
Ethan dan Ainsley mengadakan syukuran atas kehamilan Ainsley di sebuah cafe modern. Ethan sudah membokingnya supaya orang lain tidak ada yang mengganggu momen ini. Bucinnya Ethan sudah terlihat jelas bahkan dia terus mengusap perut Ains dengan gemas. Tak ada yang bisa mengekspresikan rasa bahagianya karena ia sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah.
Azam tersenyum senang melihat pasangan itu apalagi Ainsley yang dicintai apa adanya oleh Ethan. Makanan pun sudah datang, mereka berdoa terlebih dahulu lalu memakannya bersama-sama. Teman-teman kos sangat senang sekali dengan makan gratis kali ini karena sebagai anak kos langka sekali mendapat momen ini.
Di kos itu memang bebas namun bukan berarti memperbolehkan pasangan non halal untuk tinggal bersama, bebas dalam artian penghuninya dari semua jenis kelamin dan berbagai profesi dan kebanyakan anak kuliahan karena disitu juga dekat dengan salah satu universitas ternama.
Ethan menyuapi Ainsley, Ainsley menggelengkan kepalanya karena tidak suka daging sapi. Dia kapok makan daging tersebut karena bisa menyangkut di sela-sela gigi. Ains tidak mau itu terjadi lantas menutup mulutnya dengan kedua tangan layaknya anak kecil.
"Ains, ayo buka mulutnya! Daging ini empuk dan bagus untuk kandunganmu."
Ainsley menggelengkan kepalanya.
"Ayolah! Kasian dedek bayi jika tidak makan daging. Semua ini untuk kebaikan dedek bayi," ucap Ethan.
"Jadi bagus untuk dedek bayi?" tanya Ainsley yang polos.
Ethan mengangguk membuat Ainsley mau memakannya, membujuk Ains memang sangat mudah dilakukan.
Mereka mengobrol sambil makan menceritakan aktivitas masing-masing. Rupanya Azam tak begitu mengenal mereka karena ia jarang berkumpul. Dia hanya diam saja sambil mendengar cerita sementara Ethan sebaliknya, dia sangat pandai berbaur dengan yang lain.
"Dosen kami kampret banget, susah banget ditemuinnya. Kalo gak dibutuhin malah ada," keluh salah satu anak kos.
"Gue bodo amat sama dosen, males kagak jelas," keluh yang lain.
Ethan menyahut. "Jika sudah kuliah memang kalian yang harus lebih aktif mencari dosennya. Tidak seperti anak sekolah yang bolos beberapa hari aja sudah dicariin guru BP."
Mereka bersama-sama menatap Ethan yang masih asyik menyuapi Ains.
"Dokter Ethan jadi bisa Bahasa Rusia yang sulit itu?"
Ethan mengangguk. "Ains saja bisa dan sangat pandai."
"Kok bisa merantau di sana kenapa? Jauh sekali."
Ethan tersenyum kecil, dia menjelaskan hanya iseng ikut kakak dari Ains saja apalagi di sana gajinya sangat besar. Ethan sampai merelakan untuk LDR dengan mantan kekasihnya dan ketika pulang malah membuatnya terluka.
__ADS_1
"Jadi Ains ini adik dari sahabat Dokter Ethan?"
"Iya, Ains adik dari sahabatku dan aku mendapat amanah untuk menjaganya dengan baik."
Mereka salut dengan Dokter Ethan karena mau menikahi gadis autis. Jika orang lain pasti menolak tentu saja tidak bagi Ethan selama Ainsley baik dan manis.
Mereka lalu melanjutkan obrolan sampai malam hari dan Azam baru merasakan yang namanya kehangatan seperti ini. Azam adalah orang yang introvert, dia jarang berkomunikasi dengan orang lain kecuali pasiennya sendiri. Di sini dia juga perantau dan tidak terlalu kenal dekat dengan orang lain sampai Ethan dan Ainsley menjadi tetangga kosnya yang begitu baik barulah ia menyadari pentingnya berinteraksi dengan yang lain.
Keesokan harinya.
Ethan membuatkan susu untuk Ains, kemarin dia langsung membeli susu hamil di apotek atas saran dokter kandungan langsung, siapa lagi jika bukan Azam.
"Hueeeek...."
Ains masih mual-mual di dalam kamar mandi, Ethan menghampirinya lalu menepuk punggungnya dengan perlahan. Dia tahu jika hamil muda pasti akan tersiksa dengan namanya morning sickness. Setelah selesai, Ainsley keluar dari kamar mandi. Ethan menyodorkannya susu hamil, Ainsley lantas meminumnya dan malah semakin mual saja.
"Hueeek... amis sekali."
"Ains, tutup hidungmu dan habiskan ini! Ini baik untuk bayi kita."
"Jadi baik untuk bayi kita?"
"Nanti jam 9 datang ke rumah sakit ya? Naik taksi saja bisa 'kan? Jangan naik bus!"
"Iya, aku akan ke sana. Mas Ethan mau nganter Ains periksa?"
Ethan tentu saja mengangguk. Dia akan mengantar Ains perdana untuk memeriksakan kandungan. Mereka sudah membuat janji dengan Azam jam 9 nanti di rumah sakit tempatnya bekerja.
Melihat Ainsley berwajah pucat tentu saja membuat Ethan menjadi tidak tega.
"Andai saja aku bisa libur pasti akan kutemani kamu sampai malam," ucap Ethan.
"Tak perlu, mas! Aku bisa sendiri kok. Sebelumnya aku sendiri 'kan? Sudah sana berangkat bekerja nanti kamu terlambat!" jawab Ains.
Ethan mengecup pipi Ainsley dengan lembut lalu mengusan kepalanya. Mungkin dia sudah merasakan yang namanya jatuh cinta pada istri sendiri dan segitu bucinnya pada Ainsley. Ethan lalu mandi sedangkan Ains menyiapkan pakaiannya.
Setidaknya Ethan sudah melupakan Stella yang menghancurkan perasaannya saat itu. Biarkan yang lalu begitu saja dan berganti saat ini yang menyenangkan bersama Ainsley seorang.
__ADS_1
Ketika selesai mandi, Ethan memakai pakaian yang disiapkan sang istri tercinta. Ethan menatap Ainsley yang mengancingkan kemejanya. Ains mendongak ke arah pria yang tinggi tersebut.
"Ada apa?" tanya Ainsley.
"Mas bahagia sekali," ucap Ethan.
"Aku juga bahagia. Sudah selesai? Mas Ethan harus cepat berangkat nanti terlambat."
Ethan mengangguk, dia mengambil tasnya lalu keluar dari kosnya dan diantar Ainsley.
Sesudah sampai di depan mobil, Ains mencium punggung tangan Ethan dengan mesra.
"Nanti jangan lupa jam 9 mas tunggu di sana."
"Oke. Hati-hati dijalan! I love you."
"Love you too."
Ains melambai ke arah mobil Ethan yang pergi menjauh meninggalkan tempat kos. Ainsley lantas naik ke lantai dua untuk kembali ke tempat kosnya namun Ibu mertuanya datang tepat di saat Ethan sudah pergi.
"Ains, ibu mau bicara padamu."
Ains mengajak beliau masuk ke dalam kos, beliau kali ini menunjukan wajah sedihnya. Ains pun bingung karena tak seperti biasanya Ibu mertua seperti ini.
"Ains, Ibu mau minta bantuanmu untuk meminjamkan sertifikat rumah milik Ethan. Ibu sedang terjerat hutang bahkan Ayah kalian tidak tahu. 1 bulan saja dan Ibu akan tebus sertifikat itu lagi," ucap Ibu.
"Ibu, maaf. Aku tidak tahu masalah rumah Mas Ethan. Mas Ethan saja tidak pernah mengajakku ke rumahnya dan dia tak pernah membahas rumah," jelas Ains.
"Masak kamu istrinya belum tahu masalah rumah itu? Sebenarnya Ethan anggap kamu istri atau gimana sih?"
Ains hanya diam saja, ia pun juga tidak peduli pasal rumah suaminya yang masih direnovasi.
"Oh ya, kamu sendiri ada tabungan?" tanya Ibu.
Ains mengangguk. Dia punya uang asuransi milik kakaknya dan uang tabungan milik kakaknya juga.
"Berapa?" tanya Ibu kepo.
__ADS_1
"1,2M. Tapi itu punya Kak Darren. Tabunganku sendiri masih 80 juta," jelas Ains.
...****************...