
"Ains, kami hanya berbincang masalah pekerjaan," ucap Ethan.
"Jangan sedekat ini!" teriak Ainsley yang tidak bisa mengontrol emosinya.
Ibu datang, dia tentu saja tidak terima saat putranya dibentak oleh istrinya sendiri. Ethan hanya diam saja karena tahu wanita itu memiliki sifat spesial bahkan jika marah seperti anak kecil yang tidak diberikan permen.
"Ains, kamu jangan kurang ajar pada suamimu. Jangan pernah membentak suamimu! Ethan sudah mau menikah denganmu saja sudah sangat beruntung. Harusnya kamu sadar diri kurangmu apa sampai Ethan..."
"Cukup Ibu! Ibu tidak perlu ikut campur. Ini urusanku dengan Ainsley." Ethan menarik Ainsley untuk masuk ke dalam kamar.
Wajah Ainsley sudah memerah sembari menunduk ketakutan, Ethan menyuruhnya untuk duduk di tepi ranjang lalu berjongkok di depannya. Ethan meminta maaf jika ia sudah membuat marah dan kesal pada Ainsley tapi ia menjelaskan jika tak ada maksud lain saat berbincang dengan Stella, mereka hanya membicarakan masalah pekerjaan masing-masing.
"Ains, aku minta maaf sudah membuatmu marah. Mau memaafkanku?" tanya Ethan mengalah.
Ainsley mengangguk. "Aku juga minta maaf karena sudah membuatmu malu di depan mereka. Harusnya kamu tidak menikahi wanita idiot sepertiku."
"Kamu tidak idiot, kamu wanita yang cerdas namun kamu tetap harus mengontrol emosimu, tak baik sampai meledak-ledak seperti tadi."
Ainsley diam sampai Ethan memeluknya dengan erat, pelukan Ethan membuat hati panasnya meredam. Entah mengapa perasaan Ainsley malah menjadi campur aduk antara bingung dan bahagia. Selepas itu Ethan mengajak Ainsley keluar dari kamar dengan perasaan bahagia, ternyata keluarga Stella sudah pulang karena merasa tidak enak dengan Ainsley bahkan tidak mau makan bersama.
Ibu Ethan tentu saja kesal pada Ainsley yang mempermalukan keluarga mereka di depan keluarga Stella. Ainsley tak berani menatap beliau namun Ayah mertuanya tetap baik padanya dan mengajak makan bersama-sama.
Makanan sangat banyak sekali rencananya akan dibagikan kepada tetangga sekitar, keluarga Stella juga tidak mau membawanya pulang. Dua adik Ethan juga tak ada di rumah jadi mau tak mau mereka hanya makan berempat saja di depan meja makan. Suasana menjadi hening dan terdengar suara dentingan piring, tentu saja itu mengganggu konsentrasi Ainsley. Ainsley memang kurang nyaman dengan suara seperti itu, ia lantas meminta Ibu mertuanya untuk makan tanpa membunyikan piring.
"Maaf, Ibu. Mungkin aku tidak sopan untuk memberitahu Ibu jika makan yang benar adalah dengan tidak menimbulkan bunyi seperti ini," ucap Ainsley.
"Apa-apaan kamu menceramahi Ibu mertuamu sendiri? Tidak ada menantu yang seperti kamu. Kamu memang tidak tahu malu dan tidak tahu sopan santun," jawab Ibu.
__ADS_1
Ainsley bingung lagi, dia meminta maaf namun Ethan menyela.
"Yang Ains katakan benar, bu. Ibu terlalu berisik ketika makan, aku juga risih mendengarnya," ucap Ethan.
Ibu pun nampak marah. "Kamu sudah berubah, Ethan. Ibu sangat kecewa sekali dan pasti gara-gara perempuan tidak normal ini."
Ibu tidak melanjutkan makannya dan masuk ke dalam kamar, Ayah menghela nafas panjang dan menyusul istrinya. Ainsley bingung karena dia serba salah sementara Ethan mengelus pundaknya supaya Ainsley tidak sedih.
"Lanjutkan makannya setelah ini kita pulang," ucap Ethan.
"Apa aku keterlaluan?" tanya Ainsley.
"Tidak, kamu sudah sopan memberitahu ibu. Ibuku jika makan memang begitu berisik dan orang lain sangat terganggu namun hanya kamu saja yang berani menegurnya, aku salut padamu."
Ainsley tetap merasa bersalah, tak sepatutnya ia menyinggung perasaan Ibu mertuanya seperti ini. Dia berniat meminta maaf pada beliau namun tiba-tiba dua iparnya datang, mereka hari ini pulang lebih cepat karena disuruh ibu mereka.
"Mana Kak Stella?" tanya Elina pada Ethan.
Ibu keluar dari kamar, dia senang anak-anaknya sudah pulang dan lantas membagi barang-barang lamaran pada kedua putrinya. Ethan tentu saja protes karena barang-barang itu harusnya untuk Ainsley karena sudah menjadi istri Ethan. Ibu tidak menggubris, dia tetap membagi pada dua anak perempuannya.
Ethan memberikan lamaran berupa uang tunai, sepatu, tas, alat make up dan peralatan wanita lainnya yang ditotal bisa mencapai ratusan juga. Semua perlengkapan itu dikuasai oleh ibu dan kedua adiknya yang tamak bahkan Ainsley hanya diberi satu lipstik saja supaya bibirnya tidak pucat seperti orang terkena kurang gizi. Inilah sebabnya Ethan tidak suka tinggal di rumah ini karena ia sudah tahu sifat dari mereka.
"Itu tas dan beberapa gaun untuk Ainsley saja, kalian sudah punya banyak dan bisa beli sendiri. Ainsley belum punya barang-barang seperti itu," ucap Ethan.
"Ethan, adikmu pun mau kenapa kamu malah pelit sekali? Ainsley gak cocok pakai pakaian baju seperti ini," jawab Ibu.
"Ibu! Ini kan yang beli pakai uangku bukan uang kalian walau yang membelikan itu kalian saat aku masih di Rusia. Barang-barang ini juga banyak tapi kalian kuasai semuanya. Aku sudah punya istri, jika aku belum punya istri sudah jadi cerita lain lagi," ucap Ethan membuat mereka terbungkam.
Ainsley menggelengkan kepalanya pada Ethan, dia tak pernah berharap mendapatkan barang-barang dari Ethan. Lebih baik mengalah untuk kenyamanan bersama tapi sepertinya sudah sangat terlambat karena kedua iparnya sudah marah.
__ADS_1
"Yaudah, aku kembalikan semuanya. Kak Ethan memang sudah berubah," ucap Sonia.
Elina juga sama, dia mengembalikan semua barang yang sudah ia ambil. Ayah yang melihat semua ini bingung ingin memihak siapa karena pasti ujungnya akan memperkeruh suasana. Ainsley tidak mau ribut dan tidak membawa mau menerima semua barang-barang itu, dia berpamitan untuk pulang sekarang juga dan meminta maaf dengan apa yang terjadi hari ini dan mengacaukan acara mereka.
Ainsley terlebih dulu keluar dari rumah itu dan menunggu di teras sementara Ethan masih berdebat dengan ibunya yang keterlaluan pada Ainsley.
"Yang harusnya Ibu benci itu Stella bukannya Ainsley, Stella membatalkan pertunangan sepihak dan akan menikah dengan pria lain. Di sisi lain dia mempermalukan keluarga kita tapi Ainsley datang menyelamatkan nama baik keluarga kita di depan kerabat bahkan para tetangga karena aku tetap menikah di tahun ini," jelas Ethan.
"Kasusnya akan berbeda jika kamu memilih perempuan yang setara dengan kamu. Kamu seorang dokter hebat menikahi wanita autis sepertinya? Mau ditaruh mana nama baik keluarga kita?" tanya Ibu.
Ayah mulai menengahi mereka dan menyuruh Ethan untuk mengalah, Ethan cepat keluar dalam keadaan emosi dan mengajak Ainsley untuk pulang. Dia meninggalkan semua barang-barang pertunangan tadi begitu saja tanpa membawanya satu pun.
Kini mereka sudah ada di dalam mobil lalu Ethan menyetir mobilnya untuk pulang ke rumah. Ethan sebenarnya orang yang mau mengalah dan baik namun entah mengapa kali ini berbeda karena istrinya diperlakukan tidak baik oleh keluarganya sendiri.
"Maafin aku yang membuat kalian malah bertengkar hanya karena barang-barang itu," ucap Ainsley.
"Mereka yang keterlaluan, jika dibagi tak masalah tapi mereka seolah ingin menguasai sendiri tanpa memikirkan kamu yang sudah menjadi istriku," jawab Ethan.
"Jadi dokter sudah menganggap aku istrimu? Benarkah?"
Ethan mengernyitkan dahinya ketika mendengar pertanyaan konyol dari Ainsley, pria itu melirik ke arah Ainsley yang pipinya memerah bahkan mulai tersenyum sendiri.
"Kenapa mukamu jadi aneh begitu?" tanya Ethan.
"Aneh? Tidak!" jawab Ainsley memutarbalikkan fakta.
"Mulai cinta denganku?" tanya Ethan.
Ainsley sampai terbata-bata menjawabnya. "C--cinta? l-ini cinta?"
__ADS_1
...****************...