Pernikahan Dingin Dokter Ethan

Pernikahan Dingin Dokter Ethan
Bab 19 Ethan Cemburu


__ADS_3


"Anak? Baiklah, kita bisa bicarakan di rumah," ucap Ethan.


Ainsley merasa senang mendengar semua itu, dia memeluk Ethan dengan erat namun Ethan mendorongnya pelan. Ini tempat ia bekerja dan tidak enak dengan orang lain yang melihat. Pria itu mengelus pipi Ainsley dengan lembut sembari melihat luka yang ada di wajah Ainsley. Ethan berpikir untuk memberikan mobil beserta sopir untuk Ainsley supaya wanitanya aman saat hendak kemanapun ia pergi. Ya, itu jauh lebih baik karena Ainsley tidak bisa dipaksa untuk berada di rumah.


"Aku akan urus visumnya, kita akan laporkan ke pihak berwajib," ucap Ethan.


Ainsley menggelengkan kepalanya. "Aku tidak apa-apa kok. Aku baik-baik saja, aku tidak ingin memperkeruh keadaan."


"Tapi dia sangat keterlaluan."


"Tidak perlu, aku akan berhati-hati lagi supaya tidak terjadi seperti ini. Ini semua salahku yang teledor dan terlalu polos."


Ethan paham, dia membayar administrasinya dulu lalu mengajaknya ke kantin karena sebentar lagi jam waktu makan siang. Selepas itu mereka menuju ke kantin, di sana sudah banyak pegawai rumah sakit yang bergantian untuk makan. Azam juga ada di sana, dia melihat Ainsley bersama Ethan dengan wajah yang memar padahal tadi pagi saat bertemu baik-baik saja.


"Itu dokter baru kenapa selalu bawa wanita itu? Apa wanita itu pasiennya?" tanya salah satu rekan Azam.


Azam hanya diam saja.


"Bukannya dokter baru itu mantan kekasih dari Dokter Stella? Gosipnya seperti itu, mereka sudah berpacaran 8 tahun dan putus begitu saja. Aku dengar juga wanita itu hamil duluan, makanya dokter itu mau menikahinya."


"Gosip dari mana?"


"Ini desas-desus terbaru."


Azam yang tadinya menyimak langsung memotong ucapan mereka. "Maaf, kita tidak boleh percaya pada yang namanya gosip, itu bisa salah dan menimbulkan fitnah."


Mereka menatap Azam, dokter itu memang tak pernah ikut campur urusan orang lain. Di sini dia hanya fokus bekerja dan melayani masyarakat yang membutuhkannya.


"Benar. Huh! Terkadang mulut ini jika julid tak bisa direm."


Azam memperhatikan Ethan dan Ainsley yang sudah duduk di sebelah meja mereka, Ethan memesan banyak makanan di kantin lalu kembali duduk di seberang Ains. Banyak yang tidak tahu jika Ainsley adalah istrinya, ia tak pernah malu mengakui Ainsley jika itu adalah istrinya sendiri. Ainsley itu cantik, dia manis dan mempunyai lesung pipi, rambutnya panjang sedikit kecoklatan.


"Aku pesankan kamu soto ayam, aku tinggal dulu ke atas sebentar mengambil uangku," ucap Ethan.


"Jangan lama-lama ya!" pinta Ainsley.


Ethan meninggalkan Ains, Ainsley duduk sembari menonton televisi di depannya, dia sangat senang ketika Ethan perhatian kepadanya namun ia menyadari jika pria itu terbebani olehnya. Padahal dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak merepotkan Ethan.


Stella datang membawa sebaki makanan, dia duduk di sebelah Ainsley sambil memberikan susu kotak untuknya. Ainsley berterima kasih, ia agak risih ketika Stella ada di sebelahnya.


"Ada apa dengan wajahmu? Ethan memukulmu?" tanya Stella.


"Tidak, tadi ada insiden kecil di bus," jawab Ainsley.


Stella memakan semangka yang dia beli di kantin, ia melirik Ainsley yang usianya masih terbilang sangat muda darinya.

__ADS_1


"Jujur saja sebelumnya kamu ada hubungan dengan Ethan. Sejak kapan?" tanya Ainsley.


Ainsley menatap dokter cantik itu tanpa takut sama sekali. "Sejak Dokter Stella memilih pria lain. Dokter tidak memikirkan perasaan Mas Ethan yang setia padamu bahkan sudah menjanjikanmu sebuah pernikahan. Kamu mengkhianatinya tapi tidak sadar."


Dokter Stella tertawa kecil, ia kembali menatap Ainsley dengan tatapan menantang. "Jadi kamu hanya jadi pelarian Ethan? Kenapa mau?"


"Tidak, Mas Ethan gak lari kok. Dia masih setia padaku."


Stella mengepalkan tangannya, jujur saja dia masih cinta dengan Ethan namun karena ada suatu hal ia harus menikah dengan pria lain. Stella masih tidak terima jika Ethan memilih wanita di sebelahnya ini sebagai penggantinya. Stella lekas pergi sebelum Ethan kembali dan salah sangka kepadanya, Ains tersenyum kecut dengan wanita itu.


Tak lama kemudian Ethan datang, dia duduk di sebelah Ainsley, Ainsley makan soto itu sangat lahap karena memang ia lapar sekali.


"Ains, nanti aku pulang agak lambat karena harus ke rumah ibu. Ada hal yang harus aku lakukan. Kamu nanti langsung tidur saja, jangan tunggu aku!"


"Ngapain di rumah ibu?"


"Ada suatu hal, nanti aku ceritakan."


Seusai makan, Ainsley pun pulang naik taksi yang dipesan oleh Ethan. Semua orang kagum dengan wajah tampan Ethan dan tak sedikit yang menyukainya namun gosip sudah beredar jika Ainsley adalah istrinya.


***


Malam hari di rumah orang tua Ethan.


Ethan memberikan sejumlah uang pada ibunya, ia meminta untuk dikembalikan secepatnya karena ingin membelikan mobil untuk Ainsley. Ibunya jelas kaget karena Ainsley saja tidak bisa menyetir mobil namun Ethan menjelaskan jika akan memperkerjakan sopir sekalian.


"Iya nih Mas Ethan, kayak nyonya besar saja," jawab Elina, adik pertama Ethan.


"Aku tidak bisa membiarkan Ains naik angkutan umum dalam kondisinya seperti itu. Aku juga akan beli mobil yang harganya murah saja," ucap Ethan.


Ethan lantas berdiri, dia akan pulang namun saat bersamaan Stella datang membawa banyak durian, durian adalah makanan favorit Ethan. Ibu dan anak perempuannya senang dengan kehadiran Stella walau sempat mengecewakan diawal namun Stella pandai mengambil hati mereka lagi.


"Nah, ini wanita yang pantas jadi menantu, dia perhatian, cantik, berpendidikan tapi sayang malah tidak berjodoh," ucap Ibu.


"Walau saya tidak berjodoh dengan anak Ibu tapi saya masih bisa menjadi anak Ibu 'kan?" tanya Stella.


"Kamu sudah aku anggap sebagai anak sendiri. Kita dekat dari kamu masih jaman kuliah," jawab Ibu.


Ethan memutuskan untuk pulang tapi dicegah oleh Ibu, dia menyuruh untuk membuka durian itu karena hanya dia yang di sini laki-kaki, Ayah sedang istirahat dan tak mungkin diganggu.


"Oke, akan aku bukakan dan setelah ini aku harus pulang," ucap Ethan.


Saat membelah durian itu, Elina memotret kebersamaan Ethan dan Stella yang berhadapan di depan durian. Dengan jahatnya ia mengirim pada Ainsley seolah ingin membuatnya marah dan cemburu.


Di sisi lain.


Ainsley melihat foto itu, tentu saja ia sangat sedih karena Ethan ke rumah orang tuanya untuk bertemu dengan Stella. Rasa sakit hati menyeruak hebat, ia hanya bisa menangis menghadapi semua orang yang membencinya.

__ADS_1


"Di Rusia aku bisa lebih dihargai oleh mereka tapi kenapa di sini aku malah dibenci?"


Ainsley keluar dari kamar kosnya, dia berdiri menghadap ke arah pemandangan kota yang terlihat di sana. Tak lama berselang pintu kamar sebelah terbuka karena ingin membuang sampah, ia memperhatikan Ainsley yang menangis. Sebenarnya Azam tidak mau ikut campur namun tangisan Ainsley menyayat hati.


"Ains? Ada apa?" tanya Azam.


Ainsley kaget, dia membalikkan badan ke arah Azam.


"Tak apa. Aku mau masuk dulu."


"Jika ada masalah kamu bisa cerita. Ada apa? Kamu punya kesulitan?"


Ainsley mengangguk.


"Suamimu belum pulang? Aku melihatnya tadi sudah pulang dari rumah sakit," ucap Azam.


"Dia ke rumah orang tuanya."


Azam diam sejenak, pasti ini adalah konflik antar menantu dan mertua. Azam memang belum pernah menikah namun ia sudah paham akan hal itu karena teman-temannya sering curhat.


Ponsel Ains berdering yang ternyata Ethan, Ainsley mengangkatnya dan Ethan mengatakan sudah dalam perjalanan pulang. Ainsley tidak tertarik sekali dengan kepulangannya karena sudah terlanjur kecewa. Ainsley menutup ponselnya, ia memandang ke arah Azam.


"Dokter, bagaimana cara aku biar cepat hamil? Aku mau punya anak supaya mereka jauh lebih bisa menghargaiku," tanya Ainsley sangat polos.


Azam tertawa kecil mendengar pertanyaan wanita muda di depannya itu. "Besok kamu bisa konsultasi dengan saya."


"Kenapa harus besok? Aku ingin sekarang, bayar pun tidak apa-apa. Aku ingin cepat punya anak dengan Mas Ethan."


Azam geli mendengar ucapan Ainsley pasalnya wajah Ainsley terkesan sangat polos sekali dan tidak canggung berbicara dengannya.


"Dokter 'kan dokter kandungan, bisa tidak membuat saya cepat hamil?" tanya Ainsley sekali lagi.


Azam hanya mengernyitkan dahinya, sepertinya Ains memang masih kurang paham.


"Bukan begitu konsepnya, Ains. Hahaha...kamu polos sekali," ucap Azam terus tertawa.


Melihat pria itu tertawa membuat Ainsley juga tertawa, ia senang bisa membuat orang lain tertawa dan bahagia. Mobil Ethan datang, ia melihat istrinya sedang tertawa-tawa bersama pria lain di depan kos.


"Hehehe... apa sih yang lucu?" tanya Ainsley.


"Hahaha... jika kamu tanya begitu pada dokter lain pasti akan ditertawakan juga," jawab Azam.


Ethan meremas stir mobilnya, ia sangat cemburu pada kedekatan mereka.


...****************...


Cie, Abang Ethan cemburu nih ya!!!

__ADS_1


__ADS_2