
Happy Reading !!!
.
.
Elina dan Azam sudah sampai di Rusia. Mereka dijemput oleh orang suruhan Ethan karena Ethan saat ini bekerja. Baru pertama kali ini Elina datang kemari dan takjub dengan tatanan kota Moskow yang tertata rapi.
"Azam, selepas menjenguk kita jalan-jalan yuk!" ajak Elina.
"Nanti saja, yang penting kita istirahat dulu," ucap Azam.
Sesampainya di apartemen, Ainsley menyambut mereka dengan baik. Elina memeluk Ains dengan erat karena rindu dengan kakak iparnya.
"Makin cantik saja Kak Ains," ucap Elina.
"Eli juga tambah cantik. Oh ya, ibu dan bapak kemana?" tanya Ainsley.
"Mereka akan menyusul nanti."
Ainsley mempersilahkan mereka masuk ke dalam lalu mereka melihat baby Azza yang terbangun di boxnya. Elina ingin menggendong namun tidak berani karena sebelumnya tidak pernah menggendong bayi.
"Kak Ethan pulang kapan?" tanya Elina.
"Nanti sore, dia sudah mulai bekerja beberapa hari yang lalu," jawab Ainsley.
Ainsley membuatkan minuman sedangkan mereka masih bermain-main dengan baby Azza. Azam yang sudah biasa menggendong bayi berani menggendong baby Azza. Dia juga tak sabar ingin mempunyai bayi sendiri karena umurnya juga sudah tidak muda lagi.
"Wajahnya sangat persis ibunya, Kak Ethan hanya kebagian sedikit saja," ucap Elina.
"Iya dan dia juga sangat lucu," jawab Azam.
Elina lantas teringat dengan bayinya yang seharusnya juga sudah lahir. Gara-gara dia teledor tidak bisa menjaga kehamilannya dengan baik malah menjadi seperti itu.
"Ada apa, El?" tanya Azam.
"Tak apa, lucu sekali bayinya," jawab Elina.
"Bayimu adalah bayi surga, dia sudah ada di sana dan bahagia di sana. Kamu jangan bersedih."
Elina mengangguk, dia mengusap air matanya lalu mencoba untuk menggendong Azza. Azam mengajarinya cara menggendong bayi yang benar. Elina begitu hati-hati dan setelah ada di gendongannya ia merasa terharu.
"Baby Azza, anak baik, tidak menangis ya saat digendong orang lain?" ucap Elina pada Azza.
Ainsley datang membawa sebaki minuman, dia menaruhnya di atas meja dan melihat Azza diam saat digendong tantenya sendiri.
"Eli, Kak Azam, minum dulu!"
Elina memberikan baby Azza pada Ainsley, mereka duduk di sofa. Perjalanan yang jauh membuat mereka lelah dan ini juga pertama kalinya Elina bepergian jauh. Elina memperhatikan Ainsley yang pandai mengasuh bayinya sendiri walau dalam kekurangannya. Elina malu pada Ainsley karena dulu ia sempat menghujatnya dengan kata-kata jahat.
"Tidak menyewa pengasuh?" tanya Elina.
"Mas Ethan ingin memakai pengasuh tapi aku tidak mau karena aku masih sanggup menjaga Azza sendiri," jawab Ainsley.
__ADS_1
"Tapi kamu hebat, kamu seolah memang sudah siap mempunyai anak. Kamu belajar dari mana mengasuh bayi?" tanya Elina.
Azam menyahut. "Jadi seorang ibu itu otomatis bisa menjaga anaknya tanpa harus diajari karena kasih sayang seorang ibu tak bisa diterangkan dengan kata-kata karena saking besarnya."
Elina belum paham karena belum siap menjadi seorang ibu, dia bahkan tak mampu menjaga anaknya dengan baik saat ada di kandungan.
Ainsley mempersilahkan mereka untuk makan, dia memasak daging sapi kecap serta tak lupa nasi. Ainsley melakukannya sendirian saat baby Azza tengah tidur. Dua orang itu lalu makan bersama-sama.
"Enak gak?" tanya Ains.
"Enak sekali, kamu pandai memasak rupanya," sahut Elina.
Elina makan seperti kelaparan, ia pun langsung tersedak. Azam memberikannya minum lalu menepuk punggungnya.
"Hati-hati sayang," ucapnya sangat lembut.
Ainsley yang baper melihat tingkah manis mereka berdua hanya bisa senyum sendiri. Dia teringat Ethan yang sama manisnya bahkan bisa membuatnya baper.
***
Ethan datang dalam keadaan lelah, dia membawa makanan untuk di makan bersama-sama malam ini. Matanya melihat adiknya sudah datang. Elina lantas memeluknya dengan erat karena rindu pada sang kakak.
"Kak Ethan, baru pulang ya?" tanya Elina.
"Iya, kalian kapan sampai?"
"Tadi siang. Anak kakak lucu sekali."
Ethan lalu bersalaman dengan Azam juga lalu menanyakan kabar, Azam makin tampan saja dan pantas membuat Elina jatuh hati padanya.
"Di kamar, menyusui anaknya," jawab Elina.
Ethan masuk ke dalam kamar, dia melihat Ainsley berbaring sambil menutup matanya. Pasti sangat berat menjaga anak sendirian. Ainsley terbangun saat mencium aroma parfum Ethan. Senyumannya mengembang tatkala melihat sang suami sudah pulang. Ainsley melepaskan ****** susunya pada baby Azza yang sudah terlelap, dia harus menyambut suaminya yang baru saja pulang bekerja.
"Kamu lanjut tiduran saja," ucap Ethan.
"Mas Ethan kasian gak ada yang ngurus jika begitu," jawab Ainsley.
"Ains, mas bisa urus diri sendiri," ucap Ethan.
Ethan menyuruhnya untuk istirahat sementara ia akan mandi dan menyiapkan makan malam. Ethan paham jika istrinya lelah karena seharian mengurus baby Azza yang masih bayi. Selepas Ethan masuk ke dalam kamar mandi, Ainsley menyiapkan pakaian gantinya. Dia berusaha menjadi ibu dan istri yang baik, jangan ditanya perutnya sudah sembuh apa belum! Pasti masih sakit sekali untuk bergerak.
Sepuluh menit kemudian, Ethan keluar dari dalam kamar mandi. Ainsley memberikan pakaian untuk Ethan, ia adalah wanita yang baik dan Ethan tak menyesal menikahinya.
"Azza sudah tidur, kita makan dulu. Mas sudah membeli banyak makanan," ucap Ethan.
"Baik, mas."
Mereka keluar dari dalam kamar dan membiarkan pintu kamar terbuka supaya bisa melihat Azza.
Mereka makan bersama dengan Elina dan Azam sekaligus mengenalkan makanan daerah sini.
"Oh iya, kamar kalian sudah tahu di mana?" tanya Ethan.
"Kami tidur di depan televisi juga tidak apa-apa," ucap Elina.
__ADS_1
Ainsley kaget mendengarnya, ia berdiri lalu membuka kamar yang lain, ia terlalu sibuk dengan baby Azza sampai melupakan untuk memberitahu di mana kamar mereka.
"Di sini hanya ada dua kamar saja, satu untuk sudah dipakai untuk Ainsley dan Mas Ethan satunya bisa kalian tempati," ucap Ainsley sambil membuka pintu kamar tersebut.
Azam dan Elina saling berpandangan, mereka belum menikah mana bisa tidur bersama. Azam mengalah akan tidur di depan ruang televisi saja ketimbang menjadi fitnah yang tidak-tidak.
"Azam bisa tidur denganku di kamar sebelah, Ainsley dan Elina bisa tidur bersama di kamar satunya," sahut Ethan.
Tentu saja sebagai kakak ia tak akan memperbolehkan adiknya untuk tidur bersama pria lain yang belum menjadi suaminya apalagi Elina sudah mengalami hal buruk sebelumnya.
"Ethan, kamu punya bayi jadi harus menemani istrimu tidur. Jika bayimu bangun kamu bisa membantu Ainsley mengurusnya," ucap Azam menatap Ethan. "Aku bisa tidur di depan televisi, kalian tidak perlu khawatirkan aku," sambung Azam.
Elina tidak setuju karena pasti akan sangat dingin, dia memperbolehkan Azam tidur di dalam kamar namun tidur di bawah. Karpet berbulu di depan televisi bisa di pindah ke dalam kamar, di sini sangat dingin apalagi tengah malam nanti.
Setelah selesai makan, Azam dan Elina masuk ke dalam kamar. Elina menggelar karpet di samping tempat tidur untuk Azam. Ethan sudah mewanti supaya mereka tidak melakukan apapun sebelum menikah.
"Sudah selesai, kamu bisa tidur di sini dan ini selimutnya," ucap Elina.
"Oke, selamat tidur."
Elina naik ke atas ranjang lalu berbaring di sana, ia menatap langit-langit kamar kemudian melirik Azam yang tidur di bawah sana.
"Nyaman?" tanya Elina.
"Nyaman, kamu tenang saja," jawab Azam.
"Kamu tidur di atas sini juga tidak apa-apa, yang penting kita tidak melakukan apapun."
Azam menggelengkan kepalanya. "Aku bisa dibunuh kakakmu, aku sudah berjanji tidak akan menyentuhmu sebelum kita menikah."
...****************...
Hai Hai Hai
Bagaimana kabarnya semua? Novel Pernikahan Dingin Dokter Ethan telah diujung kisah nih, saya mengucapkan terima kasih banyak kepada semua pembaca setia semua....berkat dukungan dan responsif yang baik juga, saya bersyukur bisa berkomunikasi dalam penulis-pembaca.
Terima kasih banyak banyak....
Nah, jangan lupa juga kalian baca karya author lainnya ...
...LANGIT AURORA (TAMAT)...
...dan...
...ANNALISE (ON GOING)...
*SETELAH TAMAT PDDE MAKA CUSS KE NOVEL ANNALISE*
Author tunggu ya di Novel Annalise ini, see you guys!!!!🤩😘😘
.
.
__ADS_1
.