Pernikahan Dingin Dokter Ethan

Pernikahan Dingin Dokter Ethan
Bab 32 Ainsley Menyerah


__ADS_3


Ethan membuka matanya lebar-lebar, dia terbangun di sebuah ruangan yang sangat lekat dengan bau obat. Wajahnya sakit saat digerakkan bahkan kakinya sangat sakit sekali. Ayah dan ibu tersenyum menatap putranya yang sudah sadar, ibu mengecup kening Ethan.


"Ayah, ibu, aku di mana?" tanya Ethan.


"Kamu di rumah sakit, nak. Kamu sudah tidak sadarkan diri selama 3 hari," jawab Ayah.


Ethan mengingat kejadian terakhir kali, dia langsung mengingat kejadian itu teringat Ains. Istrinya tersebut sedang hamil dan waktu itu malah melindunginya dari amukan para tamu.


"Mana Ainsley?" tanya Ethan.


Ayah membuka tirai sebelah, Ainsley ada di sebelahnya dan dirawat di sana. Kondisi Ains juga memprihatinkan namun untungnya bisa melewati dengan baik dan kandungannya baik-baik saja. Ains terlelap setelah makan siang, ibu merawatnya dengan baik beberapa hari ini bahkan menyuapinya makan.


"Istrimu sangat kuat sehingga mampu mempertahankan kandungannya. Sesudah kamu tak sadarkan diri saat itu pun Ains terus berteriak meminta maaf jika memang benar kamu melakukannya," jelas Ayah.


"Aku dijebak oleh Stella. Sungguh aku tidak melakukan apapun padanya. Wanita itu hanya berakting saja dan membuat sandiwara ini," jawab Ethan.


Ibu meneteskan air matanya, ia sekarang lebih percaya Ethan ketimbang Stella yang jahat dan menjebak Ethan sampai seperti ini. Ainsley yang dianggap cacat pun malah yang membela Ethan nomor satu ketimbang dirinya yang merupakan ibu kandung Ethan.


"Ibu kenapa menangis?" tanya Ethan.


"Ibu malu dengan Ainsley. Selama ini ibu sangat jahat padanya namun ternyata yang jahat adalah Stella sampai membuat kalian seperti ini," jawab Ibu.


Ayah memeluknya dengan erat sementara Ethan tersenyum kecil karena sang ibu sudah mengakui kebaikan Ains yang selama ini tidak dianggap oleh beliau.


"Ains-ku adalah anak yang baik, kita harus mulai menganggapnya sebagai keluarga mengingat kala itu belum bisa menerima Ains. Ainsley tak punya keluarga selain kita," ucap Ethan.


Ibu mengangguk, dia mendekat ke arah Ainsley sambil mencium keningnya. Ethan berharap ini bukanlah akting saja di depannya dan berharap ibu akan selalu baik pada Ainsley, sang istri.


Beberapa hari kemudian.

__ADS_1


Setelah kondisi Ethan membaik, Ethan tetap dimintai keterangan lebih lanjut oleh pihak kepolisian bahkan Ethan juga sudah diberhentikan oleh pihak rumah sakit mengingat suami Stella adalah kepala dari rumah sakit tersebut. Fitnah memang sekejam itu bahkan sampai merusak kehidupan orang lain sementara yang memfitnah malah sedang bersuka ria seolah menang dalam drama kali ini.


Ainsley masih dirawat di rumah sakit karena mentalnya terganggu, dia sedang diperiksa oleh Azam mengenai kandungannya. Tekanan darah Ains semakin melemah bahkan Ainsley sudah tidak nyambung jika diajak berbicara.


"Bu Ains, apa yang kamu rasakan hari ini?" tanya Azam sangat ramah.


"Ains capek, Ains mau pulang," ucap Ainsley.


"Ibu Ains masih sakit dan belum diperbolehkan untuk pulang," jawab Azam.


Ainsley menggelengkan kepalanya. "Ains mau menyusul bapak, ibu sama Kak Darren. Ains lelah di dunia ini, Ainsley capek sekali."


Azam memandang Ains, ia tak tega dengan wanita satu ini. "Ains, diperutmu ada bayimu. Kamu tidak boleh bilang seperti itu!"


"Ains juga mau ajak anak Ains pergi."


Azam langsung menggenggam erat tangan Ainsley. " Hei, kamu tidak boleh bilang seperti itu. Semua orang menyayangimu dan mengkhawatirkanmu terutama Dokter Ethan. Dia sedang berjuang membersihkan nama baiknya demi kamu juga."


Deg!


Azam kaget, dia mendekati wajah Ainsley. "Suamimu, dia suamimu. Apa kamu tidak ingat? Dia yang menjadi ayah dari bayimu. Dia yang kamu bela sampai kamu sendiri terkena pukulan dan tendangan dari mereka."


Ainsley menggelengkan kepalanya. "Ains belum menikah, Ains sendiri."


"Lalu anak yang dikandungmu anak siapa jika belum menikah?"


"Gak tau," jawab Ainsley sambil menatap datar ke arah langit-langit kamar ruangan tersebut.


Azam mengusap wajahnya kasar, perawatan seperti ini saja tidaklah cukup. Ains membutuhkan bantuan psikiater untuk memperbaiki mentalnya yang sudah terjun ke bawah. Ainsley mulai mengoceh-ngoceh menggunakan bahasa Rusia dan membuat Azam tidak paham.


***

__ADS_1


Ethan terdiam di ruang persidangan, drama ini masih tetap berlanjut dan Stella bersikukuh untuk menjebloskan Ethan ke penjara. Sialnya saat di kamar mandi tidak ada CCTV membuat Ethan sudah kalah dengan Stella. Namun keluarga Ethan tak tinggal diam saja saja dan terus membela putranya sampai mengeluarkan biaya menyewa pengacara yang mahal.


Keadaan Ainsley masih linglung dan mulai mengingat jika Ethan adalah suaminya namun entah mengapa ia semakin tidak tertarik melanjutkan pernikahan dengan Ethan. Semuanya mengambang dan menjadi dingin sudah tidak ada gairah dalam pernikahan ini. Satu hal yang terpikirkan oleh Ains saat ini adalah ingin lepas dari Ethan dan pulang ke Rusia untuk memperbaiki kehidupannya yang hancur di sini.


Ainsley juga memakai uang miliknya untuk membiayai semua pengeluaran selama Ethan menjadi tersangka. Keluarga Ethan kini sudah bermusuhan dengan keluarga Stella, dulu selalu ada senyuman diantara mereka namun kali ini jangankan senyuman, melihat wajah saja sudah membuang muka.


Ethan menoleh ke arah Ainsley, hanya Ains yang menjadi tujuan utamanya untuk bisa bebas dalam tuduhan kali ini. Persidangan dimulai, Stella menceritakan kejadian yang menurutnya kelam saat itu saat dia diperkosa secara paksa oleh Ethan. Dia bahkan menceritakan sampai menangis pilu membuat semua orang iba.


Pengacara masing-masing membela kliennya begitu pun juga pengacara Ethan. Mereka bersikukuh jika Ethan tidak bersalah dan hanya dijebak saja, bukti di pihak Stella juga tak cukup kuat untuk menjebloskan Ethan ke penjara sampai pihak Ethan mendapat saksi yang cukup kuat untuk membela Ethan.


Dia adalah salah satu tamu yang sedang ada di kamar mandi saat kejadian itu, dia mendengar teriakan wanita dan mengintip dari sela pintu toilet. Tidak ada pemerkosaan karena Ethan hanya diam saja dengan jarak 2 meter dari Stella, Stella terus mengobrak-abrik kebaya dan make upnya sendiri.


Stella mendengar hal itu kaget karena sudah memastikan tidak ada orang siapapun di sana. Kebenaran satu persatu terungkap setelah sebulan sudah berlalu dari kejadian itu sampai hakim menyatakan Ethan tidak bersalah. Ethan tentu saja sangat rugi, citranya sebagai dokter sudah rusak, ia dikeluarkan dari rumah sakit, ia juga menghabiskan banyak uang untuk kasus ini apalagi Ainsley yang menjadi korban nyata.


Semua anggota keluarga memeluk Ethan dengan erat, ia yakin jika Ethan adalah orang yang baik dan tidak melakukan hal itu. Ethan lantas melihat Ainsley, istrinya menangis melihat Ethan tidak bersalah dan tidak terjerat hukuman penjara.


Ethan menghampiri Ainsley, dia memeluknya dengan erat. Pasti sangat berat bagi Ainsley untuk melalui semua ini.


"Kita menang sayang! Kita menang!" ucap Ethan sambil memeluk Ains dengan erat.


Ainsley menangis dan terharu, perjuangan mereka membuahkan hasil dalam menegakkan keadilan. Ethan juga mengecup perut Ainsley, tak terasa kandungan Ains sudah sebulan lebih dua minggu.


"Setelah ini kita bisa menata hidup kita lagi," ucap Ethan pada Ainsley.


Ainsley menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku ingin pulang ke Rusia setelah ini. Apa sebaiknya kita berpisah saja menjalankan kehidupan masing-masing? Jujur saja aku merasa pernikahan ini sia-sia karena terlalu banyak masalah."


"Kenapa kamu berpikir demikian? Aku akan membahagiakanmu setelah membuatmu menderita. Kamu sedang mengandung anakku dan aku tak akan melepas pernikahan ini begitu saja. Jika kamu merasa sia-sia kenapa terus mendampingiku sampai detik ini? Kamu hanya lelah saja, Ainsley. Aku janji akan membuatku bahagia kembali seperti sedia kala," jawab Ethan dengan tatapan serius.


...****************...


Gimana nih, Ains-nya pergi ke Rusia ga ya? Atau kembali sama Dokter Ethan lagi?

__ADS_1


__ADS_2