
...profiter de l'épreuve ~...
.
.
Reena mengantar Ainsley pulang ke kos, dia meminta maaf karena sudah membuat Ainsley dimarahi oleh Ibu mertuanya karena keluyuran di mall. Ains malah berterima kasih karena Reena sudah baik kepadanya, Reena senang bisa bertemu dengan Ains, di berjanji akan mengajak Ainsley pergi lagi jika ada waktu.
Setelah Reena pulang, Ains masuk ke dalam kamar kosnya, dia membuka semua barang-barang yang dibelikan oleh Reena. Ains berhutang budi pada Reena, dia juga berniat untuk mengganti uang tersebut suatu saat nanti.
"Masih ada orang baik disekitarku," gumam Ainsley sangat senang.
Ainsley menyimpan semua barang-barang itu lalu memilih tidur siang karena dia sangat kelelahan berkeliling mall selama berjam-jam. Dalam mimpinya ia bertemu dengan orang tuanya serta dengan Darren, mereka sedang duduk di teras rumah mereka dulu sambil bercengkrama. Ainsley hanya bisa melihat mereka dari luar dan tidak bisa masuk ke dalam sana karena ada pagar tinggi yang menghalangi.
Ainsley menggedor pagar tersebut namun apalah daya mereka seolah tidak mendengar sama sekali dan masih asyik bercengkrama. Ainsley berteriak memanggil nama mereka namun mereka masih fokus pada pembicaraan masing-masing.
Ainsley melihat sisi pagar yang sepertinya bisa dibuka, ia berusaha membuka kuncinya lalu ternyata pagar itu memang bisa dibuka, Ains masuk dengan senang namun ia tidak melihat mereka ada di sana. Ains mencari ke sana kemari namun mereka sudah menghilang lenyap begitu saja. Ains berteriak memanggil nama mereka namun mereka tidak menyahut sama sekali dan benar-benar menghilang. Ains menangis sedih sambil berjongkok, dia ditinggal oleh keluarganya dan kini ia sendirian seorang diri tanpa ada yang menemani.
Tangisan Ainsley semakin ngilu sampai ia merasakan ada yang menepuk-nepuk pipinya yang ternyata adalah Ethan. Ains kaget dan langsung terbangun dari mimpinya, keningnya berkeringat dengan nafas yang ngos-ngosan. Ethan duduk sembari menangkup wajah Ains, dia tahu jika Ainsley sedang bermimpi buruk.
"Ada apa, sayang?" tanya Ethan.
Ains menggelengkan kepalanya, dia melihat ke arah jendela yang ternyata sudah mulai petang. Ternyata Ainsley sudah tidur berjam-jam sejak tadi siang, ia bahkan belum mandi.
"Sore-sore seharusnya tidak boleh untuk tidur. Jadinya begini 'kan malah mimpi buruk?" ucap Ethan.
Ethan mengajak Ainsley untuk mandi bersama mumpung dia belum mandi juga. Ya, Ethan memang baru saja pulang dari bekerja. Seharian ia banyak mengurus pasien karena rekan dokternya tidak berangkat. Mereka masuk ke dalam kamar mandi bersama-sama namun Ethan lupa jika tidak ada bathup untuk mandi bersama ala film-film romantis. Otomatis mereka mandi hanya menggunakan gayung dan itu pun untuk bergantian.
"Mimpi apa tadi sayang?" tanya Ethan pada Ainsley.
"Mimpi yang aneh, tadi aku bermimpi bertemu dengan orang tuaku serta kakakku, mereka bercengkrama di depan teras rumah kami namun saat aku panggil mereka dari luar tidak menyahut. Ketika aku membuka pagar rumah kami mereka menghilang begitu saja," jawab Ainsley sambil memakai sabun.
Ethan membantunya untuk menyabuni area tubuh Ainsley yang sulit dijangkau oleh Ains sendiri.
"Itu tandanya kamu merindukan mereka. Aku tahu perasaanmu, kamu yang sabar ya," ucap Ethan.
__ADS_1
Ains mengangguk pelan, dia membalikkan badan dan melihat tubuh polos suaminya. Tubuh mereka sudah sama-sama basah, tangan Ethan mulai membelai pipi Ains lalu wanita itu paham apa yang setelah ini mereka lakukan. Ya, pasutri baru seperti mereka memang tidak bisa menghindar lagi dari yang namanya nafsu. Jika ada kesempatan mereka akan memanfaatkannya sebaik mungkin.
Setengah jam kemudian.
Ethan dan Ainsley sudah mandi, mereka lalu makan bersama-sama seperti biasa namun sebelumnya Ains sedikit berdandan menggunakan krim malam yang sudah diajari oleh Reena sebelumnya. Ethan yang tengah memakan nasi goreng yang ia beli sepulang kerja tadi hanya heran dengan tingkah Ains bahkan Ainsley juga memakai lipstik padahal hendak makan.
"Kenapa malam-malam begini berdandan?" tanya Ethan.
"Ini bukan dandan namun skinker biar kulitku terawat cukup baik," jawab Ainsley.
Ethan terus memperhatikan gerak-gerik Ains yang semakin kemayu saja, ia belum tahu jika Ainsley hamil dan ini termasuk perubahan hormonnya.
"Sudahlah! Hentikan! Makan ini! Jika dingin tidak enak," ucap Ethan.
Ains menyudahi berdandannya, ia lalu makan bersama Ethan. Saat makan dia bercerita ada wanita bernama Reena yang datang kemari. Niatnya hanya ingin menanyakan Darren namun malah menjadi ke hal-hal lain termasuk Ainsley yang tahu jika Reena adalah mantan pacar Ethan.
"Tadi siang ada yang datang ke sini. Namanya Reena, katanya dia mantan kekasih Kak Darren dan mantan kekasihmu," jelas Ains.
Ethan tersedak nasi goreng, Ains lekas memberinya minum dan langsung diminum oleh Ethan.
"Siapa kamu bilang? Reena?" tanya Ethan.
"Reena masih saudaraan dengan Stella. Kenapa dia ke sini? Hanya beralasan karena Darren? Tidak mungkin."
"Kenapa? Dia memang ingin menanyakan perihal Kak Darren. Mas Ethan cemburu ya karena tidak ditanya oleh Kak Reena?" tanya Ainsley menggoda.
"Tidak, untuk apa cemburu? Aku tidak ingin kamu dekat dengan Reena, dia masih bersaudara dengan Stella."
Ainsley menggelengkan kepalanya, ia akan tetap dekat dengan Reena apalagi wanita itu adalah seorang psikiater. Ethan mengusap wajahnya kasar, dia lalu menunjukan foto Ains saat di mall tadi.
"Ibu mengirimkanku foto ini. Apa kamu pergi dengan Reena?" tanya Ethan.
"Iya, dia yang membelanjakanku semua ini," jawab Ainsley.
Ethan melihat banyak sekali belanjaan di dalam tas belanja, Ains mengaku jika semua itu yang membelikan adalah Reena tapi dia akan menggantinya jika punya uang nanti.
"Ains, kamu susah sekali dibilangin ya? Aku sudah bilang jangan pergi dengan siapapun jika tanpa aku. Sudah mulai bandel ya?" tanya Ethan sangat gemas dengan wanita autis itu.
__ADS_1
Ains tidak bisa berkata-kata, ia terkadang ingin mengikuti kata hatinya namun sayang respon tubuhnya yang menjadi pemenangnya. Dia bergerak semaunya mengikuti respon tubuh ketimbang respon hatinya.
"Aku minta maaf."
"Kamu sudah sering meminta maaf namun kamu ulangi lagi kesalahan kamu."
"Aku janji akan mendengarkan ucapan Mas Ethan."
Ethan mencubit pipi Ains, ia memang harus bersabar menghadapi Ains karena Ainsley tidak bisa diberitahu sekali dua kali. Mereka melanjutkan makan sampai habis dan tak berselang lama kemudian pintu kamar kos mereka diketuk seseorang.
"Aku akan membukanya," ucap Ethan.
Ethan berjalan ke arah pintu lalu membukanya yang ternyata adalah Azam, wajah Azam sangat pucat sekali dan suaranya serak.
"Dokter Azam?" teriak Ains.
Ains lantas mengajaknya untuk masuk ke dalam kos mereka, sementara Ethan memandang dengan kesal.
"Ini kunci kamar kosmu, baru pulang ya?" tanya Ainsley.
"Iya," jawab Azam dengan suara yang sangat serak.
"Ada apa denganmu? Kamu sakit?" tanya Ethan.
Azam menggelengkan kepalanya, ia berterima kasih dan meminta maaf karena mengganggu waktu mereka. Azam keluar dari kos mereka, wajahnya memang pucat seperti sakit.
"Dokter Azam, kamu sungguh tidak apa-apa?"
"Hanya demam saja nanti juga sembuh."
Ethan tidak bisa membiarkan saja, dia menarik Azam untuk masuk ke dalam kosnya lagi. Dia menyuruh Azam duduk di sofa lalu ia memeriksa keadaan Azam dengan stetoskop. Ainsley hanya diam saja karena sedang mencerna apa yang mereka lakukan.
"Jadi ini yang namanya main dokter-dokteran yang diperankan oleh dokter sungguhan namun pasiennya juga seorang dokter?" ucap Ainsley.
Ains lalu menepuk bahu Ethan. "Mas butuh suster tidak? Aku bisa jadi susternya jika kalian main dokter-dokteran."
Ethan dan Azam memandang Ains dengan heran sementara Ains menjadi bingung karena diperhatikan dengan tatapan aneh oleh mereka.
__ADS_1
...****************...