Pernikahan Dingin Dokter Ethan

Pernikahan Dingin Dokter Ethan
BAB 56 A² [ Azza dan Alister ]


__ADS_3

Prolog Novel Baru A² [ Azza dan Alister ]


.


.


.


dans le goût, la luxure l'emporte sur toute la puissance de l'amour—


(Dalam rasa, nafsu mengalahkan semua kekuatan cinta)


.


Azza berdiri di depan Alister yang terdiam menatapnya. Padahal saat ini ia sedang dilanda kegugupan.


"Kakak mau jadi pacar Azza?"


Alister Lazuardi, laki-laki remaja itu terus menatap gadis di depannya yang tingginya hanya sebatas dada.


"Memang kamu tahu arti pacaran?"


"Aku tahu, aku jatuh cinta sama kakak. Kakak mau 'kan pacaran sama Azza?"


Alister bersedekap dada dengan wajah malasnya.


"Aku masih 14 tahun dan kamu 13 tahun. Kita masih kecil," ujarnya malas, tidak melihat bahwa raut wajah Azza sudah berubah.


"Jadi gimana?" tanyanya lagi meski sebenarnya sudah jelas jawabannya.

__ADS_1


"Aku tolak!" Alister segera pergi dari Azza. Azza hanya bisa menatap punggungnya yang sudah menjauh.


Azza terkulai lemas saat mendengar penolakan dari Alister. Lagi dan lagi ia ditolak. Ini sudah yang ketiga kalinya dia di tolak oleh Alister.


"Aku akan tetap berjuang!" Tekatnya dengan kuat.


Seiring bertambahnya usia, ternyata cinta Azza pada Alister bertambah besar, apalagi Alister tumbuh menjadi remaja yang tampan dan digandrungi banyak gadis di sekolah. Sikap cuek dan pendiam Alister menjadi daya tarik tersendiri bagi yang menyukainya, termasuk Azza sendiri.


Saat ini mereka di sekolah yang sama. Saking cintanya pada Alister, ia memohon pada orang tuanya agar bersekolah di tempat yang sama dengan pujaan hatinya itu.


Azza juga seperti gadis lainnya yang mempunyai rasa cemburu ketika pujaan hatinya didekati banyak gadis apalagi mereka sangat cantik-cantik. Rasanya Azza tak ingin mereka mendekat pada laki-laki itu, hanya dirinya saja yang boleh berada didekatnya.


Tapi kenyataan menyadarkan Azza, bahwa ia bukan siapa-siapa. la sebenarnya tak berhak cemburu pada mereka. Mau Alister berpacaran dengan siapapun bukan masalah karena Azza bukan pacar atau istri Alister, sehingga ia tidak bisa melarang apa yang akan Alister lakukan. Kecuali kalau....


Senyum Azza terbit dan di sinilah Azza berdiri lagi di depan Alister setelah ia memohon untuk berbicara. Azza tahu Alister enggan menatapnya tapi dirinya memang bodoh, penolakan Alister tak melunturkan tekatnya.


Bukankah cinta itu buta?


Sungguh!


Falsafah sebuah cinta memang sangat di luar nalar!


Sehingga manusia bisa menjadi buta sekalipun.


Seperti Azzana Clarissa.


"Kak Al, mungkin kamu muak sama pernyataan bahwa aku mencintaimu. Kita sudah SMA dan diusia kita wajar pacaran," ujarnya gugup memberanikan menatap mata tajam Alister yang menatapnya lekat.


"Kak Alister maukah kamu jadi pacarku?"

__ADS_1


Kedua tangan Azza saling meremas, meskipun Azza tahu ia akan ditolak lagi dan lagi dengan pemilik hatinya. Tapi Azza masih tak mau menyerah.


Apakah salah jika Azza berharap Alister hanya mencintainya saja? Cinta Azza hanya untuk Alister seorang.


"Kamu cinta aku?"


Mata Azza menatap wajah tampan Alister yang masih saja seperti biasa, tak ada sedikit senyuman.


"Iya, aku cinta sama kamu kak dan itu selalu," ucapnya semangat.


"Kalau aku minta sesuatu dari kamu untuk membuktikannya, bisa kamu lakukan?"


"Apapun akan Azza lakukan."


"Yakin?"


Azza mengangguk sambil tersenyum. "Yakin kak."


Alister tersenyum, senyum pertama kali yang Azza lihat di depan matanya. Apakah Alister akan menerimanya? Apakah penantiannya akan terwujud akibat kesabarannya?


Jika itu benar, Azza tak bisa menahan rasa senangnya tapi ia mencoba mati-matian menahannya.


"Serahkan tubuhmu."


Deg


"Maksudnya?"


"Berikan aku keperawanan mu dan akan aku pikirkan."

__ADS_1


Mata gadis itu berkaca-kaca sehingga air matanya bisa tumpah hanya dengan sekali kedipan mata.


...----------------...


__ADS_2