Pernikahan Dingin Dokter Ethan

Pernikahan Dingin Dokter Ethan
Bab 34 Keputusan Istri Ethan


__ADS_3


Happy Reading!!!


Ethan mengajak Ainsley untuk duduk di tepi ranjang, ia memandang wajah istrinya yang sangat cantik bahkan terkesan meneduhkan hati. Ainsley, wanita autis yang usianya baru kepala dua sedangkan Ethan sudah memasuki kepala tiga bisa membuat Ethan mabuk kepayang. Ains selalu ada untuknya saat susah dan Ethan sampai detik ini belum bisa membahagiakan istrinya tersebut.


"Darren mengatakan jika aku harus menjagamu, aku agak ragu melepasmu di sana seorang diri. Ains, di sana bukan kampung halamanmu. Kamu hanya seorang perantau dan tentu saja di sini adalah kampung halamanmu. Bisa jelaskan kenapa sampai kamu ingin tinggal di sana ketimbang di sini?" tanya Ethan.


Ainsley memainkan jemarinya, entah mengapa dia berpikir teman-temannya di sana jauh lebih banyak ketimbang di sini dan mereka lebih menghargai posisi Ainsley yang sangat berbeda dari mereka. Ains tak ingin diistimewakan namun ia berhak minta dihargai.


"Aku lebih nyaman dan damai di sana, semua orang memperlakukanku dengan baik tapi di sini, keluargamu..."


"Keluargaku kenapa? Mereka masih jahat padamu?"


Ains hanya diam saja tidak berani mengadukan, Ethan berdiri dari tempat tidur, dia ingin menanyakan langsung pada mereka. Selama ini mereka sudah baik Ains di depan Ethan namun entah jika dibelakangnya.


"Tunggu! Bukan semuanya, Ayah sangat baik padaku sementara ibu dan dua adikmu belum. Ibu bahkan sering memaksaku makan dan menjejalkan banyak makanan di mulutku," jelas Ains.


Ethan sangat geram sekali, dia pikir ibu sudah berubah total. Mungkin ini adalah alasannya kenapa Ainsley ingin jauh darinya karena ibu Ethan bermuka dua. Ains memohon supaya Ethan tidak memarahi beliau karena pasti akan berpikir jika Ainsley adalah seorang pengadu.


"Jangan pernah memarahi ibu! Itu semua akan membuat hubungan kalian akan renggang. Aku bisa diam-diam pergi dari sini dan menenangkan pikiran di Moskow. Di sana rumahku sebenarnya dan kamu tidak perlu khawatir," ucap Ainsley meyakinkan Ethan.


Ethan mencoba berpikir jernih, Ains sedang hamil dan butuh yang namanya menenangkan diri sementara di sini sang ibu dan dua adiknya masih belum bisa menerimanya.


"Di Rusia ada siapa yang bisa aku percaya untuk menjagamu? Harus perempuan," tanya Ethan.


"Ada Jasmine, dia teman dekatku di sana," jawab Ainsley.


"Berikan nomornya padaku! Aku harus memastikan sendiri jika kamu aman bersamanya."

__ADS_1


Ainsley memberikan nomor Jasmine, seorang gadis asal Rusia yang berteman dekat dengan Ains. Rupanya Jasmine juga seorang guru di sekolah SLB dulu dan masih bekerja di sana.


"Aku akan hubungi dia nanti dan menyuruhnya untuk mengawasimu. Kamu tetap harus butuh pengawasan karena mentalmu masih seperti ini," jelas Ethan.


Ainsley mengangguk setuju, apapun demi kebaikannya maka dia akan mendengarkan ucapan


Ethan. Hanya Ethan saja yang dia percayai sementara yang lain belum sepenuhnya dia percayai terutama ibu.


"Ains ingin... eh aku ingin makan, aku lapar," ucap Ainsley.


Ethan memandang wajahnya dengan lekat sambil tersenyum kecil. "Tak perlu menyesuaikan diri dengan orang disekitarmu. Kamu bisa menjadi dirimu sendiri sehingga kamu tak kesusahan untuk berkomunikasi. Ains mau makan? Oke, tunggu Mas mandi dulu ya. Kita bisa makan bersama-sama."


Ainsley membalas senyuman Ethan. "Ainsley akan tunggu sampai Mas selesai mandi."


Ethan lantas berdiri, dia mengecup pipi istrinya dengan gemas. Ethan masuk ke dalam kamar mandi, dia langsung menangis karena harus berpisah dengan istrinya. Kenapa cobaan hidupnya semakin berat setelah dia memutuskan pulang ke Jakarta? Dia ditinggal menikah dengan mantan lalu mendapat fitnah dari mantan dan kemudian harus berpisah dengan Ainsley yang tengah mengandung anaknya.


Tok... tok... tok...


Ethan langsung mengelap air matanya, dia membuka pintu kamar mandi yang ternyata adalah Ainsley.


"Mas Ethan gak nangis 'kan?" tanya Ainsley.


Ethan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, untung saja wajahnya sudah basah dengan air mandi bukannya air mata. Air mata itu tertutupi oleh air yang lain sehingga bisa tersamarkan dengan baik.


"Aku tidak menangis. Aku selesaikan mandinya sebentar saja."


Ainsley tersenyum, dia lalu duduk di tepi ranjang. Ethan tersenyum kembali kepadanya lalu melanjutkan mandi sampai bersih sementara Ainsley melihat pintu kamar mandi itu, dia paham jika pasti Ethan sangat berat untuk melepasnya.


Malam hari.

__ADS_1


Ethan dan Ainsley masuk ke dalam kamar setelah makan malam dengan mereka, Ethan tak membahas masalah Ainsley yang diperlakukan tidak baik di belakangnya.


Ethan membantu membereskan semua barang Ains yang akan dibawa ke Rusia dan sisanya mereka akan ambil di tempat kos. Ainsley juga meninggalkan tabungannya untuk Ethan untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu jika butuh uang. Ethan tentu saja menolaknya karena uang milik Ainsley, dia masih punya uang sendiri dan juga akan mengembalikan uang Ains yang terpakai secepatnya.


"Kamu di sana masih ada jaket tebal 'kan?" tanya Ethan.


"Masih ada, punya Kak Darren juga masih ada," jawab Ainsley.


"Baguslah. Di sana sangat dingin sekali jadi jangan sepelekan itu. Kira-kira di sana kamu mau makan apa?"


Ains tak mau ambil pusing tentang makan karena di sana banyak makanan yang cocok di perutnya. Ethan akan mengirimkan beras setiap bulan karena di sana jarang ada beras dan makanan pokok orang Rusia adalah kentang.


"Apa lagi ya? Oh ya, dokter kandungan. Aku ada teman di sana seorang dokter kandungan. Aku akan memberitahunya dan akan menjadikannya dokter pribadimu selama hamil lalu tinggal di sana," jelas Ethan sibuk sendiri.


Ethan memang sayang pada Ainsley bahkan hal sedetail apapun ia mau mengurusnya, Ainsley terdiam memikirkan apa ini keputusan yang tepat jauh dari Ethan. Jika di sana dia akan kesepian tanpa Ethan dan setiap malam tidak ada kehangatan dari suaminya tersebut.


"Ains janji akan datang ke sini lagi dan melahirkan di sini ditemani Mas Ethan. Maaf jika keegoisan Ainsley membuat kita berjauhan, Ains masih butuh sendiri," ucap Ainsley sambil menangis.


Ethan memeluknya dengan erat, sebenarnya ia juga ingin menangis namun apalah daya tak mungkin juga ia menangis di depan istrinya. Jika begitu membuat Ainsley malah merasa terbebani olehnya, Ainsley adalah wanita yang bisa membuat Ethan merasa tenang dan nyaman. Jika semua orang ingin menjauhinya maka Ethan justru ingin ada selalu di dekatnya.


"Apa kamu bisa menjaga hati untukku?" tanya Ethan.


Ainsley mengangguk. "Tentu Ains akan menjaga hati untuk Mas Ethan."


"Aku juga akan menjaga hati untukmu. Aku cinta kamu, Ains-ku."


Setelah Ains pergi maka aku akan memarahi ibu karena mengingkari janji untuk memperlakukan Ains dengan baik namun nyatanya tidak. Batin Ethan.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2