
Kini Ethan dan Ainsley hanya berdua saja setelah Jasmine pulang dari apartemennya. Karena Ethan lapar wanita itu lantas membuatkan makanan untuk suami tampannya.
Perjalanan sangat melelahkan jadi Ethan hanya duduk di depan televisi yang sedang menyala. Dari depan televisi ia melihat Ainsley berada di dapur, ia memperhatikan bentuk tubuh Ainsley yang semakin semok. Ethan tergerak untuk mendekatinya lalu memeluknya dari belakang.
"Eh... Mas Ethan sudah kelaparan ya? Pancakenya hampir matang, tunggu!" ucap Ainsley.
Ethan hanya diam saja dan mengelus perut Ainsley yang sudah mulai sedikit buncit. Di dalam perut itu ada anak mereka dan hasil dari buah cinta mereka. Wajah Ethan dibenamkan pada tengkuk leher sang istri, pria itu menghirup setiap senti aroma yang dihasilkan wanita tersebut. Sangat wangi parfum baru Ainsley serta menberikan kesejukan batin bagi Ethan yang merindukan belaian. Semakin lama Ethan semakin terbuai, dia bisa merasakan di bawah sudah menegang sejak tadi. Tentu saja dia lapar, bukan hanya lapar di perut tapi juga lapar di bawah perut.
"Mas, kenapa?" tanya Ainsley mendengar suara nafas Ethan yang berat.
"Tak apa, kamu memabukkan," jawab Ethan.
Ainsley kaget karena ia mendengar kata mabuk dan langsung menghadap Ethan yang sudah naik ke awang-awang.
"Mas mabuk? Minum apa memangnya? Seorang dokter 'kan tidak boleh mabuk," ucap Ainsley.
"Mas mabuk karenamu, kamu seksi sekali dan sangat cantik. Mas boleh minta sekarang?" tanya Ethan.
Ainsley menatap wajah Ethan yang sudah lain, Ethan tidak mau menunggu Ainsley lalu mematikan kompor dan mengangkat Ainsley ke atas ranjang. Setelah mereka sama-sama diatas lalu saling berpandangan melepas kerinduan yang sudah jauh menggebu-gebu. Ainsley rindu Ethan dan juga sebaliknya. Gejolak gairah ini sudah tidak tertahankan lagi bahkan suhu udara juga mulai memanas.
Cup!
Bibir Ethan sudah menempel sempurna lalu ia memasukkan lidah ke dalam bibir Ains-nya. Semuanya terjadi begitu saja secara alami bahkan semuanya menyatu seiring berjalannya waktu. Ainsley mengikuti gerak permainan Ethan yang sudah memasukkan lidah ke dalam mulutnya. Dua lidah itu berayun seolah sedang menari-nari sampai rasanya menjadi nikmat.
Ethan mengangkat tubuh Ainsley untuk duduk di pangkuannya namun lidah mereka masih menyatu dan bermain-main. Sudah berminggu-minggu mereka tidak melakukan ini dan membuat mereka semakin candu. Mereka terus melakukan itu sampai tangan Ethan mencoba menanggalkan apa yang dipakai Ainsley saat ini. Begitulah mereka melepaskan kerinduan sampai mereka benar-benar saling puas.
***
Ainsley dan Ethan selesai mandi, mereka lalu makan bersama-sama menikmati pancake buatan Ainsley. Wajah Ainsley benar-benar sangat cantik dan terawat bahkan membuat Ethan semakin suka dengannya.
"Mas, lihat mataku!" ucap Ainsley sambil menarik wajah Ethan untuk menghadap wajahnya.
Ethan menatap wajah Ainsley.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Mataku sudah mendingan 'kan? Sudah tidak juling?"
Ya, mata Ainsley juling di sebelah kanannya dan tidak bisa fokus ke tengah. Ethan hanya diam saja karena tidak mau membahas hal itu.
"Ainsley melakukan terapi mata supaya tidak juling lagi dan bertambah cantik untuk Mas Ethan. Mas Ethan itu dokter hebat dan harus punya istri yang hebat juga terutama dalam hal penampilan," jelas Ainsley.
Ethan memperhatikan wajah Ainsley dengan lekat, ia tak pernah memandang istrinya seperti itu dan tidak pernah mempermasalahkan kondisi Ainsley.
"Kamu tak perlu merubah diri menjadi sesempurna mungkin karena Mas tidak pernah menuntut aneh-aneh. Mas suka kamu apa adanya dan percaya diri seperti dulu," jelas Ethan.
Wajah Ainsley menjadi sedih. "Tapi bukan semata-mata ini untuk mas, Ains juga ingin normal kayak perempuan lain, penglihatan Ains yang juling ini juga mengganggu. Selama ini Ains juga tidak peduli tapi makin lama semakin mengganggu bahkan minusnya juga bertambah tinggi."
Ethan malah tidak tahu masalah itu karena ia pikir selama ini penglihatan Ainsley baik-baik saja. Dia memperhatikan mata kanan Ains-nya yang juling ke arah kiri mata, pasti sangat membuat Ainsley tidak nyaman.
"Minus berapa?" tanya Ethan.
"Minus 5, jika Ains tutup mata kiri maka buram sekali dan tidak bisa melihat apa-apa. Yang kiri masih normal namun yang kanan bermasalah," jawab Ainsley.
"Rambutmu basah sekali, mau Mas keringkan?" tanya Ethan.
Ainsley mengangguk, dia mengambil pengering rambut lalu memberikannya pada Ethan. Ethan mengeringkan rambut Ainsley sedetail mungkin dan istrinya duduk di lantai. Suaminya sangat suka dengan rambut Ainsley yang tebal serta terawat.
"Dulu Mas Darren juga suka mengeringkan rambutku bahkan juga mengikat rambutku," ucap Ainsley.
"Benarkah? Sekarang dia pasti bangga padaku karena bisa menjaga adiknya dengan baik. Kapan-kapan kita ke makamnya, mas kangen Darren," jawab Ethan.
Ainsley mengangguk, dia terus menikmati sentuhan tangan Ethan yang ada di rambutnya. Ethan juga memberi pijatan kecil supaya Ainsley bisa rileks, pria itu lantas mengingat perhiasan yang diberikan keluarganya untuk Ainsley. Wanita itu pasti sangat senang dan pasti suka karena mereka sudah menganggap Ainsley sebagai keluarga.
Ethan bangun dari tepi ranjang, kakinya melangkah ke arah koper yang masih berdiri tegak di pinggir tembok. Tangannya membuka koper tersebut dan ia lupa jika tergembok. Ethan mencari kuncinya namun sayangnya dia lupa ada di mana. Panik, satu kata yang tepat untuk saat ini. Bagaimana bisa kunci kopernya tidak ada dan menghilang tanpa jejak.
"Ada apa?" tanya Ainsley.
"Kunci gembok koper mas hilang," ucap Ethan.
__ADS_1
"Di kantong?"
Ethan menggelengkan kepala karena tidak ada dan dia lantas berlari ke kamar mandi untuk mencari di pakaian kotornya.
****!
Tidak ada sama sekali dan kunci kopernya benar-benar hilang.
"Mas kenapa bisa rolingdor?" tanya Ainsley.
"Rolingdor? Teledor? Huh! Jelas-jelas mas sudah masukkan ke dalam kantong. Mas banyak membawa barang berharga maka dari itu mas harus gembok kopernya," jawab Ethan panik.
Sepandai-pandainya orang jika panik maka akan menjadi bodoh seperti Ethan, dia tidak bisa berpikir jernih dan malah mondar-mandir tidak jelas. Ains menghela nafas panjang, dia mengambil bolpoin lalu menusuk resleting tersebut sampai terbuka. Dirgam mengernyitkan dahinya, itu bukan sebuah solusi melainkan malah merusak kopernya. Benar saja jika resleting koper itu terbuka namun malah menjadi rusak.
"Ains, koperku menjadi rusak. Seharusnya bisa dibawa ke tukang kunci untuk membukanya," ucap Ethan.
"Mas malah mondar-mandir tidak jelas tapi tidak bisa mencari solusi," jawab Ainsley.
Ethan diam, dia pun bingung malah mendadak menjadi bodoh. Sampai suatu ketika dia mengingat kunci cadangannya yang ada di dompet. Ketika membeli gembok pasti ada kunci cadangannya. Kenapa Ethan malah tidak mengingat itu? Ainsley pun geram pada Ethan sementara pria itu hanya menggaruk tengkuk lehernya saja karena ia merasa bodoh.
Ainsley lantas menggelitiki tubuh Ethan sambil tertawa-tawa, Ethan meminta ampun namun mereka malah sama-sama terjatuh ke ranjang. Mereka saling menggelitiki satu sama lain dan menikmati momen yang sudah lama tidak dirasakan seperti ini sampai suatu ketika mata Ethan melihat sesuatu di dinding. Dia menghentikan canda tawanya dengan Ainsley lalu beranjak menghampiri benda tersebut. Benar saja, itu adalah alat vibrator. Dia mengambilnya dan memperlihatkan pada Ainsley.
"Ainsley sayang, kenapa kamu punya ini?" tanya Ethan heran.
"Ini bukan punya Ains tapi punya Jasmine. Emang kenapa?" tanya Ainsley.
"Kamu tahu apa alat ini?"
Ainsley mengangguk. "Buat nyanyi. Jasmine selalu bawa itu ke kamar mandi dan dia di dalam kamar mandi suka nyanyi-nyanyi gak jelas."
Ethan menepuk jidatnya sendiri mendengar ucapan Ainsley—isteri polosnya itu.
...****************...
Reader's, malam nanti tambah ga nih update nya? Hehehe
__ADS_1