mau melakukan ronde kedua tapi gagal karena beberapa menit kemudian Ainsley malah terlelap diambang mimpi. Ethan menghela nafas panjang, dia menyelimuti Ains dan mengecup pipinya. Jujur saja dia memang belum ada rasa pada Ainsley dan hanya sebatas rasa nyaman saja. Ethan meyakinkan orang lain jika ia mencintai Ainsley karena supaya mereka tidak mengusik hubungan mereka.
Keesokan harinya.
Ainsley bangun pagi-pagi di rumah mertuanya, ia membuatkan kopi untuk sang Ayah mertua lalu membuatkan susu untuk dua adik iparnya. Mereka pagi-pagi sudah bangun karena akan melakukan aktivitas masing-masing.
"Ayah, Elina, Sonia, ini minumnya. Ibu mana ya?"
"Ibu demam, dia sedang istirahat di dalam kamar," jawab Ayah.
Ainsley kaget, dia lalu menuju ke kamar beliau, ia mengetuk pintu dan masuk ke dalam kamar. Ibu sedang berbaring sambil berselimut tebal, mungkin saja beliau kelelahan karena kemarin.
"Ibu? Ibu mau makan dan minum apa? Biar aku buatkan," ucap Ainsley.
Ibu tidak bergeming, dia tetap tidak mau melihat menantunya tersebut. Ainsley melihat minyak gosok di atas meja lalu ia duduk di tepi ranjang. Ainsley meminta izin untuk memijat beliau, ibu tetap diam saja dan hanya melirik sekilas Ainsley.
"Ibu, biarkan aku memijat Ibu supaya badan Ibu merasa enak."
"Tak perlu."
"Ibu? Aku harus gimana supaya Ibu mau menerimaku?"
Ibu hanya diam saja, dia menyuruh Ainsley untuk pergi dari kamarnya. Ainsley lantas pergi karena tidak mau memaksa, ketika sudah keluar dari kamar ia melihat Ethan dengan tampannya memakai kemeja yang dia berikan. Jangan ditanya ketampanan Ethan di level berapa! Ethan sangat tampan sekali apalagi tubuhnya sangat tinggi.
"Ains, biar Ayah yang mengantarmu pulang ke kos. Aku harus langsung ke rumah sakit," ucap Ethan.
__ADS_1
"Iya, nanti pulang bareng Ayah saja, Ayah juga ada urusan," jawab Ayah pada Ainsley.
Ainsley mengangguk, dia melirik dua iparnya yang menghabiskan susu buatannya. Ains sangat senang sekali karena mereka tidak menolak buatannya. Mereka sarapan bersama-sama dengan lahap, tak ada pembicaraan sama sekali sementara Ainsley melayani suaminya dengan baik. Di Rusia, Ethan sudah terbiasa sarapan dengan kentang rebus jadi Ains jika sempat merebuskan beberapa buah kentang untuk Ethan.
"Aku berangkat dulu," ucap Ethan yang sudah selesai menghabiskan sarapannya.
"Hati-hati!" jawab Ainsley.
Ethan mengecup kening Ainsley di depan mereka. Ayah senang melihat mereka sangat akur sekali dan dua ipar lainnya hanya diam saja. Elina dan Sonia masih belum menerima kehadiran Ainsley di keluarga mereka.
"Ayah, aku titip Ains ya? Nanti antar dia pulang," pinta Ethan.
"Oke, Ayah akan antar Ains ke kos," jawab Ayah.
Ethan berangkat menggunakan mobilnya, Ains melambai ke arah suaminya sampai mobil Ethan menghilang dari pandangannya. Ainsley kembali masuk ke dalam rumah, ia mengambil sapu untuk menyapu halaman rumah yang penuh dengan dedaunan namun tiba-tiba saja perutnya tidak enak karena mencium sesuatu dan dia mual.
"Hueeeek..."
Elina keluar sambil menenteng tasnya, ia memperhatikan gelagat Ainsley.
"Hueeek..."
"Ih jorok banget sih lo?" ucap Elina.
Ainsley meminta maaf, dia masuk ke dalam rumah dan lekas ke kamar mandi, dia memuntahkan semua makanannya yang baru saja dicerna oleh tubuhnya. Tubuhnya menjadi menggigil, dia pun sangat heran dengan dirinya sendiri yang mendadak begitu. Setelah muntah, ia keluar dari dalam kamar mandi dan Ayah mertuanya melihat sesuatu yang berbeda dari wajah Ainsley. Ya, wajah Ainsley memucat.
"Ada apa, Ains? Kamu sakit juga?"
"Ayah, bolehkah aku minta diantar pulang sekarang?"
Berselang menit kemudian, Ayah sudah siap, ia memakai pakaian rapi lalu mengantar Ains pulang ke kos. Mereka naik mobil bersama-sama dengan Ayah yang menyetir mobil. Kepala Ains sangat nyeri sekali sehingga ia memilih untuk diam tak mengaja berbicara mertuanya.
"Kamu sakit?" tanya Ayah.
"Tidak, ayah. Aku hanya pusing saja," jawab Ainsley.
"Mau ke dokter?"
Ains menggelengkan kepalanya. "Tak perlu, Ayah. Aku mau istirahat di rumah saja."
Sesampainya di tempat kos.
Ayah langsung pergi karena ada urusan sedangkan Ains langsung naik ke kamar kosnya yang ada di lantai dua. Dia melihat Azam langsung mengambil pakaian dalamnya yang ia jemur di depan kamar, Azam pikir tidak ada orang karena sepi.
"Kenapa diangkat lagi? Kan itu masih basah?" tanya Ainsley.
"Aku jemur di dalam saja, ku pikir sepi karena orang-orang sedang bekerja dan kamu juga tak pulang ke kos sejak kemarin," jawab Azam sangat malu.
"Hehehe... begitu ya? Dokter Azam tidak bekerja?" tanya Ainsley.
"Aku libur."
Perut Ains terasa bergejolak lagi saat mencium aroma yang menyengat, dia mual-mual di depan seorang dokter kandungan.
__ADS_1
"Hueeek... hueeek..."
"Ada apa, Ains?"
Ainsley hendak pingsan dan langsung dipapah oleh Azam, pria itu menyuruhnya untuk duduk di kursi depan kamar kos lalu membuatkannya teh hangat untuk Ainsley.
"Minum dulu!" pinta Azam.
Ainsley meminumnya, nafasnya terasa ngos-ngosan dan ia merasa sangat lemas sekali.
"Mual-mual sejak kapan?" tanya Azam.
"Sejak kemarin."
"Sudah dites? Jangan-jangan hamil?"
Ains menggelengkan kepalanya. "Sudah kok di tes pakai tespek tapi hasilnya hanya garis satu saja."
Azam memesan ojek online supaya dibelikan tespek di apotek terdekat, setengah jam kemudian tespek itu sampai dan Azam menyuruh Ainsley untuk mengetesnya sekarang juga.
"Coba kamu tes dulu lagi!"
"Tapi kemarin negatif."
"Tes dulu!"
Ains masuk ke dalam kamar kosnya, ia mengetes lagi, 10 menit kemudian Ainsley keluar dan membawa hasilnya. Azam membacakannya, ia mengernyitkan dahi sambil bergantian menatap Ainsley.
"Kamu hamil."
Deg!
Ains tentu saja kaget, dia masih tidak percaya.
"Tapi garisnya hanya satu saja."
"Ini dua garis merah dan yang satunya belum terlihat jelas alias samar-sama, kemungkinan usia kandunganmu masih muda sekali makanya terlihat sama-samar tidak jelas."
Ainsley tidak bisa berkata-kata, ia tentu saja bahagia karena ia akan menjadi seorang Ibu dan tidak kesepian lagi. Azam ikut senang mengetahui kabar ini, ia menyarankan untuk besok datang ke rumah sakit supaya bisa melakukan USG pada bayi Ains.
Di sisi lain.
Ethan tak sengaja mendengar jika Azam sedang libur, dia menelan ludahnya kasar lalu menelpon ayahnya.
"Hallo Ayah? Jangan antar Ains pulang ke kos!" ucap Ethan.
"Ayah sudah mengantarnya ke kos. Ains sepertinya sakit," jawab Ayah.
Ethan mengusap wajahnya kasar. Saat Azam libur, entah mengapa pikiran Ethan sangat was-was. Takutnya mereka melakukan apa-apa di belakang Ethan.
"Yaudah, mending Ayah jemput Ains lagi dan bawa ke rumah," pinta Ethan.
"Tidak bisa, Ayah ada urusan."
__ADS_1
Ethan semakin bingung, pikiran negatifnya menyerang dirinya. Ethan membayangkan jika mereka tertawa-tawa bersama seperti saat itu. Ainsley itu adalah wanita yang polos dan mudah terhasut orang lain.
...****************...