Pernikahan Dingin Dokter Ethan

Pernikahan Dingin Dokter Ethan
Bab 54 I Love You, Ains-ku!


__ADS_3


Keesokan harinya Ethan libur dan mereka bisa jalan-jalan keliling kota Moskow bersama-sama. Ethan menyewa satu mobil lagi dan disetirkan oleh temannya karena tak muat menggunakan satu mobil saja. Ibunya sebenarnya tidak setuju untuk keluar dari apartemen karena Azza masih bayi tapi Ethan meyakinkan tidak apa-apa karena hari ini cukup cerah tidak sedingin sebelumnya.


Ethan menyetir mobil dengan berisi Ainsley serta kedua orang tuanya sementara Azam dan Elina berada di dalam mobil yang lain seperti pengantin baru. Elina juga meminta berduaan saja bersama Azam supaya orang tuanya tidak mengganggu.


Dasar pasangan bucin!


Ethan membawa ke salah satu mall besar di sana lalu mencari makanan khas Moskow yang nikmat serta membeli berbagai oleh-oleh. Sesampainya di sana mereka masuk ke dalam dan tidak berpencar supaya tidak berpisah. Ainsley memakaikan putrinya selimut tebal di gendongannya, baby Azza terlelap sejak di dalam mobil.


"Di sini banyak berbagai pernak-pernik. Kalian bisa membelinya, aku dan Ains akan duduk di sana dulu. Kasian Ains," ucap Ethan.


"Okelah," jawab mereka.


Ethan mengajak Ainsley duduk di sana sembari menunggu mereka, dia melihat Azza tidur terlelap. Kini hidup Ethan jauh lebih berwarna ketika Azza dan Ains-nya hadir di hidupnya. Setelah ada mereka ia ada alasan untuk cepat pulang saat di tempat kerja.


"Ains, mau beli apa?" tanya Ethan.


"Tidak, mas. Pengeluaran kita bulan ini memang sudah banyak, kita irit dulu saja," jawab Ainsley.


"Baju tidak mau?" tanya Ethan.


Ainsley menggelengkan kepalanya, Ethan memandang ke arah depannya yang ternyata adalah toko pakaian wanita. Ethan maju ke depan karena ada baju yang bagus untuk Ainsley. Ethan melihat harga tersebut lalu berniat membelinya karena dirasa bagus untuk Ainsley. Setelah membayarnya, ia kembali pada Ains dan menyerahkan baju tersebut.


"Sepertinya muat untukmu," ucap Ethan.


"Mas, aku tidak mau memakainya," jawab Nilam.


Ains meminta mengembalikan pakaian tersebut namun tidak bisa karena sudah dibayar Ethan. Ethan menang karena setelah ia beli tak akan ada penolakan dari sang istri. Mereka lantas berjalan lagi mengikuti keluarganya pergi, ada banyak barang-barang yang ingin Ains beli namun ia tahan mengingat kebutuhan ke depannya sangat banyak.


"Ains, mau apa lagi biar mas yang belikan," ucap Ethan.

__ADS_1


"Tak perlu, mas."


"Mau make up? Tak apa, gaji mas sudah keluar kok,"


Ainsley tetap saja menggelengkan kepalanya karena tidak enak pada Ethan. Pengeluaran ketika melahirkan saia sangat banyak karena di sini tidak sama seperti Indonesia. Ethan hanya mendapat sedikit potongan biaya saja karena ia merupakan dokter di sana.


"Kita simpan saja karena kebutuhan ke depannya jauh lebih banyak," ucap Ainsley.


Ethan setuju namun jika memang Ainsley ingin membeli pun akan dia belikan karena selama ini Ainsley termasuk pelit untuk membeli barang untuk dirinya sendiri. Saat menuju ke lantai dua, Azza bangun dengan matanya yang menatap Ainsley.


"Azza? Sudah bangun sayang?" tanya Ains.


"Anak papa sudah bangun? Mau digendong papa?" ucap Ethan.


Mereka menuju ke salah satu resto ayam, mereka duduk di sana sambil memesan minuman hangat. Ethan juga menggendong putrinya supaya Ainsley bisa mengistirahatkan tangannya.


"Mas Ethan mau kopi?" tanya Ainsley.


Keluarga yang lain menyusulnya dan ikut duduk bersama mereka. Mereka sudah membawa berbagai oleh-oleh untuk di bawa pulang dan memberikan sesuatu pada Ains terutama dari ibu.


"Ini gelasnya bangus sekali, bisa kamu pakai. Sini biar ibu pakaikan!" ucap ibu lalu menarik tangan Ains.


Ainsley membiarkan sang ibu mertuanya memakaikan gelang di tangan. Dia terharu karena beliau sudah benar-benar berubah tidak seperti dulu yang selalu menghinanya.


"Sudah, bagus 'kan?" tanya ibu melihat Ainsley yang sudah memakai gelang pemberiannya.


"Sangat bagus sekali. Ains sangat suka," ucap ibu.


Ibu tersenyum lalu melihat Ethan yang menimang anaknya, ibu ingin mencoba menggendongnya lagi siapa tahu sudah tidak menangis.


"Ibu mau gendong Azza jika boleh," ucap ibu.

__ADS_1


Ethan memberikan Azza pada ibu dan bayi perempuan itu tetap menangis, entah mengapa terus begini membuat ibu sangat heran. Ethan menjelaskan jika Azza memang tidak terbiasa dengan orang baru dan memang butuh interaksi yang lama terlebih dahulu baru bisa dekat.


"Yasudah, tak apalah. Masih ada lain waktu. Ayo kita makan! Ibu lapar."


Makanan pun datang dan mereka makan bersama-sama sementara Ainsley menenangkan Azza dulu yang kemungkinan menangis karena mengantuk. Benar saja jika Azza mengantuk, baru ditimang sebentar sudah tidur dengan nyenyak. Ainsley memutuskan untuk duduk dan Ethan menyuapinya. Mereka memang suami istri yang saling pengertian membuat siapa yang melihatnya pasti iri.


***


Satu bulan kemudian.


Ainsley dan Ethan memutuskan untuk bercuti ke Indonesia karena Elina dan Azam akan menikah. Umur Azza juga sudah sebulan lebih maka dari itu mereka berani membawa Azza pulang ke Indonesia.


Sesampainya di Jakarta, Ethan mengajak Ainsley untuk langsung ke rumahnya. Di sana sudah dipasang berbagai alat tenda untuk pernikahan. Elina tidak ingin menggelar pernikahannya di gedung, dia ingin di rumah saja untuk menghemat biaya. Selama di sana Ains tidak bisa membantu banyak karena ada Azza yang tidak mau digendong orang lain. Ibu mertuanya paham dan tidak menuntut banyak. Acara pernikahan digelar dengan sangat khidmat sampai Ains meneteskan air matanya, dia senang jika kedua pasangan itu bisa berjodoh.


Ethan memandang wajah Ainsley yang menangis, dia mengusap air matanya. Ethan sangat menyesal karena tidak pernah membuatkan acara pernikahan ini seperti ini saat ia menikah dengan Ains. Ethan berjanji akan mengganti itu dengan bulan madu yang sangat romantis suatu saat nanti.


"Maaf, aku tidak pernah membuatkanmu pernikahan seperti ini," ucap Ethan.


"Apa, mas? Ains tidak pernah berharap apapun termasuk menggelar pernikahan karena yang penting Mas Ethan sudah mau menjadi suami dan ayah yang baik saja Ainsley sangat senang," jawab Ains sambil tersenyum.


Ethan terharu pada Ainsley, ia mengecupnya sekilas dan bangga mempunyai istri seperti Ainsley. Setelah acara resepsi selesai, Ainsley masuk ke dalam kamar bersama Ethan. Azza sudah terlelap membuat Ethan dengan berani mencium Ains, wanita itu pun kaget karena Ethan malah melakukannya saat di luar masih banyak orang. Ainsley membalas ciuman tersebut lalu menghentikannya karena dirasa tidak nyaman.


"Nanti malam saja, mas."


"Oke baiklah. Mas ingin bilang padamu jika mas sangat bersyukur menikah padamu. Kita sudah melewati pernikahan yang rumit ini serta mas sudah banyak melewati banyak pembelajaran ketika menikah denganmu. Mas sangat sayang padamu dan tidak ingin kehilanganmu. I love you Ains-ku, terima kasih sudah menjadi istri yang baik untukku dan ibu yang baik untuk Azza."


Ainsley mengangguk. "Mas Ethan juga sudah berusaha melakukan yang terbaik untukku. Mas Ethan sampai mengejar ku lagi ke Rusia dan bisa mempertahankan rumah tangga ini. Jika mungkin Mas Ethan tidak menyusul Ains ke sana maka mungkin saja Ains tidak mau mempertahankan rumah tangga ini. Sekali lagi terima kasih dan aku juga cinta Mas Ethan."


Pernikahan, sesuatu hal yang dilihat mudah namun ternyata sangat sulit dijalani apalagi cobaan silih berganti. Konflik mertua dan ipar pasti menjadi bumbu dalam setiap pernikahan. Untung saja Ainsley bisa melewatinya sampai mereka benar-benar baik kepadanya dan Ethan juga mampu menyatukan mereka tanpa ada konflik lagi. Semoga saja ke depannya rumah tangga mereka akan tetap harmonis bersama anak-anak mereka nantinya. Pernikahan Dingin Dokter Ethan selesai sampai di sini.


Tamat.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2