
"Kenapa? Kok nada kamu malah nyolot dan menantang kami?"
Ainsley tentu saja sangat kesal. "Aku sama seperti kalian yang sama-sama manusia."
"Kami tahu tapi yang kami heran kenapa Ethan yang tampan serta idaman para wanita diluaran sana malah memilih wanita kurang sepertimu?"
Ethan datang disaat waktu yang tepat. Dia mendengar semuanya dan melihat Ainsley tak berkutik lalu terpojok.
"Aku datang ke sini membawa istriku untuk diperkenalkan pada kalian bukannya malah dicaci maki seperti ini. Kalian memang sangat keterlaluan sekali," ucap Ethan.
Ethan menarik Ainsley untuk keluar dari sana, ia sangat kesal pada teman-temannya yang meremehkan sang istri. Ainsley menjadi diam, dia malah merasa kasian dengan Ethan karena gara-gara dirinya malah menjadi seperti ini.
Ethan membuka pintu mobil untuk Ainsley namun Ainsley malah diam saja sembari memainkan jemari tangannya.
"Kenapa tidak masuk?" tanya Ethan.
"Gara-gara aku Dokter Ethan malah diremehkan," jawab Ainsley.
"Mereka yang keterlaluan dan kamu tak perlu menyalahkan diri sendiri."
Ainsley menangis, dia tentu saja merasa dirinya tak pecus membuat suaminya bangga. Ethan menghela nafas panjang, dia menarik Ainsley masuk ke dalam cafe itu lagi lalu membawa ke depan teman-teman mereka.
"Aku ingin kalian meminta maaf pada Ainsley. Gara-gara ucapan jahat kalian istriku menangis," ucap Ethan.
Mereka saling memandang lalu salah satu dari mereka membuka suara.
"Kami minta maaf, tak seharusnya kami seperti itu."
Ainsley mengangguk sambil mengelap air matanya, dia adalah anak yang baik dan bisa memaafkan kesalahan orang lain dengan mudah. Stella melihat Ethan yang membela Ainsley, sudah tahu sifat Ethan yang akan membela wanitanya jika direndahkan orang lain termasuk dirinya kala itu yang selalu diremehkan saat bersanding dengan Ethan.
Ainsley tersenyum setelah mengusap air matanya, mereka mengajak Ainsley untuk duduk lagi dan melanjutkan makan. Ainsley tentu saja mau padahal Ethan sudah menolaknya.
"Jadi Ainsley kerja di mana? Umur berapa?"
"Aku jadi guru TK. Aku masih 20 an."
"Maaf ya salah satu ucapan teman kami sampai membuatmu menangis."
__ADS_1
Ainsley mengangguk, dia tak masalah dan berharap bisa dekat dengan mereka. Ethan sudah tidak enak dengan situasi ini karena masalah tadi, dia mengajak pulang apalagi di sini ada Stella yang membuatnya canggung.
"Oke jika begitu, sudah malam dan kami akan pulang," ucap Ethan.
"Tunggulah! Buru-buru amat."
Ethan menarik Ainsley lalu mereka berpamitan bersama-sama. Teman-temannya sekali lagi meminta maaf atas sikap mereka tadi, Ainsley tersenyum ia bukanlah orang yang pendendam dan melupakan kejadian semua itu.
Mereka keluar dari cafe dan masuk ke dalam mobil. Ethan memperhatikan wajah Ainsley yang berseri-seri. Untung saja dia tak kenapa-napa dan masih bisa mengendalikan diri.
"Mau ke mana?" tanya Ethan.
"Terserah dokter deh tapi tadi katanya pulang?"
"Hanya alasan saja supaya tidak berada di sana. Aku menyesal membuatmu terluka bahkan sampai menangis."
Ainsley menggelengkan kepalanya, dia menjelaskan jika sudah tak ingin mengingatnya lagi karena yang lalu biarlah berlalu. Tak enak jika untuk diingat-ingat karena itu akan menyakitkan, sama seperti halnya dengan hubungan Ethan dan Stella, mereka sudah tidak ada hubungan apapun lebih baik saling melupakan karena Ainsley tadi melihat tatapan Ethan ke Stella begitu berbeda.
"Dokter, kita keliling dulu yuk! Lama aku tidak berkeliling ibu kota ini semenjak tinggal di Rusia. Oh ya jujur saja aku rindu dengan Rusia yang punya cuaca dingin, aku juga rindu Kak Darren."
"Ainsley, aku janji akan mengajakmu ke sana lagi."
Ainsley mengangguk kecil. "Terima kasih, dokter."
"Dokter?"
"Ainsley, jika diluar aku bukan seorang dokter. Panggil namaku atau kamu boleh panggil mas saja! Itu jauh lebih baik."
"Aku agak canggung memanggilmu itu, enak dokter karena memang kamu dokter. Siapa tahu aku jadi pasienmu."
Ethan menyentil mulut Ainsley, Ainsley mengelusnya dengan pelan dan kesal pada Ethan yang asal main menyentilnya.
Ethan meminta maaf karena tadi ia hanya refleks saja, untung saja Ainsley tidak marah dan malah mencium pipi Ethan.
Deg!
Jantung Ethan berdetak sangat kencang, dia merasakan sensasi yang tak biasa saat dicium oleh Ainsley.
"Tolong jangan asal main menciummu dalam keadaan sedang menyetir seperti ini! Kamu bisa saja membuat kita kecelakaan."
__ADS_1
"Kok bisa?" tanya Ainsley heran.
Ethan tak menjawab karena dia merasakan sensasi yang luar biasa saat dicium wanita itu. Apa mungkin dia sudah tertarik pada Ainsley? Tidak mungkin! Hati Ethan masih untuk Stella.
Ethan terus fokus pada pandangannya ke depan. Jalanan lambat laun semakin senggang jadi dia bisa melajukan mobilnya agak cepat. Ainsley melihat permen kapas yang ia inginkan tadi dan cepat meminta Ethan membelikannya. Ethan mencari tempat parkir dan setelah ketemu mereka turun dari mobil.
Melihat segumpalan permen kapas membuat hati Ainsley senang dan tentram apalagi warna merah muda adalah kesukaannya.
"Aku mau dua boleh?" tanya Ainsley.
"Ambil saja!" pinta Ethan.
Ainsley mengambil dua permen kapas yang sudah dibungkus lalu Ethan membayarnya. Selepas itu mereka mencari tempat duduk dan mereka duduk di salah satu bangku taman. Ainsley membukanya dan memakannya, Ethan memperhatikan wanita itu dengan lekat dan mulai merasa jika Ainsley itu cantik.
"Ains, apa kamu punya dokter pribadi?" tanya Ethan.
"Punya, yaitu Dokter Ethan," jawab Ainsley.
"Bukan, dokter pribadi seperti pskiater."
Ainsley menggelengkan kepalanya. "Aku bukan orang gila atau depresi jadi tidak punya."
Ethan mengusap pipi wanita itu dengan lembut, ia tahu jika Ainsley berusaha mengimbanginya dan tidak ingin ia malu dihadapan semua orang.
"Jika ada orang yang menghinamu lagi maka bilang saja padaku! Aku yang akan membelamu pertama kali," pinta Ethan.
"Benarkah? Janji?"
Ethan mengangguk kecil.
"Jika diposisi yang sama dengan Stella maka dokter akan lebih dulu membela siapa? Aku atau Stella?" tanya Ainsley.
Dahi Ethan berkerut. "Kenapa tanya begitu? Yang jelas aku akan membelamu karena kamu itu istriku. Sejak kemarin 'kan aku selalu membelamu ketika kamu dihina."
Ainsley tersenyum senang dia memandang Ethan dengan lekat sampai pria itu salah tingkah. Ethan memalingkan wajahnya karena makin lama dipandang ia menyadari wajah Ainsley sangat cantik sekali. Pipinya memerah dan merasakan getaran yang hebat.
"Aku kayaknya cinta sama Mas Ethan," ucap Ainsley lalu membuat Ethan menoleh ke arahnya.
"Cinta?"
__ADS_1
Ainsley mengangguk sambil mengunyah permen kapas. "Iya, cinta. Aku cinta Mas Ethan. Itu yang aku rasakan saat ini."
...****************...