
"Apa sih Ains?" tanya Ethan.
"Aku bisa jadi susternya, aku sudah biasa bermain dengan Kak Darren, main dokter-dokteran," jawab Ainsley.
Ethan tertawa mendengar penuturan Ains yang polos, ia menggeleng-gelengkan kepalanya karena geli lalu melanjutkan memeriksa Azam. Pria itu demam tinggi dan harus dirawat di rumah sakit supaya mendapat penanganan lebih baik tapi Azam menolaknya karena ia tak suka dirawat walau dirinya seorang dokter.
"Tak perlu, aku minum obat saja."
Azam bangun dari tempat duduk lalu melangkah keluar, Ethan mengantarnya sampai ke depan. Dia sangat gemas jika ada orang yang sakit namun tidak mau berobat, saat Azam hendak membuka pintu kosnya sendiri tiba-tiba saja oleng dan untung saja Ethan membantunya supaya tidak jatuh.
Ethan dan Ainsley membantu untuk masuk ke dalam kamar kos milik Azam, Ains menyalakan seluruh lampu sedangkan Ethan membantu Azam berbaring di atas tempat tidur. Ethan menyuruh Ainsley mengambikan handuk beserta air dingin untuk mengompres kening pria itu.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri," ucap Azam.
Ainsley datang membawa handuk beserta air dingin, Ethan dengan sigap mengompres kening Azam. Azam adalah seorang perantau, keluarganya ada di Kalimantan sehingga jika sakit tak ada yang memperhatikannya. Azam juga tak memiliki kekasih jadi jika sakit seperti ini tak ada yang tahu tapi untung saja dia punya tetangga kos yang baik seperti Ethan dan Ainsley.
Ains juga mengambil obat penurun panas di kamar kosnya lalu memberikan pada Azam supaya lekas diminum.
"Sebentar, Dokter Azam sudah makan?" tanya Ethan.
Azam menggelengkan kepalanya.
"Makan dulu nanti bisa langsung minum obat," ucap Ethan.
Ainsley mengambil makanan di kosnya, untung saja makan malam mereka tadi masih sisa sedikit jadi masih bisa diberikan pada Azam. Ainsley menyuapi pria itu dengan sabar sementara Ethan tak mempermasalahkan itu karena jika dia yang menyuapi Ethan malah menjadi canggung.
"Kenapa kalian baik?" tanya Azam sambil mengunyah.
"Untuk menjadi baik tak perlu punya alasan khusus ' kan? Tapi aku mengingat kebaikanmu pada Ainsley karena sering membelikannya makanan," jelas Ethan.
"Maaf, aku tak ada maksud apa-apa dengan Ainsley."
Ethan mengangguk paham, dia melihat jika Azam memang orang yang baik dan Ethan tak menyangkal jika kadang dia teledor dalam menjaga Ainsley yang spesial.
Azam menyudahi makannya saat sudah mencapai 5 sendok lebih, rasa makanan itu menjadi hambar karena demamnya membuat lidahnya terasa kaku tidak bernyawa.
Ethan lekas menyuruh Azam meminum obat, Ains memperhatikan jika suaminya sangat baik sekali dan punya jiwa penolong yang tinggi. Setelah itu hanya ada keheningan karena mereka sama-sama diam, Azam menatap mereka dengan lekat, ia sangat kagum dengan Ethan karena begitu sayang pada Ainsley yang seorang penyandang autisme.
__ADS_1
"Kami pulang dulu. Jika ada apa-apa bisa ketuk pintu kamar kos kami," ucap Ethan berpamitan.
"Terima kasih Dokter Ethan."
Ethan dan Ainsley lantas keluar dari sana, mereka masuk ke kamar kos mereka sendiri. Sesampainya di dalam Ainsley memeluk Ethan dengan erat karena ia bangga mempunyai suami yang baik pada orang yang sedang membutuhkan.
"Sudahlah, aku mau tidur, besok harus bekerja," ucap Ethan.
"Baiklah, aku akan membuatmu tidur dengan cara mengusap kepalamu," jawab Ainsley.
Ains mengusap kepala Ethan dengan lembut, ia membelai dengan penuh kehangatan, sentuhan Ains membuat Ethan terbuai jatuh ke alam mimpi yang indah namun baru saja terlelap tiba-tiba Ethan bermimpi datang ke acara pernikahan seseorang yang dikenalnya namun yang mengherankan malah ia mengenakan jas pengantin. Ethan mencari sosok Ains ke sana kemari namun tidak ada dan malah berjumpa dengan Stella yang mengenakan baju pengantin juga.
"Suamiku," ucap Stella membuat Ethan kaget.
"Mana Ainsley?" tanya Ethan.
"Siapa Ainsley? Aku istrimu."
Ethan tidak mempercayai itu dan malah berlari mencari keberadaan Ainsley, ia melihat wanita itu malah bergandengan dengan Azam dengan perut yang membesar seolah hamil.
Ethan menarik Ainsley. "Ains? Kenapa kamu dengannya?" tanya Ethan.
Tiba-tiba saja Ethan bangun dari mimpi buruknya dengan dengan ngos-ngosan. Ains memperhatikannya heran bahkan ia juga ikut panik saat Ethan berteriak. Ethan memeluknya dengan erat sambil menciumi kening Ainsley, entah mengapa mimpi itu seolah nyata bagi Ethan.
"Ada apa?" tanya Ainsley.
Ethan menggelengkan kepalanya, ia mengatakan tidak apa-apa dan terus mengecup pucuk kepala Ains.
"Mimpi buruk?" tanya Ainsley.
"Semoga saja tidak terjadi, aku takut kehilanganmu," jawab Ethan.
Ainsley merasakan jika Ethan sudah tulus menyayanginya, ini dibuktikan jika Ethan semakin manja padanya saja. Mereka lantas kembali untuk tidur karena keesokan hari aktivitas mereka masih sangat banyak.
***
Keesokan harinya.
Ains mual parah dan sudah berada di dalam kamar mandi, perutnya sangat bergejolak sembari hidungnya menjadi tajam ketika mencium aroma kamar mandi yang menurutnya busuk. Ethan yang baru saja bangun lantas heran dengan Ainsley lalu mengetuk pintu kamar mandi.
__ADS_1
Tok... tok... tok...
"Sayang, ada apa?" tanya Ethan.
Ethan membuka pintu kamar mandi tersebut lalu melihat Ainsley sudah lemas, dia menggendongnya untuk keluar dari sana dan memperhatikan wajah Ainsley pucat pasi.
"Ains sayang?"
Ainsley menatap wajah Ethan. "Aku hamil."
Mata Ethan melotot kaget, rencana Ainsley untuk membuat kejutan dengan acara spesial menjadi gagal karena dia tidak kuat menahan gejolak itu sendirian.
"Hamil? Sungguh?" tanya Ethan seolah belum percaya.
Ainsley mengambil beberapa tespeknya yang menunjukkan dua garis merah. Ethan memandangnya dengan lekat lalu air matanya mengalir, ia masih tidak percaya jika sebentar lagi ia akan menjadi seorang Ayah.
"Kapan mengetes semua ini?" tanya Ethan.
"Sudah beberapa hari yang lalu dan dibantu Dokter Azam. Aku ingin memberikan kejutan untukmu namun aku sudah tidak tahan sakit sendirian. Setiap pagi aku mual parah seperti ini dan seolah nyawaku seakan ditarik keluar," jelas Ains dengan manyun.
Ethan mengusap kepala Ains sambil meminta maaf, ia malah tidak sadar jika Ainsley sedang hamil anaknya, Kebahagiaannya sudah tidak terbendung lagi bahkan berulang kali pria itu mengecup kening sang istri tercinta.
"Kira-kira hamil berapa minggu?" tanya Ethan.
"Belum tahu, aku belum datang ke Dokter Azam," jawab Ainsley sangat polos.
Tanpa pikir panjang, Ethan langsung menggendong Ainsley keluar dari kamar kos, pasangan baru itu sangat girang sekali terlebih lagi Ethan tak pernah menjaga imagenya hanya untuk pencitraan. Inilah dia dengan segala bentuk ekspresinya, jika di rumah sakit dia bersikap dingin namun lain halnya jika berada bersama pasangannya, dia akan menjadi sosok yang baik dan penyayang.
Azam keluar, ia sudah baikan. Dia melihat Ethan menggendong Ainsley mengumumkan pada semua penghuni kos jika istrinya hamil dan ia akan menjadi seorang Ayah. Semua penghuni kos sudah sangat dekat dengan mereka dan ikut merasa bahagia.
"Aku akan membuat syukuran kecil-kecilan, aku akan mentraktir kalian malam ini selang bekerja," ucap Ethan.
"Wah...asyik! Makan gratis," jawab mereka dengan senang.
Ains meminta turun dari gendongan Ethan, pria itu tidak mau dan masih ingin menggendongnya. Azam ikut senang dengan kebahagiaan mereka dan semoga saja suatu saat ia bisa merasakan semua itu.
"Mas, turunkan aku! Aku malu," ucap Ainsley.
"Malu? Ains sayang, mas bahagia sekali. Ini menunjukan jika kamu akan mendapat restu dari ibuku," jawab Ethan.
__ADS_1
...****************...