Pernikahan Dingin Dokter Ethan

Pernikahan Dingin Dokter Ethan
Bab 29 Pemeriksaan Perdana


__ADS_3


Selamat Menikmati Kisah Ethan dan Ainsley


.


.


.


Ibu tersenyum menyeringai. Diam-diam Ainsley punya uang banyak dan lagi pula kakaknya juga sudah tiada. Ibu harus membujuk menantunya itu untuk meminjamkan uang padanya apalagi Ainsley sangat polos sekali.


"Pinjamkan ibu 500 juta. Ibu akan kembalikan saat ada uang nanti."


"Gak boleh. Itu punya kakakku."


"Ains, ibu ini ibumu juga. Ibu bukan orang lain dan kamu harus percaya pada ibu. Ibu akan memperlakukanmu dengan baik asal kamu mau pinjamkan uang tersebut."


Ains bingung, uang itu adalah milik kakaknya. Darren tak pernah bilang apa-apa mengenai uang itu dan hanya bilang supaya digunakan Ainsley saja setelah Darren tidak ada.


500 juta itu uang yang banyak apalagi itu tabungan milik Darren yang hendak dipakai untuk menbangun rumah di Jakarta.


"Aku mau izin pada Mas Ethan dulu."


"Kenapa harus izin Ethan? Itu uang bukan milik Ethan. Kenapa kamu jahat sekali pada ibu mertuamu?"


Ains semakin terpoiok iuiur saia jika masalah uang ia sangat sensitif sekali bahkan sangat hati-hati.


"Apa ibu harus bilang jika rumah yang sedang dibangun Ethan sebenarnya untuk Stella? Makanya Ethan tidak memberitahumu masalah rumahnya itu. Ethan dan Stella sudah punya hubungan 8 tahun. Segitu cintanya Ethan pada Stella sampai hendak dibangunkan untuk mereka tinggal. Ibu akan menyuruh Ethan untuk poligami saja. Ibu malah lebih suka Stella yang baik ketimbang kamu yang pelit," cerca Ibu sambil keluar dari kos.


Ains semakin bingung, dia ikut keluar dari kamar kosnya. Ibu masih saja mengoceh karena tidak dipinjami uang sama sekali oleh Ains.


"Memangnya bisa ya bu jika Mas Ethan nikah lagi? Kan Mas Ethan sudah menikah denganku," tanya Ainsley.


"Bisa dong! Ethan bisa menikah lagi untuk kedua kalinya dengan wanita lain. Jika tidak dengan Stella maka ibu akan jodohkan dengan wanita lain, ibu akan cari menantu dengan profesi model atau pramugari."


Ains semakin tertusuk. Hormon ibu hamilnya membuatnya seketika menjadi sedih tidak terkendali. Ibu lantas pergi dari sana tanpa mendapat uang sepeserpun dari menantunya itu.


Saat sudah sampai di lantai bawah, Ibu mendongak lagi melihat Ainsley.


"Ains, jangan harap ibu membukakan pintu rumah untukmu! Jangan pernah datang ke rumah ibu!"


Ibu pergi dan air mata Ains menetes. "Ibu, maaf. Aku tidak bisa meminjamimu uang," teriak Ains.


"Jangan jadi menantuku!"

__ADS_1


***


Ains datang ke rumah sakit dalam keadaan lemas, dia menunggu di ruang tunggu sembari menunggu nomor antrian. 10 menit kemudian Ains dipanggil dan Ethan belum datang juga. Pada akhirnya Ains konsultasi sendiri, ia memaklumi suaminya yang sedang menangani pasiennya.


"Ibu Ains, suaminya mana?" tanya Azam.


"Mungkin sedang sibuk."


Azam menulis nama Ainsley di buku perkembangan ibu dan anak yang berwarna merah muda. Dia juga menghitung berapa usia kandungan Ains menurut tanggal menstruasi terakhir Ains.


"Dokter Azam, jika tidak didampingi suami tidak apa-apa 'kan? Soalnya aku lihat ibu-ibu yang lain membawa suaminya," ucap Ainsley kepikiran sejak tadi.


"Tak masalah, saya tahu suamimu juga pasti sibuk menangani pasiennya. Oh ya, menurut tanggal menstruasi Bu Ainsley perkiraan usia kandungan sekitar 2 minggu. Masih sangat muda sekali dan resiko keguguran sangat tinggi. Maka dari itu Bu Ainsley jangan sampai kelelahan atau punya beban pikiran," jelas Azam.


Ains melamun lagi tidak mendengarkan ucapan dokter tampan tersebut. Azam berdehem lalu Ainsley sadar dari lamunannya.


"Ehem... ada apa?" tanya Azam.


Ains menggelengkan kepalanya.


"Silahkan berbaring di atas tempat tidur sana. Saya akan lakukan USG," pinta Azam.


Suster membantu Ainsley untuk berbaring di atas sana. Azam mengambil gel lalu meminta maaf jika akan menaikkan kaos yang dipakai Ainsley.


"Jangan! Aku ingin suster saja yang melakukan USG padaku. Dokter Azam laki-laki dan aku malu."


Azam memahami hal itu, ia menyuruh susternya untuk membantu melakukan USG dan selepas itu terlihat ada janin yang masih mungil berada di layar monitor.


"Janinnya tunggal jadi hanya satu saja," jelas Azam.


Ains melamun lagi tidak fokus pada ucapan pria itu. Malah suster yang memarahi Ains.


"Bu, tolong hargai dokter kami! Ketika beliau menjelaskan harusnya di dengar! Jika ada apa-apa nanti dokter kami yang disalahkan," ketus suster tersebut.


"Eh, tidak apa-apa. Ains, mau dicetak sekalian hasil USG-nya?" tanya Azam.


Ainsley mengangguk, ucapan ibu mertuanya membuatnya tidak tenang bahkan seolah ingin menangis. Benar saja jika Ainsley menangis tatkala turun dari tempat tidur.


"Ada apa, Bu Ainsley?" tanya Azam.


Ains menggelengkan kepalanya. "Tak apa."


Azam mengira Ains menangis karena Ethan tidak menemaninya di pemeriksaan perdana kehamilan Ainsley.


Azam menuliskan resep obat dan vitamin yang harus ditebus Ains nanti.

__ADS_1


"Bu Ainsley, saya resepkan beberapa obat dan vitamin untuk anda. Jangan lupa nanti diminum setiap hari!" ucap Azam.


"Terima kasih Dokter Azam."


Ains keluar dari sana sementara Azam memperhatikan dengan kasian. Disaat ibu hamil lain diantar pasangannya namun tidak bagi Ainsley, dia harus datang sendirian sampai sedih seperti itu.


10 menit kemudian, Ethan masuk ke dalam ruangan Azam. Dia mencari keberadaan Ainsley namun sudah tidak ada.


"Maaf, Ains sudah datang?" tanya Ethan.


"Sudah keluar sekitar 10 menit yang lalu," jawab Azam.


Ethan mengusap wajahnya kasar, dia terlambat karena ada urusan mendadak mengenai pasiennya sendiri. Azam menjelaskan jika Ainsley sedih bahkan tidak konsentrasi saat diterangkan panjang lebar.


"Kenapa tadi tidak disuruh menungguku sebentar? Kenapa kamu malah langsung memeriksanya tanpa aku?" tanya Ethan malah menyalahkan Azam.


"Maaf Dokter Ethan, antrian terus berjalan jadi kami tak bisa mengulur waktu," jawab Azam.


Ethan lantas keluar dari ruangan itu dan mencari keberadaan Ainsley yang mungkin saja masih ada di sekitar sana. Ethan masih memakai jas dokternya mencari ke sana kemari malah tidak ketemu. Ethan berusaha menelpon namun Ainsley tidak mengangkatnya.


"Mas Ethan?" ucap Ainsley dari belakang.


Ethan menoleh, dia menghela nafas panjang dan meminta maaf karena terlambat. Ains tak masalah karena dia paham jika Ethan masih di jam kerja.


"Bagaimana konsultasinya tadi? Hamil berapa bulan?" tanya Ethan.


"2 bulan kata Dokter Azam," jawab Ainsley.


Wanita itu memang kurang mendengarkan penjelasan Azam. Ethan pun cukup heran karena ia menikahi Ainsley belum sampai dua bulan. Ethan membaca buku pink tersebut lalu melihat resep obat yang dia ambil di tangan Ains.


"Ini obat apa saja kamu tidak tanya juga?"


Ains menggelengkan kepalanya.


"Jadi kamu konsultasi ngapain aja? Hanya manggut-manggut tapi tidak paham? Kamu tidak tanya cara meredamkan morning sickness yang membuatmu tersiksa setiap pagi?" tanya Ethan.


Ainsley hanya diam saja karena dia sedang tidak berkonsentrasi karena ucapan ibu mertuanya.


"Ains, kamu itu bayar jadi manfaatkan kesempatan kamu untuk berkonsultasi. Kamu juga harus minta vitamin dan obat yang paling bagus untuk kandunganmu."


Ethan menarik tangan Ainsley untuk berkonsultasi lagi. Dia mengambil nomor antri dan untung saja pasien hari ini tidak terlalu banyak. Setelah namanya dipanggil, Ethan dan Ainsley masuk ke dalam.


"Dokter Azam, bisa ulangi lagi konsultasinya? Aku juga minta obat dan vitamin yang paling bagus untuk kandungan istriku. Kamu malah memberinya obat generik," ucap Dokter Ethan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2