Pernikahan Dingin Dokter Ethan

Pernikahan Dingin Dokter Ethan
Bab 37 Selingkuh


__ADS_3


Ainsley mendengar suara bel pertanda ada tamu yang datang. Ainsley memandang jam yang ada di depannya yang menunjukan pukul 11 siang. Udara sangat dingin sekali bahkan satu jaket pun tak cukup untuk menyelimuti tubuhnya dan dia memakai dua jaket sekaligus.


Setelah pintu terbuka ternyata adalah Azam, dia juga sangat kedinginan sambil membawa koper di belakangnya. Ainsley tentu saja sangat kaget sekali sampai tak habis pikir dengan pemikiran dokter kandungan tersebut yang jauh-jauh sampai di sini.


Dokter Azam memandang sekeliling apartemen yang bisa dibilang cukup mewah dan ternyata kehidupan Ains tak mengerikan itu.


Ainsley mengajaknya untuk masuk ke dalam apartemennya karena di luar sangat dingin sekali. Dokter Azam pun terus menggigil hebat dan baru pertama kali merasakan dinginnya negara lain. Ainsley dengan cepat membuatkan kopi untuk pria tersebut supaya bisa menghilangkan rasa dinginnya.


"Kenapa Dokter Azam sampai jauh-jauh ke sini?" tanya Ainsley terheran-heran.


"Aku ingin memastikan jika kamu baik-baik saja. Kamu masih butuh perhatian lebih dari orang sekitarmu," jelas Azam.


Ainsley memberikan kopi tersebut pada Azam lalu pria tersebut meminumnya. Ainsley berjalan ke arah lemari dan mengambilkan jaket tebal milik Darren lalu ia berikan pada Azam supaya tidak kedinginan. Azam memakainya, ia sangat berterima kasih atas kepedulian dari Ains, dia bahkan tidak bisa tidur karena tiba-tiba saja Ains pulang ke negara Rusia padahal kondisinya belum stabil dan masih hamil.


Azam memandang Ains dengan lekat, ia memperhatikan jika Ainsley bertambah gendut padahal saat itu sangat kurus. Sepertinya memang borang-orang sekitar berpengaruh dalam metalnya.


"Kamu bahagia di sini?" tanya Azam.


"Ains sangat bahagia karena di sini adalah rumah Ains yang sebenarnya," jawab Ainsley.


Azam memperhatikan sebuah foto seorang pria yang memakai seragam dokter dan berbagai piagamnya di atas lemari. Azam mendekat dan memperhatikan wajahnya dengan lekat pasti ini adalah kakak Ains yang mendidik Ainsley sampai bisa mandiri seperti ini.


"Itu kakakku, namanya Darren Witamaja. Dia dokter spesialis anak," ucap Ainsley.


"Wow, hebat sekali kakakmu. Pantas saja kamu bisa menjadi seperti ini dan menjadi anak yang kuat," jawab Azam.


"Iya, Ains terinspirasi dari Kak Darren dan makanya menyukai anak-anak kecil. Karena Ains tak mungkin jadi dokter kayak Kak Darren makanya Ainsley jadi seorang guru anak-anak."


Azam meneteskan air matanya tatkala mendengar ucapan Ainsley, Ains lalu panik dan menjadi bingung. Dia mendekati Azam lalu mengelus punggungnya untuk menenangkan pria tersebut. Pasti ada alasan kenapa Azam sampai jauh-jauh datang menemui Ainsley di sini dan pasti alasannya adalah mendiang adik Azam yang sudah meninggal dunia. Ainsley mengingatkannya pada sang adik yang sudah meninggal beberapa tahun lalu dan dia juga adalah penderita autis.


"Dokter Azam kenapa menangis?" tanya Ainsley.


Azam mengeluarkan dompetnya dan di dalamnya berisi sebuah foto gadis lucu berambut panjang dan berponi yang sekilas mirip Ains. Azam menjelaskan jika gadis itu adalah adiknya yang sudah tiada dan sangat ia rindukan apalagi wajahnya sekilas mirip dengan Ains.


"Entah mengapa wajahmu sangat mirip dengan adikku. Saat pertama melihatmu saja aku sangat kaget dan ku pikir kamu ada Neil, adikku," jelas Azam.


Ainsley tidak tega, dia terus menenangkan Azam sampai pria itu terhenti sendiri dari tangisannya. Segitu sayangnya Azam pada Neil sampai ia menghampiri Ainsley ke Rusia yang mirip dengan Neil.


Dia menunggu sampai Azam agak tenang dia terus melihat keadaan Azam yang masih sangat syok dan air matanya terus mengalir. Ainsley paham pada perasaan Azam saat ini karena ia sendiri pun juga kehilangan kakak tersayangnya. Setelah pria itu berhenti dari tangisannya Ains mengajak untuk makan bersama supaya tenaga Azam tidak terbuang begitu saja karena menangis.

__ADS_1


Ainsley masih mempunyai stok mie goreng instan yang dibawakan oleh Ethan, dia lantas memasak dua bungkus satu untuk dirinya dan satu lagi untuk Azam. Setelah matang mereka makan bersama-sama sambil mendengarkan siaran TV yang arvian sendiri tidak paham artinya. Ainsley masih heran kenapa Azam begitu nekat datang ke sini dengan hanya bermodalkan alamat nya saja.


"Dokter Azam kesini apa Mas Ethan tahu?" tanya Ainsley.


Azam menggelengkan kepalanya. "Aku sudah jarang komunikasi dengan Ethan."


"Jika Mas Ethan tahu kamu di sini pasti marah dan cemburu."


Azam meminta maaf, dia akan berhati-hati supaya Ethan tidak tahu jika dirinya ada di sini. Saat mereka tengah mengobrol asik tiba-tiba pintu apartemen terbuka yang ternyata Jasmine baru saja pulang dari mengajar.


Jasmine kaget, ada pria tampan di apartemen ini apalagi sedang berduaan dengan Ainsley.


"Ains, siapa lagi dia?" tanya Jasmine.


Mereka lalu memakai bahasa Rusia untuk berkomunikasi.


"Dia Dokter Azam, dia dokter kandunganku dulu," jelas Ains.


"Apa dia selingkuhanmu?"


Ainsley menggelengkan kepalanya, ada-ada saja pertanyaan dari wanita ini.


Azam menyalami Jasmine, wanita itu langsung jatuh hati pada pria tampan tersebut.


"Baik, dokter. Aku akan antarkan mencari penginapan di sekitar sini."


***


Hari ini Ethan baru saja mengoperasi pasiennya dan untung saja mereka berhasil mengangkat tumor yang berada di kepala. Saat operasi tentu saja adalah hal yang sangat melelahkan dan membutuhkan kesabaran yang ekstra maka dari itu setelahnya mereka memutuskan untuk ke kantin sebentar.


Saat sedang istirahat Ethan memutuskan untuk menelepon Ainsley dan perkiraan di sana masih pagi tapi saat ditelepon malah Ainsley tidak mengangkatnya sama sekali bahkan pesan sejak tadi pun tidak diangkatnya. Rekan-rekannya memperhatikan kepanikan Ethan mereka tahu jika Ethan sekarang banyak masalah.


"Dokter Ethan, ada apa? Istrimu di sana baik-baik saja?"


"Iya, dia baik-baik saja."


"Kamu sungguh mau pindah ke sana lagi?"


Ethan mengangguk, dia sudah bertekad untuk kembali ke Rusia menyusul istri tercinta.


"Oh ya, saya jual rumah mana tahu kalian berminat membeli atau rekan kalian ingin membeli. 800 juta saja, rumahnya besar dan ada di pusat kota," jelas Ethan.

__ADS_1


Kebetulan salah satu mereka memang sedang mencari tempat tinggal. Ethan lantas menunjukan foto-foto rumahnya, temannya itu menawar 600 juta, Ethan tidak bisa memberi harga segitu karena dia menjual 800 juta saja sudah membuatnya rugi banyak.


"750 juta paling rendah, saya membelinya saat itu sudah 800 juta ke atas belum lagi biaya renovasi rumahnya supaya jauh lebih bagus lagi " jelas Ethan.


"Oke, saya akan lihat dulu rumahnya dengan istri saya nanti."


Ethan tersenyum senang, ada kalanya sebuah kemudahan akan didapat bagi dirinya yang sabar. Rumah impiannya harus ia jual demi melunasi hutang orang tuanya, membiayai perceraian orang tuanya serta mengurus dua adiknya yang masih membutuhkan biaya.


Untuk Ainsley? Ethan sudah menyiapkan nafkah sendiri untuk Ainsley, maka dari itu dia akan bekerja keras untuk membahagiakan Ains setelah keadaan keluarganya jauh lebih membaik. Ethan adalah anak laki-laki seorang diri, jika ayahnya tidak bertanggung jawab maka ia yang harus bertanggung jawab atas ibu dan dua adiknya. Ethan tidak mau sampai ibu dan dua adiknya kesusahan, setelah semuanya selesai maka dia akan menyusul Ains. Jangan khawatir! Ainsley tetaplah prioritasnya.


Ethan mencoba untuk menelpon Ains lagi dan baru di angkat.


"Halo Mas Ethan," ucap Ainsley.


"Ains, dari mana saja? Kenapa baru mengangkat telpon dari Mas? Bahkan kamu juga tidak membaca pesan dari Mas," tanya Ethan.


"Hehe, maaf. Ains lagi di luar apartemen. Di sini sangat dingin sekali sampai Ains pakai jaket tebal."


"Memangnya baru dari mana?"


Ainsley diam tidak menjawab, tentu saja dia tidak mengaku jika baru saja mengantar Azam mencari penginapan, jika iya maka Ethan pasti akan marah dan cemburu.


"Ains, ada apa sayang? Kamu sedang apa?" tanya Ethan sambil menyuapkan sesendok soto di mulutnya.


"Mas, Ains pulang ke apartemen dulu ya? Nanti Ains akan telpon lagi."


"Ains, benar ini penginapannya?"


Deg!


Terdengar suara laki-laki di sebelah Ainsley dan telpon langsung terputus. Ethan langsung meletakkan sendok tersebut diatas mangkok lalu mencoba mengingat siapa pemilik suara pria yang tak asing tersebut.


Nafsu makannya menjadi hilang seketika, dia lalu berjalan menuju ke lantai satu untuk mencari keberadaan Azam. Sudah lama ia tak menyapa pria tersebut.


Ethan bertanya pada dokter lain, dia mendapat informasi jika Azam cuti selama beberapa hari ke depan. Ethan semakin menjadi bahkan dia yakin jika Azam menemui Ains dibelakangnya.


"Jika boleh tahu Dokter Azam cuti ke mana?" tanya Ethan.


"Saya kurang tahu namun dia sampai mengaktifkan paspornya lagi mungkin ke luar negeri," jawab dokter tersebut.


Ethan berterima kasih lantas ia mencoba menelpon Azam namun tidak diangkat olehnya. Segitu takutkah Ethan jika kehilangan Ains sampai selalu negatif thingking dengan keadaan Ainsley.

__ADS_1


Azam tidak mengangkatnya membuat Ethan semakin frustasi, dia harus mencari tahu ke mana Azam pergi.


...****************...


__ADS_2