Pernikahan Dingin Dokter Ethan

Pernikahan Dingin Dokter Ethan
Bab 14 Kekesalan Ethan


__ADS_3


Ethan membungkuskan makanan untuk Ains dan menyuruh makan di kos saja, Ethan saat ini masih sibuk bahkan dia harus makan di ruangannya.


"Ini makanannya, maaf kali ini tidak makan siang bersama. Oh ya, aku minta kamu jangan sering ke sini karena ini tempat kerjaku, aku tidak mau sampai orang lain menggosip jika istriku sering datang ke sini," ucap Ethan.


"Baiklah. Maaf."


Ethan tersenyum kecil lalu menepuk bahu Ainsley dan pergi meninggalkannya, begitu Ainsley lantas memilih untuk pulang. Azam terus memperhatikan langkah Ainsley yang lemas dan menganggap Ains adalah penderita kanker.


Ainsley sudah keluar dari rumah sakit tersebut, dia harus naik bus lagi untuk sampai di kosnya. Saat menunggu di halte tiba-tiba Ayah mertuanya menelpon untuk datang ke rumah karena banyak makanan lezat. Ainsley berpikir sejenak untuk datang ke rumah mertuanya, mungkin kali ini dia harus menolak datang ke sana demi mentalnya yang aman.


Ainsley: Ains capek, yah. Lain kali saja ya.


Ayah mertua: Baiklah.


Bus datang, Ainsley masuk ke dalam bus itu, ia meremas berkas lamarannya yang sudah tidak terpakai lagi. Tentu saja dia sangat kesal sekali karena ingin mendapatkan pekerjaan di Jakarta memanglah sulit jika tidak ada orang dalam. Ainsley duduk menyendiri sambil melamun tidak jelas bahkan air matanya keluar.


Jika terus begini aku mau pulang ke Rusia lagi. Batin Ainsley.


"Mbak, kok nangis?" tanya ibu-ibu di sebelahnya.


Ainsley menoleh. "Tidak kok."


"Kalo ada masalah bisa cerita, mbak."


"Cari pekerjaan susah sekali. Kemarin aku ditelpon ada lowongan pekerjaan setelah aku datangi malah sudah diisi orang lain."


Wanita tua itu tersenyum kecil. "Begitulah, mbak. Sekarang orang-orang pada milih kerja online soalnya hidup di Jakarta ini keras, apa-apa serba mahal tapi cari pekerjaan susahnya minta ampun. Kalo mbak mau jadi reseller aja bisa ikut saya, mbak."


Ainsley mengernyitkan dahinya karena tidak paham apa itu reseller. Ibu itu menjelaskan jika menjadi reseller tak butuh modal banyak karena hanya menjualkan produk orang lain.


"Ini kartu nama saya jika mbak berminat. Saya jualan berbagai produk kecantikan, jika mbak mau bisa ambil di saya dan mbak jual dengan harga mbak sendiri. Sudah ya, saya harus turun."


Ainsley berterima kasih, dia membaca kartu nama itu dan mungkin dia tertarik dengan bisnis kecil ini. Semoga saja ini adalah jalan pembuka rezekinya lalu bisa membuka sekolah sendiri untuk anak-anak kurang mampu seperti keinginannya dan kakaknya.


***

__ADS_1


Ainsley menunggu kedatangan sang suami pulang, ia berada di depan kos sambil menikmati dinginnya malam. Ethan sudah mengatakan jika ia akan sibuk akhir-akhir ini dan kemungkinan pulang larut malam. Suara langkah kaki naik ke atas tangga membuat senyuman Ainsley mengembang. Dia melihat siluet dari bawah sana dan ia yakin itu adalah Ethan tapi dugaannya salah, dia melihat seorang pria lain datang dan itu adalah dokter kandungan tadi.


"Rupanya kamu kos di sini juga? Kita sebelahan, kos saya di sebelah kosmu," ucap dokter tampan itu.


Ya, ini adalah tempat kos bebas tapi bukan berarti sebebas itu karena hanya pasangan suami istri yang boleh 1 kamar kos.


"Dokter tinggal di sini?"


"Mau mampir?"


Ainsley menggelengkan kepalanya namun jujur saja dia lapar. "Dokter punya makanan?"


"Punya, saya beli ayam goreng banyak dan kita bisa makan sama-sama."


Ainsley sangat senang sekali mendengarnya, dia ikut pria itu masuk ke dalam kamar kos. Ainsley adalah gadis polos dan menganggap semua laki-laki memiliki sifat baik seperti kakaknya maka dari itu ia sama sekali tidak canggung dekat dengan pria.


Azam menyalakan seluruh lampu kosnya, dia juga menyalakan televisi supaya tidak hening.


"Saya mandi sebentar. Kamu tunggu sini. Jika ingin minum teh hangat ambil saja di termos dan itu sudah manis."


"Baik, terima kasih."


"Ayam goreng di Indo memang sangat enak, bikin nagih juga," ucap Ainsley.


"Memangnya selama ini kamu tinggal di mana?" tanya Azam.


"Moscow, Rusia. Aku ikut kakakku di sana, dia seorang dokter anak yang hebat namun sudah meninggal karena sakit kanker," jawab Ainsley.


Azam terdiam sejenak, ia melihat gelagat Ainsley yang berbeda dari orang pada umumnya.


"Maaf jika pertanyaan saya menyinggung perasaanmu, apa kamu..."


"Autis? Iya, aku memang agak lain tapi aku bisa memposisikan diriku sama seperti kalian. Kalian jangan takut pada kami ya!"


Azam termenung, ia mengingat adiknya yang sama seperti Ainsley namun sudah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu.


"Ah... harusnya saya tidak tanya itu karena sangat tidak sopan. Maafkan, saya!"

__ADS_1


Ainsley tertawa kecil, dia tak masalah akan hal itu ketimbang membuat orang lain penasaran. Mereka lalu melanjutkan makan sampai habis tidak tersisa dan Ainsley bercerita tentang banyak hal.


Di sisi lain. Ethan mencari keberadaan Ainsley. Dia baru saja pulang dan membawa makanan untuk istrinya, dia bingung karena batang hidung Ainsley tidak ada. Saat bersamaan pintu kos samping terbuka, Ainsley keluar bersama Azam bahkan Ainsley tertawa-tawa pada pria lain di depan suaminya sendiri.


"Ains?" ucap Ethan.


Azam memandang Ethan, Ainsley langsung memeluk suaminya dengan erat. Ethan tentu saja kesal.


"Kamu apakan istriku?" tanya Ethan pada Azam.


"Istri?" tanya Azam semakin bingung.


Ainsley melepaskan pelukan Ethan lalu memandang pria itu yang sangat marah sekali.


"Kenapa kamu masuk ke kamar pria yang baru kamu kenal? Ains, kamu tidak sebodoh itu 'kan?" ucap Ethan dengan nada tinggi.


"Maaf, ini salah saya yang mengajaknya tapi kami hanya makan bersama saja dan tidak melakukan hal lain," jelas Azam.


Ethan tidak memperdulikan ucapan pria itu lalu menarik Ainsley masuk ke dalam kamar dan tidak lupa menguncinya. Ethan sudah trauma dengan perselingkuhan apalagi ia baru saja mengalami dengan Stella, Ethan tak mau terjadi pada dirinya lagi apalagi ia sudah menikah.


"Maaf, aku lapar dan dia menawariku makan bersama."


"Kamu memalukan saja, apa tidak bisa menungguku sebentar saja? Hanya gara-gara makanan kamu sampai mau masuk ke kamar kos pria lain."


Ainsley terus meminta maaf namun Ethan sudah tidak mau mendengarkan ucapan Ainsley. Dia masuk ke kamar mandi lalu membanting pintunya.


Brak!


Ethan mengatur nafasnya yang sudah ngos-ngosan, dia memukul dinding karena saking kesalnya pada Ainsley. Ainsley terus mengetuk pintunya dan meminta maaf.


"Mas, aku minta maaf."


Ainsley menunggu sambil berjongkok di depan kamar mandi, dia menangis karena tak ingin Ethan marah padanya. 10 menit kemudian Ethan keluar dari kamar mandi, dia melihat Ainsley ada di depan pintu.


"Mas, aku minta maaf."


"Terserah! Aku tidak peduli."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2