
Berselang hari kemudian.
Ethan tak ada niat untuk membalas dendam pada Stella, dia tak melaporkan balik pada Stella dengan pasal pencemaran nama baik. Ethan tidak mau memperpanjang masalah karena ia sudah pusing dengan jalan hidupnya sendiri. Suami dari Stella pun sudah dicopot dan tidak menjabat sebagai kepala rumah sakit lagi.
Ethan diberi kesempatan bekerja lagi di sana setelah diberhentikan secara tidak hormat. Mental Ethan tentunya sudah kebal dengan hal ini setelah namanya tercemar oleh mantan kekasihnya sendiri.
Ethan mendapat dukungan dari rekan sesama dokternya, mereka tahu betul jika Ethan tak akan melakukan hal tersebut mengingat dia adalah orang lain. Hari ini Ethan sudah diperkenankan masuk lagi, beberapa pasiennya tahu masalah tersebut dan memberi kado untuk penyemangat Ethan. Pria itu sangat berterima kasih pada mereka atas dukungannya selama ini.
"Dokter Ethan jangan patah semangat ya!"
"Terima kasih, kamu juga harus cepat sembuh."
Ethan lantas mengingat Ainsley yang masih goyah dalam psikisnya, saat ini Ainsley dirawat di rumah orang tua Ethan dan didampingi oleh seorang psikiater. Istrinya tersebut sedang hamil dan jangan sampai membuat kesalahan fatal yang mempengaruhi kandungannya.
Ethan kembali ke ruangannya, ia melihat dokter seniornya sudah datang. Dia memeluk Ethan dengan erat karena sudah berpikiran negatif tentangnya.
"Selamat kembali ke rumah sakit ini Dokter Ethan. Maaf sudah memandangmu rendah begitu saja."
"Terima kasih Dokter Danu. Tak apa, semuanya sudah berlalu dan tak perlu dipikirkan lagi. Bagaimana jika istirahat nanti saya traktir kalian makan di kantin, hitung-hitung sebagai syukuran saya bisa kembali bekerja di sini."
Pria di depannya itu mengangguk. Dia akan memberitahu ke yang lain mengenai makan gratis kali ini. Tak mudah bagi Ethan untuk kembali datang ke sini setelah kejadian beberapa pekan lalu yang menghebohkan semua orang.
Seniornya tersebut menepuk bahu Ethan seolah menyemangatinya.
"Keadilan pasti datang pada orang yang baik sepertimu
"Terima kasih, Dokter Danu," jawab Ethan.
Di sisi lain.
Ibu membawa makanan untuk Ains yang tidak mau makan sejak pagi tadi. Tentu saja beliau menjadi kesal karena menantunya tersebut diberi perhatian lebih malah bertambah manja.
"Ains, jika kamu sakit maka Ethan akan menyalahkan ibu. Makanlah! Jangan siksa dirimu! Ada bayi yang ada di kandunganmu untuk kamu beri makan," ucap Ibu.
"Tadi Ains sudah makan roti dan sudah kenyang," jelas Ainsley.
__ADS_1
"Roti mana kenyang. Makan!"
Ibu menjejalkan makanan ke mulut Ains secara paksa, dia sudah tak sabar menghadapi Ainsley yang seolah menjadikannya pembantu. Mulut Ainsley penuh dengan nasi, dia dipaksa untuk mengunyah oleh ibu mertuanya sendiri.
"Ibu capek Ains, ngurusin kamu tidak ada selesainya. Kamu cuman ngerepotin kami saja selama ini," ucap ibu.
Ains semakin tertekan, inilah penyebab ia memantapkan diri untuk berpisah dengan Ethan. Ibu Ethan hanya baik saat awal kasus saja dan setelah kasus selesai ia merasa jika mereka memang harus berpisah.
"Ibu malah gak yakin jika itu adalah anak Ethan. Jangan-jangan dokter tetanggamu itu yang menghamilimu mengingat kalian sering bersama," ucap ibu.
Ainsley menangis, dia menggelengkan kepalanya. Tangisannya semakin keras sehingga Ayah datang, ibu langsung berakting mengelus kepala Nilam seolah menenangkan menantunya tersebut.
Ayah menghela nafas panjang, Ainsley memang sering menangis ketika tidak ada Ethan.
Ayah lalu duduk di tepi ranjang sambil mengusap air mata Ainsley. Hanya Ayah yang tulus sayang pada Ainsley selama ini.
"Kenapa, Ains?"
Ainsley mendongak ke arah ibu dan ibu melotot supaya tidak memberitahu kejadian tadi.
Ayah menarik kepala Ainsley lalu memeluknya dengan erat. Beliau tahu jika saat ini Ainsley hanya butuh dukungan dari orang sekitarnya saja. Ains juga menjelaskan jika ia bisa kembali bekerja di sana dan peluang mendapatkan pekerjaan malah jauh lebih tinggi ketimbang di sini.
"Ains, bahkan makam kedua orang tuamu di sini 'kan? Di sana kamu mau apa? Kakakmu juga sudah meninggal dan pekerjaan juga banyak di sini tapi kamu sedang hamil, kamu tak perlu bekerja," jelas Ayah.
Ibu langsung keluar dari sana, dia lelah mengurus Ainsley seharian. Beliau lalu duduk di teras sambil melamun tidak jelas, hutangnya semakin banyak apalagi bunganya juga membengkak. Ethan sedang memperbaiki ekonomi setelah mendapat kasus, ia tak mungkin meminjam pada Ethan apalagi kedua putrinya yang tak pernah memberinya uang sepeserpun.
Hanya Ainsley yang bisa meminjaminya uang tapi masalahnya Ainsley terus menolak.
***
Ethan pulang membawa berbagai makanan, ia tersenyum melihat Ainsley sudah cantik dan wangi. Tentu saja yang mendandani Ains adalah ibunya.
"Gimana, Ethan? Mereka menerimamu lagi?" tanya ibu.
"Iya, bu. Ini semua berkat doa kalian. Oh ya, aku bawa banyak makanan. Kita setelah ini makan bersama-sama," jawab Ethan.
Ains langsung menarik Ethan masuk ke dalam kamar. Tatapan Ains sangat serius sekali dan langsung mencium beringas bibir suaminya. Ethan kaget namun tak menolak, momen seperti ini memang sudah langka terjadi diantara mereka yang sedang berkonflik batin.
__ADS_1
Ethan melempar tasnya ke ranjang lalu mengangkat tubuh Ainsley namun tetap sambil berciuman.
Gejolak hasrat semakin menggebu-gebu bahkan si ular sudah menegang.
Ethan meletakkan Ains di atas ranjang sembari terus berciuman mesra. Aroma tubuh Ethan sepulang kerja memang khas, keringatnya tidak bau sama sekali bahkan semakin maskulin. Setelah berciuman, posisi Ethan masih di atas Ains. Pria itu melepas satu persatu kancing kemejanya dan siap berperang sebelum mandi.
"Aku mau pulang ke Rusia. Kumohon!"
Ethan terhenti, dia langsung beranjak dari tubuh Ainsley. Kalimat itu tak henti-hentinya didengar Ethan akhir-akhir ini.
"Ke sana mau apa lagi? Kamu sedang hamil dan aku tidak mau kamu berpergian jauh," jawab Ethan.
"Aku mau tinggal di sana, aku butuh ketenangan. Aku janji akan menjaga diri baik-baik selama di sana dan akan pulang ke sini lagi saat usia kandungan ini sudah 7 bulan."
Ethan menatap wajah Ainsley dengan lekat, pernikahan mereka memang seolah menggantung begitu saja bahkan Ethan juga belum membuatkan pesta resepsi.
"Aku trauma menjalani hubungan jarak jauh tapi jika itu membuatmu lega aku bisa apa? Saat kandunganmu memasuki 7 bulan aku akan menjemputmu pulang ke sini lagi dan kamu tidak boleh menolak. Janji?" tanya Ethan.
Ainsley mengangguk, dia memeluk Ethan dengan erat dan terus mengucapkan banyak terima kasih.
"Tapi berjanjilah jangan meminta untuk bercerai!" pinta Ethan.
"Tidak, Mas Ethan suamiku yang paling baik. Aku sayang Mas Ethan."
Mungkin ini adalah keputusan yang baik supaya mental Ainsley aman. Yang lebih penting adalah Ethan harus menyelesaikan masalah satu persatu termasuk keuangannya yang porak-poranda bahkan renovasi rumahnya harus terhenti karena kehabisan dana. Ethan juga akan mengganti uang Ains yang dibuat membayar pengacaranya.
"Ains, kamu yakin bisa tinggal di sana tanpa Mas?"
"Iya, di sana banyak teman-temanku."
"Lalu kamu mau tinggal di mana?"
"Apartemen kami dulu. Aku akan baik-baik saja dan menjaga anak ini dengan baik. Aku janji akan pulang lagi ke sini. Jujur saja aku mengidam ingin tinggal di Rusia. Ini keinginan bayinya jadi Mas Ethan jangan khawatir! Semuanya akan baik-baik saja."
Ethan mengangguk paham, Ains sudah dewasa dan pasti bisa menjaga diri dengan baik.
...****************...
__ADS_1