
See you~
Ethan melamun tidak jelas sedangkan Azam berpamitan untuk masuk ke dalam ruangannya untuk melanjutkan pekerjaan. Ethan kembali ke lantai atas dengan melamun tidak jelas lalu membayangkan Ainsley punya rasa pada dokter kandungan itu.
Huh! Apa yang kamu pikirkan, Ethan! Hanya kamu yang mau menikah dengan Ains. Orang lain pun malah menjauhi Ainsley. Batin Ethan.
Ethan masuk ke dalam lift, ia tak sengaja satu lift dengan kepala rumah sakit, beliau adalah seorang dokter hebat dan usianya sudah 45 tahun ke atas. Selama di dalam lift Ethan terdiam saja, ia tadi hanya menyapa sedikit pada beliau. Rumornya jika pria itu adalah seorang duda beranak dua, mungkin saja Stella ingin menikah karena jabatan pria itu saja.
"Betah bekerja di sini?" tanya pria itu.
Ethan menoleh. "Iya, Dokter Haris. Saya betah di sini."
"Baguslah. Saya sudah melihat kinerjamu di Rusia dan tak perlu dipertanyakan lagi."
Ethan berterima kasih atas pujiannya, tak lama berselang pintu lift terbuka. Ethan berpamitan keluar dari sana lalu masuk ke ruangannya.
Di sisi lain.
Ainsley memakan kangkung yang ia masak tadi, rasanya sangat enak karena menggunakan bumbu saus tiram instan. Pikirannya meracau ke mana-mana karena dia tak pecus menjadi seorang istri tapi ia akan berusaha sebisa mungkin karena Ethan sangat sabar menghadapinya.
Seusai makan, Ainsley mencuci semua pakaian ke dalam mesin cuci, sambil menunggu dia mengirim pesan pada Ethan jika siang ini ia akan keluar jalan-jalan menikmati cuaca cerah, belum ada jawaban dari Ethan karena mungkin saja pria itu masih bekerja.
"Setelah mencuci pakaian aku akan mencari toko akseroris, aku ingin membeli jepit rambut."
Semua pekerjaan rumah ia selesaikan secepatnya seperti mencuci, menyapu, mengepel dan sebagainya. Dia sudah belajar banyak dari internet bagaimana caranya menjadi istri yang baik. Sebisa mungkin dia tak akan merepotkan Ethan dari kekurangannya. Ethan adalah seorang dokter hebat dan ia tak akan mempermalukan Ethan.
Satu jam setengah sudah berlalu. Ains akhirnya selesai menyelesaikan pekerjaannya, dia lantas mandi sebersih mungkin. Ainsley suka dengan aroma strawberry, maka dari itu ia memakai sabun beraroma strawberry. Dia mandi dengan bersenandung ria, semuanya beban pikiran ia larutkan dengan cara mandi menggunakan gayung. Bak mandi yang penuh pun kini tinggal separuhnya saja. Setelah puas mandi ia memakai dress berwarna merah muda dengan pita dibelakangnya dan tidak lupa berfoto selfie.
"Kata Kak Darren memang aku cantik dan memang cantik," ucap Ainsley memuji dirinya sendiri.
Selesai dengan semua urusannya, dia lekas berangkat
dan tak lupa mengunci pintu kos. Dia membawa kunci itu supaya tidak hilang, ia bersenandung ria sampai berjalan ke pinggir jalan. Transportasi yang hanya ia gunakan adalah bus selain itu dia tidak berani.
__ADS_1
Toko aksesoris berada tak jauh di sekitaran rumah sakit, maka dari itu ia tahu toko tersebut. Ainsley menyukai benda-benda imut dan mengoleksinya sampai banyak, ia bahkan membuang benda koleksinya saat di Rusia karena tak mungkin membawanya.
Bus pun sampai, ia masuk ke dalam dan berdesak-desakan dengan yang lain. Ainsley berdiri sambil berpegangan, di depannya ada seorang ibu-ibu sedang bertelpon serta tasnya terbuka. Di sebelahnya lagi ada seorang pria yang terus mencuri pandang ke arah tas tersebut seolah ingin mengambilnya. Benar saja, tak berselang lama kemudian dompet itu diambil dan Ainsley langsung berteriak.
"Maling!" teriak Ainsley.
Pria itu langsung membuang dompet itu ke bawah dan semua orang memperhatikan Ainsley.
"Orang ini maling, dia mencuri dompet ibu ini," Ainsley.
"Apa? Tidak. Jangan fitnah!"
"Aku tidak fitnah kok."
Ibu itu mencari dompetnya lalu ia tidak menjumpai tasnya, ia panik dan seseorang menemukannya terjatuh di lantai.
"Nah, itu jatuh. Jangan fitnah, mbak!"
"Saya lihat kamu yang ngambil kok dan kamu lempar ke bawah."
Ainsley memutuskan untuk turun saja, ia tak apa-apa apalagi haltenya sudah dekat dari sini. Bibirnya sangat nyeri sekali karena pukulan orang tadi. Bus berhenti, dia turun dan masuk ke toko aksesoris. Moodnya langsung hancur seketika karena ia sedih semua orang jahat kepadanya. Ainsley menangis di depan toko dan merindukan kakaknya, hanya kakaknya yang mampu melindunginya dari cercaan orang lain.
Ainsley bergerak berjalan ke arah rumah sakit, ia ingin menemui suaminya walau tadi pagi sudah dilarang untuk menyusul. Semua orang memperhatikan hidung dan bibirnya yang berdarah semakin deras lalu Ainsley pingsan di depan rumah sakit.
***
Ethan mendapat telpon dari ruang UGD jika orang dikenalnya pingsan, Ainsley membawa kartu nama Ethan di dalam tasnya dan dibelakangnya tertulis jika ia adalah istrinya dokter tersebut. Dengan langkah yang panjang ia berjalan ke ruangan itu dan di sana ia melihat Ainsley sedang berbaring lemah tak berdaya.
"Istriku kenapa, sus?" tanya Ethan.
"Dokter, nona ini istri anda? Dia pingsan di depan rumah sakit gan wajah yang berdarah-darah. Dokter kami sudah mengobatinya," jawab suster.
Ethan menatap Ainsley yang terlelap, mengusap pipinya dengan lembut lalu Ainsley terbangun.
"Ah... aku di mana?" tanya Ainsley sambil memegang kepalanya.
__ADS_1
"Ains, kenapa wajahmu babak belur begini?" tanya Ethan.
"Aku jatuh," jawab Ainsley berbohong.
Ethan memperhatikan luka itu dengan lekat dan tidak seperti luka terjatuh.
"Siapa yang memukulmu? Kenapa dia beraninya memukul wanita lemah sepertimu?"
Ainsley terdiam sambil menggelengkan kepalanya,
Ethan terus bertanya berulang kali sampai Ainsley mau menjawab jika semua ini gara-gara insiden di bus di mana ia memergoki maling yang hendak mencuri dompet milik ibu-ibu dan setelah ketahuan oleh Ainsley malah ia tidak terima.
"Aku akan laporkan pada polisi, aku akan minta bukti rekaman CCTV pada pihak bus tersebut," ucap Ethan tak main-main.
Oh iya mumpung ada Ainsley di sini ada hal yang ingin Dirgam tanyakan.
"Ains, kamu tidak hamil 'kan?" tanya Ethan.
Ainsley kaget dengan pertanyaan dari suaminya itu, dia menggelengkan kepalanya.
"Yakin?"
Ainsley mengangguk. "Aku tidak hamil."
Ethan menghela nafas lega. "Syukurlah. Oke jika begitu, kamu ingin dirawat di sini atau ingin pulang? Jika ingin pulang akan aku pesankan taksi."
"Aku bosan di kos," jawab Ainsley sambil menunduk.
Ethan mengusap wajahnya kasar. "Ains, di sini aku tidak untuk bermain-main melainkan bekerja. Tidak enak dengan rekan atau atasanku jika aku sering keluar."
Ainsley berpikir sejenak, ia memikirkan anak-anak dan solusinya hanya itu.
"Dokter Ethan, bolehkah aku meminta sesuatu padamu? Aku ingin punya anak supaya jika di rumah tidak kesepian."
Ethan hampir saja tersedak dengan air liurnya sendiri mendengar ucapan Ainsley. "Anak?"
__ADS_1
...****************...